
Part ini pake sudut pandang penulis / Author POV/
Happy reading gegs!
-
-
-
-
-
"Vidya." Suara Arya yang memanggil nama Vidya mengema di udara.
Vidya pun keluar dari kamarnya, lalu berjalan menghampiri Arya yang sedaritadi memanggil namanya.
"Loh? Kamu kok udah pulang jam segini?" Tanya Vidya, ia heran melihat Arya yang tiba-tiba sudah berada di rumah.
Padahal pria itu selalu pulang di atas jam 10 malam, Vidya menolehkan kepalanya ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah delapan malam, jelas saja ia merasa heran.
"Cepetan ganti baju lo." Suruh Arya, Vidya semakin bingung karna Arya tiba-tiba menyuruh dirinya untuk mengganti pakaian.
"Kenapa emang nya? Kok saya di suruh ganti pakaian?" Tanya Vidya, Arya menghela nafasnya mendengar pertanyaan Vidya barusan.
"Udah cepetan lo ganti dulu sana pakaian lo, abis itu baru gue jelasin." Vidya akhirnya menurut juga, ia melengang pergi masuk ke kamar dan menganti pakaiannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Vidya untuk sekedar mengganti pakaiannya saja.
Vidya kini sudah berdiri di hadapan Arya.
"Kenapa kamu nyuruh saya ganti pakaian?" Tanya Vidya bingung sendiri.
"Gue mau ngajak lo pergi ke acara yang di adain di kantor gue, makannya gue nyuruh lo ganti baju." Vidya menganggukkan kepalanya, mengerti.
"Tuh taksi nya udah dateng, ayo kita pergi." Ucap Arya yang berjalan dahulu dari Vidya, Vidya meringis melihat Arya yang kesusahan berjalan dengan bantuan tongkatnya.
"Arya!" Pekik Vidya saat Arya hendak terjatuh, namun beruntung karna Vidya dengan sigap menahannya dari belakang.
"Hmm, lo bisa lepasin tangan lo. Gue gk apa-apa." Deheman Arya membuat Vidya membuka matanya perlahan.
Vidya yang baru menyadari posisinya yang kini sedang memeluk tubuh Arya dari belakang pun segera melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Arya.
"Ma..maaf." ujar Vidya sambil tersenyum kikuk.
Arya tidak menjawab ia malah melanjutkan langkahnya menuju ke arah taksi yang sedaritadi sabar menunggu.
"Lo duluan yang masuk." Suruh Arya yang membukakan pintu mobil untuk Vidya.
Vidya pun menurut, ia masuk ke dalam taksi terlebih dahulu. Baru setelah itu di susul Arya yang menggambil tempat duduk, tepat di sampingnya.
[]
"Ini pak, ambil aja kembaliannya." Ujar Arya sambil memberikan uang pada supir taksi tersebut saat ia dan Vidya sudah sampai ke tempat tujuan.
"Alhamdulillah makasih ya mas, semoga mas sama mbak nya langeng terus ya." Ujar supir taksi tersebut, Arya hanya diam sementara Vidya mengamini ucapan supir taksi tersebut dalam hati.
"Ayo kita masuk ke dalam." Ujar Arya, Vidya pun mengangguk namun ada yang aneh dengan Arya.
__ADS_1
Pasalnya tadi pria itu menyuruh Vidya untuk masuk, tapi Arya masih berdiri saja di tempatnya.
"Kenapa? Gk jadi masuk?" Tanya Vidya, Arya berdecak mendengar pertanyaan Vidya.
"Siniin tangan lo, biar gua gandeng masuk ke dalam." Ucap Arya, Vidya tertegun seketika namun ia menuruti perkataan Arya.
Vidya menyerahkan tangannya pada Arya, dan langsung di gandeng oleh sebelah tangan Arya yang bebas, sementara tangan sebelahnya lagi memegang tongkat untuk membantu ia berjalan.
"Hati-hati Arya!" Pekik Vidya kala tubuh Arya hendak jatuh.
"Tenang, gue gk apa-apa kok." Ujar Arya yang berusaha melepaskan cengkraman Vidya di pungungnya.
Namun meskipun Arya bilang tidak apa-apa tapi tetap saja Vidya merasa sangat khawatir pada pria itu.
Arya dan Vidya pun masuk ke dalam restoran bintang lima tersebut, dengan saling bergandengan.
Setelah masuk ke dalam ruangan yang sudah di pesan di salah satu restoran itu, Arya langsung di sambut oleh beberapa teman yang menyapanya.
"Widih, siapa nih yang lo gandeng?" Tanya teman Arya yang tersenyum menatap Vidya.
"Dia istri gue." Ujar Arya seraya mengeratkan gandengannya pada tangan Vidya.
Vidya menatap tautan tangannya dengan Arya, lalu menatap wajah suaminya dari samping.
"Widih cantik banget istri lo kaya bidadari, mukanya juga adem banget kaya ubin masjid, Masyallah ih jadi pengen punya juga." Celetuk teman Arya yang lainnya.
"Makannya nikah." Ucap Arya, yang langsung di sambut tawa oleh teman-temannya yang lain.
"Tuh makannya Raka, lo tuh kalau mau punya gandengan ya nikah kaya Arya." Sementara laki-laki bernama Raka yang memang notabennya jomblo itu hanya bisa mengusap dadanya, mencoba untuk tabah.
"Arya kamu sudah datang rupanya." Ujar seorang pria paruh baya yang datang menghampiri Arya.
"Sama siapa kamu?" Tanya pak Hermawan, yang langsung memperhatikan sosok Vidya.
"Oh ini sama istri saya pak." Jawab Arya, Vidya merasa pipinya memanas saat Arya menyebut dirinya sebagai 'istri' nya.
"Pak Hermawan, ini acaranya kapan di mulai pak?" Tanya salah satu karyawan, Pak Hermawan yang sedaritadi memandangi wajah Vidya pun tersentak kaget.
"Ah...iya silahkan kita mulai saja, Arya ayo silahkan duduk." Ujar pak Hermawan, Arya pun mengangguk sopan.
Arya duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari tempat duduk pak Hermawan.
Acara makan malam pun tiba, hidangan lezat sudah di tata rapih di atas meja.
Semuanya pun menyantap makanan tersebut dengan tenang, termasuk Vidya yang sangat menikmati rasa makanan tersebut.
Namun tidak dengan Arya, pria itu sedaritadi sadar jika bos nya itu memperhatikan istrinya terus-menerus.
Arya berdecak kesal, tak suka dengan cara tatapan bosnya, yang menatap istrinya dengan intens.
Arya jadi ingin meminta Vidya memasang cadar lagi rasanya, jika ia tau bahwa wajah istrinya ini selalu dapat menarik mata laki-laki lain untuk melirik.
Acara makan malam pun telah selesai, namun acara tersebut belum selesai sepenuhnya.
Tapi Arya sudah tak tahan berada di ruangan itu, apalagi tatapan pak Hermawan yang tak pernah lepas dari Vidya.
"Vidya ayo kita pergi." Ajak Arya pada Vidya yang sedang asyik menikmati acara tersebut.
Namun Vidya menurut saja saat tiba-tiba Arya menarik tangannya, bahkan ketika bos nya memanggil-manggil namanya, Arya tetap tidak menoleh.
__ADS_1
"Arya, itu bos kamu manggil-manggil nama kamu." Ujar Vidya saat dirinya dan Arya sudah sampai di depan pintu keluar restoran.
"Biarin aja, gue gk perduli." Ujar Arya, yang masih mengenggam tangan Vidya dan terus menarik Vidya untuk ikut keluar dari restoran itu dengannya.
"Kamu kenapa sih? Acaranya kan belum selesai?"
Vidya merasa aneh dengan tingkah suaminya itu, yang tiba-tiba saja mengajak dirinya untuk pergi dari acara tersebut.
"Gue gk nyaman aja di sana." Ujar Arya, Vidya merasa ada yang janggal dengan suaminya ini, namun Vidya tetap diam.
"Terus kita mau langsung pulang?" Tanya Vidya pada Arya.
Sementara itu Arya terlihat sedang berfikir, lalu ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Belum terlalu malam, kita jalan-jalan dulu."
"Hah?" Vidya terkejut dengan ucapan Arya barusan yang mengajaknya jalan-jalan.
"Kenapa? Bukannya kita mau jadi suami istri yang normal? Ya wajar dong kalau gue ngajakin lo jalan-jalan. Belom pernah kan lo di ajakin jalan-jalan sama cowok ganteng kaya gue?"
Vidya mendengus mendengar ucapan bernada narsis yang keluar dari mulut Arya.
"Udah pernah." Jawab Vidya, membuat Arya langsung menatap wajah Vidya
"Hah? Lo udah pernah jalan sama cowok ganteng? Siapa? Maksud gue siapa dia? Kok bisa? Kapan?"
Vidya bukannya menjawab pertanyaan Arya, ia malah terkekeh mendengar Arya yang memberondongi dirinya dengan berbagai pertanyaan.
"Rahasia." Jawab Vidya sambil tertawa.
"Gk boleh ada rahasia, kita kan suami istri." Ujar Arya, membuat Vidya meredakan tawanya namun tidak bisa untuk menahan senyumannya.
"Kamu...." Vidya sengaja mengantung ucapannya, sementara Arya menaikkan satu alisnya, penasaran.
"Kamu gk lagi cemburukan?" Tanya Vidya dengan raut wajah jahilnya.
"Ish apaan sih lo, siapa juga yang cemburu!" Ujar Arya ketus, ia juga langsung memalingkan wajahnya dari Vidya.
"Ya udah, berarti rahasia nya gk usah di kasih tau." Vidya berujar dengan entengnya, lalu berjalan mendahului Arya, namun hanya dua langkah karna Arya kembali mengengam tangan Vidya.
"Apa rahasianya?" Tanya Arya yang masih kukuh ingin tau.
Vidya tersenyum menatap wajah penasaran suaminya itu.
"Aku udah pernah jalan sama cowok, ganteng pula malah lebih ganteng dari kamu."
Vidya mengamati raut wajah Arya yang terlihat kaget, membuat Vidya harus menahan tawa melihatnya.
"Siapa?!" Tanya Arya dengan nada penuh penasaran.
Vidya meminta Arya untuk menunduk, Arya pun menurut.
Vidya mensejajarkan bibirnya di telinga Arya, lalu senyuman jahil terbit di bibirnya.
"Kakak aku." bisik Vidya lalu tertawa, dan lari menjauh dari Arya.
"Vidya! Tunggu!" Pekik Arya yang mukanya sudah memerah, padahal sedaritadi ia sudah rela menurunkan ego nya hanya untuk tau rahasia Vidya, sekarang Arya malah merasa sangat malu.
Sementara Vidya tertawa begitu lepas melihat wajah Arya yang memerah, entahlah Vidya merasa dirinya sangat bahagia malam ini.
__ADS_1