
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Happy reading!
-
-
-
-
-
Saat ini hanya ada keheningan antara Siren dan juga Arya, karna diantara keduanya belum ada yang memulai untuk berbicara.
Siren menatap Arya yang terlihat memalingkan wajahnya ke arah lain, sedangkan Siren hanya bisa menghela nafasnya melihat hal itu.
"Arya," panggil Siren namun Arya tidak menolehkan kepalanya.
"Aku tau kamu terluka saat ini. Maafin aku Arya, aku gk tau kalau kamu ternyata cinta sama Vidya dan kedatangan Aku dalam hubungan kalian membuat kalian berdua terluka."
Arya hanya diam namun ia masih mendengarkan ucapan Siren dengan seksama.
"Aku fikir Vidya adalah perusak hubungan kita namun ternyata aku salah. Karna sebenarnya yang merusak hubungan di sini adalah Aku, aku yang telah merusak hubungan kamu dan Vidya," ucap Siren sambil tersenyum getir membayangkan betapa jahatnya dia pada Arya dan Vidya.
"Maka dari itu aku udah memutuskan sesuatu hal," ujar Siren sambil melihat ke arah Arya yang masih menatap ke arah lain.
"Aku memutuskan kalau aku mau mengakhiri hubungan kita, karna aku gk mau di cap sebagai seorang pelakor jadi aku-"
"Ssttt diam! Udah cukup ngomongnya. Sini," ucap Arya yang menoleh dan memotong ucapan Siren.
Siren pun menurut lalu menghampiri Arya dan segera berhambur ke dalam pelukkan Arya.
"Udah jangan nangis lagi. Maaf ya aku yang gk bisa jadi suami yang baik buat kamu dan maaf juga aku gk bisa mencintai kamu karna cintaku sudah berlabuh pada Vidya."
Siren menganggukkan kepalanya, ia sudah tau hal itu. Meskipun rasanya menyakitkan namun Siren berusaha untuk menerima kenyataan itu.
Kenyataan bahwa Arya memang mencintai Vidya bahkan lebih dari cinta Arya kepada dirinya.
__ADS_1
Sebelumnya Siren memang tidak mau meninggalkan Arya namun saat ia tau bahwa Vidya tak pernah membenci dirinya sama sekali malah sebaliknya, gadis itu malah menerima dirinya dengan senyuman bukan dengan cacian dan makian.
Siren merasa sudah sangat jahat pada Vidya dan Arya, ia sudah jahat karna memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai.
"Aku mau kita pisah aja Arya. Aku gk tega liat kamu menderita kaya gini," ucap Siren dalam pelukkan Arya.
Arya mengelus kepala Siren, dalam hati ia meminta maaf karna sudah menyakiti hati Siren juga.
"Tapi kamu gk usah khawatir, aku sama Aksara pasti akan baik-baik aja kok."
Siren pun melepas pelukkannya lalu menatap wajah tampan Arya.
"Terimakasih Siren. Terimaksih banyak," kata Arya dengan begitu tulusnya pada Siren.
Siren menganggukkan kepalanya dan tangannya kembali mengusap air mata yang menetes di pipi Arya.
"Jangan nangis lagi. Udah cukup kamu dan Vidya menderita karna sekarang waktunya kalian berdua untuk bahagia," ucap Siren lagi sambil tersenyum dan membuat Arya juga ikut tersenyum.
Dalam hati Arya sangat bersyukur bisa mengenal Siren, Arya dapat melihat di balik manik mata dan senyuman Siren bahwa ada luka yang sedang gadis itu tutupi.
Memang benar, saat ini Siren sedang berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar dan belajar mengikhlaskan bahwa cinta tak selalu harus tentang memiliki.
Cinta adalah ketulusan dan keikhlasan kita, ketika kita harus melepaskan orang yang kita cintai bersanding dengan orang lain tapi kita merelakannya asalkan orang yang kita cintai merasakan kebahagian.
Namun bagi Siren dapat mengenal sosok Arya dan berada dekat dengannya selama ini adalah sebuah keberuntungan dan pernah dicintai oleh Arya juga adalah sebuah keberuntungan yang tidak dapat orang lain rasakan.
Tapi saat ini Arya sudah melabuhkan hatinya pada Vidya, yang memang Siren fikir pantas bersanding dengan Arya.
Siren juga sudah mulai bertekad bahwa ia akan belajar banyak pada Vidya tentang bagaimana caranya menerima semua cobaan dan ujian dengan ikhlas dan penuh kesabaran seperti yang Vidya lakukan.
Setelah mengutarakan hal tersebut, Siren pun keluar dari ruangan rawat Arya.
Di luar ruangan Siren melihat Vidya yang sedang duduk di bangku yang menang di sediakan untuk menunggu pasien.
Siren menghampiri Vidya dan duduk tepat di samping gadis itu.
Keduanya sama-sama diam, sibuk pada fikiran mereka masing-masing.
"Vidya," panggil Siren membuat perhatian Vidya teralihkan pada gadis berparas blasteran bule itu.
__ADS_1
"Lo masih cinta sama Arya kan?" Tanya Siren yang berhasil membuat Vidya membungkam.
Vidya menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Maaf Siren tapi aku seriusan gk ada maksud rebut Arya dari kamu kok jadi tenang aja," ujar Vidya yang takut jika nanti Siren akan salah sangka pada dirinya.
Siren terkekeh melihat tingkah Vidya barusan.
"Siapa bilang gitu? Gk apa-apa kalau kamu mau ambil Arya juga."
Vidya menolehkan kepalanya dan mengerenyitkan dahi bingung dengan perkataan Siren.
"Maksud kamu?" Tanya Vidya yang masih tak mengerti apa maksud perkataan Siren.
"Gue sama Arya emang udah mau pisah kok. Kita berdua memutuskan pisah karna gue udah ada kandidat baru hehe," ucap Siren beralibi dengan alasan memiliki kandidat baru.
Vidya tidak sepenuhnya percaya pada ucapan Siren barusan, ada sesuatu yang sedang berusaha Siren sembunyikan.
"Udah ah gk usah di fikirin. Sekarang lo sama Arya mau gimana?" Tanya Siren lagi sedangkan Vidya hanya mengelengkan kepalanya pelan.
Siren menghela nafasnya, ia tau membujuk Vidya untuk bisa menerima Arya kembali sudah pasti sangatlah sulit.
Akhirnya Siren memutuskan untuk melakukan sesuatu agar Vidya dan Arya bisa bersatu kembali.
Siren pun tersenyum ketika ide cemerlang tersebut muncul di kepalanya.
"Kenapa lo gk mau balik lagi sama Arya? Apa lo udah gk sayang lagi sama dia? Lo kok egois banget sih jadi orang."
Vidya mengerenyitkan dahinya, semakin bingung dengan Siren yang tiba-tiba mengatai dirinya egois.
"Egois gimana maksud kamu?" Tanya Vidya tidak mengerti.
"Lo udah egois, lo cuma mikirin perasaan lo doang. Sedangkan perasaan anak lo? Apa lo gk mikirin dia juga? Gimana nanti kalau dia tumbuh tanpa sosok seorang Ayah? Apa lo siap ngeliat anak lo sakit gara-gara kangen sama Ayahnya? Apa lo mau anak lo terlahir tanpa Ayah kaya yang anak gue alami?" Tanya Siren panjang lebar.
Vidya pun terdiam seketika, memikirkan ucapan Siren yang terdengar ada benarnya juga.
Vidya selama ini terus memikirkan perasaannya saja dan tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan anaknya nanti ketika dia sudah besar, apa yang harus Vidya katakan pada anaknya saat nanti anaknya bertanya dimana Ayah nya berada.
Membayangkannya saja membuat Vidya sangat ingin menangis.
__ADS_1
"Kamu benar Siren. Aku terlalu egois dan lupa bagaimana perasan anakku nanti ketika dia tumbuh tanpa sosok seorang Ayah yang sudah pasti akan terasa sangat berat sekali."
Siren pun menyunggingkan senyumannya, sepertinya ide cemerlangnya kali ini berhasil dan semoga saja bisa segera menyatukan Vidya dan Arya kembali.