
Part ini pake Author POV/ sudut pandang Author ya hehe, okey gais happy reading!
-
-
-
-
"Dia sudah melewati masa krisisnya." Ujar seorang dokter yang keluar dari ruangan, kemudian orang-orang yang sedaritadi menunggu di luar mulai menghela nafas lega dan mengucapkan rasa syukur mereka.
Vidya sudah berhasil melewati masa krisis nya, ia sudah tidak sadarkan diri selama kurang lebih tiga hari dan itu membuat keluarga dan orang-orang yang menyayanginya merasa sangat cemas.
"Ingatannya juga perlahan kembali pulih, kemungkinan besar, ketika ia sadar nanti, dia sudah bisa mengingat semua kejadian yang pernah ia lupakan sebelumnya."
Semua orang yang mendengar penuturan dokter tersebut pun terkejut, terlebih lagi Arya yang sedaritadi mendengarkan dalam diam.
"Ingatannya...akan kembali?" Tanya Umi Vidya dengan lirih, ia mengelengkan kepalanya.
Hal yang ia takutkan selama ini akan terjadi, Vidya tidak boleh mengingat masalalunya terlebih lagi kejadian yang menyakitkan yang menimpanya di masalalu.
"Umi tenanglah mi." Abi Vidya mencoba menenangkan istrinya yang tampak lemas mendengar kabar tersebut.
"Vidya akan ingat kejadian itu bi...hiks Vidya akan mengingatnya, putri kita bisa hancur lagi bi!" Umi Vidya tak kuasa menahan tangisnya, Abi Vidya semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya itu.
Sementara Arya, pria itu masih diam mencoba mencerna segalanya.
Vidya akan kembali ingat semua hal yang sebelumnya sudah ia lupakan, itu artinya Vidya akan mengingat semuanya.
"Apa dia juga bakalan inget kejadian itu?"-Batin Arya mulai bertanya-tanya.
"Nak Arya."
"Eh? Iya bi, ada apa?" Tanya Arya yang baru saja sadar dari lamunannya.
"Kamu jenguk istrimu duluan ya ke dalam, setelah itu baru Abi yang akan masuk ke dalam."
Arya menganggukkan kepalanya, ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tempat di mana Vidya sedang di rawat saat ini.
Arya masuk secara perlahan ke dalam ruangan tersebut, lalu manik mata Arya terarah pada sosok Vidya terbaring di brankar.
Kali ini Arya bisa leluasa melihat wajah Vidya yang tidak di tutupi cadar, karna Vidya harus di pasangkan selang oksigen, jadi dia tidak menggunakan cadarnya.
Arya berdiri di samping Vidya yang masih setia menutup matanya, Arya mengamati wajah pucat Vidya.
"Lo bakalan inget semuanya." Arya mengucapkan itu tanpa ekspresi.
Lalu tangan Arya terulur ke arah wajah Vidya.
"Dia...nangis?"
Arya bertanya-tanya kenapa Vidya bisa meneteskan air matanya? Ada apa dengannya?
Arya menghela nafasnya ia tidak berbicara apapun lagi, ia hanya menatap wajah Vidya lekat memperhatikan setiap seluk beluk wajah Vidya yang begitu cantik dengan bibir ranum nan mungil milik nya.
Kemudian Arya memutuskan untuk ke luar dari ruangan itu, ia pun membalikkan badannya.
Namun langkah Arya terhenti saat ada sesuatu yang mengengam tangannya dari arah belakang.
__ADS_1
"Ja...jangan per...gi."
Arya segera membalikkan badannya, ia terkejut karna melihat Vidya yang sudah sadarkan diri.
Perlahan genggaman tangan Vidya melemah namun matanya sudah terbuka walaupun terlihat sayu dan sendu.
"Lo gk apa-apa? Gue panggil dokter dulu." Ucap Arya yang berniat ingin memanggil dokter.
"Jangan." Arya kembali menatap Vidya yang lagi-lagi menghentikannya.
"Te...terimakasih sudah menolong saya."
"Lo udah inget semuanya?" Tanya Arya ragu namun Vidya menganggukkan kepalanya lemah bersamaan dengan air mata yang luruh dari pelupuk matanya.
Kemudian Vidya dan Arya kembali sama-sama diam, suasana pun terasa hening.
Arya kembali mengingat masa itu, saat pertama kali dia bertemu dengan Vidya.
Arya menyelamatkan Vidya yang sudah menjadi korban pemerkosaan pada malam itu saat hujan turun dengan lebat.
Arya sangat ingat betapa hancurnya Vidya saat itu, gadis itu meraung, menangis, bahkan memukuli dirinya yang berusaha menolong Vidya. Malam itu Arya merasa sangat kasihan pada gadis itu, ia membawa Vidya ke dalam pelukannya dan untuk pertama kalinya saat itu Arya memeluk Vidya.
Namun rasa kasihannya hilang begitu saja setelah beberapa hari sejak kejadian malam itu.
Saat itu Vidya di mintai keterangan oleh polisi yang bertanya ada berapa pria yang melecehkannya, dan Vidya menjawab ada enam pria yang mencoba melecehkannya padahal jelas-jelas hanya ada lima pria yang melecehkannya.
Lalu entah bagaimana setelah itu, polisi datang ke rumahnya lalu menangkap Arya dengan tuduhan menjadi pelaku pemerkosaan.
Arya sangat bingung saat itu, dan saat sampai di kantor polisi ia melihat Vidya.
Arya pun segera menghampiri Vidya, ia bilang pada Vidya kalau dia orang yang menolong nya, bukan pelaku yang memperkosanya.
Polisi berusaha mendesak Vidya untuk mengatakan apakah ucapan Arya saat itu benar atau tidak, tapi Vidya tetap bungkam, tatapannya kosong hanya ada air mata yang berlinang.
Arya bisa menerima hal itu meskipun awalnya ia memberontak, namun satu hal yang membuat Arya semakin membenci Vidya yaitu kematian adiknya.
Harusnya hari itu Arya ada di rumah sakit untuk bisa berada di samping adiknya yang sedang berjuang melawan penyakitnya, bahkan untuk menyemangati adiknya saja Arya tidak bisa.
Dan dua hari setelah itu Arya mendapat kabar bahwa adiknya sudah meninggal dunia, Arya yang mendengar kabar itu merasa sangat hancur.
Ia merasa sudah menjadi seorang kakak yang gagal karna tidak bisa selalu ada di samping adiknya itu.
Bahkan untuk melihat adiknya terakhir kali sebelum di kebumikan saja Arya tidak bisa, ia harus melewatkan masa hukumannya.
Satu bulan berlalu, lalu dari kepolisian menyatakan bahwa Arya di nyatakan tidak bersalah karna ada seorang saksi yang sebelum kejadian itu melihat hanya ada lima orang pria yang terlihat bersama Vidya.
Dan kelima orang itu sudah ketahuan identitasnya dan sudah tertangkap juga, jadi Arya pun di lepaskan.
Arya memang bebas dari penjara tapi satu hal yang tidak bisa Arya lupakan dari kejadian itu adalah, ia harus kehilangan adik nya untuk selama-lamanya.
Arya begitu benci pada Vidya, gadis itu terlihat lugu dari luar tapi sebenarnya ia sangat munafik dan menjijikan.
Arya juga bersumpah akan membalaskan dendamnya pada Vidya, ia akan membuat hidup gadis yang tidak tau diri itu menderita sama seperti dirinya bahkan lebih dari apa yang Arya rasakan.
Setelah keluar dari penjara, Arya di hadapkan dengan Ayah dan Ibu nya tidak mau menerima kehadirannya di rumah karna merasa malu memiliki anak seperti Arya yang mereka anggap hanya bisa menyusahkan saja, hal itu membuat Arya harus tinggal di rumah Oma nya untuk sementara waktu.
Dua tahun berlalu kehidupan Arya kembali berjalan lancar meskipun Ayah dan Ibu nya masih mengacuhkannya namun mereka sudah membiarkan Arya tinggal lagi bersama mereka.
Arya kembali melihat Vidya lagi, dalam kondisi yang lagi-lagi harus membuat nya berhadapan langsung dengan Vidya bahkan kali ini lebih rumit.
__ADS_1
Pada hari minggu pagi, Arya mengantar Oma nya ke pasar. Seperti biasa Arya yang sangat malas dengan keramaian pun memutuskan untuk menunggu di mobil selama Omanya pergi berbelanja.
Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba saja Arya melihat sebuah truk yang melaju kencang dari kejauhan ke arah Oma nya berada.
Lalu kemudian kelakson truk itu berbunyi namun Oma sepertinya tidak bisa menghindar karna begitu kaget, Arya juga tak kalah panik ia berlari turun dari mobil dengan cepat berusaha untuk menyelamatkan Omanya.
Lalu terdengar bunyi dentuman keras dan suara teriakan orang-orang.
Tubuh Arya membeku di tempat, jantungnya berdetak dengan sangat kencang dari biasanya.
"Oma..." Arya berucap lirih ketika melihat kerumunan orang-orang yang sedang mengerumuni sesuatu.
Arya kembali berlari ia bahkan berteriak memanggil Omanya, ia menyingkirkan orang-orang di kerumunan itu untuk bisa melihat keadaan Omanya.
"O...oma?" Suara Arya memelan di akhir kalimat.
Arya menatap seseorang yang sudah bersimbah darah itu, Arya mengenali wajahnya, tapi ia tidak perduli sama sekali karna yang pasti saat ini Oma nya baik-baik saja.
Arya segera keluar dari kerumunan, lalu ia mengedarkan padangannya mencari keberadaan Omanya.
Lalu manik mata Arya menangkap sosok Omanya yang sedang duduk di bawah pohon tidak jauh dari tempat kejadian kecelakaan itu.
"Oma gk kenapa-napa kan?" Arya bertanya khawatir pada Omanya, ia membawa Oma ke dalam pelukannya.
"Gadis itu...kita harus tolong dia, dia sudah menolong Oma dengan mengorbankan nyawanya." Ujar Oma yang matanya berkaca kaca menatap Arya, mungkin Oma masih syok dengan apa yang baru saja ia alami.
Akhirnya Arya kembali harus berurusan dengan Vidya, ia membawa Vidya ke rumah sakit dan melakukan semua perintah Oma nya dengan baik.
"Oma sudah membuat janji pada diri Oma sendiri." Arya menatap Omanya bingung.
"Arya, Oma punya permintaan padamu agar kamu mau menepati janji Oma itu." Arya semakin tidak mengerti apa yang Omanya katakan saat itu.
"Apapun yang Oma minta akan Arya lakukan."
"Menikahlah dengan gadis itu." Arya membulatkan matanya, ia bahkan menentang hal tersebut mati-matian.
Tapi Oma sepertinya sudah tertarik pada gadis munafik itu yang kenyataannya sangat Arya benci.
Sejak itu Arya tak pernah lagi datang ke rumah sakit, ia juga menjauhi Oma nya.
Hingga Omanya jatuh sakit, membuat Arya mau tak mau mengiyakan permintaan Omanya itu untuk menikahi gadis itu, padahal saat itu sudah hampir tiga tahun berlalu sejak kejadian kecelakaan truk waktu itu terjadi.
Arya pun mulai mencari tahu tentang gadis itu, ternyata gadis itu bekerja di sebuah Kafe.
Sekarang gadis itu sudah menggunakan cadar, Arya menyungingkan senyuman sinisnya dan tentu saja kebenciannya semakin bertambah.
Arya pun akhirnya memberanikan diri muncul di depan Vidya, ia menghina Vidya sebagai cewek murahan dan Arya tau jika perkataannya itu pasti amat menyakitkan tapi Arya tak perduli ia terlanjur benci.
Tapi Arya malah menggalami nasib sial, saat ia berusaha membuat Vidya merasa sakit hati, justru ia kepergok oleh salah satu warga yang mengira ia dan Vidya akan melakukan hal mesum karna memang saat itu Arya dan Vidya merada di tempat yang lumayan minim penerangan tapi mereka tidak berbuat mesum.
Mereka berdua di bawa ke rumah pak RT di sekitar tempat itu, tapi yang menganjal di fikiran Arya adalah Vidya yang tak mengenali siapa dirinya. Padahal sebelumnya gadis itu rela menyeretnya ke penjara dan tak tau terimakasih padahal jelas-jelas ia sudah menolong nya.
Tapi saat di rumah pak RT itu Arya sangat ingat, Vidya memohon padanya, ia tidak ingin Umi nya sampai tau jika Arya dan Vidya di tuduh melakukan hal-hal tidak senonoh, karna Umi nya memiliki penyakit jantung.
Saat itulah Arya mulai menjalankan rencana liciknya, ia pun memberikan Vidya sarat untuk menikah dengannya dengan berdalih bahwa jika Vidya menikah dengannya, Umi nya tidak akan tau perihal tentang mereka.
Dan ya pernikahan itu terjadi, dan saat ini Vidya sudah menjadi istrinya dan kebencian Arya semakin bertambah ketika ia melihat wajah lugu dan sok polos Vidya yang sangat ia benci.
Itu lah alasan kenapa Arya sangat membenci Vidya hingga saat ini, kesalahan Vidya pada dirinya tak mungkin ia lupakan dengan begitu mudah, karna ada harga yang harus di bayar atas penderitaan yang Arya alami.
__ADS_1
Lalu Arya kembali sadar dari lamunannya tentang awal mula bagaimana ia bisa sangat membenci Vidya.
"Gue gk bisa maafin lo, dan gk akan pernah bisa." Setelah mengatakan itu Arya membalikkan tubuhnya, pergi meninggalkan Vidya yang menangis sambil memanggil namanya, tapi Arya tidak menghiraukannya is sudah terlanjur membenci Vidya dengan sangat.