Without You

Without You
[S2] Harus melupakan


__ADS_3

Barga menoleh ke arah Vidya, gadis itu terlihat duduk bersandar di tembok sambil menatap nelangsa lurus ke arah jendela yang terbuka.


Barga merasa kasihan melihat Vidya, sudah setengah jam gadis itu berekspresi begitu. Biasanya Vidya selalu ceria tapi hari ini sepertinya keceriaan gadis itu menguap entah kemana setelah mendengar kabar pernikahan pria yang ada di masalalu dan masih bersemayam di hati gadis itu.


"Sudahlah Vidya, tak usah di ratapi lagi ya," ucap Barga lembut namun tak membuat Vidya mengalihkan tatapannya ke arah Barga.


"Cinta memang begitu Vidya, ada banyak jenis cinta di dunia ini. Tapi puncak tertinggi dalam mencintai seseorang adalah merelakan, walaupun memang rasanya sulit. Tapi mengikhlaskan sesuatu yang bukan milik kita itu adalah jalan yang terbaik daripada harus merasakan sakit yang menghujam di dalam hati," nasehat Barga seraya menatap sosok gadis di hadapannya yang masih tak bergeming.


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanya Vidya pelan dan menoleh ke arah Barga.


Barga tersenyum, akhirnya gadis itu mau menoleh padanya juga.


"Simple saja sih, yang perlu kamu lakukan saat ini adalah move on."


Vidya menghela nafasnya gusar, move on katanya? Vidya tidak yakin bisa melakukan itu, sudah sejak tiga bulan lalu ia mengatakan hal itu pada dirinya namun setiap kali Vidya bertemu Arya, entah itu di sengaja ataupun tidak di sengaja. Hati Vidya selalu merasakan gejolak aneh yang dulu sering ia rasakan,  kalau Vidya ketemu Arya rencana move on nya jadi ambyar sudah.


"Move on ya?" Tanya Vidya lagi dan di balas anggukkan oleh Barga.


"Iya, kamu harus move on. Merelakan Arya yang sebentar lagi akan menjadi milik wanita lain," jawab Barga membuat Vidya kembali menundukkan kepalanya dalam.


"Barga, apa aku memang tidak di takdirkan bahagia ya?" Tanya Vidya sambil tersenyum sendu.


"Tidak, semua orang berhak bahagia termasuk dirimu. Kamu juga berhak bahagia, walaupun bahagiamu bukanlah bersama Arya," ucap Barga yang mengandung arti dari ucapannya itu.


"Aku akan memberikanmu waktu libur, kamu boleh pulang ke rumahmu. Aku rasa kamu butuh istirahat saat ini," ucap Barga lagi dan di balas anggukkan kepala pelan oleh Vidya.


"Kapan kamu mau pulang? Biar nanti aku yang antar."


"Kemungkinan sore ini, tapi tidak perlu di antar. Aku bisa minta jemput sama Abi ku," ucap Vidya lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Barga.


"Aku mau berkemas dulu ya," pamit Vidya yang bangkit dari duduknya masih dengan wajah yang lesu dan mata yang sembab.


Barga menatap punggung Vidya yang mulai berjalan menjauh keluar dari dalam ruangannya, Barga menghela nafasnya pelan.


"Entah mengapa melihat dia sedih dan terluka seperti itu membuat diriku ikut merasakan hal yang sama dengannya," lirih Barga seraya tersenyum sendu. Terlihat jelas bahwa di balik mata pria itu ada kesedihan yang terpancar namun Barga kembali menutupinya dengan senyuman, seolah-olah bahwa dirinya memang baik-baik saja saat ini.


[]


Vidya pulang bersama dengan Abinya, saat sudah sampai di rumah. Vidya di sambut hangat oleh sang Umi yang langsung membawa Vidya ke dalam dekapannya.


"Kangen mi," ucap Vidya yang semakin mengeratkan pelukkannya pada Uminya.


Umi Vidya hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang saat ini sedang manja pada dirinya.


Umi Vidya melerai pelukkannya, di tatapnya wajah Vidya lekat-lekat.


"Kamu habis menangis?" Tanya Umi Vidya tepat sasaran.


Vidya tersentak, dalam hati ia bertanya-tanya darimana Uminya bisa tau kalau ia habis menangis? Apakah mata sembabnya masih terlihat? Padahal Vidya sudah berusaha menutupi mata sembabnya sebelum ia pulang dari pesantren tadi.


"Kamu nangis? Kenapa?" Tanya Abi Vidya yang ikut menghampiri istri dan putrinya.


"Nggak kok, Vidya gk nangis," elak Vidya dan kembali memasang senyuman lebarnya.


"Jangan bohong Vidya, kami ini orang tua kamu. Kami tau apa yang terjadi padamu tanpa harus kamu jelaskan pada kami," ucap Abi Vidya lagi.

__ADS_1


Vidya menghela nafasnya, sesusah apapun ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dari semua orang namun kedua orang tuanya dapat menebak dengan tepat bahwa saat ini Vidya memang sedang merasa sedih.


"Karna Arya akan menikah?" Tanya Abi Vidya menatap dalam Vidya.


Vidya menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Abinya saat ini.


"Kenapa? Apa kamu belum puas merasa di sakiti olehnya lagi? Harus sampai kapan kamu selalu di sakiti seperti ini olehnya, harus sampai kapan?!" Tanya Abi Vidya sambil meninggikan suaranya.


"Abi sabar dulu bi, kita bicarakan pelan-pelan tidak usah pakai amarah," ucap Umi yang menenangkan Abi Vidya.


Abi Vidya beristigfar, berusaha meredakan amarahnya. Ia selalu saja merasa sensi tiap membahas tentang Arya.


"Sayang, Umi tau ini semua berat buat kamu. Tapi Umi dan Abi yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini. Percayalan nak, penderitaan yang kita rasakan sekarang tidak akan bertahan selamanya. Pasti penderitaan ini akan berakhir namun entah kapan waktunya akan tiba, yang perlu kamu lakukan saat ini adalah bersabar dan banyak-banyak berdoa. Umi dan Abi yakin bahwa kamu pasti bisa melewati ini semua," ucap Umi seraya mengusap lembut tangan Vidya yang ada di dalam genggamannya.


"Jangan terlalu terpaku pada masalalu, masalalu ada untuk di jadikan pelajaran agar masa depan kita bisa lebih baik lagi. Pria di dunia ini banyak Vidya, bukan hanya Arya saja. Jadi tidak usah kamu menangisi dirinya," ucap Abi Vidya menasihati putrinya.


"Terimakasih Umi dan Abi, kalian memang yang terbaik," ujar Vidya dan di balas anggukkan kepala oleh kedua orang tuanya.


"Sudah sekarang lebih baik kamu istirahat dulu ya, pasti capek habis pulang dari perjalanan jauh," ucap Umi Vidya lembut seraya mengusap kepala Vidya dengan sayang.


"Baik, terimakasih Umi," balas Vidya lalu ia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya yang sudah lumayan lama tidak ia tempati.


Vidya menatap kamarnya yang tak banyak berubah sejak dulu, Vidya menghela nafasnya saat meihat figura foto kecil yang ada di atas nakas. Foto itu adalah foto pernikahannya dengan Arya dulu, yang sampai saat ini masih Vidya simpan.


Vidya menatap nanara foto tersebut, di foto itu Vidya pura-pura memasang senyuman lebar ke arah kamera sementara Arya? Pria itu tidak berkespresi sama sekali, wajahnya hanya berekspresi datar.


Perlahan tangan Vidya terulur menggambil bingkai foto kecil itu, di usapnya foto itu dengan penuh perasaan sendu. Air mata pun menetes di pipinya, walaupun pernikahan mereka hanya berdasarkan sebuah kesalahpahaman namun itu sangat berkesan di dalam ingatannya.


Momen antara dia dan Arya dulu kembali menyeruak di dalam benak Vidya, membuat hati Vidya lagi-lagi merasakan nyeri.


"Aku gk boleh sedih, Arya akan segera menikah. Seharusnya aku bahagiakan? Pria yang aku cintai selama ini akhirnya menemukan kebahagiaannya, benar kata Barga tingkat paling tinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan," ujae Vidya liris sambil menundukkan kepala menatap bingkai foto yang ada di tangannya.


"Pergi kamu! Ngapain kamu datang ke sini!"


"Abi sudah bi!"


Suara gaduh dari luar itu membuat Vidya tersadar dari kenangan masalalunya, gadis itu menghapus air matanya yang sempat menetes. Vidya kembali meletakkan bingkai foto miliknya di atas nakas, lalu segera berjalan ke luar kamar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini di luar.


"Abi, Umi ada ap-" perkataan Vidya terhenti saat ia melihat siapa orang yang menyebabkan keributan di rumahnya saat ini.


"Vidya!" Panggil orang tersebut tatkala ia melihat sosok Vidya yang sedaritadi ia cari.


"Pergi kamu Arya! Mau apa lagi kamu ke sini? Kamu belum puas menyakiti hati putri saya? Kamu belum puas selama ini selalu menorehkan luka untuknya? Apa kamu belum puas?!"


Umi Vidya berusaha menenangkan suaminya yang emosinya memuncak saat melihat kedatangan Arya ke rumah.


"Maaf Abi, tapi Arya gk bermaksud-"


"Jangan panggil saya Abi lagi! Kamu sudah kehilangan hak untuk memanggil saya dengan sebutan Abi!" Ujar Abi Vidya dengan ketus.


Vidya hanya diam di tempat melihat bagaimana amarah menguasi Abinya begitu ia melihat sosok kedatangan Arya.


"Pergi kamu dari sini! Cepat pergi! Jangan pernah dekati putri saya lagi, dia mau saya jodohkan dengan pria yang lebih baik dari kamu," ucap Abi Vidya penuh penekanan di setiap kata-katanya.


"Di jodohkan?" Tanya Arya dengan nada setengah tak percaya.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu gk suka saya mau menjodohkan Vidya dengan laki-laki lain?" Tanya Abi Vidya sambil mengangkat dagunya pada Arya.


"Saya ke sini hanya untuk bertemu dengan Vidya, ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan dengannya," ucap Arya lagi sambil melirik ke arah Vidya yang sedang menundukkan kepala, menahan air matanya yang hampir saja jatuh kembali.


"Kamu ini benar-benar ya kalau gitu saya-"


"Abi stop!" Ucap Vidya dengan nada tegas namun lembut.


Vidya berjalan menghampiri Abinya yang saat ini sedang menoleh ke arah Vidya begitupun dengan Arya, dan Umi.


"Vidya akan bicara dengan Arya, sebentar ya," ucap Vidya lagi lalu berjalan keluar dari rumah.


"Mau bicara apa?" Tanya Vidya langsung ke intinya dan dengan sikap acuhnya.


"Aku mau bilang kalau-"


Ucapan Arya terpotong karna ucapan Vidya.


"Karna kamu mau menikah minggu depan? Aku sudah tau," sela Vidya sambil tersenyum miris.


Wajah Arya terlihat pucat pasi saat Vidya mengatakan hal itu, rupanya gadis itu sudah tau perihal pernikahannya dengan Syabil yang akan di adakan minggu depan.


"Selamat ya," ucap Vidya sambil menolehkan kepalanya kepada Arya dan tersenyum.


"Vidya, ini gk seperti yang kamu bayangkan," ujar Arya yang wajahnya nampak frustasi, ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Vidya.


"Mamah aku yang mau pernikahan ini terjadi, sedangkan aku? Aku gk mau pernikahan ini sampai terjadi," ucap Arya dengan helaan naaf gusarnya.


Vidya tersenyum kembali sambil menatap Arya dengan sorot mata yang masih menunjukkan bahwa ia terluka.


"Apapun alasannya, kamu akan tetap menikah minggu depan kan?" Tanya Vidya lalu memalingkan wajahnya ke arah lain berusaha menyembunyikan raut kecewanya pada Arya.


Arya menyugar rambutnya ke belakang, pria itu nampak pusing dan tak tau apa yang harus ia katakan pada Vidya bahwa sebenarnya dia tidak mau pernikahan dengan Syabil di laksanakan.


"Vidya, menikahlah dengan ku. Aku mencintai kamu Vidya bukan Syabil," ucap Arya tiba-tiba membuat Vidya langsung menolehkan kepalanya pada Arya.


"Kamu gila Arya! Kamu mau menikah denganku? Apa kamu gk mikirin gimana perasaan Syabil kalau sampai kamu membatalkan pernikahan kalian sedangkan undangan sudah di sebar. Syabil pasti akan malu Arya!" Kata Vidya lagi sambil meninggikan suaranya dan menatap Arya dengan tatapan tajamnya.


Arya menghembuskan nafasnya dengan gusar lagi, pria itu menundukkan kepalanya. Raut wajah Arya menyiratkan bahwa dia sangat frustasi saat ini.


"Aku harus bagaimana? Aku cintanya sama kamu Vidya," ujar Arya lirih namun masih bisa di dengar oleh Vidya.


Vidya menatap nanar Arya, ia tidak tega melihat wajah pria itu yang sungguh memperihatinkan saat ini. Namun apa boleh buat, pernikahan ini akan di laksanakan minggu depan dan Arya tidak boleh lari dari tanggung jawabnya. Ini semua adalah pertanggung jawabannya, dan Arya harus menanggung semua yang sudah ia lakukan selama ini.


"Nikahi Syabil dan jangan pernah temui aku lagi," ucap Vidya lagi membuat Arya mengangkat kepalanya dan pemandangan yang ia tangkap pertama kali adalah wajah Vidya yang tersenyum padanya.


Senyuman Vidya kali ini entah kenapa tidak bisa membuat hati Arya terasa tentram, senyuman gadis itu seperti ada luka yang tersirat di baliknya.


"Pergilah dan jangan cari aku lagi," kata Vidya lagi lalu setelah itu ia masuk ke dalam tanpa menghiraukan panggilan Arya.


"Pergi kamu! Putri saya sudah tidak mau lagi bertemu dengan kamu!" Usir Abi Vidya dengan garangnya.


Arya tak bisa apa-apa saat ini, ia hanya bisa pasrah dan menuruti perkataan Abi Vidya. Namun pria itu tidak benar-benar pergi ia tetap menunggu di depan gerbang rumah Vidya.


"Ayo Umi kita masuk," ucap Abi Vidya lalu menutup pintu rumahnya dengan kencang dan tidak memperdulikan Arya yang masih berdiri di depan rumah mereka dengan sorot sendu menatap ke satu arah, yaitu kamar Vidya yang saat ini tirainya masih tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2