
Dua jam sudah berlalu, namun Rayn masih tetap duduk di tempatnya dan masih setia menemani Keira yang kini sudah terlelap padahal sebelumnya gadis itu terlihat begitu kesakitan sebelum akhirnya anggota PMR datang membantu.
Setelah makan dan minum obat, Keira pun terlelap. Rayn menatap kotak bekalnya yang sudah habis di lahap oleh Keira sedangkan dirinya sama sekali belum menyantap bekal buatan Naya itu. Namun Rayn tak mempermasalahkannya, toh ia juga belum merasa begitu lapar saat ini.
Rayn menatap wajah lugu Keira yang sedang tertidur, wajah gadis itu memang terlihat begitu cantik. Wajah bulat, bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung, membuat Keira terlihat begitu menawan.
Bahkan tanpa sadar membuat Rayn mengulum senyum, tangannya terulur mengusap lembut kepala Keira yang terbalut kerudung putih. Namun saat Rayn kembali teringat bahwa tak seharusnya dia melakukan hal itu pada Keira, ia pun kembali menarik tangannya menjauh dari Keira.
Ia harus ingat pada tujuan awalnya bahwa Keira hanyalah targetnya saja, yang suatu saat nanti bisa saja harus ia akhiri sama seperti target-targetnya yang lain.
Tak mau dirinya bertindak semakin jauh jika terus-terusan berada di dekat Keira, Rayn pun memutuskan untuk pergi saja dari UKS meninggalkan Keira yang masih terlelap dalam tidurnya.
.......
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 sore, dan Keira baru saja bangun dari tidurnya. Gadis itu menguap dan mengucek kedua matanya lalu beralih ke posisi duduk.
Keira membuka kedua matanya, ia mengerenyit bingung kenapa dirinya bisa ada di UKS namun saat ia berhasil mengingat kembali apa yang terjadi pada dia sebelumnya Keira pun mendadak teringat pada sosok Rayn yang kini tak ada di UKS.
Keira mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Rayn tapi pria itu tetap tak terlihat.
"Di mana dia?" tanya Keira pada dirinya sendiri. Karna penasaran Keira pun berusaha turun dari atas kasur UKS, lalu berjalan ke arah pintu UKS.
"Loh? Keira? Kok belum pulang?"
Keira pun menolehkan kepalanya saat mendengar ucapan seseorang yang tak lain adalah Bu Nina-- guru Sejarahnya yang tiba-tiba datang dan bertanya pada dirinya.
"Saya tadi sakit bu terus istirahat di UKS," kata Keira menjelaskan kenapa dirinya ada di UKS saat ini.
"Semoga lekas sembuh ya Keira, dan segeralah pulang karna UKS sekolah sudah mau Ibu tutup," kata Bu Nina dan di balas anggukkan kepala oleh Keira.
Keira pun akhirnya pamit kembali ke kelas pada Bu Nina, dan di izinkan oleh beliau.
Keira berjalan melewati koridor sekolah yang nampak sepi, karna jam pulang sekolah sudah berlalu sedaritadi.
__ADS_1
Saat sudah sampai, kelas sudah sepi karna semua teman-teman kelas Keira pasti sudah pada pulang ke rumah mereka masing-masing sedaritadi. Keira menghela nafasnya pelan, entah mengapa tatapannya malah beralih ke arah meja yang ada di belakangnya, tempat dimana Rayn biasa duduk.
Mengetahui bahwa Rayn pergi meninggalkannya di UKS sendirian entah kenapa membuat Keira merasa sedih, ia juga tidak tau ada apa dengan dirinya yang merasa cengeng secara tiba-tiba hanya karna di tinggal Rayn sendirian di UKS.
Mungkin itu hanya hormon dari datang bulannya saja yang membuat Keira menjadi lebih sensitif, begitulah fikir Keira. Tak mau ambil pusing, Keira pun segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan bersiap untuk pulang karna hari sudah sore.
Saat sudah tiba di koridor, tiba-tiba saja perasaan Keira tidak enak. Ia merasa ada seseorang yang saat ini sedang mengikutinya. Keira berusaha tuk tak perduli, gadis itu memilih untuk mempercepat langkahnya saja.
Namun tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah belakangnya, Keira memejamkan matanya bersiap untuk lari. Pada hitungan ke tiga Keira bersiap untuk lari namun ia merasa tak bisa berlari karna langkahnya tertahan.
"Lepasin! Huaaa Bunda tolongin Keiraa!" pekik Keira yang masih memejamkan matanya.
"Hahaha." Keira pun diam dan membuka kedua matanya saat mendengar suara tawa yang menguar tersebut. Perlahan Keira membalikkan badannya dan melihat siapa orang yang saat ini ada di belakangnya dan menertawainya.
"Rayn ...." gumam Keira dan perlahan cengkraman di tasnya pun terlepas.
Rayn menatap Keira dengan raut wajah datarnya, satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Lo kok masih ada di sekolah? Bukannya lo ninggalin gue?" tanya Keira sambil mengerutkan dahi bingung.
"Lepasin woi!" teriak Keira yang berusaha melepaskan genggaman tangan Rayn pada tangannya.
"Lepas!" sentak Keira sambil menghempaskan tangan Rayn dan genggaman tangan di antara keduanya pun terlepas.
"Lo tuh ya, main asal narik tangan gue aja! Udah mana asal pergi gitu aja tadi, nyebelin banget." Rayn hanya diam mendengarkan segala omelan dari Keira.
"Udah ngomelnya?" tanya Rayn membuat Keira menatapnya sinis.
"Lo ngeselin," ketus Keira lagi dan Rayn pun untuk kesekian kalinya kembali diam.
Tin tin tin
Perhatian Keira dan Rayn pun teralihkan saat mendengar bunyi klakson mobil, keduanya pun menoleh dan rupanya itu adalah mobil milik Keanu--Kakak Keira.
__ADS_1
Kean menatap ke arah Keira dan Rayn yang saat ini sedang berhadapan.
"Kak Kean ...." gumam Keira lalu ia pun beralih menatap ke arah Rayn lagi. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, gadis itu pun memilih berlalu dari hadapan Rayn yang masih bungkam dan mengamati pungung kecil Keira yang sudah menjauh darinya bahkan hingga Keira masuk ke dalam mobil dan mobil itu pergi Rayn masih terdiam di tempat.
.........
"Rayn!" seru Naya saat menyambut kepulangan Rayn.
Naya pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Rayn yang sudah memarkirkan motornya.
"Rayn, gimana nasi goreng buatan aku tadi?" tanya Naya dengan binar antusias.
Rayn yang mendengar pertanyaan Naya hanya bisa memberikan senyumannya saja, bagaimana ia bisa tau rasa nasi goreng buatan Naya jika dia saja tak memakannya. Dengan perasaan yang tak enak hati, ia turun dari atas motornya dan menghampiri Naya yang sudah menatap dirinya dengan tatapan berbinar.
"Gimana?" tanya Naya lagi sambil memegang tangan Rayn.
"Enak," balas Rayn agak ragu karna tak tau bagaimana rasa dari nasi goreng buatan Naya itu.
"Yeyy, kalau gitu besok Naya buatin bekel lagi buat Rayn!" seru Naya senang bak anak kecil yang baru saja di berikan permen oleh ibunya.
Tak ingin mematahkan hati Naya, Rayn hanya menganggukkan kepalanya dan mengusap lembut kepala Naya lalu membiarkan Naya yang sudah bersandar dan bergelayut di tangannya dengan manja.
"Hmm."
Suara deheman itu membuat langkah Rayn dan Naya terhenti, bahkan gadis itu sudah melepaskan tangan Rayn yang sedaritadi ia gelayuti dengan manja. Wajah ceria Naya juga berubah menjadi pias.
"Mamah mau bicara sama kamu Rayn," suara bernada tegas dan memerintah itu membuat Rayn mendengus pelan.
"Mau bicara apa lagi Mah? apa lagi yang harus di bicarakan? Bukannya semua udah jelas dan udah Mamah atur sesuai kehendak dan keinginan Mamah?"
"Rayn! Bicara yang sopan pada Mamah!" bentak Mamah Rayn yang membuat Rayn terdiam.
"Saya tunggu kamu di ruangan saya," kata Mamah Rayn setelahnya wanita berparas cantik itu pun sudah menghilang dari hadapan Rayn dan Naya.
__ADS_1
"Rayn ...." panggil Naya sambil menatap Rayn yang saat ini sedang terlihat menahan emosinya.
Rayn tak menyahut, ia malah berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya dan melupakan Naya yang hanya bisa menatap nanar punggung Rayn yang sudah berjalan menjauh darinya.