
Tak terasa kini sudah 11 bulan berlalu sejak kepergian Rayn ke Rusia, sudah hampir sebulan juga Keira tak mendapatkan kabar perihal Rayn.
Keira resah, ia khawatir dan berharap semoga Rayn di sana baik-baik saja.
Kesibukkan Keira selama Rayn pergi adalah belajar dan mengurusi Hana yang semakin hari semakin aktif dan tumbuh menjadi balita yang cerdas dan ceria serta mengemaskan tentunya, kehadiran Hana seolah menjadi pelipur bagi Keira selama tak mendapatkan kabar dari Rayn.
Keira sudah bertanya pada Mamah mertuanya tapi yang ia dapatkan adalah jawaban yang tak pernah sesuai dengan apa yang ia inginkan, Mamah mertuanya selalu bilang bahwa Rayn baik-baik saja di sana tapi tetap saja Keira mengkhawatirkan Rayn.
Keira menghela nafas pelan, kedua tangannya sibuk memasukkan keperluan Hana ke dalam tas karna hari ini mereka berdua akan pergi ke luar untuk imunisasi dan mengajak Hana jalan-jalan keluar sekedar untik menghirup udara segar.
Bayi yang tumbuh menjadi balita itu bertepuk tangan memamerkan gusinya yang sudah muncul dua gigi kecil, terlihat begitu mengemaskan membuat Keira tak tahan untuk tidak mencubit pipi Hana.
"Ayo sayang kita berangkat imunisasi," ucap Keira lalu mengendong Hana keluar dari rumah, kedua nya memutuskan pergi menggunakan taksi online.
Sesampainya di rumah sakit Keira dan Hana antri terlebih dahulu, setelah itu tiba giliran Keira dan Hana. Hana menangis keras saat proses imunisasi berlangsung namun hanya sebentar setelahnya anak itu kembali tenang dalam gendongan Keira.
Setelah selesai imunisasi, Keira dan Hana melipir terlebih dahulu ke kantin rumah sakit, karna Keira lupa tadi pagi sebelum kesini ia belum sarapan.
Saat tengah mengantri membeli makanan, tiba-tiba saja Keira dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahunya.
"Halo Keira!" Sapa orang tersebut sambil menyungingkan senyumannya, hingga kedua matanya menyipit.
Keira yang menoleh dengan raut wajah terkejut seketika membulatkan kedua matanya kaget, tak percaya ia dan orang tersebut bisa bertemu kembali.
"Kak ... Kak Hafidzh?!"
Orang yang di Panggil Kak Hafidzh itu menyungingkan senyuman melihat raut wajah Keira yang begitu kaget bertemu dengan dirinya.
"Wah ternyata bener ini Keira, kirain tadi salah orang, kamu ke rumah sakit sama ..." ucap Hafidzh terjeda seraya melirik ke arah Hana yang ada dalam gendongan Keira.
"Oh ini anak aku Kak, namanya Hana," ucap Keira memperkenalkan Hana sebagai putrinya, kini gantian yang dibuat kaget adalah Hafidzh.
"Loh kamu udah nikah? Kapan? Sama siapa? Kok ... kok bisa?!" Tanya Hafidzh secara bertubi-tubi membuat Keira tersenyum mendengarnya.
"Kalau diliat dari usia anakmu, kayanya sudah lama ya kamu menikah?" Tanya Hafidzh kembali.
__ADS_1
"Iya, sudah lumayan lama. Kak Hafidzh gimana? Sudah nikah juga?" Tanya Keira membuat Hafidzh terkekeh mendengarnya.
"Gimana aku mau nikah, orang yang selama ini namanya aku sebut dalam doaku aja ternyata udah nikah sama orang lain," jawab Hafidzh seraya menatap Keira dengan tatapan agak terluka.
"Kok bisa?" Keira yang kelewat polos dan kadar kepekaan rendah malah bertanya seperti itu pada Hafidzh, bukannya kesal Hafidz justru malah tersenyum.
"Bisa, mungkin doa saya kurang kuat kali ya? Hehe, tapi Kei saya masih penasaran. Kok bisa kamu memilih menikah di usia muda? Bukannya dulu kamu bilang mau menikah saat usiamu sudah cukup dewasa?"
Keira menghela nafas, ia hampir lupa bahwa orang yang ada dihadapannya ini adalah orang yang dulu pernah dekat dengannya. Namun bukan berarti mereka pernah berpacaran, tidak. Hafidz adalah sahabat dari Kakaknya Keira, jadilah Hafidz sering datang ke rumah main dan juga bermain dengan Keira.
"Kakak udah tau kok Kei, kamu dijodohin kan sama orangtua kamu? Dan anak ini juga bukan anak kandung kamu kan? Kakak tau semuanya Kei."
Keira tidak begitu terkejut mendengarnya, pasti Hafidzh mendengar itu dari Kakaknya. Jadilah Keira hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Obrolan terjeda ketika waktunya Keira memesan makanan untuk dibawa pulang, setelah makanan jadi Keira pamit pada Hafidz untuk pulang.
"Biar Kakak anter ya?" Tawar Hafidz awalnya Keira menolak namun Hafidzh kekeuh ingin mengantarnya alhasil Keira pun mengiyakan saja.
Selama perjalanan Hafidzh selalu mengobrol banyak hal tentang kenangan mereka berdua dulu, sementara Keira hanya menanggapinya seperlunya saja.
"Iya Kei, gk kok gk ngerepotin, Kakak seneng bisa ngobrol banyak sama kamu."
Keira hanya tersenyum mendengarnya, lalu perhatian Hafidzh teralihkan pada Hana yang tertidur pulas.
"Anak kamu cantik Kei, kaya kamu," kata Hafidzh sambil tersenyum menatap Keira.
Keira tak mengubris lagi, ia kemudian pamit masuk ke dalam rumah dan Hafidzh mengiyakan.
Saat membuka pintu rumah Keirq dikejutkan oleh sesuatu yang belum pernah ia duga sebelumnya.
"Suprise! Tadaaaa i'm home."
Keira masih berdiri di depan pintu, sambil memasang wajah tanpa ekspresi dan mematung begitu saja membuat seseorang dihadapannya menjadi panik.
"Loh? Kamu kenapa? Sakit?"
__ADS_1
Keira tak menjawab, ia justru langsung ingin berhambur ke pelukkan orang tersebut namun terhenti saat sadar ada Hana ditengah-tengah mereka.
"Aduh! Kok kamu malah pukul saya?"
Keira memasang wajah kesalnya, membuat orang dihadapannya kembali dilanda bingung.
"Eh kok malah nangis? Aduh, jangan nangis, maaf."
Mendengan permintaan maaf itu membuat Keira semakin terisak, namun ia memilih mengabaikan orang tersebut dan melangkah masuk ke kamar untuk menaruh Hana ke tempat tidur agar bisa tidur dengan nyenyak.
Tok tok tok
"Kei? Kamu marah sama saya?"
Keira tak menyahut dan hanya diam saja di dalam, namun tak lama ia membukakan pintu kamarnya mempersilahkan orang itu untuk masuk.
"Kei? Kamu gk suka ya saya pulang?" Tanya orang itu lembut seraya berlutut di hadapan Keira yang sedang duduk di pinggir kasur.
"Bodoh! Nyebelin!" Setelah mengatakan itu Keira langsung memeluk orang dihadapannya, yang sudah hampir setahun ini tak ada kabar, membuat dirinya khawatir, dan sekarang orang itu pulang, ya orang itu adalah Rayn yang sudah pulang dari Rusia.
"Maaf ya saya gk ngehubungin kamu selama ini," ucap Rayn yang membalas pelukkan Keira juga.
Entahlah Keira enggan menjawab, yang ingin ia nikmati hanyalah pelukkan Rayn, pelukkan yang selalu ia rindukan.
"Jangan pergi lagi," ucap Keira disela isak tangisnya membuat Rayn tersenyum sambil mengusap punggung Keira lembut.
"Maaf ya," kata Rayn lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Keira.
"Tapi ada syaratnya kalau mau dimaapin."
"Apa syaratnya?" Tanya Rayn bingung.
"Beliin gue es krim coklat sama vanila yang banyak!"
Rayn terkekeh mendengar permintaan Keira barusan, gadis ini benar-benar penuh kejutan. Ditinggal selama hampir setahun lamanya ternyata masih tetap sama, masih saja mengemaskan. Kan Rayn jadinya gemes sendiri ini, tapi biasalah gengsinya masih tetap tinggi. Jadi yang Rayn lakukan hanya mengangguk dan tersenyum saja.
__ADS_1