
Vidya tersenyum memperhatikan Barga yang saat ini sedang berinteraksi dengan anak-anak panti asuhan yang baru saja Vidya dan Barga datangi.
Sebenarnya Vidya ke sini karna di ajak oleh Barga, awalnya Barga bilang hanya ingin mengajaknya ke suatu tempat yang bisa meredakan rasa gelisah. Vidya tidak menyangka jika Barga malah mengajaknya ke panti asuhan.
"Kamu sering ke sini?" Tanya Vidya pada Barga yang sedang bermain bersama anak-anak.
"Iya, kalau aku lagi banyak fikiran dan kurang bersyukur biasanya aku datang ke sini. Kamu lihat deh mereka," ucap Barga seraya menunjuk anak-anak yang sedang tertawa riang.
"Tiap lihat senyuman mereka rasanya tuh adem gitu, walaupun mereka gk punya Ayah dan Ibu tapi mereka masih tetap tersenyum. Mereka masih bisa tertawa seolah-olah gk ada beban yang mereka rasakan, hal itu jugalah yang membuat aku selalu merasa tuk lebih mensyukuri hidup yang di berikan Allah padaku," ucap Barga sambil tersenyum dengan pandangan yang menatap anak-anak panti yang sedang tertawa riang.
Mendengar ucapan Barga barusan membuat Vidya ikut merasa tersentuh, Barga benar seharusnya ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Sebesar apapun masalah yang kita hadapi, kita harus tetap bersyukur dan tetap tersenyum menjalaninya. Selama ini Vidya terlalu larut dalam kesedihannya sehingga Vidya selalu mengeluh hingga lupa tuk mensyukuri hidup.
Lihatlah anak-anak panti di sini, mereka semua tertawa bahagia seperti tak ada beban. Padahal beban yang mereka tanggung amat berat, di tinggal oleh kedua orang tua di usia yang masih sekecil itu pastilah hal yang tidak mudah. Membayangkannya saja membuat air mata Vidya ingin mengalir rasanya.
"Kakak cantik, ayo main sama kita."
Vidya tersentak namun tak lama karna ia kembali memasang senyuman di wajahnya, seorang bocah laki-laki mengajaknya bermain bersama mereka dan dengan senang hati Vidya mengiyakan ajakannya.
Vidya bergabung bersama dengan anak-anak panti yang mengajak Vidya bermain bersama, Vidya tersenyum dan tertawa bersama mereka. Sejenak Vidya mampu melupakan kesedihan dan penderitaan yang ia rasakan yang belum seberapa dengan penderitaan yang anak-anak panti itu alami.
Barga berdiri dan memperhatikan Vidya yang saat ini sedang tertawa lepas dengan anak-anak panti, tawa Vidya terlihat begitu renyah membuat Barga ikut tersenyum melihatnya.
Sudah hampir bertahun-tahun lamanya Barga tak berjumpa dengan Vidya, dan hari ini dia berhasil bertemu kembali dengan gadis yang dulu pernah hampir menjadi bagian dari hidupnya itu, namun Allah sepertinya punya rencana lain untuk dirinya. Vidya menolak lamaran darinya karna dia sudah mempunyai calon yang lain, awalnya Barga tentu saja merasa sedih namun ia berusaha mengikhlaskan Vidya yang memang mungkin tidak di takdirkan untuknya.
"Barga! Sini ikutan!" Panggilan dari Vidya membuat Barga tersentak dari fikirannya yang sempat berkelana ke masa lalu.
"Iya!" Sahut Barga lalu berjalan dan ikut bergabung bersama Vidya serta anak-anak panti lainnya.
[]
"Gimana seru gk?" Tanya Barga saat dirinya dan Vidya sudah berada di dalam mobil.
"Seru banget!" Ucap Vidya yang raut wajanya terlihat begitu antusias.
Barga yang menatap wajah Vidya dari spion depan hanya tertawa melihat raut bahagia Vidya, padahal sebelumnya gadis itu terlihat murung sekali.
"Makasih ya Barga," ucap Vidya secara tiba-tiba membuat Barga kembali melirik ke spion depan untuk bisa melihat Vidya yang saat ini duduk di bangku belakang.
__ADS_1
"Untuk?" Ujar Barga balik bertanya.
"Terimakasih karna sudah membuat saya tau caranya tuk lebih mensyukuri hidup," ucap Vidya tulus sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama, saya senang kalau kamu sudah tidak sedih lagi."
Vidya tersenyum mendengar ucapan Barga barusan, pria itu masih sama rupanya seperti saat dulu mereka bertemu. Pria itu tetaplah pria santun dan juga lembut, pria yang dulu lamarannya sempat Vidya tolak.
Mengingat hal itu Vidya jadi tersenyum masam, namun ia tidak pernah menyesali keputusannya yang menolak Barga dan lebih memilih Arya. Karna Arya juga tidak seburuk yang terlihat, pria itu juga baik pada Vidya hanya saja pria itu lebih sering menorehkan luka di hatinya namun anehnya Vidya tetap memiliki rasa padanya.
"Sekarang kesibukan kamu apa?" Tanya Barga yang memecah keheningan.
"Aku lagi sibuk ngajar," ucap Vidya yang menarik perhatian Barga.
"Oh ya? Wah hebat, sekarang kamu jadi guru ya?" Tanya Barga antusias.
"Biasa aja, cuma guru magang doang kok," jawab Vidya yang mengelengkan kepala melihat Barga yang begitu antusias mengetahui bahwa dirinya sekarang menjadi guru.
"Berapa lama kamu magang di sana?" Tanya Barga lagi.
"Cuma sebulan doang," balas Vidya.
"Mengajar di pesantren kamu?" Tanya Vidya lagi memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Iya mengajar di pesantren, kebetulan sekali di pesantren kami sedang kekurangan guru untuk mengajar para santri," ucap Barga lagi.
Vidya diam agak sedikit menimbang-nimbang ajakkan Barga.
"Gimana? Kamu mau gk?" Tanya Barga lagi.
"Nanti aku fikir-fikir dulu deh, aku juga belum diskusi sama Umi dan Abi," jawab Vidya pada akhirnya.
"Iya, silahkan diskusikan dulu dengan orang tua mu. Kalau kamu berminat, ini kartu nama saya di sana ada nomor saya. Kamu bisa hubungi saya nanti," ucap Barga yang memberikan kartu namanya pada Vidya.
Vidya tentu saja menerimanya, lalu tak ada lagi percakapan antara Barga dan Vidya karna Barga kembali fokus tuk menyetir mobil.
[]
__ADS_1
"Makasih ya, mau mampir dulu?" Tanya Vidya saat mobil Barga sudah berhenti di depan rumahnya.
"Sama-sama, maaf lain kali ya. Saya masih ada urusan," ucap Barga sambil tersenyum.
"Oh ya udah, hati-hati ya."
"Iya terimakasih," balas Barga.
Lalu Vidya pun keluar dari mobil Barga, setelah itu Barga pun melajukan mobilnya pergi dari depan rumah Vidya.
"Darimana kamu?"
Senyuman Vidya memudar seketika tatkala melihat sosok Arya yang sudah berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Ng ... ngapain kamu ke sini?" Tanya Vidya yang berusaha menyamarkan nada gugupnya.
"Di anter siapa tadi?"
Bukannya menjawab pertanyaan Vidya, Arya malah balik bertanya. Membuat Vidya mendengus kesal.
"Bukan urusan kamu!" Ketus Vidya yang sebenarnya masih merasa kesal pada Arya.
Entah kenapa Vidya juga tidak tau kenapa dia merasa kesal pada Arya, apa karna kabar pertunangan pria itu dengan Syabil? Aish, jangan bilang kalau saat ini Vidya sedang merasa cemburu?
"Tentu urusan aku juga dong," ucap Arya tegas.
"Kenapa? Emangnya kamu siapa aku? Sampai harus semua urusan aku jadi urusan kamu juga?" Tanya Vidya masih dengan nada judesnya.
Arya jadi kicep sendiri mendengar pertanyaan Vidya.
"A ... aku Ayahnya Reilla," jawab Arya pada akhirnya.
"Pfttt."
Vidya berusaha menahan tawanya mendengar ucapan Arya yang ngelantur, pria itu sangat ketara saat ini sedang menyembunyikan kegugupannya. Buktinya saat ini Arya sedang mengusap-usap belakang lehernya, hal yang selalu pria itu lakukan saat sedang gugup.
"Hahahaha."
__ADS_1
Akhirnya tawa Vidya meledak juga, Arya tercengang dia menatap Vidya bingung. Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa Vidya malah tertawa? Padahal kan dirinya sedang tidak ngelawak saat ini.
Namun meskipun begitu Arya tetap menyungingkan senyumannya melihat tawa Vidya yang menguar, setidak nya Arya bersyukur dapat melihat gadis itu tertawa lagi dan itu karna dirinya. Dalam hati Arya berharap ia bisa membuat Vidya selalu tertawa bahagia seperti ini, bukan malah memberikan gadis itu penderitaan yang selama ini sudah cukup rasanya Vidya tanggung sendirian.