Without You

Without You
[S2] Hujan dan Reilla


__ADS_3

5 tahun kemudian ...


Siang hari di hari senin kali ini cuacanya terlihat sangat tidak bersahabat, langit terlihat mendung pertanda bahwa hujan akan segera turun.


Seorang gadis kecil menatap ke arah awan, wajahnya terlihat sangat risau dalam hati ia berdoa agar hujan jangan turun dulu saat ini karna ia sedang menantikan Ayahnya datang menjemput dirinya.


Namun sepertinya harapan gadis kecil itu tidak terkabulkan, hujan turun dengan deras. Gadis kecil itu pun menundukkan kepalanya dalam.


"Loh Reilla belum di jemput sama Kakek ya? Tunggu di dalam aja ya, di luar hujan deras."


Gadis kecil itu adalah Reilla, bayi mungil yang kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang cantik.


Reilla mengelengkan kepalanya mendengar ucapan dari Ibu gurunya yang menyuruh Reilla untuk menunggu di dalam saja.


"Rei hari ini gk di jemput sama Kakek tapi di jemput Ayah," jawab Reilla sambil mengembangkan senyumannya.


"Iya tunggu Ayahnya di dalam aja, kalau di luar nanti kamu bisa kedinginan loh."


Reilla tetap menggelengkan kepalanya, rupanya dia masih tetap ingin menunggu Ayahnya di luar saja dari pada di dalam ruangan.


Tak lama sebuah mobil pun terlihat masuk melewati gerbang TK Reilla dan menuju kearahnya.


Kemudian seseorang keluar dari mobil tersebut dengan payungnya, orang itu berjalan menghampiri Reilla yang masih berdiri di tempatnya.


"Terimakasih sudah menemani Cucu saya," ucap orang tersebut yang tak lain adalah Kakek dari Reilla.


"Iya sama-sama Pak, nah Kakek Reilla sudah datang, hati-hati di jalan ya Reilla," ucap Bu guru dengan ramah.


Reilla hanya diam, harapannya di jemput oleh sang Ayah kini sirnah sudah. Ternyata yang menjemputnya kali ini adalah Kakeknya bukan Ayahnya dan hal itu sungguh membuat Reilla merasa kecewa.


"Ayo Rei, kita pulang."


Walaupun begitu Reilla tetap menurut saja saat tangannya di gandeng oleh Kakeknya untuk berjalan bersama menuju mobil.


Saat berada di dalam mobil Reilla masih tetap diam, gadis kecil itu memilih untuk menundukkan kepalanya saja.


Menyadari bahwa Cucunya terlihat murung, sang Kakek pun merasa khawatir dengan Cucunya itu. Tangan sang Kakek pun terulur mengusap lembut rambut Reilla.


"Kamu kenapa? Kok wajahnya di tekuk gitu? Kakek ada salah ya sama Rei?"


Reilla menjawab dengan gelengan kepala, perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Kakeknya itu. Namun tiba-tiba saja Reilla malah menangis, sontak saja sang Kakek merasa kebingungan.


"Eh kok malah nangis? Duh kenapa kok Cucu Kakek nangis sih?" Tanya Kakek tapi Reilla tidak menjawab ia masih terus menangis.


Kakek hanya bisa memeluk dan menepuk-nepuk pelan punggung Reilla, berusaha menenangkan Cucunya yang sedang menangis.


"Kakek ...." panggil Reilla yang sudah mau membuka mulutnya untuk berbicara.


"Kenapa sayang? Hmm?" Tanya sang Kakek sambil mengusap jejak air mata di pipi Reilla.

__ADS_1


"Ayah bohongin Reilla, padahal hari ini katanya Ayah mau jemput Reilla tapi Ayah gk datang malah Kakek yang datang jemput Reilla," ujar Reilla mengadukan Ayahnya pada Sang Kakek.


"Gara-gara hujan! Ayah jadi gk jemput Reilla," ujar Reilla yang tampak kesal.


Sang Kakek terdiam mendengar ucapan Reilla barusan, ucapan Cucunya itu mengingatkannya pada sosok putrinya Vidya yang sudah meninggal.


Dulu saat kecil Vidya juga pernah mengatakan hal yang sama padanya, saat itu Vidya kecil marah karna hujan Umi jadi tidak bisa menjemput dirinya dari sekolah membuat Vidya merasa kesal dan menyalahkan hujan.


Sang Kakek yang tak lain adalah Abi Vidya itu hanya bisa menghela nafasnya, mencoba kembali tersenyum meskipun rasanya sesak ketika kembali mengingat sosok putrinya yang telah tiada.


"Kok Kakek malah diem aja?" Tanya Reilla yang melihat Kakeknya hanya berdiam diri.


"Rei gk boleh membenci hujan, hujan itu rahmat dari Allah. Rei tau gk? Saat hujan turun itu adalah saat waktu mustajab untuk berdoa, jadi kalau Rei berdoa saat hujan Insyaallah doa Reil cepat terkabulkan."


Reilla yang mendengar hal itu kini matanya berbinar, ia kemudian menyungingkan senyumannya, kekesalannya pada hujan sudah menghilang entah kemana.


"Gitu ya Kek? Kalau gitu Rei mau berdoa buat Ummah, Rei mau bilang sama Allah kalau Rei rindu sama Ummah." Ucap Reilla dengan antusias, kemudian gadis kecil itu mulai mengangkat ke dua tanganya, ia mulai berdoa dengan khusyu.


Sementara itu sang Kakek yang melihat tingkah Cucunya, tidak kuasa menahan air matanya. Apalagi ketika mendengar ucapan doa Reilla, rupanya anak itu berdoa agar Vidya selalu bahagia di sana, dan di akhir doanya Reilla juga bilang bahwa dirinya sangat merindukan Ummahnya itu dan dia juga berharap agar Allah mau menyampaikan rindunya pada Ummahnya.


"Rei sudah berdoa Kek, Rei gk mau membenci hujan lagi mulai sekarang karna hujan itu rahmat dari Allah. Ayo Kek kita pulang ke rumah, Rei udah laper hehe." Ujar Reilla dengan kekehannya.


Sang Kakek pun ikut tertawa, lalu ia pun menjalankan mobil tersebut menuju rumah Reilla.


................


"Assalamu'alaikum Bi Imah, Reilla pulang!" Seru Reilla saat dirinya sudah tiba di rumah.


Bi Imah sendiri adalah asisten rumah tangga yang sengaja Arya pekerjakan di rumahnya untuk mengurus pekerjaan rumah dan menjaga Reilla saat dirinya belum pulang dari kantor.


"Loh Rei pulang sama Kakek? Bukannya hari ini Ayah yang mau jemput Rei?" Tanya Bi Imah yang heran, pasalnya tadi pagi nona mudanya itu dengam begitu ceria bilang padanya bahwa dia akan pulang bersama dengan Ayahnya namun saat ini ia justru pulang bersama Kakeknya.


Reilla menghela nafasnya, ia kembali merasa sedih mengingat bahwa Ayahnya tidak menjemput dirinya hari ini.


Sadar kalau nona mudanya menjadi murung, Bi Imah pun mencoba meminta maaf dan menenangkan Reilla.


"Rei mau ke kamar aja, capek."


Setelah mengatakan itu Reilla berjalan menaiki anak tangga satu persatu, menuju kamarnya.


"Maaf ya Pak saya gk tau kalau ucapan saya bikin Non Reilla jadi sedih," ujar Bi Imah meminta maaf pada Abi Vidya.


"Tidak apa-apa, Bi Imah tidak salah karna kan Bi Imah tidak tau." Ujar Abi Vidya dan di balas anggukkan oleh Bi Imah.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang yang datang.


Bi Imah dan Abi Vidya pun menolehkan kepala mereka pada orang tersebut.


"Den Arya sudah pulang, mau Bi Imah buatkan teh atau kopi Den?" Tanya Bi Imah pada orang yang baru saja tiba, orang itu adalah Arya.

__ADS_1


Arya menggelengkan kepalanya, ia menatap Abi Vidya yang juga sedang menatapnya. Arya pun langsung menyalimi tangan Abi Vidya.


"Kamu hari ini ada janji apa sama Reilla?" Tanya Abi Vidya langsung to the point.


Arya pun terdiam sesaat kemudian matanya membulat ketika ia teringat bahwa tadi pagi dirinya sudah berjanji pada Reilla untuk menjemputnya dari TK tapi Arya malah lupa untuk menjemput Reilla.


Arya pun bergegas menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Reilla, ia yakin pasti saat ini putrinya itu akan marah padanya.


Sesampainya di depan kamar Reilla, Arya tidak langsung masuk ke dalam. Arya terlebih dahulu mengetuk pintu kamar Reilla serta meminta izin pada Reilla apakah dirinya boleh masuk atau tidak.


Namun tidak ada jawaban dari Reilla, akhirnya Arya pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Reilla dan kebetulan pintu kamar putrinya itu tidak terkunci.


Arya melihat Reilla yang tidur membelakanginya, namun Arya tau bahwa putrinya itu tidak benar-benar tidur.


"Ayah tau kok kamu belum tidur," ujar Arya sambil mendudukan dirinya di tepi tempat tidur Reilla.


"Reilla marah karna Ayah gk jemput ya? Maafin Ayah ya sayang, Ayah terlalu sibuk sama pekerjaan sampai lupa kalau Ayah sudah janji mau jemput kamu."


Reilla masih diam dengan posisi semula, membelakangi Arya. Arya menghela nafas melihat tingkah ngambek putrinya itu.


"Maaf ya Ayah belum bisa jadi Ayah yang baik untuk Rei, Ayah tau Ayah salah dan Ayah minta maaf. Tapi tolong Rei jangan diemin Ayah terus, Ayah sedih ngeliat Rei kaya gini."


Mendengar ucapan Ayahnya itu, Reilla pun perlahan membalikkan badannya. Ia melihat Ayahnya sedang menundukkan kepala.


Melihat Ayahnya seperti itu, Reilla pun jadi merasa bersalah. Gadis kecil itu pun merubah posisinya menjadi duduk.


"Ayah ...." Panggil Reilla dengan suara bergetar ingin menangis.


Ketika Ayahnya menolehkan kepala ke arahnya, tangis Reilla pun pecah seketika. Ia segera memeluk erat Ayahnya sambil mengumamkan kata maaf.


Arya tersenyum sambil mengusap punggung Reilla dengan lembut, sesekali dirinya menciumi puncak kepala Reilla.


"Ayah ... hiks ... maaf ya yah, Reilla bikin Ayah sedih. Reilla gk ngambek kok sama Ayah tapi Reilla cuma sedih aja karna Ayah gk datang jemput Reilla tadi." Ujar Reilla di sela isak tangisnya, dengan posisi masih memeluk erat Arya.


Arya pun melerai pelukkan putrinya, di tatapnya wajah Reilla. Mata putrinya itu sudah sembab karna menangis dan bahkan hidungnya pun ikut memerah karna menangis.


Arya mengusap air mata di pipi Reilla, lalu memberikan kecupan di dahinya. Arya tersenyum lalu ia mengatakan maaf pada Reilla dan di balas anggukkan kepala oleh Reilla.


"Maaf karna Ayah belum bisa jadi Ayah yang baik untuk Rei," ujar Arya sambil menatap lekat putrinya.


"Nggak, bagi Rei Ayah itu adalah Ayah yang terbaik di seluruh dunia dan Rei sayang sekali sama Ayah."


Arya tersenyum mendengar ucapan gadis kecilnya itu, Arya kembali memeluk Reilla. Reilla pun perlahan menjadi tenang, sesekali ia menguap. Lalu perlahan matanya pun terpejam.


Arya yang mendengar suara dengkuran halus pun segera tau bahwa putrinya itu sudah terlelap, mungkin dirinya lelah karna menangis.


Arya pun meletakkan Reilla di atas tempat tidur secara perlahan, lalu tak lupa ia juga menyelimuti tubuh Reilla.


Cup

__ADS_1


"Ayah menyayangi Reilla," bisik Arya lembut di telinga Reilla, tangannya terulur mengusap kepala Reilla terlebih dahulu barulah setelah itu ia melangkah keluar dan meninggalkan Reilla sendirian yang sedang tertidur lelap.


__ADS_2