
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Pagi hari Vidya, Siren, dan Astrid sudah tiba di bandara.
Hari ini mereka akan kembali ke Indonesia dan Siren pun senang bukan kepalang karna akhirnya Vidya mau kembali ke Indonesia.
Sebelumnya Vidya sudah berkonsultasi dulu dengan dokter Anam, apakah penerbangannya ke Indonesia aman untuk kandungannya atau tidak dan dokter Anam bilang aman-aman saja tetapi Vidya harus tetap berhati-hati.
Mereka bertiga pun langsung naik ke dalam pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Tanah Air.
[]
Tak butuh waktu lama, ketiga orang itu kini sudah tiba di Jakarta.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mengunjungi Arya.
"Vidya terimakasih ya kamu udah mau jenguk Arya," ucap Siren yang matanya sudah berkaca-kaca menatap Vidya.
Vidya tersenyum lalu membalas genggaman tangan Siren dan menatap Siren dengan lembut.
"Kamu tenang aja ya, suami kamu pasti akan baik-baik aja kok," ucap Vidya lagi.
Siren yang merasa begitu terharu pun sampai matanya ikut berkaca-kaca.
Siren tidak pernah berfikir jika Vidya akan begitu baik padanya seperti ini, padahal selama ini dirinya sering menyakiti Vidya.
Namun Vidya tidak pernah membalasny justru gadis itu masih tetap memasang senyumannya pada Siren, Siren merasa sudah benar-benar jahat pada Vidya.
[]
Kini Siren, Astrid, dan Vidya sudah sampai di rumah sakit dan sudah berada di depan ruang rawat Arya.
"Kamu aja yang masuk ke dalam sedangkan aku bakalan tunggu disini," ucap Siren menolak ajakan Vidya untuk masuk bersama-sama ke dalam ruangan tempat Arya di rawat.
Dengan ragu Vidya tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan rawat tersebut, perlahan ia mendorong pintu ruangan rawat itu.
Manik matanya menatap Arya yang terbaring dengan kepalanya yang di perban.
Vidya sudah menteskan air matanya, setelah selesai menutup pintu ruangan rawat Arya. Kini Vidya pun berjalan mendekati brankar tempat dimana Arya sedang berbaring saat ini.
Vidya mengulurkan tangannya mengelus rambut Arya dengan tangisnya yang kembali meluruh.
"Arya ... hiks ... maafin aku," ucap Vidya seraya menangis sambil meneluk tubuh Arya dari samping.
Vidya menangis di atas dada bidang Arya, dalam hati ia terus berdoa pada Allah agar Arya bisa segera sadarkan diri dan kembali pulih.
"Bangun Arya ... hiks ... bangun maafin aku," ujar Vidya lirih masih dengan posisi yang sama yaitu memeluk tubuh Arya dari samping.
__ADS_1
Vidya menghentikan isak tangisnya saat ia merasakan sesuatu yang mendarat di atas kepalanya.
Vidya pun mengurai pelukkannya pada tubuh Arya, lalu tatapannya beralih pada tangan Arya yang sudah berada di atas kepalanya.
Vidya membulatkan matanya, tangannya terulur mengelus kepala Arya.
Perlahan manik mata Arya pun terbuka, membuat Vidya langsung mengucap rasa syukur.
Vidya segera menekan tombol darurat, dan tak lama dokter pun berdatangan masuk ke dalam ruangan tempat Arya di rawat.
Selama Arya sedang dalam pemeriksaan, Vidya menunggu di luar bersama dengan Siren.
Siren merangkul bahu Vidya, mencoba menenangkan Vidya yang nampak sangat khawatir pada kondisi Arya.
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan dan berkata bahwa Arya sudah sadarkan diri namun kondisinya masih terus harus dipantau lebih lanjut.
Vidya dan Siren saling berpelukkan dan menangis haru, akhirnya Allah mengabulkan doa mereka.
"Pasien terus memanggil nama Vidya. Di antara kalian siapa yang bernama Vidya?" Tanya dokter tersebut.
"Saya dok," ucap Vidya.
"Kalau begitu anda bisa langsung masuk ke dalam ruangan, pasien sangat ingin bertemu dengan anda katanya," ucap dokter itu lagi lalu dokter tersebut pamit dari hadapan Vidya dan Siren.
Vidya terdiam, ia merasa tidak enak pada Siren yang notabennya sekarang adalah istrinya Arya.
"Udah gk apa-apa kamu masuk aja sana ke dalam. Kita bisa gantian kok nanti," ucap Siren sambil tersenyum pada Vidya.
Vidya pun membalas senyuman Siren, lalu Vidya pun melangkah masuk kembali ke dalam ruangan Arya.
Cklek
Arya yang mendengar suara pintu terbuka pun menolehkan kepalanya dengan susah payah.
Senyuman di bibir pucat Arya pun mengembang, matanya berkaca-kaca menatap sosok Vidya yang begitu ia rindukan.
Arya mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Vidya, tangannya ia gunakan untuk menghapus air mata yang mentes di pipi Vidya.
Membuat Vidya bukannya berhenti menangis justru gadis itu malah semakin menangis.
"Maaf," lirih Vidya di sela isak tangisnya.
Arya tersenyum ia langsunh mengengam tangan Vidya lalu membawanya dalam dekapannya.
Vidya tersenyum sendu mendapat perlakuan seperti itu dari Arya.
"Gue yang harusnya minta maaf," ucap Arya yang sudah ikut meneteskan air matanya.
"Maaf karna gue, lo dan anak kita jadi menderita. Maaf juga karna gue lo selalu tersiksa," ucap Arya lagi membuat tangis Vidya semakin meluruh.
"Akhirnya lo kembali, gue rindu banget sama lo Vidya. Lo tau itu kan?"
Vidya menganggukkan kepalanya, ia masih tidak kuasa menahan tangisnya mendengar ungkapan rindu dari Arya.
Vidya juga sangat merindukan Arya, bahkan setiap saat ia selalu merindukan pria itu.
"Gue gk bisa Vidya. Gue ternyata gk bisa jauh dari lo karna gue butuh lo," ujar Arya lagi, kali ini sambil mengecup pungung tangan Vidya lembut.
Namun Vidya langsung menarik tangannya kembali, dan mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Nggak ini gk bener Arya," ucap Vidya yang masih mengelengkan kepalanya.
"Gk bener kenapa?"
"Ini gk bener, kamu udah punya Siren dan tujuan aku ke sini karna aku mau menyelesaikan semua masalah ini. Aku mau bilang kalau kamu harus bisa hidup tanpa aku dan hidup bahagia dengan Siren," ujar Vidya lagi.
Arya mengelengkan kepalanya menatap Vidya dengan tatapan penuh luka dan penderitaan.
"Tapi gue cinta sama lo Vidya," ucap Arya membalas ucapan Vidya.
"Kamu simpan cinta itu dan berikan saja pada Siren karna dia sekarang adalah istri sah kamu," ujar Vidya yang bangkit dari duduknya.
"Aku pergi, semoga kamu cepat sembuh."
Vidya kemudian membalikkan badannya hendak berjalan ke arah pintu kamar rawat Arya namun Arya menarik tangan Vidya.
"Tatap mata gue dan bilang kalau lo emang gk cinta sama sekali sama gue, baru setelah itu lo bisa pergi dari sini."
Vidya memejamkan matanya lalu perlahan gadis itu membalikkan badannya menghadap Arya.
"Tatap mata gue Vidya," suruh Arya pada Vidya dan Vidya pun perlahan menghadap ke arah Arya lebih tepatnya ke arah manik mata pria itu.
"Bilang sama gue kalau lo emang gk suka sama gue."
Vidya pun masih menatap manik mata Arya.
Manik mata kecoklatan itulah yang pertama kali Vidya lihat saat mereka pertama kali bertemu.
Manik mata itulah yang membuat Vidya merasa kagum pada sosok Arya, manik mata yang membuat dirinya jatuh hati pada Arya.
Semua memori nya bersama Arya kembali terlintas, bagaimana tatapan tajam Arya padanya dan juga perbuatan kasar Arya padanya.
Bukan hanya itu namun kenangan manis selama dirinya menjadi istri Arya kembali terngiang di fikirannya, saat pertama kali pria itu menjabat tangan Abi nya dan mengucapkan janji suci yang mengikat Vidya pada ikatan yang halal.
Namun ikatan itu harus kandas di tengah jalan, padahal Vidya dengan bersusah payah mempertahankannya.
"Ayo bilang kalau lo emang gk cinta sama gue Vidya," ucap Arya lagi.
Lidah Vidya terasa kelu tidak bisa mengatakan apapun saat ini, ia seolah-olah terkunci pada manik mata coklat milik Arya.
"Aku gk bisa."
Vidya pun menyerah ia tidak bisa mengatakan kalau dia tidak mencintai Arya karna nyatanya perasaannya pada Arya masih sama seperti dulu.
"Lo gk bisa bilang kalau lo memang gk cinta sama gue, gue tau Vidya kalau lo emang sebenarnya cinta sama gue tapi lo terlalu takut buat mengungkapkannya," ujar Arya seraya terkekeh.
Vidya menundukkan kepalanya, ucapan Arya memang benar bahwa dirinya tak punya nyali untuk mengatakan bahwa dirinya juga mencintai Arya.
Namun fikiran Vidya kembali terbayang pada wajah Siren, Vidya pun kembali menatap Arya.
"Aku mohon biarin aku pergi," ucap Vidya memohon pada Arya untuk membiarkannya pergi.
"Nggak bisa, lo gk boleh pergi lagi dan gue mohon jangan pergi lagi dari gue."
"Waktu jenguk aku udah habis. Siren juga pasti mau ngeliat keadaan kamu," ucap Vidya lalu melepaskan tangannya dari genggaman Arya.
Kali ini Arya tidak menghalangi Vidya pergi, namun pria itu terus menatap kepergian Vidya dengan tatapan nanar.
Tatapan nanar yang penuh dengan penyesalannya karna sudah menyia-nyiakan perempuan sebaik dan sesabar Vidya.
__ADS_1
Arya menyesal, ia sudah terlambat untuk bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk bisa menjadi suami dan ayah yang baik bagi Vidya dan juga anak yang berada di dalam kandungannya.