Without You

Without You
73. Rujuk?


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Happy Reading!


-


-


-


-


-


Saat ini Vidya sedang memikirkan ucapan Siren yang terus-menerus terngiang didalam fikirannya.


Vidya menghela nafasnya gusar, tangannya bergerak mengelus perutnya yang sudah semakin membesar.


Sebelumnya Vidya tidak pernah berfikir tentang nasib anaknya yang pasti akan sangat membutuhkan sosok seorang Ayah nantinya.


Vidya mulai berfikir apakah dirinya harus menerima tawaran Arya untuk rujuk lagi dengan pria itu atau tidak.


Tapi setelah memikirkan semuanya, Vidya mulai mempertimbangkan ajakkan tersebut.


Vidya juga sudah bertanya pada Siren, apakah perempuan itu akan keberatan jika dirinya nanti harus menikahi Arya tapi jawaban Siren diluar dugaan Vidya.


Gadis itu tidak keberatan sama sekali, bahkan dia juga sedang mengurus perceraiannya dengan Arya dan akan selesai dalam waktu secepatnya.


Vidya sendiri sudah berusaha mencari kebohongan dari manik mata Siren namun yang Vidya temukan hanyalah ketulusan di dalamnya.


Siren terus membujuk Vidya agar Vidya mau kembali rujuk dengan Arya.


Vidya masih mempertimbangkan semuanya sebelum ia harus membuat keputusannya.


Arya memberi Vidya waktu selama seminggu, dan besok adalah waktu untuk bagi Vidya yang harus memberikan jawabannya pada Arya.


"Kok pagi-pagi gini udah bengong aja sih? Hmm? Kenapa lagi kamu tuh?" Tanya Astrid yang datang menghampiri Vidya di ruang tamu.


Vidya menghela nafasnya lalu mengelengkan kepalanya.


"Gk mau cerita sesuatu nih sama Bunda? Bunda tebak pasti ini berkaitan dengan Arya? Iya kan?" Tanya Astrid yang sangat tepat sasaran.


Vidya menghela nafasnya ia hanya bisa memberikan tersenyum hambar sebagai jawaban dari pertanyaan Astrid.


Astrid menyungingkan senyumannya lalu mengelus kepala Vidya dengan sayang.

__ADS_1


"Kamu masih mikirin tawaran Arya yang ngajakin kamu rujuk lagi itu?"


"Iya Bunda."


Astrid menganggukkan kepalanya ia sudah paham apa yang saat ini sedang menganggu fikiran putrinya itu.


"Kamu masih cinta sama Arya?" Tanya Astrid, Vidya yang mendengarnya agak tersentak namun tidak lama karna kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Ikuti kata hati kamu nak, Bunda cuma bisa mendukung apa yang terbaik untuk kamu."


Vidya menganggukkan kepalanya, saat ini ia memang sedang mencari jawaban apa yang akan ia berikan pada Arya nantinya.


Kegelisahan dan kebimbangan masih terus meliputi hati Vidya yang terasa tak menentu.


[]


Hari berganti dengan begitu cepat, saat ini adalah hari dimana Vidya akan menjawab pertanyaan dari Arya.


Saat ini Vidya dengan di temani oleh Astrid kini sudah berada bersama dengan Arya dan Siren di rumah Arya.


"Jadi bagaimana? Apa jawaban kamu?" Tanya Arya yang nampak sangat takut mendengar jawaban apa yang akan Vidya berikan namun pria itu berusaha untuk tetap terlihat tenang.


Vidya terdiam lalu ia menolehkan kepalanya ke arah Siren meminta persetujuan wanita itu terlebih dahulu.


Siren pun menganggukkan kepalanya meminta Vidya untuk segera menjawab pertangaan dari Arya.


"Bismillah dulu," bisik Astrid di telinga Vidya dan Vidya pun menganggukkan kepalanya.


"Jadi perihal pertanyaan kamu waktu itu, mohon maaf sekali saya belum bisa memutuskannya. Saya rasa saat ini saya hanya ingin fokus dulu terhadap bayi yang ada di dalam kandungan saya ini, mohon maaf tapi saya akan memberitahukan lagi keputusan saya setelah bayi ini lahir," ucap Vidya panjang lebar.


Arya menghela nafasnya agak kecewa tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Arya hanya bisa pasrah saja, ia tidak tau harus bagaimana lagi supaya Vidya mau kembali padanya.


Mungkin memang ini jalan yang harus Arya tempuh, ia harus rela menunggu lagi untuk bisa kembli bersama dengan Vidya dan menebus semua kesalahannya pada gadis itu.


Siren menatap Arya yang sedang menundukkan kepalanya, Siren tau bahwa saat ini Arya sedang bersedih mendengar jawaban Vidya barusa tapi Siren tidak bisa melakukan apa-apa karna semua keputusan ini berasa di tangan Vidya.


"Baiklah kalau itu yang lo mau gk apa-apa, gue akan sabar menunggu jawaban lo." Ucap Arya lagi yang kini sedang berusaha untuk tersenyum menyembunyikan luka yang di derita.


Vidya tau bahwa di balik senyuman Arya terdapat sebuah luka dan kekecewaan yang berusaha pria itu tutupi.


Rasanya Vidya tidak tega melihatnya tapi mau bagaimana lagi? Vidya harus memutuskan hal itu dan itu juga dengan alasan yang jelas karna saat ini dia hanya ingin fokus pada kehamilannya.


Terlebih ini adalah minggu terakhir di bulan ini dan kemungkinan minggu depan sudah masuk ke dalam bulan yang baru, itu artinya bayinya akan segera lahir.

__ADS_1


Vidya tidak ingin terlalu stres dan takut bisa berdampak buruk pada kehamilannya alhasil Vidya pun memutuskan untuk mempertimbangkan ajakkan Arya nanti saja saat bayinya sudah lahir.


"Maaf kalau keputusan saya membuat kamu kecewa."


Arya berusah tersenyum dan mengelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Vidya.


"Nggak kok, lo gk salah. Gue yang harusnya ngerti dan gk maksa lo buat segera jawab pertanyaan dari gue, maafin gue ya selama ini gue udah jadi pria yang brengsek buat lo," ucap Arya lagi dengan raut penuh penyesalan.


Vidya tidak menjawab apa-apa dia hanya diam memperhatikan gerak-gerik Arya.


Astrid yang tidak tega melihat wajah Vidya hang ikut larut dalam suasana pun langsung mengajak Vidya tuk pamit pulang dari rumah Arya.


Vidya pun hanya menurut dan berjalan persis di samping Astrid.


"Udah jangan sedih gitu, itu kan keputusan kamu dan Bunda dukung apapun keputusan yang sudah kamu berikan," ucap Astrid seraya merangkul bahu Vidya.


Vidya kembali mengembangkan senyumnya.


Benar apa kata Bundanya itu, kini yang harus dia fikirkan adalah anak yang ada di dalam perutnya yang sekitar bulan depan akan lahir, terhitung tinggal 2 minggu lagi untuk menuju ke bulan depan.


"Ayo kita cek kandungan kamu dulu," ajak Astrid sambil mengandeng tangan Vidya.


"Tunggu!"


Vidya dan juga Astrid pun menghentikan langkah mereka ketika sebuah suara menghentikan langkah mereka.


Di belakang mereka ada Arya yang sedang berlari menghampiri.


"Biar saya aja yang antar Vidya ke rumah sakit."


Astrid menolehkan kepalanya meminta persetujuan Vidya, sedangkan Vidya hanya diam menatap Arya yang juga sedang menatapnya.


"Baiklah," ucap Vidya lalu menyungingkan senyuman tipisnya.


Arya yang mendengar hal itu tentu saja merasa senang ia pun langsung mengembangkan senyumannya membuat matanya semakin menyipit.


"Hati-hati ya sayang, kalau ada apa-apa cepat hubungin Bunda dan kamu ...." Astrid menjeda ucapannya sebentar sambil melihat pada Arya.


"Kamu harus jaga putri saya dengan sangat baik." Lanjut Astrid.


"Tentu, saya pasti akan menjaga Vidya dengan sangat baik," ucap Arya dengan begitu yakin.


Akhirnya dengan berat hati Astrid pun mengizinkan Arya mengantar Vidya ke rumah sakit.


Astrid menatap keduanya yang saat ini sedang berjalan ke arah mobil, tanpa sadar Astrid menyungingkan senyumannya.

__ADS_1


Dalam hati ia sangat berharap bisa kembali melihat senyuman di wajah Vidya, ia sangat ingin putrinya itu merasakan kebahagiaan walaupun mungkin kebahagiaannya bersama dengan Arya sekalipun.


__ADS_2