
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Selama seminggu ini Arya beserta anak buahnya bekerja dengan keras mencari bukti-bukti untuk membebaskan Siren dari kasus yang menimpanya.
Sudah ada beberapa bukti yang anak buah Arya dapatkan, dan juga menemukan sebuah fakta yang selama ini tidak pernah Arya sendiri bayangkan.
Salah satu bawahan Arya yang berhasil mengorek informasi perihal kasus ini mendapatkan sebuah fakta, fakta dimana bahwa memang benar Siren pernah ingin berusaha untuk membunuh Vidya.
Hal itu ia temukan di sebuah akun sosial media milik Siren yang berhasil di lacak oleh anak buah Arya, di dalamnya berisikan chattan Siren dengan seseorang yang Siren berikan nama di kontaknya dengan inisial 'A'.
Percakapan Siren dan 'A' sebut saja begitu, berisikan keluhan Siren yang sangat tak menyukai Vidya, bahkan beberapa kali Siren bilang ia ingin melenyapkan Vidya dan bayinya.
Dari situ Arya tau jika sebenarnya Siren sudah tau lebih dulu tentang kehamilan Vidya dari pada dirinya.
Lalu satu fakta lagi mulai terungkap, Arya menemukan fakta bahwa Vidya sedang mengandung anaknya.
Hal itu Arya tau sendiri dari dokter Abram yang mengatakannya langsung pada Arya perihal kehamilan Vidya, dan alasan mengapa dia menyembunyikan kabar tersebut dari Arya yang tak lain adalah karna permintaan Vidya.
Kembali lagi pada isi pesan siren dengan seseorang berinisial 'A' ini, di pesan tersebut tertera bahwa Siren mengatakan lagi bahwa ia tidak jadi melenyapkan Vidya karna sekarang Arya sudah akan menjadi milik Siren seutuhnya.
Lalu setelah itu tidak ada lagi pesan yang Siren kirimkan, dan di sana tertera tanggal 14. Itu adalah tanggal dimana dua hari sebelum hari pernikahan Arya dan Siren laksanakan, pesan itu pun hanya berhenti sampai situ.
Dan hingga kini Arya maupun anak buah nya masih terus mencari iformasi-informasi lainnya perihal kasus ini.
Jika kalian bertanya bagaimana reaksi Arya saat ia tau bahwa Vidya sedang mengandung anaknya, reaksi Arya saat itu tidak percaya.
__ADS_1
Namun di sisi lain dia juga senang mendengar kabar tersebut, tapi jujur saja Arya kecewa pada Vidya yang menyembunyikan hal sebesar itu dari dirinya.
Karna bagi Arya, Vidya terlalu egois. Mau bagaimanapun keadaannya, anak yang ada di dalam kandungan Vidya juga merupakan anak nya dan juga darah daging Arya.
Arya menghembuskan nafasnya dengan kencang, seolah baru saja melepas beban yang membayangi nya.
Arya memejamkan mata, tak percaya jika sebentar lagi dirinya akan segera menjadi seorang Ayah bagi dua orang anak sekaligus.
Lalu Arya kembali teringat akan kasus penculikan Vidya lagi yang belum terselesaikan, Arya juga belum dapat banyak bukti untuk membuktikan bahwa Siren tidak bersalah dalam kasus ini.
Walaupun Siren berusaha ingin melenyapkan Vidya, tapi itu dulu kan? Saat Vidya masih menjadi istrinya.
Arya juga memaklumi mungkin Siren mau melakukan hal itu atas dasar cemburu, cemburu karna jika ada Vidya dia jadi tidak terlalu di perhatikan oleh Arya.
"Kasus ini harus segela terungkap." Ucap Arya menatap lurus ke arah tembok, lalu senyuman miring kembali terukir di bibirnya ketika ia menemukan sebuah ide yang mungkin akan membuat dirinya bisa segera memecahkan siapa dalang di balik kasus penculikkan ini.
[]
Di lain sisi ada Vidya yang saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya.
Astrid yang melihat putrinya begitu murung pun selalu mencoba menghiburnya, salah satunya yaitu mengajak Vidya mengunjungi rumah Umi.
Saat ini Vidya dan Astrid sudah berada di rumah Umi.
Umi yang sebelumnya kaget melihat ke datangan Astrid dan Vidya pun, kini tak bisa lagi membendung rasa bahagiannya.
"Vidya mau makan apa? Hmm? Makan pasta kesukaan kamu? Tunggu ya Umi akan buatkan untuk Vidya." Ucap Umi, dan hanya di balas anggukkan kepala oleh Vidya.
"Gimana sayang? Udah enakkan badannya?" Tanya Astrid yang saat ini jari jemarinya begitu terampil memijat kaki Vidya.
Vidya melarang Astrid yang ingin memijati kakinya, namun Astrid mendesaknya jadi apa boleh buat Vidya tidak bisa membantahnya.
Vidya memejamkan matanya, rasa pegal di kakinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
Entah mengapa semenjak hamil, Vidya selalu merasa badannya pegal-pegal, entah itu kadang pinggangnya, ataupun kedua kakinya.
Vidya tersenyum, ia merasa terharu dan sangat bersyukur di berikan oleh Allah dua orang perempuan, yang begitu menyayangi Vidya.
__ADS_1
Umi dan Bunda nya, selalu merawat Vidya dengan sangat baik. Mereka bilang bahwa Vidya tidak boleh terlalu kecapean dan tidak boleh banyak fikiran nanti akan berdampak pada bayi di dalam kandungannya.
Vidya hanya menurut saja, kadang memang ucapan orang tua itu seringkali ada benarnya.
Walaupun kadang Vidya juga suka merasa kesal dengan Umi dan Bunda nya yang selalu saja cerewet menasihatinya.
Namun Vidya tau meskipun Umi dan Bunda cerewet dalam hal menasihatinya, tapi sekarang itu adalah bentuk kasih sayang mereka juga untuk anak-anaknya.
Vidya meraba perutnya, yang tak terasa semakin membesar.
Anak di dalam kandungannya juga alhamdulillah dalam keadaan sehat dan sangat aktif, karna kadang suka terus menendang-nendang membuat Vidya kadang terkekeh ketika merasakan tendangan anaknya.
"Bunda." Panggil Vidya, lalu Astrid pun menoleh ke arah putrinya itu.
"Apa sudah ada perkembangan dari kasus itu?" Tanya Vidya yang sebenarnya juga masih penasaran dengan siapa dalang di balik kasus penculikannya.
"Belum ada perkembangan lagi, kita tunggu saja. Kamu gk usah khawatir ya." Ucap Astrid sambil tersenyum dan kembali fokus memijiti kaki Vidya.
"Apa Arya akan berhasil membuktikan kalau Siren gk bersalah?" Tanya Vidya lagi, Astrid pun menghela nafasnya ia lalu menatap Vidya dengan sorot mata yang menenangkan.
"Kamu gk perlu khawatir nak, mah sekeras apapun untuk menutupi kejahatan. Cepat atau lambat pasti akan terbongkar juga, entah dalang di balik kasus ini Siren atau bukan tapi Bunda yakin kok kebenaran akan menang melawan kejahatan." Ujar Astrid panjang lebar, dan Vidya pun sudah mulai mengerti sekarang.
Vidya hanya bisa berdoa pada Allah, entah bagaimana kasus ini akan selesai, dan siapa dalang dari penculikkannya semoga saja bisa segera terungkap.
Karna selama dalang penculikkan itu belum terungkap Vidya masih merasa, dia dan anaknya masih berada di dalam bahaya yang akan terus mengintainya.
Vidya menghela nafasnya, mengelus perutnya namun seketika terhenti saat ia teringat sesuatu.
Vidya kembali ingat kejadian malam itu, kejadian saat Arya terjebak di hutan bersamanya.
Tanpa sadar Vidya menyungingkan senyuman samar, ia merasa sangat terharu.
Lagi dan lagi, pria itu telah menyelamatkan hidupnya.
Sejak dulu Arya memang sepertinya selalu di takdirkan untuk menyelamatkan hidup Vidya, namun juga mungkin di takdirkan untuk selalu membuat dirinya juga patah hati.
Vidya sebenarnya selalu berusaha keras untuk melupakan Arya, namun hingga detik ini ternyata dia masih mencintai pria itu.
__ADS_1