Without You

Without You
[S2] Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Setelah selesai bercerita panjang lebar, Umi menyuruh Vidya untuk beristirahat terlebih dahulu di rumah dan ia juga meminta Vidya untuk bisa tinggal bersamanya.


Namun Vidya menjelaskan bahwa ia tidak bisa tinggal bersama sang Umi untuk sementara waktu, hal itu membuat Umi jadi bertanya-tanya.


"Sepertinya kalau Arya tau kalau kamu masih hidup dia akan sangat senang," ujar Umi Vidya membuat senyuman di wajah Vidya luntur seketika.


"Jangan Umi, tolong jangan beritahu apapun pada Arya," pinta Vidya dengan raut wajah memohon.


"Ada apa? Kenapa kamu gk mau Arya tau kalau kamu masih hidup?" Tanya Umi yang tak bisa menebak jalan fikiran putrinya ini.


"Tidak sekarang mi, Vidya masih butuh waktu."


Umi menghela nafas mendengar ucapan dan tatapan memohon yamg putrinya berikan.


"Mau sampai kapan? Arya sangat mencintai kamu, dia begitu kehilangan kamu. Bahkan dia rela tidak menikah lagi hanya karna dia masih mencintai kamu, dia rela membesarkan putri kalian seorang diri selama 15 tahun ini."


"Vidya tau Umi, tapi untuk saat ini Vidya tidak ingin memberitahu Arya dulu. Vidya butuh waktu jadi tolong mengertilah," ujar Vidya lirih yang membuat Umi hanya bisa menghela nafasnya dan menuruti apa ucapan putrinya itu.


"Sudah siang mi, Vidya pamit pulang ya."


"Kamu mau kemana? Kamu mau pergi lagi dari Umi?" Tanya Umi saat Vidya berpamitan padanya.


"Iya Umi, Vidya harus pergi."


Umi mengelengkan kepalanya, matanya kembali berkaca-kaca. Rupanya ia enggan membiarkan putrinya pergi lagi, setelah lima belas tahun lamanya Vidya kini kembali. Lalu bagaimana bisa ia melepaskan putrinya begitu saja?


"Kamu tinggal saja di sini ya, Umi akan merawat kamu. Umi tidak akan memberitahu siapapun tentang kamu pada Arya dan siapapun, tapi tolong kamu tinggal di sini ya," pinta Umi Vidya membuat Vidya menjadi tak tega.


"Maaf Umi, Vidya harus pergi. Vidya janji akan sering berkunjung ke sini," ujar Vidya yang menjanjikan bahwa dirinya akan sering berkunjung ke rumah Umi nya.


"Janji ya? Jangan pergi-pergi lagi," sahut Umi Vidya lagi.


"Iya Umi, sayang. Vidya janji," ujar Vidya yang kembali berjanji.


Merasa bahwa putrinya tak mungkin berbohong, akhirnya Umi membiarkan Vidya pergi. Namun sebelum pergi, Umi kembali memberikan pelukkannya untuk Vidya dan mendoakan gadis itu agar selalu baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah.


Setelah melalui pertemuan yang penuh haru, Vidya pun melangkahkan kakinya untuk kembali pulang karna ia takut ketahuan Arya nantinya.


Vidya sengaja memilih untuk berjalan kaki saja, sambil menikmati jalanan yang tampak ramai siang ini.


Langkah kaki Vidya pun terhenti saat ia melihat sosok gadis yang tak asing baginya, senyuman Vidya pun mengembang saat melihat sosok gadis itu yang ternyata adalah putrinya sendiri, Reilla.


Vidya memilih untuk mengamati Reilla dengan cara bersembunyi di balik pepohonan, ia melihat putrinya saat ini sedang duduk di bangku taman sambil memangku buku dan membacanya.

__ADS_1


Senyuman Vidya terus terukir di bibirnya, rasa rindunya sebagai seorang Ibu kembali menyeruak. Melihat putrinya sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan sehat membuat Vidya merasa bersyukur.


Arya sudah berhasil merawat dan menjaga putrinya dengan sangat baik, bahkan putrinya tumbuh menjadi gadis yang sangat manis.


"Ini buat Rei."


Sebuah suara mengalihkan perhatian Vidya dari Reilla, ia melihat sosok perempuan yang datang menghampiri Reilla dan menyodorkan minuman pada Reilla. Vidya tidak bisa melihat wajah perempuan itu karna posisi perempuan itu membelakangi Vidya.


Namun dari pengamatan Vidya, Reilla dan perempuan itu terlihat sangat akrab sekali. Keduanya bahkan tertawa dan mengobrol begitu riang bahkan Reilla juga terlihat manja padanya, hal itu membuat Vidya jadi bertanya-tanya sebenarnya siapa perempuan yang saat ini sedang bersama putrinya itu?


"Masyaallah putriku sangat manis sekali," ujar Vidya yang merasa gemas ingin memeluk Reilla namun ia masih bisa menahan dirinya untuk tidak melakukan hal itu.


"Eh? Mau kemana? Kok pergi?" Tanya Vidya yang sebenarnya hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


Vidya yang awalnya berniat untuk pulang pun mengurungkan niatnya, ia memilih untuk mengikuti Reilla dan perempuan yang masih tak bisa Vidya lihat wajahnya itu.


Keduanya kini terlihat pergi meninggalkan taman, dengan mengendap-ngendap dan menjaga jarak Vidya mulai membuntuti kedua orang tersebut.


Langkah Vidya terhenti saat Reilla dan perempuan yang bersamanya tadi juga menghentikan langkah mereka, keduanya berhenti tepat di kedai penjual kebab.


Vidya menelan salivanya, mencium wangi kebab dari tempat ia bersembunyi sukses membuat perut Vidya terasa lapar. Vidya jadi menyesal karna sudah menolak tawaran Uminya yang tadi menyuruhnya untuk makan siang bersama.


Dengan sabar Vidya menunggu Reilla dan perempuan itu yang masih memesam kebab, keduanya terlihat sangat akrab. Rangkulan perempuan itu pada Reilla juga tidak pernah ia lepaskan sedaritadi.


"Terimakasih Pak."


Setelah itu Reilla dan perempuan yang tadi bersamanya pun kembali pergi, Vidya yang sebenarnya ingin memesan kebab terlebih dahulu pun jadi harus mengurungkan niatnya itu.


Vidya memilih untuk mengikuti kemana Reilla dan perempuan itu pergi, lalu langkah keduanya pun berhenti di sebuah bangun besar yang Vidya yakini adalah sebuah sekolahan.


"Belajar yang rajin ya," pesan perempuan itu yang entah mengapa posisinya selalu membelakangi Vidya.


Perempuan itu terlihat menbenarkan tas Reilla lalu merapihkan baju Reilla yang tampak tidak terlalu rapih itu.


Reilla terlihat berpamitan pada perempuan itu, ia juga melambaikan tangannya sebelum akhirnya masuk ke dalam gedung yang Vidya yakini adalah sekolahnya Reilla.


Setelah Reilla masuk perempuan itu pun pergi, namun Vidya tidak mengikuti langkah perempuan itu.


Vidya keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan ke arah tempat bekas tadi Reilla dan perempuan itu berdiri.


Vidya mendongakkan kepalanya menatap bangunan sekolah Reilla yang begitu besar, kemudian seketika di kepala Vidya muncul sebuah ide.


Ide yang akan ia gunakan agar bisa terus melihat Reilla tanpa harus bersembunyi.

__ADS_1


Senyuman di wajah Vidya pun mengembang, ia harus segera pulang dan menceritakan idenya ini pada Bram. Vidya yakin Bram pasti akan mendukungnya nanti.


Langkah Vidya pun mulai menjauh dari gedung sekolah Reilla, ia melangkah riang untuk pulang ke rumah. Namun sebelum itu Vidya menyempatkan diri untuk mampir di tukang kebab yang tadi sempat putrinya singgahi.


"Kebabnya dua ya Pak," ujar Vidya yang mulai memesan kebab untuk dirinya.


"Kebabnya satu Pak."


Vidya menolehkan kepalanya sebentar ke arah anak remaja yang juga memesan kebab sama seperti Vidya.


Vidya dan anak remaja itu menunggu pesanan mereka dengan sabar.


"Pak, saya bisa dapat kebabnya duluan gk? Saya masih ada urusan nih," ujar anak remaja itu pada penjual kebab.


"Maaf dek, tapi kebab ini untuk mbak ini yang udah beli lebih dulu," tolak si penjual kebab sambil menunjuk Vidya.


"Eh? Gk apa-apa kok Pak, adek ini kayanya kelihatan buru-buru banget. Mending kebabnya buat dia aja dulu," ujar Vidya yang memilih untuk mengalah pada anak remaja di sampingnya itu.


"Terimakasih Kak," ujar anak remaja itu dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya.


"In dek Kebabnya," ujar si penjual kebab menyerahkan kebab pertama itu untuk anak remaja laki-laki itu yang setelah membayar langsung pergi begitu saja.


"Ini kebab pesanan mbak," ujar si penjual kebab yang akhirnya telah selesai membuatkan pesanan Vidya.


"Alhamdulillah, terimakasih Pak."


Setelah mengucapkan terimakasih, barulah Vidya berniat untuk pulang. Namun ia urungkan karna melihat dompet yang jatuh di dekat kakinya.


Vidya yakin dompet itu pasti milik anak remaja tadi, akhirnya Vidya pun memutuskan untuk mengejar anak remaja tadi yang ia harap belum pergi jauh.


Namun sayang Vidya kehilangan jejak anak remaja itu, Vidya menghela nafasnya gusar. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka dompet tersebut untuk mengecek siapa tau ada alamat rumahnya yang bisa Vidya datangi untuk memberikan dompet tersebut.


Vidya mengucap syukur saat ia menemukan sebuah kartu pelajar yang di sana ada alamat rumah yang Vidya yakini adalah alamat rumahnya anak remaja itu.


Akhirnya Vidya pun memutuskan untuk pergi mengantarkan dompet itu ke alamat yang tertera di dalam kartu pelajar itu.


Setelah berkeliling, akhirnya Vidya menemukan keberadaan rumah anak remaja itu.


Dengan sopan Vidya mulai menekan bel yang ada di dekat pintu rumah itu, lalu tak lama pintu pun terbuka. Sekaligus membuat Vidya terperanjat kaget melihat sosok yang muncul menyambutnya itu.


"Gk mungkin ..." lirih orang yang tadi membukakan pintu untuk Vidya, sambil mengelengkan kepala tak percaya melihat kehadiran Vidya.


"Vidya? Bukannya kamu sudah meninggal?"

__ADS_1


Vidya memundurkan langkahnya, dompet yang ada genggamannya itu seketika terjatuh. Sosok yang saat ini menatap Vidya dengan tatapan terkejut adalah sosok yang dulu pernah ada di masalalunya, sosok yang dulu membuat rumah tangga Vidya dan Arya berantakan, sosok itu tak lain adalah Siren yang tampak begitu terkejut melihat sosok Vidya yang ia sangka sudah tiada namun kini berdiri di hadapannya.


Vidya mengelengkan kepalanya, dalam hati ia bertanya. Kenapa semesta terus mengujinya? Kenapa dalam satu hari ini, Vidya bertemu dengan dua orang dari masalalunya secara bersamaan. Tentu saja membuat Vidya semakin merasa lemas, ia mungkin bisa menghadapi Uminya tadi. Namun untuk menghadapi Siren, Vidya tidak tau sanggup atau tidak menghadapi dan menjelaskan semuanya pada Siren yang masih mentapnya dengan tatapan ketakutan sekaligus keterkejutan yang luar biasa.


__ADS_2