
"Loh Rei? Kamu kenapa?" Tanya Syabil saat ia membukakan pintu rumah, ia terkejut melihat Reilla yang pulang dengan pakaian yang kotor dan lengannya yang terluka.
Reilla tak menjawab justru yang ia lakukan adalah memeluk erat tubuh Syabil, Syabil juga tak bertanya lagi ia memilih membalas pelukkan Reilla dan mengusap rambut Reilla dengan lembut.
"Kak Syabil," panggil Reilla yang masih berada dalam pelukkan Syabil.
"Iya sayang ada apa?" Tanya Syabil sambil mengusap punggung Reilla.
"Apa orang yang sudah tiada bisa hidup kembali?" Tanya Reilla membuat Syabil menghentikan usapannya di punggung Reilla.
Syabil mengurai pelukannya, ia menatap Reilla dengan begitu lekat.
"Apa sudah terjadi sesuatu?" Tanya Syabil sambil memegang kedua pundak Reilla.
Reilla kembali terisak, Syabil yang melihat Reilla begitu rapuh pun kembali membawa gadis itu ke dalam pelukkannya.
"Ayo duduk dulu ya, tenangin diri kamu dulu baru setelah itu kamu ceritakan semuanya pada Kakak."
Reilla menganggukkan kepalanya, Syabil membawa tangan Reilla ke dalam genggamannya seraya tersenyum lembut yang membuat Reilla merasa tenang.
"Kak, tadi Rei ketemu seseorang yang wajahnya ...."
Reilla memberi jeda pada ucapannya, ia terlihat begitu sulit melanjutkan ucapannya.
"Yang wajahnya apa?" Tanya Syabil yang mulai penasaran.
"Yang wajahnya sangat mirip dengan Ummah," ujar Reilla yang suaranya memelan di akhir kalimat.
Syabil terdiam, ia begitu terkejut mendengar ucapan Reilla barusan. Syabil sudah bisa menduga bahwa Reilla sudah bertemu dengan perempuan yang wajahnya mirip dengan Ummahnya, perempuan yang selama ini Arya rawat dan selalu Arya yakini sebagai Ibu kandungnya Reilla.
"Kak Syabil kok diem?" Tanya Reilla yang menyadari bahwa Syabil jadi terdiam karna mendengar ucapannya tadi.
"Eh? Ng ... nggak kok, Kak Syabil cuma kaget aja ngedengernya."
Syabil memilih untuk berbohong, sebenarnya ia sudah tau perihal perempuan yang memiliki wajah mirip dengan mendiang Ummahnya Reilla namun dia memilih untuk berpura-pura tidak tau.
"Rei gk mungkin salah liat Kak, orang tadi mirip banget sama Ummah."
Syabil hanya bisa diam mendengarkan, ia tidak tau harus merespon apa kali ini.
"Rei mungkin kecapean, mending kamu mandi dulu sana habis itu makan. Kak Syabil udah buatin puding mangga kesukaan kamu," ucap Syabil berharap agar Reilla tak lagi membahas perihal tentang orang yang mirip dengan Ummahnya itu.
Reilla menghela nafasnya pelan, ia lalu menganggukkan kepala seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju ke kamarnya.
Setelah Reilla benar-benar sudah pergi, Syabil pun menggambil gawainya untuk menghubungi Arya. Meminta pria itu untuk cepat pulang karna ada hal yang harus mereka bahas.
"Halo Assalamu'alaikum, kamu masih di kantor? Kira-kira pulang jam berapa?" Tanya Syabil ketika panggilannya tersambung dengan Arya.
"Wa'alaikumussalam, iya saya masih di kantor. Sebentar lagi saya pulang kok, ada apa memangnya?"
"Cepat pulang ya, ada sesuatu yang harus aku bahas dengan kamu. Ini penting karna menyangkut Reilla," ujar Syabil lagi.
"Iya, saya akan usahakan segera pulang. Kita bahas dan lanjutkan lagi ketika saya sudah sampai di rumah ya?"
"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu ya."
Tutt tutt
Panggilan pun di akhiri oleh Arya, membuat Syabil menghela nafasnya. Walaupun hal itu sudah sering terjadi namun tetap saja membuat Syabil merasa jengkel.
__ADS_1
Syabil kemudian kembali mendudukan dirinya di sofa, ia memijat pelipisnya yang terasa agak pusing. Syabil berharap bahwa saat ini Reilla baik-baik saja, dan semoga gadis itu tidak bertemu lagi dengan perempuan yang mirip dengan Ummahnya itu, karna jika itu sampai terjadi Syabil yakin pasti Reilla bisa terluka nantinya.
Syabil tau bagaimana Reilla selama ini tumbuh tanpa sosok seorang Ibu, untung ada dirinya yang bersedia merawat dan mengasuh Reilla bahkan Syabil sudah menganggap Reilla seperti putrinya sendiri. Syabil hanya takut jika perempuan yang mirip dengan mendiang Ummahnya Reilla itu bertemu dengan Reilla, Syabil yakin bahwa hati Reilla akan sangat hancur nantinya.
Gadis itu pasti akan merasa terkhianati, rasa sayang dan rindi pada Ummahnya bisa-bisa berganti dengan rasa benci nantinya maka dari itu Syabil tidak mau sampai itu terjadi, ia tidak mau Reilla sampai membenci Ummahnya sendiri.
"Kak Syabil!" Panggil Reilla yang baru saja turun dari tangga.
Syabil kembali tersenyum melihat kedatangan Reilla, rupanya gadis itu sudah lebih rapih dari sebelumnya.
"Ayo kita makan puding," ajak Syabil sambil mengandeng tangan Reilla menuju meja makan.
"Ini Kak Syabil udah buatin puding mangga kesukaan Rei. Di makan ya," ujar Syabil sambil menaruh puding mangga buatannya ke piring lalu meletakkannya di hadapan Reilla.
Reilla begitu antusias melihat puding mangga buatan Syabil yang sangat mengugah selera, tidak mau menunggu lagi akhirnya Reilla pun menyantap puding mangga itu.
"Gimana rasanya?" Tanya Syabil ketika Reilla memasukkan suapan pertama ke mulutnya.
"Enak kak, enak pake banget!" Seru Reilla yang kembali menyuapkan puding ke mulutnya.
"Alhamdulillah kalau kamu suka," ucap Syabil yang merasa lega karna Reilla menyukai puding buatannya.
"Kak Syabil, Rei boleh tanya sesuatu gk?"
"Boleh, mau tanya apa emangnya?"
Reilla terlihat menimbang-nimbang sebentar, ia juga bingung apakah ia harus mempertanyakan hal ini pada Syabil atau tidak namun karna sudah terlanjur bilang lebih baik Reilla menanyakan hal ini saja pada Syabil daripada dia semakin di buat penasaran.
"Kak Syabil suka sama Ayah Rei?" Tanya Reilla membuat Syabil yang sedang minum menjadi tersedak.
"Pelan-pelan minumnya Kak," ujar Reilla yang mengusap-usap punggung Syabil.
"Rei cuma penasaran aja Kak, karna Rei perhatiin Kakak tuh selalu perhatian sama Ayah dan bahkan selalu ada buat Rei. Makannya Rei nanya kaya gini ke Kakak," ucap Reilla lagi membuat Syabil terdiam.
"Kalau Kakak suka sama Ayah gk apa-apa kok Rei gk keberatan, Rei malah seneng kalau Kak Syabil bisa jadi Ibunya Reilla."
"Bukannya kamu pernah bilang gk mau punya Ibu baru ya?" Tanya Syabil yang teringat ucapan Reilla dulu kalau dia tidak mau punya Ibu baru.
"Itu kan dulu waktu aku masih umur 6 tahun kalau sekarang beda lagi hehe, aku mikir kasian sama Ayah. Ayah selalu kerja keras buat Rei, makannya Rei mau cari Ibu baru buat Ayah supaya Ayah gk ngerasa sedih lagi karna selalu terpaku sama masalalunya," ujar Reilla menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Jadi kamu mau Kakak jadi Ibu kamu, gitu?" Tanya Syabil yang masih tak paham maksud perkataan Reilla.
"Iya mau banget, Kak Syabil yang dari dulu selalu ada buat Rei. Bahkan waktu Rei TK dulu Kak Syabil gk pernah keberatan kalau Rei panggil Kakak dengan sebutan Mamah, Kak Syabil selalu ada buat Rei, Kak Syabil yang selalu nemenin Rei kapanpun dan dimanapun. Kak Syabil sudah seperti Ibu bagi Rei dan Rei sangat berterimakasih pada Kak Syabil," ujar Reilla tulus membuat mata Syabil sampai berkaca-kaca karna terharu mendengar perkataan Reilla.
"Ya ampun Kak Syabil jadi terharu dengernya," ujar Syabil membuat Reilla tersenyum.
"Jadi Rei bolehkan panggil Kak Syabil Mamah?" Tanya Reilla meminta izin untuk memanggil Syabil dengan sebutan Mamah seperti yang dulu ia lakukan saat masih TK.
"Tentu, kamu kan selama ini udah Kakak anggap seperti putri kandung Kakak sendiri."
Ucapan Syabil barusan, membuat senyuman Reilla mengembang semakin lebar. Gadis itu bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah Syabil untuk memeluknya.
"Rei sayang Mamah," ujar Reilla lirih saat memeluk Syabil dari belakang.
Syabil yang mendengar ucapan Reilla merasa hatinya menghangat, ia sendiri memang seperti sudah punya ikatan batin dengan Syabil. Selama sepuluh tahun tinggal di rumah ini dan menjadi pengasuh Reilla sejak kecil, membuat Syabil menjadi sangat menyayangi Reilla seperti putri kandungnya sendiri.
"Rei seneng bisa punya Mamah," ucap Reilla yang semakin mengeratkan pelukkannya.
"Hmm."
__ADS_1
Suara deheman itu membuat Syabil dan Reilla mengurai pelukkan mereka, dengan kompak mereka membalikkan badan.
"Gk ada yang mau peluk Ayah juga nih?" Tanya Arya yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Ayah!" Seru Reilla, lalu tanpa di komando gadis itu langsung berlari dan berhambur ke dalam pelukkan Arya.
Arya mengelus rambut putrinya dengan sayang, sesekali ia menciumi puncak kepala Reilla.
"Ayah ada yang mau Rei bahas sama Ayah," ucap Rei yang masih berada dalam pelukkan Arya.
Namun Arya tidak menjawab tatapannya beralih pada Syabil yang masih duduk di tempatnya, yang saat ini sedang menatap ke arahnya.
"Nanti Ayah akan temuin kamu di kamar mu ya, sekarang Ayah mau ngobrol dulu sama Kak Syabil," ujar Arya yang melerai pelukkannya.
Reilla pun menganggukkan kepalanya, sebelum benar-benar kembali ke kamar gadis itu menyempatkan diri untuk mengecup pipi Arya singkat lalu setelah itu ia baru naik ke atas tangga menuju ke kamarnya.
"Apa yang mau kamu bicarakan dengan saya?" Tanya Arya yang berjalan menghampiri Syabil.
"Ada sesuatu yang penting, yang harus aku beritahukan sama kamu."
Arya mengerenyit bingung mendengar ucapan Syabil barusan.
"Tentang apa?" Tanya Arya.
"Tentang perempuan yang wajahnya mirip dengan mendiang istrimu itu," jawab Syabil membuat Arya terkejut.
"Memangnya ada apa dengan Shafa?" Tanya Arya lagi yang semakin di buat penasaran oleh Syabil.
"Rei tadi tidak sengaja bertemu dengannya di jalan," ujar Syabil memberitahukan apa yang sedaritadi menganjal di hatinya.
Arya yang mendengar hal itu sontak langsung membulatkan matanya, ia merasa begitu terkejut mendengar ucapan Syabil barusan.
"Bagaimana bisa Rei bertemu dengan Shafa?" Tanya Arya yang masih tak percaya.
"Aku gk tau gimana ceritanya tapi tadi Rei nanya ke aku, dia bilang apakah orang yang mati bisa hidup kembali? Dia nanya gitu ke aku tadi," ucap Syabil yang menyampaikan perkataan Reilla sebelumnya.
Arya terdiam, ia memijat pangkal hidung mancungnya. Kepalanya mendadak terasa pusing karna memikirkan semua ini, ia juga tidak habis fikir bagaiman bisa Reilla bertemu dengan Shafa? Bukankah Arya sudah berpesan pada Shafa untuk tetap di rumah saja? Tapi kenapa gadis itu tidak mendengarkannya? Jika sudah seperti ini apa yang harus Arya lakukan? Ia juga bingung sekali harus melakukan apa, tapi yang jelas Arya tidak mau jika Reilla bertemu dengan Shafa saat ini.
Akan ada saatnya Arya yang akan memperkenalkan Shafa langsung pada Reilla namun tentu saja setelah Shafa bisa mengingat semua masalalunya, dan semoga saja Shafa bisa segera mengingatnya agar Arya tidak selalu gelisah memikirkan kebenaran tentang Shafa yang selalu membuat Arya bingung karna selalu menerka bahwa Shafa adalah Vidya.
"Aku takut kalau Rei sampai tau kalau ada orang yang mirip dengan mendingan Ummahnya, aku takut Rei salah paham dan dia malah menyangka bahwa Ummahnya selama ini belum meninggal. Aku takut jika nanti kerinduan Reilla pada Ummahnya berganti dengan kebencian," ucap Syabil menyuarakan kekhawatirannya.
Arya menghela nafasnya membenarkan perkataan Syabil barusan. Sama dengan Syabil, Arya pun tak ingin Reilla jadi salah paham nantinya. Maka dari itu Arya pasti akan menjelaskan semuanya pada Reilla namun di waktu yang sudah sangat tepat untuk mempertemukan Reilla dengan Shafa jika memang benar Shafa itu adalah Vidya.
"Apa Rei menanyakan hal itu lagi padamu?" Tanya Arya yang menoleh sambil menatap wajah Syabil yang tampak khawatir.
"Nggak, dia gk nanya lagi sama aku. Tapi tetap aja aku khawatir sama dia," ucap Syabil yang memang begitu mengkhawatirkan Reilla.
Arya menghela nafasnya, ia tau bahwa Syabil itu sangat menyayangi putrinya. Arya tau itu, karna Syabil adalah gadis yang baik namun sayang Arya tak bisa membalas perasaan cintanya.
"Aku cuma mau bilang itu aja sih sama kamu, aku tau kamu capek. Mending kamu mandi terus ganti baju dan istirahat dulu, maaf sudah membuatmu jadi kefikiran juga," ucap Syabil yang merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa, saya senang kamu mau berbagi perihal Rei dengan saya. Terimakasih Syabil," ucap Arya tulus langsung dari hati.
Syabil hanya bisa terpaku saat melihat senyuman Arya, walaupun hanya sekilas tapi percayalah itua adalah senyuman Arya yang lumayan lebar dari biasanya dan Arya memberikan senyuman itu khusus untuknya hal itu membuat Syabil sangat senang.
"Kalau begitu saya ke kamar dulu," ucap Arya dan di balas anggukkan oleh Syabil.
Setelah Arya pergi ke kamarnya, Syabil menjadi senyum-senyum sendiri sambil menatap punggung tegap Arya yang mulai menjauh. Sadar jika dia senyum-senyum sendiri Syabil pun terkekeh menyadari kelakuan anehnya.
__ADS_1
"Syabil lo kenapa sih? Aneh banget ih!" Ujar Syabil sambil menutupi wajahnya yang terasa memanas bahkan jantungnya juga selalu berdebar-debar lebih kencang dari biasanya dan itu semua ia yakini adalah efek dari senyuman Arya yang mampu membuat perasaannya tidak karuan seperti ini.