Without You

Without You
28. Musibah


__ADS_3

Happy reading!


-


-


-


-


-


Hari sudah mulai menjelang malam, namun Vidya masih belum melihat tanda kepulangan Arya.


Vidya mulai cemas menunggu Arya pulang ke rumah.


Ia baru saja selesai membereskan rumah, ia juga sudah memasak makan malam yang spesial untuk Mamah mertuanya yang akan datang malam ini.


"Aku sangat gugup, kenapa Arya belum juga pulang?" Tanya Vidya pada dirinya sendiri, ia merasa khawatir.


Jika Arya tidak ada di sini saat Mamah mertuanya itu datang, Vidya tidak tau bagaimana ia harus bersikap menghadapi mertuanya itu nanti.


"Kenapa mendadak aku merasa sangat khawatir pada Arya? Semoga dia baik-baik saja."


[]


Sementara itu Arya sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya, kepalanya terasa sangat berat saat ini.


Hujan juga turun dengan sangat deras malam ini.


"Astaga kepala gue sakit, padahal gue cuma minum dua gelas doang." Ucap Arya yang mencoba memfokuskan pandangannya ke depan.


Namun tidak bisa kepalanya terasa sangat sakit, padahal dia hanya meminum minuman alkohol itu dua gelas tapi kenapa kepalanya terasa sangat pusing.


Arya menjalankan mobilnya dengan kepala pusing, membuat dirinya menjadi tidak fokus dalam menyetir mobil.


Tinn tinnnnnnnn


Suara klakson terdengar memekakan telinga, Arya berusaha memfokuskan pandangannya.


Arya menatap ke arah kaca spion mobilnya, ia melihat ada sebuah mobil yang sepertinya sedaritadi mengikuti Arya.


"Mobil siapa itu?" Tanya Arya pada dirinya sendiri, Arya pun langsung menginjak pedal gasnya, mempercepat laju mobilnya.


Arya mengebut begitu kencang hingga Arya tidak sadar bahwa ia sudah keluar dari jalan raya, ia malah melewati jalanan yang sepi yang masih banyak pepohonan bahkan rumah pun terlihat jarang.


Arya menoleh kebelakang mencoba memastikan apakah mobil itu masih mengikutinya atau tidak, ternyata mobil itu masih terus mengikutinya dan Arya pun semakin mempercepat laju mobilnya.


Arya terkejut ketika lampu mobil nya menyorot ke arah depan, di depan sana ada turunan yang begitu curam.

__ADS_1


Arya pun ingin mengerem mobilnya agar berhenti karna ia tidak mungkin melewati turunan tersebut.


Namun sayang sekali, mobil Arya terlihat lepas kendali, tuas rem nya tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.


Arya panik bersamaan kepalanya yang terasa semakin pusing, Arya pun tak punya pilihan lain ia akan melewati turunan curam itu.


Dorrr...dorr


Bunyi suara peluru yang di tembakkan mulai terdengar memekakan telinga, memecah keheningan malam itu.


Arya mencoba berusaha tetap fokus pada jalanan yang akan ia lewati.


"Tidak!"


Teriak Arya saat sebuah peluru mengenai salah satu roda belakang mobilnya.


Mobil yang Arya kendarai pun langsung hilang keseimbangan, Arya berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan mobilnya namun ia tidak bisa.


[]


Ting tongg ting tong


Suara bel pintu rumah berbunyi, Vidya yang sedaritadi sedang mencemaskan Arya pun bergegas membukakan pintu tersebut.


"Mamah." Vidya memasang wajah keterkejutnya atas kedatangan Mamah mertuanya itu.


"Kamu gk nyuruh saya buat masuk?" Tanya Mamah Vidya, Vidya pun akhirnya mempersilahkan Mamah mertuanya itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Dimana anak saya? Dimana Arya?" Vidya diam ia tidak tau harus menjawab apa saat ini, ia juga tidak tau ada dimana Arya sekarang.


"Arya belum pulang." Jawab Vidya, Mamah mertuanya itu menatap ke arah dirinya.


"Kemana dia?" Vidya menenal salivanya yang mendadak kelu.


"Saya tidak tau Mah." Jawab Vidya jujur, Mamah Arya menatap Vidya dengan tatapan yang sulit di baca.


"Kamu itu istrinya bagaimana kamu bisa gk tau kemana suami kamu pergi? Cih dari awal saya emang gk pernah setuju anak saya menikah dengan gadis seperti kamu." Vidya hanya diam menundukkan kepalanya, ia sudah tau itu, karna memang sejak awal Mamah Arya tak pernah mau menerima dirinya.


Lalu kemudian suara bel kembali terdengar, membuat Shania-Mamah Arya menghentikan ocehannya.


"Bukain pintu nya sana!" Suruh Shania, Vidya pun menuruti perintah Mamah mertuanya itu.


"Astagfiruallahaladzim, Arya!" Pekik Vidya saat melihat sosok Arya yang wajahnya penuh luka bahkan keningnya pun berdarah.


"Arya, kamu kenapa bisa kaya gini?" Tanya Vidya khawatir menatap suami nya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Bahkan celana Arya pun terlihat robek di bagian lututnya, kaos putih yang semula bersih kini sudah terkena tanah.


Brukk

__ADS_1


"Astagfiruallah!" Pekik Vidya kaget, karna tiba-tiba saja badan Arya sudah ambruk dan untung saja Vidya langsung sigap menahan badan Arya agar tidak terjerembab ke lantai.


"Astaga Arya!" Shenia langsung menghampiri Arya yang kini berada dalam dekapan Vidya.


"Bawa Arya ke kamar,cepat!" Suruh Shenia pada Vidya, Vidya pun dengan sekuat tenaga membawa badan Arya yang sudah terkulai lemas, tak berdaya.


Sesampainya di kamar Arya, Vidya langsung membaringkan Arya di atas ranjang.


Vidya meringis melihat wajah Arya yang penuh luka, keningnya bahkan mengeluarkan darah.


"Arya sayang, tenang aja ya nak, sebentar lagi dokter Abram datang." Vidya menatap khawatir pada Arya yang masih memejamkan matanya itu.


"Minggir kamu! Sana pergi jangan deket-deket anak saya, kamu itu cuma pembawa sial bagi anak saya." Hardik Shenia, Vidya pun memundurkan langkahnya ketika Mamah mertuanya itu mulai memarahi dirinya lagi.


Vidya berdiri di dekan pintu, memperhatikan Arya dari jarak yang agak jauh darinya.


Vidya sedartadi terus berdoa untuk kesembuhan suaminya itu, Vidya tidak mengerti ada apa dengan Arya, kenapa dia bisa sampai terluka seperti itu.


"Vidya." Vidya pun menolehkan kepalanya ternyata di depan pintu kamar Arya sudah ada sosok dokter Abram.


"Silahkan masuk dokter." Ujar Vidya setelah menghapus air matanya dan kembali memasang senyumannya.


"Dokter Abram, tolong putra saya." Shenia yang menyadari kedatangan dokter Abram pun langsung meminta dokter Abram untuk segera memeriksa keadaan Arya.


Vidya menatap cemas saat dokter Abram mulai memeriksa keadaan Arya.


"Keadaan Arya sangat parah, Nyonya Shenia sebaiknya putra anda segera kita larikan ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang lebih intensif dan memadai."


Vidya menelan salivanya, lalu bertanya-tanya dalam hatinya seberapa parah kah luka yang di derita Arya? Namun mendengar hal itu Vidya yakin bahwa keadaan Arya memang sedang tidak dalam keadaan baik.


[]


Arya pun di larikan ke rumah sakit, sementara Vidya ia tetap berada di rumah karna Shenia tidak mengizinkan Vidya untuk ikut ke rumah sakit.


Alasan Shenia melarang Vidya ikut ke rumah sakit adalah ia merasa jika nanti Vidya hanya akan membawa kesialan untuk putranya.


Vidya baru saja selesai melaksanakan sholat Isya, ia sedang berdoa dengan khusyu meminta pada Allah untuk kesembuhan Arya.


"Ya Allah tolong selamatkanlah Arya, semoga suami hamba baik-baik saja. Aku tau meskipun dia tidak pernah berperilaku baik padaku, tapi Ya Allah dia tetaplah suamiku, bagaimana pun sekarang aku tau alasan Arya membenciku itu adalah karna kesalahan ku juga." Vidya menjeda ucapannya sejenak lalu kembali melanjutkannya.


"Arya orang yang baik dia sudah mau menolongku dan mau melindungiku, meskipun cintaku tak berbalas tapi aku bersyukur memiliki suami seperti dirinya, karna dia juga aku tau caranya untuk tetap selalu sabar, bagaimanapun dia suamiku dan ladang pahala untukku, aku mohon Ya Allah tolong selamatkan Arya, semoga dia baik-baik saja dan selalu dalam lindunganmu, Aamiin Ya Rabbal'alamin." Vidya mengakhiri doanya.


Namun ia belum beranjak, ia masih bersimpuh di atas sajadah.


Dalam hatinya ia begitu berharap bahwa Arya baik-baik saja, meskipun sebenarnya Vidya sangat ingin pergi ke rumah sakit dan berada di dekat Arya tapi ia tidak bisa ke sana.


Mamah mertuanya sudah menyuruhnya untuk tetap di rumah, jadi Vidya menurut saja asalkan Arya bisa segera mendapatkan perawatan dan baik-baik saja, Vidya sudah merasa sangat bersyukur.


Meskipun dirinya tidak ada di sana, menemani suaminya tapi doa Vidya akan terus melambung ke langit untuk kesembuhan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2