
1 minggu kemudian ....
Hari ini adalah hari pernikahan Syabil dan Arya, semua para tamu undangan sudah memenuhi gedung yang memang di sewa untuk melangsungkan acara pernikahan hari ini.
Syabil saat ini sudah terlihat nampak cantik dengan gaun pernikahan yang meletak di tubuh langsingnya, gadis itu sedang berdiri di depan cermin menatap tampilan dirinya yang sudah di rias sedemikian rupa sejak tadi pagi.
Syabil menyungingkan senyumannya, hari ini adalah hari yang membahagiakan untk dirinya. Hari ini dia dan Arya akan menikah, dan itu artinya ia akan resmi menjadi istri dari Arya, pria yang ia idam-idamkan sejak dulu.
Namun Syabil tiba-tiba merasa haus, ia pun berjalan ke arah nakas yang ada di kamarnya menggambil segelas air untuk menuntaskan rasa dahaganya.
Syabil menghela nafasnya saat ia melihat gelas tersebut kosong, akhirnya Syabil memutuskan untuk keluar dari kamar, menggambil air minum untuk dirinya sendiri karna kebetulan tidak ada siapapun di kamarnya yang bisa ia mintai tolong.
"Kamu serius Bram? Vidya akan pergi hari ini?"
Syabil menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara Arya dan pria itu juga baru saja menyebutkan nama Vidya, tentu saja Syabil tau siapa itu Vidya. Vidya adalah Ummah kandungnya Reilla yang sudah meninggal dunia.
Namun Syabil merasa ada yang janggal, gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Ia memilih untuk bersembunyi dan mendengarkan percakapan antara Arya dan anak buahnya yang Syabil ketahui bernama Bram.
"Kemana dia akan pergi Bram?! Cepat katakan?!" Desak Arya pada Bram yang berdiri berhadapan dengannya.
"Dia akan pergi menyusul Kakaknya yang saat ini tinggal di Mesir, saat ini Vidya akan menetap di sana," ucap Bram memberitahu Arya.
Syabil kaget mendengarnya, ia berusaha menghubungkan apa yang sebenarnya saat ini sedang terjadi. Vidya? Pergi ke Mesir bertemu Kakaknya? Apakah mungkin?
"Bukankah Vidya sudah meninggal dunia?" Tanya Syabil pelan pada dirinya sendiri, namun karna tak mau menduga-duga dulu akhirnya Syabil pun memutuskan untuk kembali fokus mendengarkan percakapan antara Arya dan Bram.
"Tinggal di Mesir? Vidya akan tinggal di sana? Kapan dia akan berangkat ke Mesir Bram?" Tanya Arya yang wajahnya terlihat begitu panik.
"Bram jawab!" Desak Arya saat Bram hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
"Dia akan berangkat ke Mesir hari ini," ucap Bram membuat Arya membulatkan matanya.
Ia melepas cengkraman tangannya pada kedua bahu Bram, Arya terlihat syok mendengar kabar tersebut. Syabil bisa melihat dengan jelas bagaimana raut perubahan dari wajah Arya. Pria itu terlihat begitu sedih mendengar kabar keberangkatan Vidya ke Mesir.
Dari sana Syabil mulai yakin bahwa wanita yang di bicarakan oleh Bram dan Arya adalah wanita yang sama dengan yang ia fikirkam selama ini, Vidya yang di maksud di sini adalah Vidya, mendiang istri Arya yang entah bagaimana ceritanya bisa hidup kembali.
Syabil memundurkan langkahnya, hatinya tersa nyeri saat membayangkan kembalinya Vidya. Syabil mengelengkan kepalanya saat bayangan Arya pergi meninggalkan dirinya suatu hari nanti dan kembali pada Vidya, perempuan yang sampai detik ini masih bertahta di dalam hati Arya.
"Tidak mungkin ..." ujar Syabil lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Loh? Syabil? Sedang apa di sini?"
Sebuah suara seseorang mengejutkan Syabil, gadis itu pun segera menghapus air matanya lalu kembali memasang senyumannya.
"Iya Mah, tadi Syabil merasa haus dan mau ambil air minum ke dapur," ucap Syabil sambil menunjukkan gelas yang ia bawa.
Mamah Arya pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia mengusap lembut punggung Syabil yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.
"Ayo segera bersiap-siap ya, sebentar lagi akad nikahnya akan segera di mulai."
Syabil menganggukkan kepalanya, lalu Mamah Arya pun mengangtarkan Syabil ke kamar wanita itu.
"Mamah masih ada urusan dulu, kamu kalau perlu apapun itu bilang saja ya, Mamah tinggal dulu ya sayang," ucap Mamah Arya yang mengusap lembut kepala Syabil dan setelah itu ia pamit pergi.
Syabil menghela nafasnya, fikirannya kembali terfokus pada topik pembicaraan antara Arya dan Bram tadi yang sempat ia dengarkan.
Hari ini Vidya akan berangkat ke Mesir dan berencana akan tinggal di sana, berarti tidak menutup kemungkinan bahwa Arya juga akan menyusul Vidya ke Mesir suatu saat nanti.
Syabil mengelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha menghalau hal-hal buruk yang saat ini sedang ia fikirkan.
__ADS_1
"Tidak ... ini tidak benar ... apa yang aku lakukan ini tidak benar," ucap Syabil sambil meneteskan air matanya.
Syabil pun bangkit dari duduknya, kembali keluar dari kamar. Tujuannya hanya satu saat ini yaitu mencari keberadaan Arya, ia akan menemui Arya dan memberitahukan sesuatu padanya.
[]
Di lain tempat, lebih tepatnya di bandara. Saat ini Vidya sedang menyeret kopernya, gadis itu sedang menunggu jadwal penerbangannya yang katanya harus di tunda selama tiga puluh menit ke depan karna ada suatu kendala entah apa yang Vidya juga kurang mengerti.
Gadis itu saat ini sedang duduk di bangku, di tangannya ada gawai yang ia genggam. Mata Vidya fokus menatap foto yang ada di gawainya itu, yang baru saja ia jadikan walpaper handphonenya.
Foto itu adalah foto Reilla saat ia masih berumur 5 tahun dan terlihat begitu mengemaskan dengan pose kerennya yang kata Bram sih ingin meniru gaya Arya saat itu.
Vidya memang mendapatkan foto itu dari Bram, pria itu berhasil mendapatkannya untuk Vidya. Bram memang sudah sangat baik pada Vidya selama ini, pria itu memang sahabat yang baik untuknya.
"Vidya, ini aku bawakan coklat panas pesananmu."
Sebuah suara mengalihkan tatapan Vidya dari layar ponselnya, ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada pria yang saat ini sudah menggambil tempat duduk tidak jauh dari sampingnya.
"Umi sama Abi di mana Barga?" Tanya Vidya sambil memegang coklat panas yang baru saja Barga berikan padanya.
Jangan heran kenapa bisa ada Barga saat ini, pria itu memang akan ikut dengan Vidya ke Mesir. Barga ada urusan di sana, jadi saat ia tau bahwa Vidya akan pergi ke Mesir hari ini. Ia pun menawarkan diri untuk menemani Vidya ke Mesir.
"Umi dan Abi kamu tadi lagi sarapan sebentar, kamu sudah sarapan?" Tanya Barga lagi setelah ia menyesap kopinya.
"Sudah kok," jawab Vidya lalu ikut menyesap coklat hangatnya.
Rasanya coklat panasnya sangat manis, tidak sepahit kehidupan yang Vidya jalani kini.
"Kamu yakin akan menetap di Mesir?" Tanya Barga memecah keheningan antara Vidya dan dirinya.
"Tentu, aku sudah yakin dengan keputusanku. Lagi pula kan kamu yang bilang padaku kalau aku ini harus move on, iya kan?"
"Iya sih hehe, kalau gitu semangat move onnya Vidya!" Seru Barga menyemangati Vidya, ia mengepalkan tangannya ke udara dengan senyuman yang tak pernah luput dari wajahnya.
Vidya pun menyungingkan senyumannya melihat tingkah ajaib Barga, padahal dulu Vidya kira Barga adalah orang yang terlalu kaku dan serius namun setelah mengenal pria itu lebih jauh lagi. Vidya jadi tau bahwa Barga adalah orang yang cukup humoris, dan juga menyenangkan untuk di ajak berbicara maupun berdiskusi.
Vidya melirik gadis-gadis yang melewati dirinya, mereka tampak berbisik sambil menoleh pada Barga lalu setelahnya mereka memekik senang saat Barga menoleh ke arah mereka.
Vidya tertawa geli melihatnya, Barga yang melihat Vidya tertawa pun menoleh dan menaikkan satu alisnya.
"Ada apa?" Tanya Barga bingung.
"Lihat gadis-gadis muda tadi? Mereka sepertinya terpesona oleh dirimu," ucap Vidya sambil tersenyum.
"Oh ya? Lalu kapan kamu akan terpesona pada diriku?"
Pertanyaan Barga barusan sukses membuat senyuman Vidya luntur seketika.
"Maaf Barga tapi aku-"
"Tidak apa-apa, kenapa muka kamu jadi pucat gitu Vidya? Aku kan cuma bercanda haha," ucap Barga di sertai kekehannya membuat Vidya mendengus sebal.
"Menyebalkan," ucap Vidya lalu kembali memilih menyesap coklat hangatnya dan tak perduli dengan Barga yang masih saja sibuk tertawa.
Lalu suara pemberitahuan pun terdengar, yang memberitahukan bahwa penerbangan ke Mesir akan segera berangkat dan di mohon kepada para penumpang pada penerbangan ke Mesir untuk segera bersiap-siap.
"Umi dan Abi di mana? Kenapa belum kembali?" Tanya Vidya yang merasa khawatir tidak melihat keberadaan Umi dan Abinya.
"Tunggu sebentar ya, aku yang akan menyusuli Umi dan Abi mu dulu. Aku titip koperku ya," ucap Barga lagi yang sudah berlari meninggalkan Vidya sendiri.
__ADS_1
"Vidya!"
Vidya terdiam, saat pendengarannya menangkap sebuah suara yang baru saja memanggil dirinya. Vidya pun mengedarkan pandangannya ke sekitar, namun ia melihat orang-orang tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan Vidya juga tidak melihat ada wajah yang ia kenali di antara orang-orang sekitar nya yang sedang berlalu-lalang, dan Vidya pun kembali acuh.
"Vidya!"
Suara itu terdengar lagi, Vidya pun kembali mengedarkan pandangannya, namun ia tidak menemukan apapun lagi.
"Vidya! Vidya!"
Vidya berdecak, ia kembali mengidarkan pandangannya sekali lagi. Lalu Vidya melihat ada sebuah tangan yang melambai-lambai ke arahnya. Hanya tangannya saja yang bisa Vidya lihat sedangkan tubuh orang itu tidak bisa Vidya lihat jelas karna ramainya orang-orang yang berlalu-lalang di bandara ini.
"Vidya tunggu!"
Suara itu ... sepertinya Vidya mengenali suara itu, akhirnya Vidya pun memutuskan menoleh lagi. Ia berdiri dan terus menatap lambaian tangan orang itu, dan perlahan Vidya bisa melihat siapa sosok yang sedaritadi terus meneriaki namanya.
"Vidya!"
Vidya hanya diam di tempat, tatapannya lurus menatap ke arah orang yang saat ini sedang berlari menuju ke arahnya.
"Vidya ... akhirnya kamu belum pergi," ucap orang itu yang saat ini sudah ada di hadapan Vidya dan sedang berusaha mengatur nafasnya yang tampak tersendat-sendat akibat berlari.
"Kenapa kamu ada di sini Arya? Bukankah harusnya hari ini kamu menikah dengan Syabil? Arya pergi dari sini! Kamu tidak bisa meninggalkan Syabil dan pernikahan kalian begitu saja," ucap Vidya pada orang di hadapannya yang tak lain adalah Arya.
Iya, pria itu datang dengan setelan jas yang sangat rapih ke bandara dan menimbulkan tanda tanya besar di dalam fikiran Vidya. Namun Vidya yakin, pria itu pasti lari dari pernikahannya yang di berlangsungkan hari ini.
"Vidya dengerkan aku dulu, Vidya aku-"
"Nggak! Kamu gk boleh lari dari tanggung jawab Arya, kamu gk boleh sakitin Syabil lagi. Dia pasti akan terluka Arya dan dia juga akan-"
Ucapan Vidya terhenti saat Arya menyodorkan layar ponselnya ke arah Vidya.
"Hai Vidya, aku Syabil."
Vidya menatap layar ponsel Arya yang sudah menampilkan wajah seorang gadis yang terlihat sangat cantik dengan senyuman di wajahnya, gadis itu baru saja Vidya ketahui adalah Syabil, perempuan yang hari ini akan menikah dengan Arya.
"Jangan marah pada Arya ya, dia gk bersalah kok. Justru aku yang memintanya untuk pergi dan datang menemui dirimu di bandara, aku yang memintanya, jadi jangan salahkan Arya ya."
Vidya mengerenyitkan dahinya bingung, ia menatap Arya meminta penjelasan namun Arya hanya diam dan kembali melirik untuk menyuruh Vidya kembali fokus menatap layar ponselnya.
"Kamu yang meminta Arya datang ke bandara?" Tanya Vidya lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Syabil.
"Aku tau kalian berdua saling mencintai sejak lama, dan kalian akhirnya di pertemukan lagi setelah sekian lama. Lalu aku sadar karna keegoisanku hari ini, itu bisa merusak hubungan dan cinta yang terjalin di antara kalian berdua. Maka dari itu aku putuskan untuk menyuruh Arya mengejar dirimu dan jangan perdulikan diriku, aku tidak mau menikah dengan pria yang masih mencintai orang lain. Aku memang mencintai Arya tapi aku tidak pernah mau membuatnya terpaksa menerima diriku di dalam kehidupannya," ucap Syabil yang menjeda ucapannya sebentar dan kemudian kembali melanjutkan ucapannya.
"Vidya dengarkan aku, selama ini yang ada di dalam hati Arya hanya dirimu. Dia mencintai mu dengan sangat dan merindukanmu dengan teramat, akhirnya aku juga tersadar bahwa cinta kalian adalah wujud dari sebuah cinta sejati yang sebenarnya. Aku melepaskan Arya mulai har ini, doakan aku ya semoga aku bisa menemukan kisah cinta yang sama dengan kalian, kisah cinta sejati," ucap Syabil di iringi dengan senyumannya.
Vidya yang mendengarkan ucapan Syabil sedaritadi bahkan sudah sampai meneteskan air matanya, ia begitu terharu mendengarkan perkataan Syabil. Lalu panggilan video dengan Syabil pun berakhir.
"Arya jadi kamu ...."
Arya tersenyum melihat raut keterkejutan di wajah Vidya, gadis itu tampak begitu terkejut.
"Iya, aku tidak jadi menikah dengan Syabil hari ini," ucap Arya sambil menyungingkan senyumannya.
Senyuman perlahan terlukis di wajah Vidya, Arya pun merentangkan kedua tangannya dan tanpa di komando lagi Vidya segera berhambur ke dalam pelukkan Arya.
Arya memeluk Vidya dengan erat, begitupun juga Vidya yang sudah memeluk Arya dengan begitu erat. Ia begitu bahagia mendengar kabar bahwa Arya tidak jadi menikah dengan Syabil hari ini.
"Jangan pergi lagi Vidya," ucap Arya lirih dan Vidya yang ada di dekapannya saat ini pun hanya meganggukkan kepalanya sambil terus memeluk Arya erat.
__ADS_1
Arya ikut tersenyum melihat Vidya yang tampak bahagia di dalam dekapannya, akhirnya ia bisa kembali melihat senyuman Vidya yang begitu lebar dan bahagia. Arya berharap semoga senyuman itu akan tetap bertahan dan bukan hanya sekejap saja.