
Sejak Rayn bangun dari tidurnya dan hendak berangkat ke sekolah ia tak menemukan sosok Mamahnya sama sekali pagi ini, Rayn mendengus kesal. Setelah berhasil membuat dirinya harus berurusan dengan rencana perjodohan itu, Mamahnya tak datang mengunjunginya padahal Rayn semalaman menunggu ke datangan sang Mamah untuk menjelaskan semuanya pada Rayn, namun Mamahnya tetap bungkam dan membuat Rayn kesal.
Rayn menggambil ranselnya, menaruhnya di pundak. Lalu berjalan ke arah motor miliknya dan tanpa mengucapkan sepatah apapun lagi Rayn sudah bersiap akan berangkat ke sekolah, ia tak perlu berpamitan pada siapapun karna menurutnya mereka pun juga tak pernah menganggap Rayn penting.
"Rayn!" suara panggilan itu membuat Rayn mengurungkan pergerakkannya yang ingin memasang helm di kepala.
"Nih, aku bawain bekal buat kamu." Rayn tersenyum lalu menerima kotak bekal yang di sodorkan Naya padanya.
Naya semakin melebarkan senyumannya, ia merasa senang karna Rayn mau menerima bekal darinya. Rayn menatap kotak bekal pemberian Naya dengan senyuman yang masih ia perlihatkan di wajahnya.
"Makasih ya," ucap Rayn dengan tangan terulur mengusap lembut puncak kepala Naya dan berhasil membuat gadis itu tersipu.
"Sama-sama, jangan lupa di makan ya!" seru Naya lagi dan Rayn menganggukkan kepalanya, bahkan kekesalannya tadi sudah menguar entah kemana sejak Naya datang menghampirinya.
"Pasti di makan kok, aku pergi dulu ya," pamit Rayn yang sudah memasukkan kotak bekal dan kembali memasang helmnya.
"Hati-hati, aku tunggu kamu pulang!" seru Naya sambil melambaikan tangannya pada Rayn yang sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Iya," balas Rayn lalu melajukan motornya meninggalkan Naya yang hanya mampu menatap kepergian Rayn dengan senyumannya yang perlahan memudar berganti dengan senyuman sendu, ada sesuatu di hatinya yang merasa sedih saat ia tau bahwa hidupnya sangat menyedihkan, bahkan untuk bermimpi pun rasanya begitu menyakitkan.
........
Motor yang di kendarai Rayn baru saja selesai ia parkirkan di parkiran sekolah.
Selah memastikan motornya aman, Rayn pun mulai melangkahkan kakinya hendak menuju ke kelasnya. Namun baru saja ia sampai di depan gerbang, langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia hampir saja bertabrakkan dengan seorang gadis berhijab putih yang saat ini memasang raut wajah terkejut karna hampir bertabrakkan dengan Rayn.
Jantung Rayn tiba-tiba saja berdetak begitu cepat tidak seperti biasanya, ia juga tidak mengerti kenapa jantungnya jadi berdetak kencang begini saat berpapasan dengan Keira, gadis yang hampir saja bertabrakkan dengannya.
Keira dan Rayn masih saling diam dan saling tatap, namun pada akhirnya Keira lebih dulu mengalihkan tatapannya ke arah lain membuat Rayn tersadar dari tatapannya pada Keira.
"Maaf," ucap Rayn mengawali pembicaraan.
"Gk apa-apa," balas Keira singkat sebelum akhirnya gadis itu di tarik oleh temannya yang tiba-tiba saja datang.
Melihat Keira yang sudah berjalan lebih dulu darinya membuat Rayn tanpa sadar menghela nafas lega, lalu tangannya terulur memegang permukaan dadanya. Merasakan detak jantungnya yang berdegup dengan kencang.
Berusaha untuk tidak perduli, Rayn pun lebih memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kelas karna sebentar lagi jam pelajaran pertama akan di mulai.
......
__ADS_1
Kringgg ... kringgg ... kringg
Suara bel istirahat berbunyi, membawa angin segar kepada para siswa yang sedaritadi merasa suntuk selama jam pelajaran berlangsung, akhirnya mereka dapat bernafa dengan penuh kelegaan.
Begitupun dengan Rayn, ia akhirnya bisa bernafas lega setelah sebelumnya ia sempat di landa kecanggungan. Padahal Rayn hanya duduk di belakang Keira namun entah mengapa tetap saja dirinya merasa begitu tegang dan canggung saat dekat dengan Keira mengingat kini statusnya dengan Keira sudah berbeda.
"Kei kantin yuk!" ajak Nindi-- salah satu teman yang akrab dengan Keira di kelas yang kini sudah mendatangi bangku Keira.
"Ng ... nggak dulu nin," jawab Keira yang mengeleng pelan.
"Muka lo kenapa? Kok pucet Kei? Lo sakit?" tanya Nindi yang baru menyadari bahwa wajah Keira pucat.
Mendengar kalau wajah Keira pucat, entah dorongan darimana Rayn bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri meja Keira.
"Kamu sakit?" tanya Rayn saat sudah berdiri persis di samping Nindi.
Keira yang kaget melihat kedatangan Rayn, hanya diam memandangi wajah pria itu yang terlihat khawatir pada kondisinya.
"Gue- eh? Mau ke mana? Rayn lepasin tangan gue!" seru Keira yang kaget sekaligus bingung dengan Rayn yang tiba-tiba menarik tangannya dan mengajak dirinya ke luar kelas. Sementara itu Nindi hanya diam menatap bingung dengan tingkah Keira dan Rayn yang baru saja keluar dari kelas.
Rayn diam saja padahal sedaritadi Keira terus meneriakinya dan berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rayn.
"Naik," perintah Rayn yang meminta Keira untuk naik ke atas kasur yang memang di sediakan di dalam UKS.
"Gk mau!" teriak Keira yang sudah sangat kesal dengan tingkah Rayn sedaritadi.
Rayn menghela nafasnya, lalu tanpa banyak bicara lagi ia langsung mengendong Keira naik ke atas kasur UKS tersebut dan sontak saja perlakuan Rayn itu membuat Keira memekik kaget.
"Rayn! Gila lo!" pekik Keira yang kini sudah duduk di atas kasur dan menatap tajam Rayn yang hanya memberikan ekspresi datarnya.
"Lo tuh ya ngeselin banget, seenaknya bawa gue ke sini. Emangnya lo siapa gue sampe berani bertindak kaya gitu ke gue!" Keira begitu marah pada Rayn yang dengan seenaknya menarik paksa dirinya.
"Calon suami kamu," balas Rayn membuat Keira kehilangan kata-katanya dan kini wajahnya sudah memerah bukan karna marah namun karna hal lain yang sulit ia deskripsikan.
"Tidur," perintah Rayn dan entah sihir apa yang Rayn gunakan hingga membuat Keira jadi menuruti perintahnya walaupun dengan di sertai dengusan kesalnya.
"Udah makan?"
"Gk usah perduli," balas Keira dengan ketus.
__ADS_1
"Oke."
Keira lalu menatap bingung pada Rayn yang tiba-tiba saja berjalan ke luar dari UKS meninggalkan dirinya sendirian di UKS, entah mengapa Keira menjadi kesal melihat Rayn yang pergi meninggalkan dirinya sendirian di UKS dengan seenak jidatnya.
"Ngeselin banget sih tuh cowok!" gerutu Keira yang sudah mengerutu.
Namun tiba-tiba saja Rayn kembali, pria itu kembali sambil membawa kotak bekal berwarna biru di tangannya yang membuat Keira diam.
"Itu buat gue?" tanya Keira sambil melirik kotak bekal yang ada di tangan Rayn.
"Bukan, ini buat saya," jawab Rayn membuat Keira mendengus kesal mendengarnya. Ia sudah menahan malu untuk bertanya seperti itu pada Rayn, namun jawaban pria itu tadi sukses membuat Keira benar-benar malu.
"Keira," panggil Rayn namun tak ada sahutan dari gadis berparas manis itu yang saat ini sedang mengalihkan tatapannya ke arah tembok enggan menatap Rayn.
"Kei," panggil Rayn untuk yang ke dua kalinya dan Keira masih bergeming di tempat dan tak memperdulikan Rayn.
"Kalau kamu mau, saya bisa bagi dua dengan kamu kok." Keira mendengus mendengar perkataan Rayn yang sedang membujuknya.
"Gk usah, buat lo aja." Rayn hanya bisa menghela nafas pelan dan berusaha bersabar menghadapi Keira yang saat ini sudah kembali dengan posisi tiduran dan membelakangi Rayn.
"Keira maafin saya," ucap Rayn yang masih berusaha membujuk Keira.
Keira masih diam, ia masih marah dan kesal pada Rayn. Namun kekesalannya menguar entah ke mana saat ia merasakan perutnya kembali terasa nyeri. Keira tau itu semua pasti karna tamu bulanannya yang memang setiap kali datang selalu terasa nyeri seperti sekarang ini dan bahkan tanpa sadar Keira sudah meringis kesakitan.
Rayn yang mendengar ringisan Keira pun seketika kembali khawatir pada gadis itu yang saat ini masih dengan posisi memunggunginya.
"Keira ... kamu baik-baik saja? Ada yang sakit Kei?" tanya Rayn dengan nada suaranya yang menyiratkan kekhawatiran.
Keira tak menanggapi ucapan Rayn karna perutnya semakin terasa sakit, seperti di lilit dan membuat Keira bahkan sampai meringis kesakitan.
"Kamu mau apa? Duh gimana ya ... saya cari anak PMR dulu ya? Untuk di mintai bantuan." Namun baru saja Rayn hendak bangkit dari duduknya tiba-tiba saja Keira sudah memegang tangannya dan membalikkan badannya menjadi menghadap ke arah Rayn.
"Kenapa?" tanya Rayn yang kembali duduk di bangkunya dan tanpa sadar sudah mengenggam sebelah tangan Keira dengan kedua tangannya.
"Ja ... jangan pergi," ujar Keira dengan begitu lirih dan mencengkram kuat lengan Rayn.
Rayn menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis pada Keira, senyuman yang selama ini jarang ia tunjukkan pada Keira.
"Saya di sini," kata Rayn pelan namun mampu membuat hati Keira lega dan merasa tentram saat mendengarnya.
__ADS_1