
"Shafa jawab pertanyaan saya!" Ucap Arya yang meninggikan ucapannya.
Shafa gemetar melihat Arya yang menatapnya dengan tajam, pria itu tampak sangat marah padanya.
"Ar ... Arya maaf," ucap Shafa yang pada akhirnya hanya kata maaf saja yang dapat ia ucapkan.
"Saya gk butuh maaf dari kamu, jawab pertanyaan saya Shafa!"
Shafa memejamkan matanya saat Arya berjalan mendekat ke arahnya.
Umi hanya bisa menatap cemas pada putrinya yang saat ini tampak sedang ketakutan menghadapi Arya.
"Sudah cukup! Kamu membuatnya takut Arya," ucap Umi yang akhirnya angkat bicara.
Umi segera menarik lengan Shafa untuk bersembunyi di belakangnya, Arya menatap tak percaya pada Umi yang baru saja menarik Shafa.
"Umi, dia harus menjelaskan semuanya pada Arya," ucap Arya lagi yang suaranya tidak membentak lagi.
"Kamu malah membuatnya takut, kalau mau bertanya kenapa tidak bertanya secara baik-baik?"
Arya menghela nafasnya, ia beristigfar dalam hati dan berusaha meredam emosinya yang mengebu-gebu.
"Maafkan Arya, Umi."
Umi pun menghela nafasnya, ia kemudian melirik ke arah Shafa untuk keluar dari balik punggung Umi.
Arya menatap Shafa, kali ini tidak dengan tatapan tajam melainkan dengan tatapan yang sulit untuk di jelaskan oleh Shafa alias Vidya.
"Shafa, kamu sudah kembali ingat semuanya?" Tanya Arya lembut.
Shafa diam lalu perlahan menganggukkan kepalanya membuat Arya menghela nafas dan berusaha menahan gejolak di hatinya.
__ADS_1
"Shafa, sebenarnya kamu ini Vidya kan?" Tanya Arya dengan hati-hati.
Shafa menelan salivanya, telak sudah ia tidak bisa mengelak lagi dari Arya. Ia tidak bisa beralasan lagi, dan akhirnya hanya bisa pasrah saja dan lebih baik mengakui semuanya pada Arya.
"I ... iya Aku Vidya," ujar Shafa dengan terbata-bata dan berhasil membuka identitasnya.
Arya membulatkan matanya, ia menatap Shafa yang baru ia ketahui adalah Vidya.
"Kenapa? Kenapa kamu tega meninggalkan aku?" Tanya Arya yang tatapannya berubah menjadi sendu.
Vidya mengangkat kepalanya tatkala mendengar suara Arya yang terdengar lirih itu.
"Kenapa Vidya? Kenapa baru sekarang kamu kembali? Kamu selama ini dekat dengan ku, tapi kenapa kamu gk jujur kalau kamu itu Vidya?" Tanya Arya dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
Vidya hanya bisa menundukkan kepalanya sambil mengumamkan kata maaf, ia tau bahwa dirinya sudah sangat bersalah pada Arya.
"Lima belas tahun Vidya, selama lima belas tahun aku hampir gila karna mikirin kamu! Aku sangat kehilangan kamu Vidya, kamu tau? Reilla sangat membutuhkan kamu saat itu. Tapi kamu dimana? Bahkan aku terus memanggil nama kamu, kamu gk datang juga," ucap Arya yang meluapkan isi hatinya.
Arya menatap nanar pada Vidya, tatapan Arya menyiratkan luka yang mendalam. Selama ini ternyata Vidya ada di dekatnya dan menyamar menjadi Shafa, namun gadis itu tidak pernah mengatakan yang sebenarnya pada Arya.
"Kenapa Vidya?! Kenapa kamu lakukakan semua itu padaku? Kalau untuk balas dendam karna aku pernah menyakitimu dulu, aku terima. Tapi apakah putri kita yang tidak berdosa itu juga harus menanggung semuanya? Kamu tau Vidya apa yang lebih menyakitkan bagiku? Saat Reilla bertanya kenapa dia tidak seperti anak-anak lainnya, saat Reilla bertanya di mana Ummahnya berada, kamu tau Vidya? Rasanya sangat menyakitkan," ujar Arya sambil memukuli dadanya yang terasa sesak.
Vidya kembali menangis, ucapan Arya barusan membuat Vidya sadar betapa jahatnya dia selama ini. Dia sudah menelantarkan Reilla, ia sudah menjadi Ibu yang jahat untuk putrinya sendiri.
"Kalau aku gk datang dan gk denger ucapan Umi ke kamu, mungkin aku gk akan tau kalau kamu itu Vidya. Mungkin kamu akan terus bersembunyi dari ku, kenapa Vidya? Kenapa kamu malah terus bersembunyi dari diriku? Apa sebegitu bencinya kamu padaku?" Tanya Arya menatap Vidya dengan tatapan penuh luka, yang berhasil membuat Vidya ikut merasa terluka juga.
"Kamu benar Arya, aku memang jahat Arya ... hiks ... aku ini Ibu yang buruk, aku gk pantas menjadi Ummahnya Reilla," ujar Vidya yang menyungingkan senyuman sendu di sela isak tangisnya.
"Maka dari itu Syabil memang lebih pantas untuk Reilla dari pada aku," ucap Vidya menatap Arya dengan tatapan yang berusaha menyiratkan apa yang ia rasakan.
Arya terdiam mendengar ucapan Vidya barusan, membuat Vidya menyungingkan senyuman miringnya.
__ADS_1
"Kenapa diam, yang barusan aku katakan benar kan?" Tanya Vidya.
"Semoga kamu bahagia ya, kelihatannya selama ini kamu memang bahagia. Ada atau tidaknya diri ku itu tidak berarti sepertinya buat mu."
Arya mengelengkan kepalanya mendengar ucapan Vidya, bagaimana bisa gadis itu mengucapkan semoga bahagia. Padahal kebahagiaan Arya adalah bersama Vidya bukan Syabil.
"Umi, Vidya boleh tinggal di sini kan?" Tanya Vidya yang sudah menghapus air matanya.
"Tentu nak, ini juga kan rumah kamu."
Vidya tersenyum mendengar ucapan Uminya, Vidya lalu menoleh sekali lagi pada Arya.
"Hubungan kita sudah berakhir, aku terlalu bodoh karna sudah berharap bahwa kamu juga merindukan aku. Aku terlalu naif sampai lupa bahwa sampai kapanpun kamu gk akan pernah berubah," ujar Vidya lagi.
Setelah mengatakan itu Vidya pun berlalu dari hadapan Arya, walaupun Arya terus memanggil namanya, Vidya tetap melangkah masuk tak perduli pada Arya yang saat ini sedang terluka karna ucapan Vidya.
Bagaimana bisa Vidya mengatakan hal itu? Vidya tidak tau, selama ini Arya juga menderita karna merindukannya. Sekarang ia sudah bisa bertemu lagi dengan Vidya namun keadaannya berbeda, gadis itu sudah salah paham pada Arya.
Arya tidak pernah melupakannya, bahkan tidak akan pernah bisa. Hati dan fikirannya selalu tertuju pada Vidya, Arya mengacak rambutnya frustasi. Vidya mengacuhkannya, gadis itu sudah salah paham. Arya tidak mau menikah dengan Syabil, Arya berdecak ini semua salah. Ia seharusnya tidak menuruti ucapan Mamahnya yang menyesatkan itu, ia seharusnya tidak perlu juga mengumbar janji pada Mamahnya bahwa dia akan menikah dengan Syabil.
Jika Arya tau keadaannya akan seperti ini, Arya lebih baik tidak menikah sama sekali. Ia tidak tau jika Shafa adalah Vidya dan Vidya ternyata belum meninggal selama ini. Ada rasa senang di dalam hati Arya, namun harapan untuk bisa bersama dengan Vidya seakan pupus sudah.
Pertunangannya dengan Syabil akan di laksanakan minggu depan, semua sudah di persiapkan. Bahkan sebulan setelah pertunangan, Arya akan menikah dengan Syabil.
Arya menghela nafasnya gusar, menundukkan kepalanya dalam. Air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya. Sekali lagi ia menatap ke dalam rumah Umi berusaha mencari sosok Vidya namun nihil ia tidak menemukan sosok yang ia rindukan lagi.
"Lebih baik kamu pulang Arya, jika kamu tetap di sini. Umi takut jika Vidya semakin sakit hati karna dirimu," ujar Umi lagi mengusir Arya secara terang-terangan.
Arya menganggukkan kepalanya pelan, ia melangkah gontai namun sebelum benar-benar pergi Arya sempat membalikkan badannya ia menatap ke lantai dua rumah Umi. Ia melihat sosok Vidya di sana sedang melihat dari jendela dan menatap ke arahnya.
Arya menatap Vidya dalam, dengan tatapan penuh luka. Vidya yang melihat tatapan Arya juga ikut merasa terluka.
__ADS_1
Arya menghela nafasnya tatkala Vidya sudah kembali menutup gordennya, sosok gadis itu kembali tak terlihat lagi. Arya tidak punya pilihan lagi, ia sudah di usir oleh Umi Vidya secara langsung. Akhirnya Arya pun memutuskan untuk pulang bersama dengan luka yang kembali tertoreh di hatinya.