
Pagi hari pun tiba, saat ini Shafa sedang menunggu ke datangan Arya yang katanya akan mengajak dirinya pergi pagi ini.
"Tuan belum datang ya Nona?" Tanya Bram yang datang menghampiri Shafa.
"Belum Bram, kira-kira dia mau mengajak saya kemana ya?" Tanya Shafa yang bertanya pada Bram dan berharap jika Bram tau kemana Arya akan membawanya pergi hari ini.
"Saya tidak tau Nona, Tuan tidak memberitahu hal itu pada saya."
Shafa pun menganggukkan kepalanya, mengerti. Lalu fikirannya kembali melayang pada kejadian kemarin, saat ia tidak sengaja bertemu dengan Reilla.
"Aku kemarin bertemu dengan putriku Bram," ucap Shafa alias Vidya memberitahu Bram.
"Oh ya? Syukurlah, dengan begitu rasa rindu Nona selama 15 tahun ini dapat sedikit terobati."
Shafa menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Bram barusan. Tentu saja pertemuan yang tidak sengaja kemarin membuat Shafa merasa terobati bisa bertemu dengan putrinya walau hanya sebentar, tapi itu cukup membuat rasa rindunya sedikit terobati.
"Kapan Nona akan memberitahukan semuanya pada Tuan?" Tanya Bram lagi membuat senyuman Shafa memudar, wajahnya terlihat agak gelisah.
"Aku tidak tau Bram, aku masih belum siap memberitahukan semuanya pada Arya. Aku belum siap memberitahu Arya bahwa aku sebenarnya adalah Vidya," ujar Shafa lagi membuat Bram menganggukkan kepalanya mengerti akan apa yang saat ini Shafa alami.
Lalu tak lama terdengar suara mobil berhenti, rupanya itu adalah mobil milik Arya yang baru saja tiba.
"Kamu sudah siap?" Tanya Arya yang sudah berdiri di hadapan Bram dan Shafa.
"Tentu, aku daritadi sudah menunggumu."
Arya tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari bibir Shafa, paginya terasa indah dengan hanya melihat senyuman yang merekah di bibir Shafa. Membuat paginya menjadi lebih berwarna karna Shafa sangat mirip dengan Vidya.
"Ayo kita berangkat," ajak Arya dan di balas anggukkan oleh Shafa.
"Bram kami berangkat dulu ya," pamit Shafa pada Bram, dan di balas anggukkan sopan oleh Bram.
Shafa pun berjalan beriringan bersama Arya menuju ke arah mobilnya yang saat ini terparkir di halaman depan rumah, Arya membukakan pintu mobilnya untuk Shafa membuat Shafa tersenyum dan tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih pada Arya.
Lalu setelah itu Arya pun langsung menjalankan mobilnya, menuju tempat yang ia tuju bersama dengan Shafa.
..................................................
"Ayo turun," ajak Arya yang sudah menghentikan laju mobilnya.
"Kok berhenti di toko bunga?" Tanya Shafa yang bingung kenapa Arya memberhentikan mobilnya di depan toko bunga.
"Keluar saja, aku mau mengajakmu membeli bunga dulu."
Meskipun masih tak paham dengan maksud Arya, Shafa tetap menurut dan turun dari mobil Arya serta berjalan bersama pria itu memasuki toko bunga.
"Selamat datang, silahkan Kak di pilih bunganya. Mau bunga yang mana Kak?" Tanya seorang pelayan wanita dengan ramah menyambut kedatangan Shafa dan Arya.
"Kamu mau bunga yang mana?" Tanya Arya membuat Shafa menoleh ke arahnya.
"Aku?" Tanya Shafa sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu mau pilih bunga yang mana?" Tanya Arya mengulangi pertanyaannya.
Shafa pun terdiam, ia lalu mengidarkan pandangannya pada bunga-bunga indah yang berjajar begitu rapih dan terlihat memukau mata.
__ADS_1
"Aku mau bunga mawar putih!" Seru Shafa yang kemudian langsung berjalan ke arah jajaran bunga mawar berwarna putih berada.
Arya tertegun dengan bunga pilihan Shafa, dalam diam ia memperhatikan raut wajah antusias Shafa yang begitu senang melihat bunga mawar warna putih itu.
"Kenapa? Kok diem?" Tanya Shafa yang sudah menolehkan kepalanya pada Arya.
"Ah nggak, aku cuma keinget orang yang sepesial dalam hidupku aja. Dia juga seleranya sama kaya kamu, dia juga suka bunga mawar putih."
Pergerakkan Shafa yang hendak menggambil salah satu bunga mawar putih itu menjadi terhenti, ia tau siapa orang yang di maksud oleh Arya barusan.
Shafa tau persis siapa orang yang menyukai bunga mawar putih, itu adalah Vidya yang tak lain adalah dirinya sendiri. Dia memang menyukai bunga mawar putih sejak lama, tak heran jika Arya bisa kembali teringat pada Vidya saat ini.
"Bunga mawar putihnya jadi Kak?" Tanya pelayan tersebut yang memang sedaritadi ada di dekat Arya dan Shafa.
"Gk jadi," jawab Shafa sambil tersenyum pada pelayan itu.
"Kok gk jadi? Kenapa? Bukannya kamu suka bunga mawar putih?" Tanya Arya yang bingung kenapa Shafa tidak jadi membeli bunga mawar putih itu.
"Mendadak aku jadi gk terlalu suka warnanya, aku pilih yang lain aja."
Arya hanya diam, ia menghela nafasnya ketika Shafa sudah memilih pergi ke arah jajaran bunga yang lainnya. Arya masih berdiri di tempatnya, tatapannya kembali terarah pada kumpulan bunga mawar putih yang berjejer itu.
Mendadak kenangan tentang Vidya kembali muncul dalam benaknya, gadis itu menyukai bunga mawar putih dan Arya baru tau itu dari Uminya Vidya. Sebelumnya, banyak hal yang Arya tidak ketahui tentang Vidya dan setelah gadis itu tiada barulah Arya tau semua hal yang Vidya sukai dan tidak ia sukai.
"Kamu jadi pilih bunga yang mana?" Tanya Arya yang kini sudah kembali berdiri di belakang Shafa.
"Aku pilih bunga matahari aja," ucap Shafa yang menunjukkan bunga matahari pilihannya pada Arya.
"Jadi pesanan bunganya hanya bunga matahari saja kan Kak?" Tanya pelayan tersebut lagi.
Shafa hanya bisa diam sambil berpura-pura tak perduli.
"Ini pesanannya Kak, terimakasih sudah berkunjung ke toko kami."
Arya dan Shafa pun menganggukkan kepalanya, setelah Arya membayar bunga pesanannya dan pesanan Shafa. Ia mengajak Shafa kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Shafa menurut, sepanjang perjalanan gadis itu lebih memilih memandangi jalanan di luar lewat kaca mobil, ia menikmati cuaca pagi ini yang tampak cerah.
"Ayo kita turun, sudah sampai."
Shafa menatap ke luar, ia mengerenyitkan dahinya kembali di buat bingung oleh Arya.
"Kenapa kamu ngajak aku ke sini?" Tanya Shafa yang masih kebingungan.
Arya tidak menjawab ia malah turun dari mobil, lalu setelah itu ia membukakan pintu mobil untuk Shafa. Shafa menurut, ia ikut turun bersama dengan Arya.
Shafa memilih diam, ia mengikuti langkah Arya di depannya. Walaupun bingung tapi Shafa tetap diam dan berusaha bersabar, menunggu Arya yang akan memberitahunya langsung kenapa pria itu mengajak Shafa ke tempat ini.
"Shafa? Kenapa berdiri di sana? Ayo sini," ajak Arya yang menyadari bahwa Shafa menghentikan langkahnya.
Shafa mengangguk, lalu berjalan ragu menghampiri Arya yang sudah lebih dulu berjongkok.
"Kamu pasti bingung ya kenapa aku malah mengajak kamu ke tempat ini?" Tanya Arya yang menyadari raut kebingungan dari wajah Shafa.
Tentu saja Shafa bingung, Arya mengajak dirinya ke lokasi pemakaman seperti ini. Jelas saja gadis itu merasa bingung.
__ADS_1
"Kemari Shafa, aku mau mengajakmu bertemu dengan seseorang."
Shafa pun kembali menurut, ia kini jongkok di samping Arya.
"Assalamu'alaikum Vidya, aku datang menemuimu ...." ucap Arya lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Shafa terdiam memandangi makam yang ada di hadapannya, Shafa tau kenapa Arya mengajaknya kemari ternyata untuk mengunjungi makam yang Arya yakini sebagai makam Vidya. Padahal sebenarnya Vidya yang asli berada di samping Arya saat ini, yaitu Shafa yang tak lain adalah Vidya asli.
"Vidya, aku ke sini tidak sendiri. Aku ke sini bersama dengan seseorang," ucap Arya yang melirik Shafa sebentar lalu kembali menatap batu nisan makam yang ia tahu adalah makam Vidya.
"Ini Shafa," ujar Arya yang memperkenalkan Shafa.
Shafa yang tak lain adalah Vidya, merasa bahwa saat ini dirinya juga harus kembali berpura-pura demi menutupi identitas aslinya.
"Shafa, ini adalah makam Ibunya Reilla."
Shafa menganggukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca. Ia tau bahwa itu bukanlah makamnya namun seseorang yang terkubur di sana, Shafa sangat mengenalnya. Hal itulah yang membuat Shafa sedih.
"Arya? Kamu nangis?" Tanya Shafa saat sadar bahwa Arya sedang menangis saat ini.
"Ah, maaf Shafa. Aku kelihatan cengeng ya? Maaf aku tidak bisa menahan tangisku setiap kali ke tempat ini," ujar Arya yang sedang menghapus air matanya.
Shafa menatap sendu Arya, rupanya pria itu sangat terluka setelah kepergiannya. Andai Arya tau bahwa dirinya adalah Vidya, pasti pria itu tidak akan sesedih dan terluka seperti sekarang ini.
Tangan Shafa pun terulur, mengusap lembut punggung Arya membuat Arya tersentak kaget ketika merasakan usapan lembut di punggungnya.
"Tidak apa Arya, kalau kamu mau menangis silahkan menangislah. Menangis tidak akan membuatmu terlihat payah, menangis juga pertanda bahwa kamu masih memiliki hati dan perasaan yang tulus."
Mendengar ucapan Shafa barusan membuat senyuman Arya tersunging, Arya menatap Shafa dalam.
"Terimakasih Shafa, kamu kembali mengingatkanku pada sosok penting dalam hidupku. Kamu mengingatkanku pada sosok Vidya," ujar Arya yang lalu mengalihkan tatapannya kembali pada batu nisan Vidya.
Tangan Arya terulur mengusap lembut batu nisan yang ia anggap sebagai makamnya Vidya.
Shafa hanya diam memperhatikan tingkah Arya, dari manik mata Arya. Shafa bisa melihat pancaran kerinduan dari manik matanya, kerinduan yang teramat pada sosok Vidya yang tak lain adalah dirinya sendiri.
"Kamu tau Shafa?" Tanya Arya membuat Shafa tersentak dan menoleh ke arah pria itu yang tatapannya masih tertuju pada makam yang ia yakini sebagai makam Vidya.
"Kamu tau? Wajahmu itu sangat mirip sekali dengan Vidya," ucap Arya yang menoleh pada Shafa.
Shafa tertegun, dalam hati ia merutuki ucapan Arya. Dirinya memanglah Vidya tapi Arya memang tidak mengetahui hal itu karna dirinya memilih untuk merahasiakan hal itu dari Arya.
"Apa karna wajahku mirip dengan Vidya, jadi itu alasan kamu menolong diriku?" Tanya Shafa yang sengaja bertanya seperti itu karna ingin tau jawaban apa yang akan Arya berikan padanya.
"Bukan begitu, hanya saja aku merasa kamu adalah Vidya. Entahlah meskipun itu terdengar sangat mustahil tapi aku merasa begitu, tapi setelah di fikir-fikir lagi itu jelas tidak mungkin."
"Kenapa bisa tidak mungkin?" Tanya Shafa ingin terus menggali jawaban Arya.
"Karna aku sendirilah yang telah menguburkan Vidya, dengan kedua tanganku ini lah, aku menaruh dia ke tempat peristirahatan terakhirnya. Jadi tidak mungkinkan jika dirimu itu adalah Vidya. Aku terlalu rindu pada Vidya sepertinya jadi aku mengira dirimu adalah Vidya," tutur Arya di sertai tatapannya yang begitu sendu.
Shafa tidak tega melihat raut wajah Arya yang begitu memperihatinkan, pria itu pasti sangat merindukan dirinya. Tapi Vidya tidak bisa mengatakan kebenaran tentang dirinya sekarang karna ia punya alasan di balik ini semua dan juga alasan kenapa dia memilih untuk menghilang dari Arya dan juga putrinya selama bertahun-tahun lamanya.
"Kita berdoa dulu ya setelah itu baru kita pulang," ujar Arya dan di balas anggukkan kepala oleh Shafa.
Arya pun memanjatkan doa, dengan tetesan air mata yang kembali membasahi pipinya. Rasa rindu di hatinya yang begitu dalam akan sosok Vidya selalu mampu membuat Arya menjadi sosok yang lemah dan tak berdaya seperti ini.
__ADS_1
Setelah selesai berdoa dan menaruh bunga mawar putih yang ia beli tadi, Arya mengajak Shafa untuk pulang karna ia rasa hari sudah menjelang siang dan pasti Shafa juga merasa lelah.