Without You

Without You
46. Penderitaan


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang Vidya/ Vidya POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Aku tidak tau lagi apa yang harus aku lalukan saat ini.


Tubuhku terasa sangat kelu, tatkala mendengar ucapan Arya beberapa menit yang lalu.


Kini pria itu sudah kembali pergi bersama dengan Tiran, kakak dari Siren.


Aku tidak pernah menyangka, jika pernikahan ku dengan Arya akan benar-benar berakhir. Aku tidak pernah ingin ini terjadi, apalagi kini aku sudah memiliki perasaan untuk pria itu.


Aku tersenyum sendu, saat memori pertemuan ku pertama kali dengan Arya mulai berputar di benakku.


Dulu dia sangat sering menyiksa fisik dan batinku, dan aku juga tak pernah berhenti untuk mendoakannya agar hatinya bisa luluh dan baik padaku.


Namun siapa sangka nyatanya aku lebih dulu jatuh cinta pada dirinya, saat aku tau jika dia adalah orang yang sudah menolongku, bahkan bukan hanya sekali namun berulang kali.


Aku juga tidak menyangka, aku fikir cinta ku tidak akan pernah berbalas sampai kapanpun, tapi ucapannya malam itu membuat ku senang ternyata dia juga mencintaiku.


Namun tadi Arya bilang padaku, bahwa dia sangat menyesal mencintai perempuan seperti diriku ini, terlihat jelas juga di matanya bahwa ia benar-benar kecewa padaku.


Aku tau cepat atau lambat pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan perjanjian ku dengannya, namun bukan dengan cara seperti ini yang ku mau bahkan jika boleh aku tidak ingin pernikahan ini berakhir.


Jika kalian bertanya kenapa aku menyembunyikan kehamilan ku dari Arya, itu karna aku bukannya tidak ingin memberitahunya, hanya saja aku merasa takut.


Aku takut jika Arya tidak ingin menerima anak ini, dan yang paling aku takutkan adalah Arya tidak akan percaya jika anak yang ada di dalam kandunganku ini adalah anaknya, sama seperti saat ini ia tidak percaya pada ucapanku.


Aku meringis lagi, saat aku merasa perutku semakin terasa sakit.


Kali ini rasa sakitnya berbeda dengan sebelumnya, rasanya dua kali lipat lebih sakit.


Aku mengelus perutku dengan tanganku, berharap agar rasa sakitnya mereda namun nyatanya tidak kunjung reda malah semakin terasa begitu sakit.

__ADS_1


Aku mencoba mengatur nafasku yang terasa sesak, air mata dan peluh sudah membanjiri wajahku.


Aku mencoba meluruskan kakiku, lalu aku merasa ada sesuatu yang mengalir di turun di kakiku.


Perlahan aku mencoba untuk melihatnya, mataku terbelalak sempurna saat aku melihat cairan berwarna merah mengalir di kakiku.


Tangan dan seluruh tubuhku bergetar seketika, aku begitu panik dan takut.


Aku sangat takut jika sesuatu terjadi pada bayi yang ada di dalam perutku ini.


Aku mengelengkan kepala, mencoba menepis semua fikiran buruk dan berdoa semoga aku dan bayiku tetap baik-baik saja.


"Ya Allah sakit...." aku kembali meringis ketika rasa sakit itu kembali terasa, kali ini terasa begitu hebat.


Aku tidak tau harus berbuat apa, aku panik, dan ketakutan apalagi darah itu semakin banyak mengalir bahkan sudah mengenai lantai.


Aku mencoba mengeluarkan gawai dari saku gamisku.


Aku mencoba mencari kontak Arya, dan mencoba menghubunginya.


Dengan perasaan takut, aku berharap Arya mengangkat panggilan dariku dan ia segera pulang untuk menolong diriku.


Namun sudah tiga kali aku coba, Arya tidak mengangkat panggilan dari ku. Aku menghela nafas ku dengan susah payah, perut hingga ke ujung kakiku terasa mati rasa dan tentu saja semakin terasa sakit.


Aku mencoba sebisa ku untuk tetap terjaga, walau aku tidak bisa menampik bahwa mataku sangat ingin terpejam.


Arya.


Satu nama yang kini ada dalam fikiranku, aku bahkan sangat berharap bahwa pria itu akan datang dan menolongku.


Aku tersenyum sendu, di sela-sela rasa sakitku. Saat aku tau bahwa orang yang aku harapkan tak juga kunjung datang.


Aku menghela nafasku, tanganku meraba-raba kaki meja, lalu dengan perlahan-lahan dan dengan rasa sakit yang teramat aku mencoba untuk bangkit.


Aku berteriak kesakitan saat aku sudah bisa berdiri namun masih berpegangan pada meja yang kokoh, yang kini menjadi tumpuanku.


Aku mencoba mengatur nafasku lagi, namun nyatanya kakiku kembali bergetar dan aku kembali jatuh terduduk.


Akhirnya aku putuskan untuk beringsut maju, walaupun dengan susah payah dan tertatih-tatih.


Aku tidak memperdulikan bercak darahku yang akan mengotori lantai, karna bagaimanapun yang ada di fikiranku saat ini adalah aku harus keluar dari rumah dan mencari bantuan agar bisa segera pergi ke rumah sakit.


Lumayan lama dan butuh perjuangan bagi ku untuk sampai di depan pintu rumah seperti sekarang ini.

__ADS_1


Aku menyemangati diriku bahwa sebentar lagi aku bisa sampai ke arah gerbang depan rumahku, agar aku bisa berteriak meminta bantuan pada tetangga untuk mengantarku ke rumah sakit.


Meskipun rasanya amat sakit dan tersiksa, aku tetap melanjutkan langkahku.


Air mata ku sudah sedaritadi menetes namun, aku tidak mau menyerah. Aku harus ke rumah sakit, aku tidak mau kehilangan bayiku, aku tidak mau kehilangan anakku.


"To...tolong." teriakku dengan susah payah di sertai suara yang bergetar karna menahan sakit.


Aku mengoyang-goyangkan pagar berharap bisa menarik perhatian.


"Tolong!" Teriakku lagi kali ini lebih kencang dan aku bisa menahan suaraku agar tidak bergetar lagi.


Namun sepertinya tidak ada orang yang datang membantuku.


Aku pun mencoba untuk tetap mengatur nafasku, tapi perutku semakin terasa sakit, badanku juga sudah terasa sangat lemas.


"To...tolong." teriakku terakhir kalinya, dengan tubuh yang sudah tergeletak di dekat pagar rumahku.


Aku memejamkan mataku sebentar, air mata kembali berjatuhan dari pelupuk mataku.


Tanganku tergerak meraba perutku, aku kembali menangis, rasa bersalah mulai menyelimutiku karna aku tidak bisa menghindar saat Arya mendorongku sehingga membuat ku seperti ini.


Aku sekarang hanya bisa pasrah, aku juga memohon maaf pada anakku karna aku pasti sudah membuatnya kesakitan di dalam perutku ini.


Namun saat aku hampir tidak sadarkan diri, tiba-tiba aku mendengar sayup-sayup suara seseorang yang berteriak.


Aku mencoba membuka kembali mataku yang sudah mulai sayu ini.


Aku melihat seseorang menghampiri diriku, membuat senyuman ku kembali terukir.


Aku sangat berterimakasih pada Allah karna sudah mendatangkan seseorang untuk menyelamatkan aku dan bayiku, aku sangat yakin bahwa Allah tak akan pernah meninggalkan hambanya, ia pasti akan selalu membantu hamba nya yang selalu percaya pada Nya.


"To...tolong ba...bawa saya ke rumah sa...sakit." ucapku dengan suara bergetar dan rintihan kesakitan.


Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu, karna kesadaranku sudah terengut oleh kegelapan.


Aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya, namun aku harap bahwa kandunganku akan baik-baik saja.


Aku berharap agar anakku bisa selamat, meskipun aku harus mengorbankan diriku, itu tidak masalah bagiku.


Karna aku sudah cukup puas melihat indahnya dunia ini, sedangkan anakku? Dia bahkan belum melihat dunia ini.


Tidak ada yang aku ingin kan sekarang ini, aku hanya ingin anakku selamat, hanya itu.

__ADS_1


__ADS_2