Without You

Without You
[S2] Perjodohan


__ADS_3

Setelah lelah berkutat dengan pekerjaan di kantor yang menumpuk, Arya kini tiba di rumahnya. Ia memarkirkan mobil di garasi terlebih dahulu lalu setelah itu memutuskan untuk turun dan masuk ke dalam rumahnya.


Langkah Arya terhenti tatkala melihat kehadiran seseorang di ruang tamunya, yang saat ini tengah berbincang dengan Syabil.


"Assalamu'alaikum," ucap Arya membuat kedua orang itu kompak menoleh ke arahnya.


"Wa'alaikumussalam, akhirnya kamu pulang juga Arya. Kebetulan Mamah dan Syabil daritadi nunggu kamu."


Arya menghela nafasnya, tamu yang Arya maksudkan sebelumnya adalah Mamahnya sendiri yang kebetulan sedang bertandang ke rumahnya. Entah karna urusan apa Arya tidak tau, namun Arya sepertinya dapat menebaknya, Arya rasa saat ini Mamahnya datang dengan urusan penting. Jika tidak penting Mamahnya tak mungkin datang ke rumah.


"Ada apa Mah nyariin Arya?" Tanya Arya setelah mendudukan dirinya di sofa, besebrangan dengan Syabil.


"Kamu udah ada calon belum?" Tanya Mamah Arya yang langsung ke intinya.


Arya terkejut mendengar pertanyaan Mamahnya barusan, mendadak perasaan Arya jadi tak enak.


"Calon? Calon apa ya Mah?" Tanya Arya berpura-pura tidak tau padahal ia sangat tau kemana arah pembicaraan Mamahnya.


"Kamu jangan pura-pura gk tau deh, kalau emang kamu belum punya calon itu bagus sekali. Kebetulan kedatangan Mamah ke sini mau membahas calon Istri untuk kamu."


Arya berdecak mendengar ucapan Mamahnya barusan, Mamahnya ini selalu saja membuat Arya naik darah. Mamahnya selalu saja membahas perihal calon istri, padahal Arya sendiri tidak terlalu memikirkannya. Arya jadi heran sebenarnya yang ngebet pengen nikah itu Mamahnya atau dirinya sih? Kenapa jadi Mamahnya yang repot begini? Arya jadi bingung sendiri.


"Masyaallah Mah, kan udah Arya bilang sama Mamah. Arya gk mau bahas itu lagi," ucap Arya menyampaikan ketidak sukaannya pada topik pembahasan kali ini yang sebenarnya sudah sering menjadi pembahasan di antara dirinya dan juga sang Mamah.


Mamah Arya menghela nafasnya, sementara Syabil? Gadis itu sedaritadi hanya diam mendengarkan percakapan antara Ibu dan anak di hadapannya.


"Mau sampai kapan? Perempuan itu udah gk ada, bukan berarti ketiadaannya membuat hidup kamu juga harus terhenti Arya!" Ujar Mamah Arya yang mulai meninggikan nada bicaranya.


Dalam hati Arya terus melafalkan istigfar, pria itu mencoba berusaha tetap sabar karna bagaimanapun Mamahnya itu adalah orang tuanya yang harus ia hormati karna Islam memang mengajarkan seorang anak untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua.


"Perempuan mana lagi yang mau Mamah jodohkan dengan Arya? Apa Mamah gk capek berusaha jodohin Arya terus?" Tanya Arya menatap Mamahnya dengan lembut berusaha mengontrol suaranya agar tidak meninggi di depan sang Mamah.


"Nggak, karna Mamah mau yang terbaik untuk kamu. Mamah sayang sama kamu Arya, Mamah mau ada yang ngurusin kamu ketika tua nanti saat Mamah udah gk ada lagi. Mamah ini udah semakin tua," ujar Mamah Arya yang matanya sudah berkaca-kaca membuat Arya jadi tak tega juga melihatnya.


Arya menghela nafasnya, ia bangkit lalu berjalan ke arah Mamahnya. Ia duduk bersimpuh di depan Mamahnya yang saat ini sedang menangis.


"Maafin Arya ya, Mah. Arya tau apa yang Mamah lakuin ini semua untuk Arya, tapi Arya rasa ini terlalu berlebihan karna Arya gk akan bisa menikah lagi Mah," ujar Arya yang berusaha memberikan pengertian pada Mamahnya.


"Mamah sayang sama kamu, Mamah mau lihat kamu bahagia. Mamah gk mau lihat kamu terus menderita karna kepergian Vidya."


Arya mengenggam kedua tangan Mamahnya, lalu mengusapnya lembut. Ia tatap wajah Mamahnya yang saat ini sudah berlinang air mata, sungguh Arya juga tidak bermaksud membuat Mamahnya sampai menangis seperti itu.

__ADS_1


"Kasih tau Mamah, apa alasan kamu gk mau menikah lagi?" Tanya Mamah Arya sambil menggambil uluran tisu yang Syabil berikan.


"Karna Arya mencintai Vidya, walaupun pada kenyataannya Vidya sudah tiada. Arya takut kalau menikah lagi, Arya tidak bisa bersikap adil pada Istri Arya nanti. Karna Arya gk akan bisa mencintainya, karna Arya sudah menghabiskan seluruh cinta Arya hanya untuk Vidya," ucap Arya lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


Syabil yang melihat Arya mengutarakan alasannya itu membuat Syabil merasa perih, dalam hati ia bertanya sebegitu besarkah cinta Arya untuk Vidya? Walau gadis itu sudah tiada namun mampu membuat Syabil cemburu.


"Arya, kamu mau berbakti sama Mamah kan?" Tanya Mamah Arya sambil mengusap lembut kepala Arya.


"Tentu Mah, setiap anak pasti mau berbakti pada orang tuanya."


Mamah Arya tersenyum simpul, di tatapnya Arya dengan lembut.


"Kalau begitu turuti permintaan Mamah."


Alis Arya bertaut, keningnya bahkan berkerut bingung mendengar ucapan Mamahnya yang mau mengajukan permintaan.


"Insyaallah Mah."


Mendengar ucapan Arya membuat sang Mamah tidak merasa puas.


"Kamu janji dulu sama Mamah," pinta Mamah Arya lagi.


"Iya, Arya janji."


"Mamah mau kamu menikah dengan Syabil."


Bukan hanya Arya yang terkejut mendengar ucapan Mamahnya barusan, Syabil juga merasa terkejut mendengarnya. Gadis itu tidak pernah berfikir bahkan tidak pernah menduga bahwa Mamah Arya akan mengatakan hal seperti itu sebagai permintaannya pada Arya.


"Mah tapi-"


"Apa? Kamu mau nolak permintaan Mamah? Kamu kan udah janji sama Mamah."


Mengingat janjinya pada sang Mamah, Arya kembali mengatupkan mulutnya. Ia tidak jadi memperotes perkataan sang Mamah, yang sebenarnya tidak Arya inginkan.


Syabil diam-diam melirik ke arah Arya, ia bisa menangkap dengan jelas raut keberatan dari wajah Arya. Syabil tau itu, Arya memang tak akan pernah mau menikah dengannya. Bukankah selama ini memang hanya Syabil yang terus berharap? Miris memang.


"Maaf Tan sepertinya Syabil gk bisa menikah dengan Arya," ujar Syabil yang angkat suara setelah sedaritadi diam memperhatikan.


"Kenapa? Bukankah kamu mencintai Arya?"


Syabil yang mendengar perkataan Mamah Arya barusan membuat ia kaget, dalam hati Syabil bertanya kenapa Mamah Arya bisa tau jika dirinya mencintai Arya, padahal Syabil tak pernah memberitahu soal perasaannya pada Mamah Arya.

__ADS_1


"Sudahlah Syabil, kamu memang seharusnya menikah dengan Arya. Kamu ini anak yang baik, kamu sudah merelakan semuanya hanya untuk mengurus Arya dan Reilla saja selama ini. Kamu memang pantas menjadi pendamping hidup Arya," ujar Mamah Arya yang kini sudah duduk di dekat Syabil.


"Tapi, Reilla? Bagaimana?" Tanya Syabil, ragu.


"Rei, kemari sayang!" Panggil Mamah Arya saat melihat Reilla yang kebetulan sekali sedang lewat.


Reilla pun menurut, anak itu menghampiri Arya, Syabil, dan juga Mamah Arya yang sedang dalam situasi yang tak menentu.


"Ada apa Oma?" Tanya Reilla menatap bingung pada Omanya yang tadi memanggil dirinya.


"Rei setuju gk kalau Kak Syabil dan Ayah kamu menikah?"


Reilla diam, memperhatikan Ayahnya lalu memperhatikan Syabil dan seketika senyumannya pun muncul.


"Rei setuju!" Seru Reilla membuat Mamah Arya tersenyum senang dan penuh kemenangan.


Berbanding terbalik dengan Arya yang hanya bisa menghela nafasnya, jika sudah begini Arya bingung untuk menolak permintaan sang Mamah.


"Kalian dengerkan? Gk ada yang perlu di khawatirkan lagi, kalian itu emang cocok!" Seru Mamah Arya yang tampak bahagia sekali.


"Gimana Arya? Kamu setuju kan?" Tanya Mamah Arya pada putranya yang sedaritadi terdiam.


Dengan penuh kepasrahan Arya hanya bisa menganggukkan kepalanya saja, pasrah.


"Bagus, kalau begitu Mamah akan urus semuanya. Kalian berdua gk usah khawatir, Mamah pulang dulu ya Assalamu'alaikum."


Walaupun agak merasa kesal dengan sang Mamah, Arya tetap membalas salam karna menjawab salam itu wajib.


"Selamat Ayah dan Kak Syabil! Rei seneng deh akhirnya impian Rei punya keluarga yang lengkap bisa terwujud!" Seru Reilla yang tampak bahagia.


Melihat raut bahagia putrinya, membuat kekesalan di hati Arya sedikit berkurang.


Reilla pun pamit kembali ke kamar karna ia harus melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum tuntas.


Kini di ruang tamu hanya ada Arya dan Syabil yang masih saling diam.


"Kamu keberatan dengan rencana pernikahan ini?" Tanya Syabil memecah keheningan.


Arya menoleh pada Syabil, lalu menyungingkan senyuman yang malah terlihat seperti senyuman yang kurang ikhlas.


"Kalau pun saya tidak setuju, bagaimana saya bisa menolaknya? Mustahil," ucap Arya lalu setelah mengatakan itu ia bangkit dan pergi meninggalkan Syabil sendiri yang hanya bisa menatap nanar punggung Arya.

__ADS_1


Syabil tau pria itu pasti tak menyetujui pernikahan ini, di lain sisi Syabil merasa lega karna akhirnya mimpinya untuk bisa memiliki Arya seutuhnya bisa terwujud namun di lain sisi ia juga tidak tega melihat Arya yang seperti terpaksa menerima ini semua. Lantas Syabil harus bagaimana saat ini? Syabil pun jadi di landa kebimbangan.


__ADS_2