
"Ayah!"
Suara Reilla mengema di seisi rumah, ia berlari kesana dan kemari untuk menjumpai sosok Ayahnya.
Akhirnya langkah kecil Reilla pun berjalan menuju ke arah kamar Ayahnya, ia berfikir pasti Ayahnya saat ini sedang berada di kamar.
Reilla baru saja ingin memanggil Ayahnya lagi namun ia mendengar suara seseorang dari dalam kamar selain suara Ayahnya yang memang sudah sangat dia kenal.
"Aku bilang nggak Mah! Mamah kenapa gk bisa ngertiin aku sih? Aku gk mau nikah lagi! Sampai kapanpun nggak, aku gk butuh pengganti Vidya. Aku bisa membesarkan Rei sendiri, Mamah liat kan buktinya? Sampai saat ini aku bisa menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Rei. Jadi stop jodoh-jodohin aku!"
Itu suara Ayahnya, Reilla jadi tersentak di tempatnya. Sebelumnya Reilla tidak pernah mendengar Ayahnya berbicara dengan nada tinggi seperti itu.
"Mamah cuma khawatir sama kamu! Kamu gk bisa gini terus, kalau nanti Rei tumbuh dewasa dia akan menikah dan ikut suaminya. Lalu kamu? Siapa yang akan mengurus kamu nanti? Rei pasti akan sibuk dengan rumah tangannya kelak, mau sampai kapan kamu akan hidup sendiri seperti ini? Mamah khawatir sama kamu, makannya Mamah berniat jodoh-jodohin kamu dengan perempuan pilihanĀ Mamah tapi hampir semua kamu tolak dan berakhir dengan sia-sia."
Reilla diam mendengarkan, itu tadi adalah suara Omanya yang sudah Reilla yakini sedang bertengkar dengan Ayahnya. Pertengkaran di antara mereka sebenarnya bukan hanya sekali tapi hal itu sudah Reilla dengan sejak lama, dan Reilla juga tau topik yang mereka bahas pasti soal perempuan yang ingin di jodohkan dengan Ayahnya.
Reilla menghela nafasnya pelan, ia menundukkan kepalanya. Dia mulai berfikir, seandainya Ummahnya masih hidup apakah Ayah dan Oma nya itu akan terus bertengkar seperti ini? Seandainya Ummahnya masih ada di sini pasti Ayahnya itu tidak lagi bersedih.
"Cukup Mah! Arya bilang cukup! Mamah gk perlu jodoh-jodohin Arya lagi, Ary udah muak sama perempuan yang Mamah jodohkan itu. Keputusan ku masih sama seperti 5 tahun lalu, aku masih tidak ingin menikah lagi. Aku hanya mencintai satu perempuan saja dan Mamah tau itu."
"Mau sampai kapan kamu terus mencintai perempuan itu? Mau sampai kapan?! Kenapa kamu terus-terusan mikirin dia? Hidup kamu juga perlu berlanjut Arya! Kamu harus ingat, perempuan itu sudah tiada! Dia sudah mati."
Reilla memundurkan langkahnya ketika mendengar suara Omahnya yang ikut meninggi, perlahan air mata menetes mengalir membasahi pipi Reilla. Reilla hanya bisa menangis dalam diam, ia tidak tau harus melakukan apa saat ini.
"Mamah! Raga Vidya memang sudah tiada tapi Mah, kenangannya masih selalu ada di dalam sini. Dia selalu ada bersama Arya," ujar Arya sambil menunjuk tepat ke arah dadanya.
"Terserah kamu, kalau kamu masih mau kerja di kantor keluarga kita. Kamu harus turuti kemauan Mamah, kali ini Mamah akan menjodohkan kamu lagi dan tidak ada penolakkan."
Arya yang mendengar ucapan Mamahnya itu menatap tak percaya, bisa-bisanya Mamahnya itu mengatakan hal seperti itu padanya.
"Oma! Ayah! Cukup ... hiks berhenti."
__ADS_1
Arya dan Mamahnya yang tadi sedang adu argumen pun menjadi diam dan menatap lurus ke arah pintu kamar, di ambang pintu sudah ada Reilla yang berdiri di sana sambil menangis.
Arya yang melihat putrinya menangis pun segera berlari ke arah Reilla, ia langsung membawa tubuh Reilla ke dalam dekapannya.
"Jangan berantem lagi ... hiks, nanti Ummah sedih," bisik Reilla di telinga Arya membuat Arya terenyuh.
"Ayah sama Oma kamu gk berantem kok, kita berdua lagi main salah satu adegan di film. Ya kan Mah?"
"Iya benar sayang, Oma sama Ayah lagi main salah satu adegan di film yang kita tonton tempo hari. Kamu jangan nangis lagi ya? Maafin Oma."
Reilla tau bahwa Oma dan Ayahnya saat ini sedang berbohong, mereka fikir Reilla mudah di bohongi? Nyatanya tidak, Reilla tau segalanya yang sudah terjadi.
"Oma, jangan paksa Ayah menikah lagi. Rei juga gk mau punya Ummah baru kok," ucap Reilla menatap penuh harap pada Oma nya.
Omanya terdiam, lidahnya terasa kelu ketika mendengar ucapan Reilla barusan yang tepat sasaran.
"Oma pulang dulu ya, ada yang harus Oma urus."
Setelah mengatakan itu Mamah Arya pun pergi dari hadapan Arya dan Reilla, Arya menatap putrinya sambil menyungingkan senyuman.
Arya menggambil tangan Reilla yang ada di wajahnya, ia menciumi tangan mugil Reilla dengan sayang.
"Terimakasih," ujar Arya dengan tulus pada Reilla.
"Terimakasih untuk apa Ayah?" Tanya Reilla yang bingung saat Ayahnya tiba-tiba mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih Rei sudah mau mengerti Ayah, terimakasih karna Rei sudah menjadi putri Ayah."
Reilla tersenyum lalu memeluk Arya, Arya membalas pelukkan putri kecilnya itu. Ia bersyukur karna Reilla mampu memahai dirinya, bukannya tidak mungkin bagi Arya untuk menikah lagi karna di luar sana banyak wanita yang mau dengannya walaupun statusnya saat ini adalah seorang duda.
Tapi bagi Arya cintanya hanya untuk Vidya, hanya Vidya yang selama ini membuatnya paham apa arti kehidupan. Hanya Vidya jugalah selama ini yang tetap bertahan menghadapi sifatnya yang cenderung kasar.
__ADS_1
"Bagaimana kue ulang tahunnya sudah jadi?" Tanya Arya yang sudah melerai pelukkannya dengan Reilla.
Reilla hampir lupa, sebelumnya dia mencari Ayahnya karna ingin memberitahu bahwa kue ulang tahun untuk Aksara sudah jadi.
"Rei lupa kasih tau hehe, iya kuenya sudah jadi! Yang buat kue nya Kakak cantik tetanggnya Bi Imah dan Rei juga ikut bantu ngehias kue nya tadi," cerita Reilla pada Ayahnya dengana antusias.
"Oh ya? Wah anak Ayah hebat ya," puji Arya sambil mengusap puncak kepala Reilla.
"Bukan Rei yang hebat, tapi Kakak cantik yang hebat Yah."
Arya hanya tersenyum sambil terus menyimak cerita Reilla, dari cara Reilla bercerita sepertinya putrinya itu tampak sangat bahagia hari ini. Berulangkali Reilla memuji betapa hebatnya Kakak cantik yang telah membantunya membuatkan kue ulang tahun untuk Aksara, Arya jadi penasaran sebenarnya seperti apa sosok Kakak cantik yang Reilla bicarakan itu?
Arya sebelumnya tidak pernah melihat Reilla begitu antusias ketika menceritakan seseorang, bahkan Reilla cenderung kurang akrab jika bersama orang yang baru ia kenal. Tapi Kakak cantik yang Reilla temui ini sepertinya berbeda, lihat saja buktinya Reilla tampak sangat antusias menceritakan sosoknya pada Arya.
"Ah iya Rei lupa lagi, Rei mau siap-siap dulu ya Yah. Nanti antar Rei ke rumah Kak Aksa ya, Rei mau siap-siap dulu. Dah Ayah!" Pamit Reilla yang berlari keluar dari kamar Arya karna ia ingin bersiap-siap untuk mendatangi pesta ulang tahunnya Aksara.
Aksara berjalan ke arah tepian tempat tidur, ia diam dan kembali memikirkan ucapan Mamahnya yang selalu saja berniat untuk menjodohkan dirinya. Arya tidak habis fikir, kenapa Mamahnya begitu terobsesi untuk menjodohkan dia dengan perempuan lain? Padahal Reilla saja cukup bagi diri Arya.
Arya lalu menatap ke arah tembok yang terdapat pajangan figura besar di sana, Arya tersenyum sendu menatapnya.
Di dalam figura besar itu terdapat potret seorang perempuan bercadar dan ada juga potret Arya yang tampak memasang wajah datar.
Itu adalah foto pernikahan Arya dengan Vidya yang di ambil setelah akad nikah mereka di langsungkan, itu adalah kali pertama Arya memulai kehidupan baru bersama Vidya namun dengan bodohnya ia malah menyakiti wanita yang telah tulus mencintainya.
Arya tersenyum sendu ketika mengingat hari pernikahannya dulu, pernikahan yang di adakan tidak begitu meriah karna saat itu Arya yang memang belum memiliki perasaan cinta pada Vidya, di hati Arya saat itu hanya ada dendam saja.
Namun siapa sangka kebenciannya yang amat dalan pada Vidya kini berubah, Arya menjadi sangat mencintai Vidya bahkan saat Vidya tak lagi di sisinya pun Arya merasa bahwa Vidya selalu ada bersamanya.
Vidya selalu ada di sisinya, Vidya abadi di dalam hati dan fikiran Arya. Cinta Arya sudah ia berikan hanya untuk Vidya saja, jadi tidak mungkinkan jika dia mencintai gadis lain selain Vidya?
Arya menghela nafasnya, ratusan permintaan maaf bahkan ribuan atau mungkin lebih selalu Arya ucapkan untuk Vidya. Ia meminta maaf karna hingga akhir hayat Vidya, Arya tidak bisa memberinya kebahagiaan. D
__ADS_1
Dan Arya selalu berharap Vidya akan memaafkan dirinya, jika ada kesempatan yang datang untuknya Arya pasti akan meminta untuk kembali di satukan dengan Vidya. Ia ingin memulai semuanya dari awal seperti dulu lagi bersama dengan Vidya, dan pasti Arya akan sangat mencintai Vidya dan tidak akan pernah menyakitinya.
Namun semua itu mustahil untuk saat ini, semua itu sudah berlalu dan mau tak mau Arya harus bisa menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Arya harus kuat menghadapi kenyataan bahwa memang rsga Vidya sudah tidak lagi bersamanya namun kenangan indah tentang Vidya akan selalu terparti dalam sanubarinya.