
10 tahun kemudian...
Hari demi hari sudah berlalu, waktu berjalan dengan cepat tanpa bisa di cegah ataupun di hentikan. Sepuluh tahun sudah berlalu, kehidupan Arya dan keluarganya juga sudah banyak berubah selama sepuluh tahun belakangan ini.
Saat ini Arya baru saja turun dari mobilnya, pria yang sudah lebih dari kepala tiga itu berjalan dengan gagah masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamu'alaikum," ucap Arya memberikan salam saat masuk ke dalam rumah.
Lalu tak lama datanglah seorang wanita yang menghampirinya sambil menyungingkan senyuman, ia berdiri tepat di hadapan Arya.
"Wa'alaikumsalam, kamu kok baru pulang malam begini? Banyak kerjaan ya di kantor?" Tanya wanita itu yang bisa melihat raut lesu di wajah Arya.
"Hmm, dimana Rei?" Tanya Arya yang mengalihkan topik pembicaraan.
"Ah Rei ada di kamarnya, mungkin gadis itu sudah tidur."
Arya hanya menganggukkan kepalanya, lalu keduanya hanya saling diam tak ada lagi yang berbicara sampai kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang yang berlari menuruni anak tangga.
"Ayah!"
Arya menolehkan kepalanya, lalu senyuman mulai terukir di wajah tampannya. Ia merentangkan kedua tangannya menyambut putrinya yang kini sedang berlari menuju ke arahnya.
"Rei kangen sama Ayah," ucap Reilla yang kini sudah berada dalam dekapan Arya.
Arya menciumi kepala Reilla, ia lalu melerai pelukannya. Di tatapnya Reilla yang saat ini bukan lagi anak-anak, putrinya kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik membuat Arya semakin ketat dalam menjaganya.
"Ayah gk lupa bawain pesanan Rei kan?" Tanya Reilla sambil menatap lekat Ayahnya.
"Bawain apa ya?" Tanya Arya pura-pura tidak tau.
"Ish Ayah mah, masa lupa sih!" Gerutu Reilla yang sudah mencebikkan bibirnya membuat Arya terkekeh.
"Iya Ayah gk lupa kok, ini dia martabak coklat kacang kesukaan kamu."
Mata Reilla berbinar senang saat ia melihat kantong plastik yang berisikan martabak kesukaannya.
"Yey terimaksih banyak, Rei sayang Ayah!" Seru Rei yang kembali memeluk Arya.
Lalu tatapan Reilla beralih pada wanita yang sedaritadi berada diantara dirinya dan Ayahnya namun wanita itu hanya diam, tapi Reilla tau sebenarnya wanita itu sedang menyimpan lukanya dalam diam dan menutupinya dengan senyuman.
"Kak Syabil, kita makan martabaknya sama-sama yuk," ajak Reilla pada wanita yang sedaritadi hanya diam itu, wanita itu tak lain adalah Syabil.
"Eh? Gk usah, Ayah kamu kan beliin martabaknya buat kamu doang bukan buat Kakak hehe. Kamu makan sendiri aja," ucap Syabil menolak.
"Siapa bilang saya gk beliin apapun buat kamu?"
Syabil dan Reilla mengalihkan tatapan mereka ke arah Arya yang baru saja berbicara.
"Maksud kamu?" Tanya Syabil tak mengerti maksud perkataan Arya.
Arya terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya.
"Selamat ulang tahun Syabil," ucap Arya seraya mengeluarkan sebuah hadiah yang di bungkus dengan kertas kado dan terlihat sangat cantik.
Mata Syabil sudah berkaca-kaca, senyumannya mengembang seketika. Ia kira Arya akan melupakan hari ulang tahunnya ternyata pria itu tidak pernah melupakannya.
"Maaf kalau saya selalu menyakiti hati kamu."
Syabil hanya menundukkan kepalanya, rasa sakit di hatinya kembali terasa mendengar ucapan Arya barusan.
"Selamat ulang tahun Kak Syabil!" Seru Reilla sambil memberikan pelukan pada Syabil.
Syabil tersenyum ia mengusap kepala Reilla dengan sayang, selama sepuluh tahun ia tinggal di rumah ini. Dirinya semakin menyayangi Reilla seperti anaknya sendiri.
"Syabil saya mau bicara sesuatu sama kamu."
Reilla yang sadar situasipun memilih pamit dengan alasan ingin mengerjakan tugas di kamar sambil menyantap martabaknya.
Setelah Reilla pergi ke kamarnya, Syabil masih diam dan menundukkan kepalanya. Arya menghela nafasnya sambil menatap lekat Syabil.
"Maafkan saya Syabil."
Lagi dan lagi, kata maaf yang Arya ucapkan kembali terdengar di telinga Syabil. Kalimat itu sudah terlalu sering Arya ucapkan padanya.
__ADS_1
"Untuk apa? Kamu tidak salah, di sini yang salah hanya aku. Aku yang salah, karna sudah mengharapkanmu lebih dan karna sudah lancang mencintai kamu."
Arya bisa mendengar bahwa suara Syabil bergetar ketika mengucapkan hal itu, ia tau bahwa gadis di hadapannya ini memang sudah lama menyukainya bahkan Syabil juga sudah mengutarakan perasaannya pada Arya tapi Arya tidak pernah bisa membalas perasaan gadis itu. Karna sampai kapanpun yang ada di hatinya bukanlah Syabil.
"Aku tau sekeras apapun aku berusaha, kamu gk akan pernah membalas cintaku. Aku yang terlalu bodoh, menggangap keperdulian darimu adalah wujud rasa cintamu padaku tapi nyatanya aku sudah salah paham," ujar Syabil sambil tersenyum sendu meratapi nasibnya yang harus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.
"Syabil bukan begitu saya-"
"Aku tau, sampai kapanpun yang ada di hati kamu bukanlah aku tapi perempuan lain."
Arya hanya diam, ia tau siapa yang Syabil maksud dengan perempuan lain itu. Perempuan yang memang selama 10 tahun terakhir ini selalu membuat Arya hampir gila karna terus memikirkannya namun Arya terlalu takut untuk mengetahui bahwa perasaannya bukan hanya sekedar obsesi semata.
"Bagaimana keadaan perempuan itu? Apakah dia sudah jauh lebih baik? Apa ingatannya sudah pulih?" Tanya Syabil lagi.
"Keadaan Shafa sudah lebih baik namun ia masih belum mengingat apapun saat ini," jawab Arya.
Ya perempuan lain yang Syabil maksudkan adalah Shafa, sosok yang selama sepuluh tahun ini selalu Arya rawat dan tidak ada yang tau hanya Syabillah orang yang tau perihal keberadaan Shafa karna Arya sendirilah yang memberitahukan itu padanya.
"Kalau misalnya perempuan itu bukan Ummahnya Reilla, apa yang akan kamu lakukan padanya?" Tanya Syabil membuat Arya diam.
Arya juga tidak tau, jika perempuan itu bukanlah orang yang selama ini Arya yakini. Arya tidak tau harus bagaimana menghadapi kenyataan itu nantinya, semua ini terlalu terasa rumit baginya.
Drtttt drttt
"Maaf aku mau angkat telpon dulu," ujar Arya saat gawainya berdering.
Arya pun berjalan agak menjauh dari Syabil, sementara Syabil hanya bisa menatap punggung Arya yang menjauh dengan tatapan nanar.
"Halo ada apa Bram?"
"Ini bukan Bram, ini aku Shafa."
Arya agak terkejut ternyata itu bukanlah suara Bram melainkan suara Shafa.
"Ah Shafa, dimana Bram? Kenapa ponselnya bisa ada di kamu?"
"Aku tadi meminjam ponsel pengawaimu itu sebentar untuk menghubungimu, bisakah kamu datang menemuiku malam ini juga?"
Arya diam dan sedikit menimbang perihal permintaan Shafa.
"Oke aku tunggu ya, hati-hati di jalan Arya."
"Baik, kamu sudah makan?" Tanya Arya yang tidak ingin percakapannya dengan Shafa berakhir.
"Belum, aku mau makan malam bersama kamu nanti makannya kamu aku minta datang ke sini."
"Baiklah tuan putri, aku akan segera datang ke sana," ucap Arya dan ia mendengar suara tawa yang merdu dari sebrang sana.
"*Oke deh aku tunggu ya, dah Arya!"
Tutt tutt tutt*
Suara panggilan dari Shafa pun berakhir namun senyuman di bibir Arya masih terukir, Arya lalu terkekeh menyadari dirinya yang tersenyum sendiri hanya karna mendengarkan suara Shafa.
"Dari siapa?" Tanya Syabil yang ternyata masih berdiri di tempatnya.
"Ah itu dari Bram, katanya Shafa membutuhkanku dan aku harus ke sana."
Syabil hanya bisa menyungingkan senyumannya, Arya tau di balik senyuman itu Syabil terluka tapi Arya tidak bisa apa-apa bahkan ia juga tidak bisa membalas perasaan Syabil.
"Ya pergilah, hati-hati di jalan."
Arya menganggukkan kepalanya, ia menatap gelagat Syabil yang agak berbeda.
"Syabil," panggil Arya membuat Syabil semakin menunduk.
"Syabil tatap mata saya."
Mau tidak mau Syabil pun mengangkat kepalanya dan menatap mata Arya.
"Maafkan saya Syabil, kamu perempuan yang baik. Saya harap kamu bisa mendapatkan cinta pria lain yang juga tulus mencintaimu, bukan pria seperti saya. Saya pergi dulu Assalamu'alaikum," ujar Arya lalu melangkahkan kakinya pergi keluar dari rumah.
"Wa'alaikumussalam ...." lirih Syabil yang hanya bisa terpaku di tempatnya.
__ADS_1
Tanpa di sadari air mata sudah mengalir dari pelupuk matanya, rasanya memang sesak namun Syabil berusaha untuk tetap tabah. Karna Syabil tau cintanya untuk Arya tulus, Syabil rela menunggu Arya sampai kapanpun hingga pria itu dapat membalas cinta tulusnya.
.................................
Arya sudah sampai di tempat Shafa tinggal, sebuah rumah yang sengaja Arya sewakan hanya untuk Shafa.
"Arya!"
Suara lembut perempuan yang memanggil namanya itu membuat Arya membalikkan badan dan langsung menyungingkan senyumannya.
"Aku nungguin kamu daritadi tau," ujar Shafa saat Arya sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa belum makan?" Tanya Arya lembut.
"Karna belum laper hehe."
Arya ikut tersenyum, bahkan ia menyungingakan senyumannya dengan lebar. Arya juga tidak mengerti kenapa saat berada di depan Shafa ia jadi mudah sekali untuk tersenyum.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Arya.
"Sate! Aku mau sate!" Seru Shafa membuat senyuman di wajah Arya perlahan memudar.
Sate, makanan itu kembali mengingatkannya pada Syabil. Syabil juga sangat menyukai sate bahkan Arya sampai memergokinya tengah malam sedang menyantap sate di dapur.
Mengingat hal itu membuat Arya kembali teringat pada Syabil, gadis yang tulus mencintainya tapi Arya tidak bisa membalas cinta gadis itu.
"Arya kok diem? Gk boleh ya aku makan sate?" Tanya Shafa memecah lamunan Arya.
"Eh? Gk apa-apa kok, kamu mau sate kan? Nanti aku suruh Bram buat beli."
"Nggak, aku maunya kamu yang beli langsung ke tukang satenya," ujar Shafa yang menginginkan Arya sendirilah yang akan membelikan sate untuknya.
"Tapi Shafa aku-"
"Gk mau pokoknya kamu harus-"
"Syabil!" Pekik Arya yang langsung sigap menangkap tubuh Shafa yang oleng dan hampir terjatuh ke lantai.
"Arya, namaku Shafa bukan Syabil," ujar Shafa membuat Arya sadar bahwa tadi ia tidak sengaja memanggil Shafa dengan sebutan Syabil, Arya juga bingung kenapa dia jadi memikirkan Syabil.
"Maaf aku gk sengaja," ujar Arya.
Arya kemudian menuntun Shafa untuk duduk di sofa, dan gadis itupun menurut.
"Aku pergi beli sate untuk kamu dulu," pamit Arya dan di balas anggukkan oleh Shafa.
"Hati-hati di jalan!" Seru Shafa dan di balas anggukkan kepala oleh Arya.
Arya sudah pergi keluar, dan perlahan senyuman di wajah Shafa pun memudar.
"Mau sampai kapan Nona seperti ini terus?" Tanya Bram yang tiba-tiba datang menghampiri Shafa.
"Apa Nona tidak kasihan pada Pak Arya? Dia sudah sangat menderita selama ini karna terus memikirkan Nona."
Shafa lalu menolehkan kepalanya pada Bram, gadis itu juga menyungingkan senyumannya.
"Sampai Arya bisa melupakanku dan melupakan cintanya padaku," jawab Shafa sambil tersenyum.
Senyuman yang Bram tau bahwa di balik senyuman itu ada penderitaan yang tersirat.
"Kenapa Nona? Bukankah Nona juga mencintai Pak Arya? Kenapa Nona tidak mengatakan semuanya? Kenapa Nona tidak bilang kalau sebenarnya ingatan Nona sudah kembali."
Shafa hanya bisa menundukkan kepalanya, ia punya alasan kuat untuk menyembunyikan kebenaran tentang dirinya dari Arya. Ia tidak mau pria itu terus-terusan menderita dan terpaku pada masalalunya, ia ingin Arya memulai kehidupan baru dan ia juga ingin Arya bisa merasakan kebahagiaan walaupun bukan dengannya.
"Apa Nona tidak rindu padanya?" Tanya Bram membuat Shafa mengerenyit bingung.
"Pada siapa?" Tanya Shafa.
"Pada Reilla," jawab Bram membuat Shafa tersentak.
"Bagaimana bisa kamu bertanya seperti itu padahal kamu sudah tau kebenarannya, tentu saja aku merindukan dia. Dia itu putriku, dia juga darah dagingku. Percayalah Bram, aku sudah sangat tersiksa bahkan sejak dia lahir aku tak pernah sekali pun memeluknya, tapi aku takut Bram."
"Apa yang Nona takutkan?" Tanya Bram bingung.
__ADS_1
"Aku takut jika Arya dan Reilla tau kebenarannya mereka pasti akan membenci diriku," ujar Shafa yang kembali merenungi nasibnya.
Shafa memang hilang ingatan selama ini, namun selama 10 tahun ini ia berhasil mengembalikan ingatannya. Shafa sudah ingat serpihan masalalunya, bahkan dia juga ingat bahwa namanya bukanlah Shafa melainkan Vidya. Namun Shafa lebih memilih untuk merahasiakan semua ini dari Arya dan hanya Bram sajalah yang sudah mengetahuinya bahkan Bram jugalah yang sudah membantu Shafa untuk menutupi identitas dirinya yang sebenarnya.