
Sudah hampir sebulan Nayya tinggal bersama Rayn dan Keira, namun selama itu pula Keira dan Nayya tak pernah berbicara dengan intens hanya sekedar bertegur sapa atau bertanya saja dan yang paling sering melakukab itu adalah Keira.
Keira awalnya menganggap bahwa mungkin karna mereka baru kenal jadi Nayya agak canggung dengannya, namun sebulan ini tinggal bersama Nayya, melalui tatapan Nayya dan gerak gerik Nayya pada Keira, membuat Keira jadi tahu jiks Nayya tidak menyukainya.
Namun Keira tetap berusaha baik pada Nayya, ia tetap menegur Nayya meski kadang ia juga kesal dengan tingkah laku Nayya.
Saat ini Rayn, Naya, Keira, dan juga Hana sedang menikmati sarapan bersama. Keira fokus menyuapi Hana terlebih dahulu setelah itu baru ia yang sarapan.
"Rayn, suapin dong," pinta Nayya tiba-tiba membuat Keira menghentikan suapan pada Hana.
"Kan luka di tangan kamu sudah sembuh jadi kamu sudah bisa makan sendiri Nay," sahut Rayn sambil melirik Keira sekilas dan Keira hanya diam saja kembali melanjutkan kegiatannya menyuapi Hana.
"Aku cuma mau disuapin aja sama kamu," ucap Nayya dengan air muka yang berubah sendu membuat Rayn mau tak mau menuruti kemauan Nayya untuk menyuapi gadis itu makan.
Keira melirik sekilas saat Rayn menyuapi Nayya, Keira berusaha untuk tidak memperdulikannya namun tetap saja hal itu menganggu dirinya bahkan hingga siang hari tiba Keira masih mengingatnya.
"Tenang Kei, tenang. Dia sahabat Rayn, coba kalau bukan sahabat Rayn udah gue telen kali tuh cewek," ujar Keira yang masih kesal saat mengingat momen Rayn dan Nayya tadi pagi.
Tok tok tok
"Keira boleh saya masuk?" Tanya Rayn yang berdiri di depan pintu kamar Hana karna kebetulan Keira sedang ada di kamar Hana.
"Iya, masuk aja."
Setelah diizinkan oleh Keira, Rayn masuk ke dalam kamar lalu berjalan dan duduk di samping Keira yang tengah memakaikan baju Hana.
"Jadi imunisasinya?" Tanya Rayn pada Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Keira.
"Nah, Hana udah cantik deh," ucap Keira setelah selesai menyiapkan Hana untuk imunisasi siang ini.
"Kita berangkat sekarang?"
Keira menghela nafas sejenak lalu mengalihkan tatapannya dari Hana.
"Tahun depan!" Jawab Keira agak ketus, dia juga bingung kenapa hanya karna mengingat momen Rayn dan Nayya suap-suapan tadi pagi bikin dia kesal selama ini jika mengingatnya.
Lalu pada akhirnya, Rayn memilih diam dan mengikuti saja langkah Keira kemanapun istrinya itu berjalan.
"Eh, kalian mau kemana?" Tanya Nayya yang tadinya sedang menonton televisi lalu saat melihat Rayn lewat seketika langsung bangkit dan menghampiri Rayn.
Keira merotasi matanya, malas sekali rasanya melihat perempuan itu saat ini.
"Kita mau antar Hana imunisasi," ujar Rayn memberitahu kemana mereka akan pergj.
"Aku ikut!" Ucap Nayya membuat Keira membulatkan matanya, terkejut mendengar bahwa Nayya ingin ikut untuk imunisasi Hana.
"Halo, permisi. Kita mau imunisasi doang bukan mau piknik gk usah rame-rame nanti yang ada malah diusir," sahut Keira mendapatkan tatapan tak suka dari Nayya namun Nayya kemudian kembali menatap Rayn dengan memasang tampang memohon agar diizinkan ikut.
"Rayn ... please, aku ikut ya? Boleh ya? Please ...," pinta Nayya sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
Rayn menoleh ke arah Keira meminta pertolongan harus bagaimana, namun Keira malah terlihat acuh dan berpura-pura tidak mengetahui bahwa Rayn meminta pendapatnya.
"Gini Nay, ini kita cuma mau pergi imunisasi Hana sebentar doang kok, gk akan lama aku janji."
"Gk, ya udah gini aja Hana pergi imunisasi sama aku sama Rayn aja," usul Nayya membuat Keira geram tak terima.
"Gk bisa, Hana bilang maunya pergi sama saya."
"Tau darimana? Hana saja bahkan belum bisa bicara dengan jelas," kata Nayya lagi tetap kekeuh mempertahankan pendapatnya.
"Dia memang belum bisa bicara dengan jelas, tapi dia adalah anak saya jadi ikatan batin antara Ibu dan anak itu kuat jadi saya tau kalau Hana, anakku sayang ini maunya diantar pergi imunisasi bersama saya," balas Keira panjang lebar membuat Nayya terdiam dan hanya bisa menatap sebal pada Keira.
"Kamu tunggu dirumah ya, sebagai gantinya nanti akan aku belikan sesuatu untuk kamu, setuju?" Tanya Rayn berharap bahwa kali ini Nayya mau menurut padanya.
Dengan malas dan terpaksa Nayya menganggukkan kepalanya setuju dengan kesepakatan yang ditawarkan Rayn padanya.
Akhirnya barulah Rayn, Keira, dan juga Hana pergi bersama ke rumah sakit untuk imunisasi.
....
Rayn ikut menunggu giliran mereka untuk imunisasi, jadi saat ini ia dan Keira serta Hana sedang menunggu dipanggil untuk giliran mereka masuk ke dalam ruangan.
"Keira saya harus keluar dulu ya, ingin mengangkat telpon dulu," pamit Rayn pada Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Keira.
Langkah Rayn terburu buru agar bisa menjauh dari keramaian, karna ia baru saja mendapat telpon dari Mamahnya.
"Iya, halo," kata Rayn mengawali pembicaraan.
"Ada dimana kamu sekarang?"
"Di rumah, ada apa memangnya?"
"Jangan bohong, saya tau kamu sedang ada di rumah sakit saat ini."
Sudah Rayn duga, Mamahnya pasti akan selalu mengawasi dirinya dimanapun dia berada dan tak pernah membiarkan dia merasa tenang.
"Temui saya di depan rumah sakit, segera!"
Tutt ... tuttt ... tuttt
Sambungan panggilan pun dimatikan, Rayn berdecak walaupun ia enggan namun ia harus menemui Mamahnya itu jika tidak ia akan terkena masalah nantinya.
Saat Rayn sedang berjalan untuk ke arah luar rumah sakit, seorang anak kecil yang sedang berlarian tiba-tiba menabrak dirinya.
__ADS_1
"Aduhh," ujar anak tersebut yang jatuh terduduk.
"Dek, kamu gk apa-apa? Mana yang sakit coba sini Kakak lihat," ucap Rayn yang segera berjongkok dan memeriksa anak kecil itu serta memastikan bahwa anak kecil itu tidak terluka.
"Es klimnya tumpah ... huaaa ...."
Karna terlalu fokus dengan keadaan anak itu Rayn sampai tak sadar jika anak kecil itu membawa es krim dan sekarang es krimnya sudah berceceran di lantai.
"Jangan nangis ya, ayo kita beli es krim baru lagi oke?" Ajak Rayn dan dibalas anggukkan kepala oleh anak kecil tersebut.
Rayn menuntun tangan anak itu lalu mereka berjalan ke mini market di sebelah rumah sakit untuk mengganti es krim anak itu yang tadi jatuh.
"Wah es klimnya banyak banet!" Seru anak kecil itu sambil memegang lima es krim di tangannya lalu memasukkannya ke dalam keranjang.
"Kamu suka?" Tanya Rayn yang berjongkong di depan anak itu.
"Iya! Suka banet!" Seru anak itu senang, Rayn ikut senang juga lalu mereka sama-sama berjalan ke kasir untuk membayar.
Tak lupa setelahnya, Rayn mengantar anak kecil itu ke dalam rumah sakit lagi. Namun saat masuk Rayn melihat sepertinya ada sesuatu yang terjadi, ia melihat seorang wanita menangis di dalam pelukkan seorang pria, di sana juga ada satpam dan beberapa perawat .
"Ibu!"
Sebelum Rayn hendak bertanya, tiba-tiba saja anak kecil itu berteriak memanggil 'ibu' dan langsung berlari menghampiri wanita yang tadi menangis.
"Syafiq!" Seru wanita itu yang langsung merentangkan tangannya lalu menyambut anak kecil itu.
"Kamu kemana aja? Ibu sama Papah cariin kamu kemana-mana, kan tadi Ibu bilang tunggu sebentar Ibu lagi nebus obat adik kamu malah lari gitu aja. Ya Allah nak, Ibu panik banget tadi," ucap Ibu dari anak kecil tersebut yang memiliki nama Syafiq sambil menangis dan memeluk putranya sekali lagi.
"Terus kamu bawa apa itu?"
"Ini es klim, dari kakak baik," kata Syafiq sambil tersenyum sumringah.
"Es krim dari siapa? Ibu kan udah bilang jangan-"
"Janan nelima makanan dali olang asing," ucap Syafiq yang sudah tahu apa yang akan Ibunya ucapkan.
"Bagus anak pintar kamu masih inget apa yang Ibu katakan, terus kenapa ini kamu ambil es krimnya?"
"Maaf permisi, saya yang membelikan anak Ibu es krim karna tadi saya tidak sengaja menabraknya dan membuat es krimnya tumpah," sela Rayn yang datang tepat waktu.
"Ah iya, saya menghargai kebaikkan anda, tapi saya hanya ingin mengingatkan kepada putra saya kalau dia tidak boleh menerima makanan dari orang asing karna itu sangat berbahaya. Sekarang lagi marak kasus penculikan anak, saya hanya merasa khawatir saja dengan anak saya."
"Iya saya tahu, anda Ibunya pasti sangat khawatir. Maafkan saya tidak meminta izin terlebih dahulu untuk mengajak anak Ibu pergi," timpal Rayn lagi seraya meminta maaf atas kesalahannya yang sudah menimbulkan kekhawatiran dan merepotkan orang banyak.
"Kakak! Syafiq sudah ketemu atau- Astaga Syafiq!" Seru seorang gadis yang tiba-tiba dengan hebohnya datang lalu berjongkok dan mengendong Syafiq.
"Anak nakal, kamu kemana aja tadi? Aunty sama Ibu dan Papah kamu nyariin kamu tau," kata gadis itu lagi yang memarahi Syafiq sambil mencubit gemas pipi Syafiq.
Gadis itu ikut menatap Rayn lalu mendadak terdiam dan terus memandangi Rayn yang masih mengobrol dengan Ibu Syafiq.
"Syafiq, kenapa gk bilang kalau ada pangeran tampan di sini," kata gadis itu sambil menatap Rayn penuh kekaguman.
"Lain kali kalau mau bawa anak kecil izin dulu, jangan main asal bawa gk sopan," omel Ibu Syafiq dan Rayn hanya bisa mengangguk saja biar cepat.
"Sudah Reilla sudah, dia kan udah minta maaf. Lagipula Syafiq udah ketemu kok, jangan ribut lagi ya sayang," ucap seorang pria disamping Ibunya Syafiq yang Rayn yakini bahwa itu adalah Ayahnya Syafiq.
"Tapi Kak, dia itu-"
"Maafin istri saya ya Mas, maklum Ibu-Ibu namanya juga dan pasti langsung khawatir pas tahu kalau anaknya hilang. Syukurlah Syafiq gk sampai diculik," kata Ayah Syafiq yang memotong ucapan istrinya.
Setelahnya urusan diantara Rayn dengan kedua orangtuanya Syafiq selesai, Rayn hendak pamit namun seseorang mencegah dirinya.
"Eh stop dulu! Calon imam eh maksudnya Kak hehe, Kakak ganteng namanya siapa yang kalau boleh tau?" Tanya gadis tadi yang merupakan auntynya Syafiq.
"Geisha!" Tegur Reilla, Bunda Syafiq yang malu sendiri melihat kelakuan adiknya yang selalu lemah melihat cogan alias cowok ganteng.
Geisha seolah tak memperdulikan teguran Kakaknya, ia malah senyum-senyum pada Rayn yang hanya diam bingung harus bagaimana karna saat ini pasti Mamahnya sedang menunggu dirinya.
"Maaf, boleh saya pergi? Saya sedang buru-buru soalnya," pamit Rayn tak menghiraukan pertanyaan Geisha tadi.
"Loh? Kenapa buru-buru kita kan belum kenalan jadi-"
"Iya gk apa-apa, maaf ya saya udah marah-marah ke kamu tadi habisnya saya khawatir takut anak saya hilang."
"Iya tidak apa-apa, saya paham kok. Kalau begitu saya permisi ya."
Lalu Rayn benar-benar berlalu pergi meninggalkan Geisha yang berdecak dan menghela nafas lesu gagal mendekati pria tampan tadi.
"Yah gagal deh pdkt sama calon imam," ujar Geisha yang masih lesu.
Reilla hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berdecak lelah melihat kelakuan adiknya yang benar-benar sangat berbeda dengan sikap Ummahnya dan juga dirinya.
Sementara itu Rayn berjalan ke luar rumah sakit, tanpa tahu bahwa orang-orang yang ia temui tadi adalah keluarganya yang sampai saat ini Rayn tidak ketahui.
......
"Ada apa?" Tanya Rayn saat sudah sampai ditempat Mamahnya menunggu.
Plakk
Rayn terkejut saat dirinya menerima sebuah tamparan dari Mamahnya.
"Kenapa kamu lama banget datangnya? Kamu sengaja mau bikin saya nunggu iya?!"
__ADS_1
"Maaf tadi saya ada urusan mendesak jadi-"
"Jadi apa? Sudah berani membantah? Hah?!"
Jadi pada akhirnya Rayn tak menjawab, dan hanya diam karna dia memang salah disini.
"Bagaimana tugas untuk menghamili Keira sudah kamu lakukan?"
Rayn membelalakkan mata mendengarnya benar-benar Mamahnya ini, kenapa bicara begitu dengan nada agak keras sih?
"Saya sedang berusaha," jawab Rayn membuat Mamahnya berdecak sebal kemudian Rayn kena marah dan akhirnya Mamahnya pamit pulang meninggalkan Rayn yang sekarang bisa bernafas lega.
....
"Maaf mbak saya gk sengaja," ucap Keira tatkala tak sengaja menabrak seorang wanita.
"Iya gk- eh? Keira kan? Masyaa Allah iya bener Keira!" Seru wanita tersebut yang begitu bahagia melihat keberadaan Keira.
"Masyaa Allah Kak Reilla! Ya Allah gk nyangka kita ketemu disini, gimana kabar Kakak?" Tanya Keira yang juga antusias meresponnya.
"Alhamdulillah Kakak baik Kei, Ya ampun kita udah lama gk ketemu ya terakhir denger katanya kamu udah nikah ya?" Tanya Reilla dan dibalas anggukkan kepala oleh Keira.
"Wah selamat ya Kei! Ini anak kamu? Masyaa Allah, Tabarakallah cantiknya Kei," ucap Reilla sambil mengusap kepala Hana dengan sayang.
"Rayn!" Panggil Keira tatkala melihat Rayn yang sedang berdiri di tempat parkir rumah sakit.
Rayn menoleh kemudian ia mendapati Keira bersama Hana dan seorang wanita yang berdiri membelakanginya, Rayn tak ambil pusing ia berjalan menghampiri Keira dan Hana yang sudah selesai melakukan imunisasi.
"Sudah selesai imunisasinya?" Tanya Rayn yang menggambil alih Hana dari gendongan Keira.
"Ah iya Kak, ini suami aku namanya Rayn," kata Keira memperkenalkan Rayn kepada Reilla.
"Loh? Masnya bukannya yang tadi itu ya?" Tanya Reilla terkejut ternyata orang yang tadi ia sangka penculik anaknya adalah suami dari Keira.
"Iya, salam kenal saya Rayn suaminya Keira," jawab Rayn sekaligus memperkenalkan dirinya lagi.
"Kalian udah saling kenal?" Kini giliran Keira yang mendadak bingung, kenapa Rayn dan Reilla sudah saling mengenal.
"Iya tadi ketemu di lobby rumah sakit," jelas Reilla meski tak paham namun Keira tetap mengangguk saja nanti bisa ia tanyakan lebih jelasnya pada Rayn di rumah.
"Ini anak Kakak yang ke dua?" Tanya Keira melihat bayi di dalam gendongan Reilla.
"Iya ini anak kedua aku, adiknya Syafiq," jawab Reilla ramah.
Lalu keduanya kembali mengobrol sementara Rayn hanya diam saja mengendong Hana, ia tak ikut-ikutan apalagi berniat bergabung ke dalam obrolan kedua perempuan itu.
"Ah iya Kak, gimana kabar Ummah Vidya?" Tanya Keira menanyakan kabar Vidya, Ummahnya Reilla.
"Ummah lagi kurang sehat, kemarin baru pulang dari rumah sakit," kata Reilla memberitahu bagaimana kabar Ummahnya.
"Ya Allah, semoga Ummah cepat sembuh ya Kak."
"Aamiin, ah iya Kei kapan-kapan main ke rumah ya. Ummah pasti seneng ketemu kamu."
Keira tersenyum senang mendengarnya, tentu saja ia pasti akan main ke rumah Reilla karna ia juga rindu main ke rumah itu. Saat kecil dulu ia sering sekali bermain di sana.
"Pasti Kak! Nanti kapan-kapan Kei main ke sana."
"Oke, jangan lupa ajak suami kamu sama anak kamu yang cantik ini."
Setelahnya Reilla pamit untuk segera pulang karna suaminya sudah menunggu di mobil lagi pula ia tak bisa berlama-lama karna harus pulang untuk mengurus Ummahnya.
"Kamu kenal perempuan tadi?" Tanya Rayn membuka obrolan saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Sttt kecilin suaranya, Hana baru tidur," kata Keira yang sedang menepuk lembut paha Hana agar putri kecilnya itu bisa tertidur pulas.
"Iya kenal, dia dulu itu tetangga gue di komplek. Pas gua kecil kayanya tapi sampai sekarang keluarga gue masih deket sama keluarganya Kak Reilla," jawab Keira membuat Rayn akhirnya mengerti.
"Kenapa lo tiba-tiba nanya gitu?"
"Tidak apa-apa, saya hanya penasaran saja karna kalian terlihat begitu dekat," jawab Rayn dan dibalas anggukkan kepala oleh Keira.
"Keira saya punya satu pertanyaan lagi."
"Nanya apa?"
"Ummah itu apa?" Tanya Rayn yang sedaritadi penasaran dengan kata itu.
"Ummah itu julukkan buat Ibu, Kak Reilla manggil Ibunya dengan sebutan Ummah dari dulu."
Rayn hanya mengangguk dan beroh ria saja, setelahnya tak ada lagi perbincangan diantara Keira dan Rayn, namun ada satu hal yang menganggu fikiran Rayn tentang wanita yang bernama Reilla itu, entah hanya perasaannya saja atau apa ia seperti pernah melihat wanita itu sebelumnya dan juga kata Ummah yang terdengar tak asing ditelinganya seperti ia pernah mengucapkan itu sebelumnya untuk seseorang namun Rayn tidak tau pada siapa, dan memikirkan hal itu justru malah membuat kepala Rayn berdenyut nyeri.
"Rayn kenapa?" Tanya Keira yang menangkap gelagat aneh dari Rayn.
"Nggak, saya gk apa-apa kok," jawab Rayn yang kembali berusaha fokus untuk menyetir.
Namun saat berada di dekat lampu lalu lintas yang berwarna merah Rayn malah menerobosnya begitu saja, membuat Keira terkejut.
"Rayn! Lampu merah! Berhenti!" Teriak Keira namun Rayn malah menggas mobilnya ia juga rupanya tak melihat ada sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan yang memang lampu lalu lintasnya di sana berwarna hijau, dan kemudian mobil tersebut menabrak mobil Rayn.
"Rayn!!!" Teriak Keira kencang dan begitu ketakutan, Keira memejamkan mata sambil memeluk Hana erat.
Kemudian setelahnya suara dentuman besar terdengar keras di tengah-tengah lalu lintas kendaraan yang ramai.
__ADS_1