Without You

Without You
25. Dunia Arya (2)


__ADS_3

Arya menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya ini.


"Arya, kejutan!"  Ucap orang tersebut sambil tersenyum manis, senyuman khasnya yang membuat Arya selalu rindu.


"Siren."


"Iya ini aku, aku sangat merindukan mu." Ujar orang tersebut yang ternyata adalah Siren.


Siren segera belari, sementara Arya sudah berdiri bersiap menyambut Siren ke dalam pelukkannya.


"Aku merindukan mu." Lirih Siren dalam pelukkan Arya, Arya memeluk Siren erat sesekali ia menciumi puncak kepala Siren.


"Aku juga sangat merindukan mu." Jawab Arya, sementara itu Vidya hanya mampu menatap nanar ke arah Arya dan Siren yang sedang melepas rindu, tanpa perduli dengan ketakutan Vidya yang mulai kambuh.


Bram terus memperhatikan gerak-gerik Vidya pun tersenyum penuh arti.


"Wah-wah, lihat siapa yang datang hm?" Wanita itu tersenyum saat melihat Siren yang malu-malu.


"Halo Kak Tiran." Sapa Siren pada wanita itu yang ternyata bernama Tiran yang merupakan kakak sepupu dari Siren.


Tiran tersenyum namun senyumannya luntur berganti dengan tatapan tajam saat ia melihat wajah Arya yang juga sedang menatapnya.


Sadar akan ada hal yang tidak beres antara Tiran dan Arya, Siren pun mencoba memecah keheningan.


"Ada apa ini? Kenapa kalian diam?" Tanya Siren yang bingung karna tiba-tiba saja Rafi, Tiran, Arya, dan Bram mendadak diam.


"Gk ada apa-apa sayang." Ujar Arya yang mencium pipi Siren membuat Siren tersenyum mendapat perlakuan manis Arya.


"Kamu pasti lelah bukan?" Tanya Arya pada Siren sambil membelai lembut rambut Siren.


"Iya aku sangat lelah." Ucap Siren manja sambil bergelayutan manja di lengan Arya.


"Sebaiknya kamu langsung pesan kamar, setelah itu aku akan menyusulmu." Ujar Arya, mata Siren berbinar mendengarnya.


"Kamu serius? Oke kalau begitu, setelah ini kita akan bersenang-senang." Setelah itu Siren benar benar pergi dari ruangan itu.


"Arya, lo gk niat mempermainkan adik sepupu gue kan?" Tanya Tiran sambil menatap Arya tajam, Vidya masih berdiri mematung di tempatnya dengan wajah ketakutan dan terlihat pucat.


"Gue cinta sama dia kak, gue gk akan mempermainkan dia, gue sayang sama Siren."


Vidya yang mendengar itu hanya mampu diam sambil menahan rasa sakit di hatinya, ketika tau bahwa suami nya itu mencintai wanita lain.


"Cinta ? Terus kenapa lo nikahin perempuan itu? Dan gue yakin adik sepupu gue belum tau kalau lo udah nikah, tebakan gue bener kan?" Tanya Tiran lagi dengan tatapan mengintimidasi.


Arya menoleh ke arah Vidya, ia menatap wajah Vidya lalu menjawab pertanyaan Tiran.


"Gue nikahin dia tanpa ada rasa cinta sedikit pun, itu semua karna terpaksa. Gue nikahin dia karna kasihan, dia korban pemerkosaan yang gk tau diri yang sialnya malah gue tolong waktu itu. Seharusnya gue gk pernah nolongin dia, dan biarin dia mati di sana." Arya mengucap itu penuh penekanan sambil terus menatap wajah Vidya yang sudah meneteskan air mata.


Vidya terluka sangat terluka mendengar ucapan Arya barusan.


"Terus kalau lo cinta sama adik gue, terus lo anggap wanita ini apa bagi hidup lo?" Tanya Tiran lagi.


"Dia cuma benalu di kehidupan gue, dia cuma cewek kotor dan munafik bahkan lebih rendah dari ****** sekalipun." Ucap Arya yang masih menatap wajah Vidya seolah-olah ia sengaja ingin mengatakan itu pada Vidya.

__ADS_1


"Gue gk akan sia-siain Siren, hanya karna cewek munafik kaya dia kak, setelah dua bulan ini gue akan langsung cerai sama dia dan akan langsung melamar Siren." Jawab Arya mantap dengan penuh keyakinan berusaha meyakinkan Tirani.


Tirani menyungingkan senyumannya, ia sangat puas mendengar jawaban Arya.


"Bagus kalau begitu, lo harus ingat kalau sampai adik sepupu gue menderita...gue gk akan segan-segan membuat hidup lo menderita, ngerti lo?" Ucap Tiran penuh penekanan lalu setelah mendapat anggungkan dari Arya, ia pun melengang pergi keluar dari ruangan itu.


Arya pun bangkit dari duduknya berjalan ke arah pintu, Vidya yang melihat Arya hendak pergi pun kembali mengejar Arya.


"Arya!" Panggil Vidya dengan suara bergetar, Arya tidak menoleh ia hanya menghentikan langkahnya.


"Ja...jangan pergi." Pinta Vidya yang sudah menangis di belakang Arya sambil memegangi pakaian belakang Arya.


"Lepas." Arya berucap dingin.


"Nggak!" Jawab Vidya sambil terisak.


"Gue bilang lepasin!" Arya berbalik lalu menghadap ke arah Vidya yang berjengit kaget karna bentakkan Arya.


Arya memegang kedua bahu Vidya dan mencengkramnya dengan kuat, membuat Vidya meringis kesakitan.


"Malam ini lo jangan nyusahin gue! Cukup! Gue mohon sama lo jangan buat hidup gue lebih menderita lagi!" Arya menatap tajam seiring cengkraman tangannya di bahu Vidya semakin kencang.


"Arya udah lepasin, dia kesakitan!" Teriak Bram yang melihat Vidya sudah menahan sakit karna cengkraman Arya yang begitu kuat.


"Pergilah lo dari hidup gue!" Setelah mencengkram bahu Vidya dengan kencang, kini Arya mendorong Vidya dengan sangat kuat membuat Vidya tersungkur bahkan dahinya terkena pinggiran meja dan mengeluarkan darah.


Arya melihat itu tapi ia tidak perduli dan malah meninggalkan Vidya yang menangisi kepergian Arya.


Vidya memeluk lututnya lalu menengelamkan kepalanya di anatar kedua lututnya itu.


"Lepasin! Jangan sentuh saya!" Teriak Vidya suaranya kembali bergetar, ia sangat-sangat ketakutan.


"Bram udah, dia keliatan ketakutan banget tuh." Ujar Rafi yang sedaritadi diam memperhatikan kini angkat bicara.


"Denger ya Vidya, lo jangan nangis gini. Gue punya cara supaya lo bisa lupain rasa sakit lo." Vidya mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap wajah Bram yang sedang tersenyum padanya.


"Be...benarkah?" Tanya Vidya yang masih sesegukkan.


"Iya bener, ayo kita duduk dulu di sana." Vidya awalnya ragu, namun ia menuruti perintah Bram.


"Tunggu sebentar ya." Bram terlihat berjalan ke luar dari ruangan dan tak lama ia sudah kembali membawa sesuatu di tangannya.


"Aku gk minum-minuman berakohol." Ujar Vidya ketika Bram membawa dua botol di tangannya.


"Ini cuma cola biasa kok, gk ada kandungan alkoholnya. Gue liat lo kehausan gara-gara nangis terus, nih buat lo." Bram menyerahkan minuman itu yang telah di tuangkannya ke gelas, dan memberikannya pada Vidya.


Vidya diam sejenak, ia menatap Bram lalu kemudian ia menatap Rafi yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Vidya sambil menatap wajah Rafi.


"Eh? Gk ada apa-apa." Jawab Rafi, Vidya pun percaya saja.


"Ayo silahkan di minum." Ujar Bram, Vidya pun dengan sedikit ragu menggambil gelas tersebut, dan tanpa fikir panjang ia meminum minuman tersebut.

__ADS_1


Awalnya biasa saja namun lama-kelamaan Vidya merasa kepalanya terasa berat, tengorokannya terasa panas, matanya juga mulai terasa berat, ia mulai sangat mengantuk dan rasa kantuknya kali ini berbeda dengan rasa kantuk akibat obat penenang.


"Vidya kamu gk apa-apa?" Tanya Bram namun Vidya hanya berdiam diri sambil memeganggi kepalanya.


"A...aku-"


Brukk


Vidya tak sadarkan diri setelah itu.


"Lo ? Lo mau ngapain dia? Lo masukkin alkohol ke minumannya?" Tanya Rafi tidak percaya dengan perbuatan Bram.


"Sssttttt, diem deh. Gua mau bersenang-senang sama dia malam ini." Ujar Bram menyeringai puas menatap wajah Vidya.


"Lo? Lo gila ya? Dia kan istri nya Arya." Bram menolehkan kepalanya menatap Rafi dengan seringainya.


"Istri Arya? Cewek yang bahkan gk di anggap kedirannya sama Arya, apa bisa di sebut sebagai istrinya? Toh kalau pun gue bersenang senang sama Vidya malam ini, Arya pasti gk merasa keberankan? Dia cinta banget sama Siren, jadi Vidya gk ada artinya bagi Arya." Rafi hanya terdiam mendengar kata-kata Bram.


Rafi pun tak menghentikan Bram yang mulai menggendong Vidya lalu keluar dari ruangan tersebut.


Bram membawa Vidya yang tak sadarkan diri masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil, Bram menatap Vidya yang masih memejamkan matanya.


"Kita bakalan bersenang-senang malam ini." Ujar Bram tersenyum penuh arti, lalu setelah itu Bram melajukan mobilnya meningglkan club malam itu.


Bram menghentikan mobilnya di sebuah hotel bintang lima, ia langsung membuka pintu belakangnya dan kembali mengendong Vidya.


"Lewat sini tuan." Ujar seorang pegawai yang sudah berdiri menyambut Bram, lalu mengarahkan Bram ke kamar yang telah Bram pesan sebelumnya.


"Terimakasih." Ujar Bram saat sudah tiba di kamar tersebut, petugas hotel itu pun menganggukkan kepalanya dengan sopan, lalu setelah itu ia pergi meninggalkan Bram yang langsung menutup pintu kamarnya.


Bram langsung meletakkan Vidya di atas ranjang, ia kembali tersenyum senang karna malam ini ia akan bersenang-senang.


"Sebaiknya gue mandi dulu deh." Ujar Bram ia pun melengang pergi ke dalam kamar mandinya, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum ia bersenang-senang sepanjang malam ini.


[]


Sementara itu di Club malam, Arya sedang bermesraan dengan Siren di dalam ruangan yang sudah di pesan untuk bisa berduaan dengan Siren.


"Kenapa kamu udah pulang? Bukannya acara kamu itu masih panjang?" Tanya Arya sambil memeluk Siren dari belakang, dan menyandarkan dagunya di pundak Siren.


Siren membalikkan badannya ke arah Arya, ia lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Arya, sementara Arya memeluk pinggang ramping milik Siren.


"Aku sangat merindukanmu, aku tidak tahan untuk tidak melihatmu, makannya aku memutuskan untuk segera kembali, tapi mereka hanya memberikanku waktu malam ini dan besok aku akan kembali lagi ke Australia." Arya membulatkan matanya mendengar penuturan Siren.


"Besok? Kamu udah mau balik lagi ke Australia besok?" Tanya Arya, Siren tersenyum sendu ia lalu memeluk Arya dengan erat, dan Arya pun membalas pelukkan Siren dengan erat.


"Malam ini aku hanya ingin bersama dengan mu saja, hanya itu." Ujar Siren yang sedang menikmati harum mint yang berasal dari tubuh Arya, wangi itu selalu membuat Siren candu.


"Aku akan bersamamu malam ini." Ujar Arya tanpa tau jika sebenarnya saat ini Vidya sedang dalam bahaya.


Tapi Arya sepertinya tidak ingat sedikit pun pada Vidya, ia malah menikmati kebersamaannya dengan Siren.

__ADS_1


Vidya memang ada tapi bagi Arya ada atau tidaknya Vidya itu sama saja, sama-sama tak berharga di matanya.


__ADS_2