
"Assalamu'alaikum aku pulang," ucap Arya yang baru saja tiba di rumah Shafa dengan membawa sate pesanan Shafa tentunya.
"Wa'alaikumsalam, kamu kehujanan? Kok bisa?" Tanya Shafa yang kaget melihat Arya pulang dengan basah kuyup.
"Tadi mobilku mogok di jalan, terus aku terpaksa harus naik ojek online tapi karna abang ojeknya gk bawa jas hujan dan aku takut kamu keburu laper. Maka dari itu aku nekat hujan-hujanan," ujar Arya menjelaskan apa yang terjadi padanya.
"Sebentar diam dulu di sini jangan kemana-mana," ucap Shafa yang memperingati Arya untuk tetap diam dan berdiri di tempatnya.
Arya pun menurut, ia menunggu Shafa dengan sabar sambil sesekali memeperhatikan jas kantornya yang sudah basah kuyup begitupun dengan rambutnya.
"Ini, pakai handuk itu untuk mengeringkan badan dan rambutmu. Kalau basah kuyup kaya gini kamu bisa sakit nantinya," ucap Shafa yang mengkhawatirkan Arya.
Arya hanya diam ketika Shafa menyodorkan handuk itu padanya, melihat Arya yang hanya diam membuat Shafa berdecak kesal. Akhirnya dialah yang mengeringkan rambut Arya dengan susah payah, karna Arya lebih tinggi darinya.
"Kamu tuh ya, bukannya berteduh dulu malah nyari penyakit."
Arya tetap diam meskipun Shafa mengomelinya, senyuman tipis terukir di bibir Arya. Melihat Shafa sedekat ini dengan wajahnya yang mirip sekali dengan mendiang Vidya membuat Arya merasa bahwa Vidyalah yang saat ini sedang mengeringkan rambutnya.
"Sudah selesai," ujar Shafa yang sudah selesai mengeringkan rambut Arya.
"Tapi pakaian kamu juga basah, kalau gitu kamu ganti baju aja dulu pakai baju punya Bram. Mau kan? Daripada kamu masuk angin nantinya," ujar Shafa menyarankan.
Lagi-lagi Arya hanya diam dengan senyuman yang mengembang, kepalanya pun mengangguk, mengiyakan saran dari Shafa.
"Ini satenya, aku mau ganti baju dulu ya."
"Okee sip!" Seru Shafa sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah Arya pergi untuk mengganti bajunya, Shafa pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke dapur. Ia akan menaruh sate yang Arya berikan itu ke piring.
"Satenya kelihatannya enak banget," ujar Shafa yang sudah ngiler melihat sate yang baru saja ia letakkan di atas piring.
Shafa tidak mau memakan sate itu, ia lebih memilih memakan satenya bersama dengan Arya. Bahkan Shafa rela meskipun harus menunggu Arya lumayan lama.
"Udah ganti bajunya?" Tanya Shafa saat Arya sudah duduk tepati di sebrangnya, karna kini jarak mereka hanya di sekat oleh meja makan.
"Udah," jawab Arya singkat membuat Shafa tersenyum. Dalam hati Shafa terkekeh geli karna Arya masih tak berubah, pria itu kadang memang masih irit bicara.
"Ayo kita makan satenya," ucap Shafa membuat Arya mengeryitkan dahinya bingung.
"Kenapa gk dimakan?" Tanya Shafa karna Arya hanya diam saja.
"Aku beliin sate ini buat kamu, jadi kamu aja yang makan," ucap Arya membuat Shafa menghela nafasnya pelan.
__ADS_1
"Kalau kamu gk mau makan sate bareng sama aku, aku juga gk mau makan satenya."
Arya yang mendengar ucapan Shafa pun panik sendiri, ia tidak mau jika gadis itu sampai sakit nantinya.
"Oke deh aku bakalan makan satenya, tapi kita makannya pakai nasi ya?"
"Setuju!" Ujar Shafa yang menyetujui ucapan Arya.
"Aku ambil nasinya-"
"Udah kamu duduk aja, biar aku yang ambilin nasinya. Kamu bisa kecapean nanti," ujar Arya yang menyuruh Shafa untuk tetap duduk di tempatnya.
Shafa pun menurut, ia memperhatikan Arya yang saat ini sedang menggambilkan nasi untuknya. Dalam diam Shafa tersenyum melihatnya, tanpa di sadari ternyata Arya sudah banyak berubah. Pria itu jadi lebih mandiri dan bahkan menjadi pria yang baik hati.
"Kamu mau segimana nasinya?" Tanya Arya yang bersiap untuk menuangkan nasi ke piring Shafa.
"Tidak usah terlalu banyak," jawab Shafa dan di balas anggukkan oleh Arya, lalu pria itu menuangkan nasi ke piring Shafa.
"Terimakasih," ujar Shafa dan di balas dengan senyuman lebar oleh Arya.
Lalu keduanya pun mulai menyantap sate tersebut dengan khitmad, terlebih lagi Shafa yang terlihat sangat menikmati satenya.
Arya yang melihat Shafa begitu lahap menyantap satenya tanpa sadar ia menyungingkan senyumannya, bahkan saat sedang makan pun Shafa sangat mirip dengan Vidya.
"Satenya enak banget, iya kan Arya?" Tanya Shafa meminta persetujuan Arya perihal pendapatnya tentang sate.
"Iya enak," jawab Arya yang sependapat dengan Shafa.
"Ayo ceritakan tentang dirimu," ujar Shafa membuat Arya berdehem singkat.
"Tentang aku?"
Shafa menganggukkan kepalanya seraya menyungingkan senyumannya.
"Iya tentang kehidupanmu, selama 10 tahun ini kamu tidak pernah menceritakan tentang kehidupanmu padaku," ujar Shafa mendesak Arya untuk bercerita.
Arya diam sebentar, pria itu sedang memikirkan sesuatu. Haruskah ia menceritakan tentang dirinya pada Shafa? Mungkin ini saat yang tepat bagi Arya untuk bisa membantu Shafa untuk mengingat tentang masalalunya kembali jika memang Shafa itu adalah Vidya, Arya yakin gadis itu akan breaksi nanti setelah ia mendengarkan kisah yang akan Arya ceritakan.
"Baik aku akan menceritakan tentang hidupku padamu."
Shafa pun kembali tersenyum, gadis itu terlihat antusias ingin mendengarkan cerita dari Arya.
"Aku tinggal dengan putriku namanya Reilla," ujar Arya sambil tersenyum ketika mulai membayangkan wajah putrinya saat kecil dulu.
__ADS_1
"Dia anak yang manis, cantik, dan juga pintar. Aku sangat menyayanginya, aku membesarkan Reilla seorang diri. Sejak kecil Reilla tidak pernah merepotkanku justru karna dialah aku masih tetap bertahan di dunia ini," kata Arya yang mulai terbayang kehidupannya dulu saat Vidya pergi meninggalkannya.
Shafa yang sebenarnya adalah Vidya hanya bisa menatap Arya dengan tatapan sendu, ia bisa membayangkan bagaimana pria itu berjuang dengan keras merawat buah hati mereka dan ia yakin bahwa itu tidaklah mudah bagi Arya.
"Reilla yang selalu menguatkanku di saat Ibunya pergi meninggalkan diriku," ujar Arya yang mulai menundukkan kepalanya.
"Kemana Ibunya Reilla pergi?" Tanya Shafa berpura-pura tidak tahu padahal sama saja saat ini Shafa sedang bertanya tentang dirinya sendiri.
"Dia sudah tiada saat ia melahirkan Reilla, saat itu aku merasa duniaku hancur. Apalagi saat melihat anakku terus menangis itu membuat hatiku sangat teriris," ujar Arya yang tanpa dia sadari sudah meneteskan air matanya.
Shafa alias Vidya, turut merasakan kesedihan yang saat ini Arya rasakan. Vidya membayangkan betapa sulitnya pria itu dalam mengurus putrinya selama lima belas tahun ini hanya dengan seorang diri, Vidya merasa semakin tersiksa mendengar hal itu.
"Dia pergi di saat aku baru menyadari bahwa dirinya sangatlah berarti dalam kehidupanku, kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi diriku. Selama lima belas tahun ini aku membesarkan putriku seorang diri, rasanya aku hampir mati ketika mendengar tangisan putriku yang merindukan Ibunya. Aku masih ingat jelas betapa sedihnya Reilla saat ia tau kalau dirinya tak sama dengan teman-temannya yang memiliki keluarga yang lengkap."
Shafa alias Vidya hanya bisa meneteskan air matanya, ia begitu terhanyut dalam cerita Arya. Ia membayangkan betapa sedihnya putrinya itu saat ia tau bahwa dirinya berbeda dengan teman-temannya, dalam hati yang terdalam Vidya terus mengumamkan kata maaf untuk semua hal yang telah Arya dan putrinya itu tanggung selama ini.
"Apa kamu merindukan Ibunya Reilla?" Tanya Shafa alias Vidya, membuat Arya mengangkat kepalanya menatap Shafa dengan matanya yang sembab.
"Tentu saja, aku sangat merindukannya. Bahkan setiap kali aku menutup mata hanya wajahnya saja yang selalu terbayang, bahkan senyuman dan sorot matanya yang teduh selalu terbayang dan terparti dalam ingatanku."
Vidya menghela nafasnya ketika mendengar ucapan Arya yang begitu jujur dan tulus, ia tau pasti selama ini pria itu sudah sangat tersiksa karna dirinya.
"Maaf karna aku, kamu jadi sedih begini," ujar Shafa alias Vidya yang merasa tak tega melihat Arya menangis seperti ini.
"Tidak apa, aku senang bisa berbagi cerita denganmu."
Arya menyungingkan senyumannya, lalu ia menerima uluran sapu tangan dari Shafa dan mulai menghapus jejak air matanya.
"Ah, aku harus pulang dulu. Rei pasti sudah menungguku di rumah," ucap Arya yang pamit karna ia harus pulang.
"Kamu pulang naik apa? Mobil kamu kan mogok dan lagi di servis?" Tanya Shafa saat Arya bangkit dari duduknya.
"Bram yang akan mengantarku tentunya dengan mobil yang lain, kamu tidak usah khawatir lagi lebih baik kamu segera tidur dan jangan lupa minum obatmu dulu."
Shafa alias Vidya itu hanya menyungingkan senyumannya, ia merasa senang ketika Arya mulai memperhatikan dirinya.
"Tentu, hati-hati di jalan."
"Iya, terimakasih."
Lalu setelah itu Arya pun benar-benar pulang dan kini hanya tinggal Shafa sendiri yang meratapi kepergian Arya dan juga Bram yang ikut mengantar Arya pulang.
"Ternyata kepergianku selama 15 tahun ini meninggalkan luka di hati Arya bahkan di hati putriku sendiri," ucap Shafa alias Vidya yang kini hanya bisa tersenyum getir ketika mengingat cerita Arya.
__ADS_1
Hati Vidya sangat teriris, ketika mendengar kabar bahwa putrinya selama ini menderita karna kepergiannya. Sebenarnya ia tidak benar-benar pergi, ia hanya hilang ingatan itu semua karna tragedi yang ia alami dulu. Tragedi yang membuat dirinya juga harus menderita, awalnya Vidya bersyukur dengan itu ia bisa menjauh dari Arya dan meringankan beban pria itu tapi Vidya tidak tau jika kepergiannya malah membawa beban yang teramat berat bagi Arya bahkan bagi putrinya sendiri.