
3 tahun kemudian ....
Suasana pagi ini terlihat begitu cerah, cahaya pagi ini masuk ke sela-sela jendela kamar dan membuat tidur seorang perempuan menjadi terganggu.
Perempuan itu yang tak lain adalah Vidya pun mengeliatkan badannya, ia merentangkan kedua tangannya melihat cahaya matahari di luar yang terlihat sudah bersinar terang.
"Selamat Pagi sayang."
Vidya tersenyum tatkala mendengar bisikan bernada lembut mulai memasuki indra pendengarannya, bersamaan dengan sebuah tangan yang kini melingkar di perutnya.
"Arya lepasin, aku harus bangun dan memasak sarapan," ucap Vidya yang berusaha melepaskan pelukkan Arya.
Namun bukannya melepaskan pelukannya, Arya malah mengeratkan pelukkannya pada tubuh Vidya. Ia membenamkan wajahnya di balik punggung Vidya.
Vidya menghela nafasnya pelan, Arya selalu saja begini. Pria itu selalu saja bersikap begitu manja padanya.
"Arya lepasin ya," pinta Vidya lagi namun Arya mengelengkan kepalanya dan tetap bertahan pada posisinya.
"Arya ish! Aku harus bangun dan masak untuk sarapan kita," gerutu Vidya pada Arya yang masih enggan melepaskannya.
"Kamu lupa Vidya?" Tanya Arya membuat Vidya mengerutkan keningnya bingung.
"Lupa perihal apa?" Tanya Vidya yang sudah membalikkan badannya menghadap pada Arya.
"Hari ini hari apa?" Tanya Arya lagi membuat dahi Vidya berkerut, karna sedang berfikir.
Setelahnya gadis itu membulatkan mata dan memukul dahinya dengan dramatis membuat Arya tersenyum melihat tingkah Vidya.
"Aku lupa Arya! Kalau hari ini adalah hari minggu hehe," ujar Vidya dengan kekehannya karna sudah menyadari kekonyolannya.
Arya ikut tertawa, tangannya terulur mengusap lembut wajah Vidya. Menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pemandangan Arya untuk menatap wajah Vidya dengan jelas.
"Tapi tetap saja aku harus siapkan sarapan," ucap Vidya membuat Arya menatapnya lebih dalam.
__ADS_1
"Gk usah, hari ini aku mau ngajak kamu jalan-jalan. Jadi kita makan di luar saja."
"Seriusan kamu mau ngajak aku jalan-jalan ke luar? Ini kamu gk lagi ngerjain aku kaya kemarin malam kan?" Tanya Vidya penuh selidik, pasalnya Vidya takut Arya akan mengerjainya seperti kemarin malam. Pria itu berhasil mengerjai Vidya, hanya karna Vidya tidak sengaja memecahkan gelas kesayangannya Arya sampai marah pada Vidya tak mau berbicara ataupun tegur sapa dengannya. Tentu saja hal itu membuat Vidya semakin merasa bersalah bahkan gadis itu juga sampai menangis saat meminta maaf pada Arya.
Namun nyatanya Arya tidak marah pada Vidya, setelah Vidya menangis dan memohon maaf pada Arya. Pria itu malah tertawa dan bilang bahwa dia hanya bercanda saja dan tidak benar-benar marah pada Vidya, melihat Arya tertawa puas tentu saja membuat Vidya merasa benar-benar merasa jengkel pada pria itu.
"Nggak kok sayang, kali ini aku gk lagi bercanda," ucap Arya menyadarkan Vidya dari lamunan tentang kejadian semalam.
"Sana siap-siap dulu," titah Arya namun di tanggapi dengan dengusan kesal oleh Vidya.
"Gimana aku mau siap-siap kalau kamu terus pelukkin aku kaya gini?" Tanya Vidya sambil memutar bola matanya.
Arya hanya menunjukkan cengirannya melihat tingkah Vidya yang merasa jengah dengan tingkah Arya, akhirnya Arya pun melepaskan pelukkannya pada Vidya.
Cup
"Kamu gemesin," bisik Arya tepat di telinga Vidya lalu setelah itu ia bangkit dan segera berlari pergi ke kamar mandi, meninggalkan Vidya yang masih terdiam di tempat.
"Ish! Bisa banget sih ngebikin baper anak orang," gerutu Vidya namun setelahnya gadis itu memasang senyuman lebar dengan wajahnya yang memerah.
Selama tiga tahun ini banyak hal yang sudah terjadi pada Vidya dan kehidupannya. Tiga tahun yang begitu berat, selama tiga tahun itu perjuangan Vidya dan Arya sangat-sangat di uji terutama dalam hal mendapatkan restu kembali dari kedua orang tua Vidya, di tambah lagi dengan Reilla yang marah besar pada Vidya karna gadis itu menganggap bahwa Vidya sudah membohongi dirinya selama ini. Perlahan semua pun bisa ia atasi kembali, restu dari kedua orang tuanya pun berhasil di dapatkan oleh Arya dan Vidya. Pada akhirnya keduanya pun memutuskan untuk melangsungkan pernikahan mereka, namun kebahagiaan mereka tidak lengkap dan lagi-lagi Vidya masih merasakan penderitaan.
Vidya merasa begitu sedih karna putrinya Reilla tidak merestui hubungan Vidya dan Arya, semua itu terjadi karna gadis itu masih merasa di bohongi dan sakit hati karna selama lima belas tahun ia hidup sendiri dan berjuang sendiri bahkan ia juga menderita karna terus-menerus menanggung rindu pada Ummahnya itu.
Walaupun kini Vidya berhasil bersatu kembali dengan Arya akan tetapi kebahagiannya belum terasa lengkap, hati Vidya masih menyimpan kesedihan karna putrinya justru malah sangat membenci dirinya. Padahal Vidya sudah lama sekali ingin bertemu dengan Reilla tapi takdir sepertinya kembali berkata lain lagi.
"Kenapa melamun? Hmm?" Tanya Arya yang sedang memeluk Vidya dari belakang.
"Aku hanya rindu pada Reilla," jawab Vidya sambil tersenyum sendu.
Arya menghela nafasnya, perlahan ia membalikkan tubuh Vidya agar menatap ke arahnya.
"Aku tau, aku juga sangat merindukannya," ucap Arya lagi sambil mengusap lembut pipi Vidya.
__ADS_1
"Sampai kapan ia akan terus membenciku seperti ini? Kapan dia akan memaafkan diriku?" Tanya Vidya yang sudah meneteskan air matanya.
"Jangan menangis Vidya, aku ada di sini bersama denganmu. Kita akan cari solusi dalam masalah ini, lambat laun Reilla pasti akan luluh. Bagaimana pun kamu itu Ibu nya dan Reilla adalah putri kandungmu, semarah apapun dia. Aku yakin suatu saat nanti dia pasti akan memaafkan dirimu," kata Arya yang berusaha menenangkan Vidya yang tampak murung dan bersedih.
"Terimakasih Arya, kamu selalu ada di sisiku. Kamu sudah menemaniku selama tiga tahun ini, terimakasih ya," ucap Vidya dengan begitu tulusnya.
Arya menyungingkan senyuman, ia kemudian membawa Vidya ke dalam dekapannya. Ia mengusap lembut kepala Vidya dengan sayang, dan membisikkan kata-kata yang menenangkan.
"Kok pelukkannya di lepas?" Tanya Vidya bingung saat Arya melepaskan pelukannya secara tiba-tiba.
"Gk mau meluk lagi, kamu belum mandi mau asem," ucap Arya bergurau di iringi dengan kerlingan jahilnya.
Vidya mendengus sebal menatap Arya yang tertawa begitu bahagia melihat kemurkaan Vidya saat ini.
"Nyebelin ish!" Ucap Vidya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, setelah itu ia berjalan dan pergi meninggalkan Arya yang masih tertawa, ia merasa puas karna berhasil membuat Vidya kesal. Sepertinya hobi baru Arya saat ini adalah membuat Vidya kesal padanya.
[]
"Enak gk makanannya? Kamu suka gk?"
Vidya menganggukkan kepala sambil tersenyum senang, lalu ia kembali melanjutkan kegiatannya menyantap sarapan pagi ini. Bagaimana mungkin Vidya tidak merasa senang saat ini, Arya mengajaknya ke tempat yang sangat indah dengan suasana yang menyejukkan dan pemandangan yang memukau mata.
"Iya suka banget, makasih ya Arya!" Seru Vidya senang dan ikut membuat Arya merasa senang juga tentunya.
"Jangan sedih lagi ya, aku nikahin kamu bukan buat bikin kamu sedih tapi untuk bikin kamu bahagia. Aku gk mau lihat kamu sedih dan menderita lagi," ujar Arya dengan tulusnya bahkan sampai membuat hati Vidya terharu mendengarnya.
"Aku gk bisa janji sama kamu, bagaimana pun aku masih tetap merasa sedih. Bagaimana bisa aku bahagia jika putri kandungku sendiri bahkan membenci diriku? Tentu saja itu membuat diriku merasa sedih Arya."
Arya terdiam mendengar ucapan Vidya yang baru saja mencurahkan isi hatinya, Arya tau Vidya pasti merasa sedih karna saat ini Reilla menolak kehadirannya. Bagi gadis itu Vidya sudah mengkhianati dirinya bahkan sudah membohonginya selama ini, Arya tau mungkin ini semua terlalu mendadak bagi Reilla tapi harusnya Reilla mengerti dan mau memaafkan Vidya.
Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan di hidup mereka, termasuk juga Vidya. Namun Vidya sadar bahwa selama ini ia telah salah karna sudah membiarkan Reilla tumbuh tanpa sosok seorang Ibu di sampingnya, tapi itu juga bukan kemauan Vidya. Gadis itu bahkan tak mengharapkan bahwa semuanya akan jadi seperti ini, dari awal Vidya tidak merancanakan kehilangannya. Ini semua adalah rencana dari kembarannya.
Saat Vidya hilang dulu, ia ingin sekali kembali pada keluarganya namun naas nya Vidya malah kehilangan ingatan. Alhasil Vidya tidak bisa mengingat apapun yang terjadi di masalalunya termasuk Arya dan Reilla saat itu.
__ADS_1
"Udah jangan sedih, sekarang mending nikmatin suasana sama makannya dulu," ujar Arya sambil mengenggam tangan Vidya erat.
Vidya mengangguk, ia membalas senyuman Arya dan genggaman tangan pria itu. Walaupun masalahnya dengan Reilla belum usai, namun Vidya merasa bersyukur karna ada Arya di sampingnya. Pria itu sudah sangat baik mau menemani dirinya, kemanapun Vidya melangkah dan dalam kondisi apapun. Arya pasti selalu ada menemani, membuat Vidya semakin mencintainya.