Without You

Without You
74. Maaf


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Happy Reading!


-


-


-


-


Arya terlihat sangat antusias mengantarkan Vidya ke rumah sakit.


Saat ini keduanya sedang menunggu di luar bersama dengan para pasien Ibu hamil lainnya yang juga ingin memeriksakan kandungan mereka juga.


Arya menoleh ke kanan dan ke kiri, di lihatnya banyak Ibu hamil yang juga di antar oleh suami mereka.


Arya terdiam lalu menoleh pada Vidya yang sedang mengelus perut nya yang sudah membesar.


Hati Arya terenyuh membayangkan Vidya harus memeriksa kandungannya sendirian, tidak seperti para Ibu hamil yang lainnya.


Arya menghela nafasnya, dadanya terasa sesak karna ia sudah begitu banyak menorehkan luka di hati Vidya.


"Ibu Vidya silahkan masuk," ucap seorang suster yang memanggil nama Vidya.


Vidya pun bangkit dari duduknya namun ia terlihat kesusahan, akhirnya Arya berinisatif mengulurkan tangannya untuk membantu Vidya.


Vidya diam sebentar menatap uluran tangan Arya yang mengarah padanya.


"Sini gue bantu berdiri," ucap Arya yang menjadari keterdiaman Vidya.


Namun Vidya tidak menyambut uluran tangan Arya, dia mencoba berdiri sendiri yang membuat Arya kembali menatap tangannya yang masih menggantung di udara.


Namun Arya kembali sadar saat Vidya sudah melangkah lebih dulu darinya, kemudian Arya pun kembali menyusul Vidya.


"Hari ini Vidya datang dengan siapa?" Tanya dokter Afifah yang baru menyadari kehadiran Arya.


Vidya menoleh sebentar pada Arya lalu ia kembali menatap dokter Afifah yang masih menunggu jawaban darinya.


"Dia ayah dari anak ini," jawab Vidya.


Dokter Afifah nampak terkejut namun ia berusaha terlihat biasa saja saat ini.


"Kalau begitu mari kita mulai pemeriksaannya," ucap dokter Afifah dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya.

__ADS_1


"Apa anda mau dengar suara detak jantung bayinya?" Tanya dokter Afifah pada Arya yang sedaritadi memasang wajah antusiasnya.


Tentu saja pertanyaan dokter Afifah langsung di balas dengan anggukkan kepala oleh Arya.


"Bagaimana apa anda mendengarnya?" Tanya dokter Afifah pada Arya.


Arya terdiam, matanya bahkan sudah meneteskan air mata penuh haru.


Arya sangat senang bisa mendengarkan suara detak jantung anaknya, Arya menatap tak percaya sekaligus takjub dengan apa yang sedang ia dengarkan saat ini.


Vidya yang sudah beberapa kali mendengarkan suara detak jantung anaknya juga ikut menangis haru bersama Arya.


"Apa saya bisa lihat bentuk anak saya saat ini dokter?"


"Tentu saja anda bisa melihatnya, apakah anda mau melihatnya? Bagaimana Vidya apakah boleh?" Tanya dokter Afifah meminta persetujuan Vidya dan di balas anggukkan kepala oleh Vidya.


"Ini adalah kakinya dan itu kedua tangannya."


Arya menatap dengan mata berbinar melihat layar monitor USG yang menampilkan sosok bayinya yang masih berada di dalam kandungan Vidya, ada rasa senang karna ia bisa melihat bentuk anaknya seperti apa saat ini.


"Luar biasa," gumam Arya tak henti-hentinya merasa takjub.


Vidya yang melihat ekspresi wajah Arya tanpa sadar menyungingkan senyumannya, ia melihat betapa antusiasnya Arya yang bertanya pada dokter Afifah tentang bagian tubuh anaknya yang ia lihat.


Bukannya tidak mau memberikan kesempatan ke dua tapi hanya saja Vidya tidak mau menganggu kehidupan Arya lagi, pria itu sudah cukup menderita karna kehadirannya.


Vidya tau semenjak Arya bertemu dengan dirinya, pria itu harus kehilangan adik yang ia sayangi bahkan harus berada di dalam penjara atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat.


Lalu Vidya masuk ke dalam hidupnya menghancurkan hubungannya dengan Siren, dan sekarang saat Arya dan Siren sudah menikah, dirinya pun masih saja terbelengu dalam hubungan antara dua kekasih itu.


Vidya tau bahwa Siren ingin bercerai dengan Arya karna merasa bersalah padanya.


Vidya tidak ingin ada yang terluka lagi karna kehadirannya, Vidya hanya ingin semua orang bisa kembali bahagia.


Tak tera pemeriksaan pun telah usai, setelah berpamitan dengan dokter Afifah. Kini Vidya dan Arya melangkah keluar dari dalam rumah sakit.


Keduanya hanya bungkam dan tak ada yang berbicara sepatah kata pun bahkan hingga mereka masuk ke dalam mobil, keduanya masih tetap diam.


"Kita makan siang dulu."


Vidya menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Arya.


"Gk bisa, saya mau langsung pulang." Jawab Vidya yang menolak ajakkan Arya.


Arya tidak mengatakan apapun, justru ia malah langsung menepikan mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" Tanya Vidya bingung karna Arya tiba-tiba menghentikan mobilnya.


Arya menolehkan kepalanya pada Vidya lalu menatap Vidya dengan lekat.


"Kenapa?" Tanya Vidya yang merasa tidak nyaman di tatap begitu intens oleh Arya.


"Apa kesalahan gue begitu besar?" Tanya Arya secara tiba-tiba.


Vidya mengerutkan dahinya, bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Arya.


"Maksudnya?" Tanya Vidya tak mengerti.


"Apa kesalahan gue begitu besar, sampai lo harus menghukum gue kaya gini? Kalau emang kesalahan gue sama lo begitu besar, gue minta maaf."


Vidya membuang pandangannya ke arah lain menghindari pandangan mata Arya yang terus menatapnya.


"Vidya jawab gue, apa lo begitu terluka karna gue? Kalau memang iya, gue minta maaf. Maaf selama ini gue gk bisa jadi suami yang baik, maaf gue terlalu egois dan gk pernah perduli sama keadaan lo, maaf untuk setiap rasa sakit yang udah gue torehkan di hati lo, maaf untuk segala kesalahan yang udah gue lakuin, gue ... gue sangat menyesal."


Vidya tidak bisa lagi menahan tangisnya, tangisnya pun luruh dan tak bisa ia sembunyikan lagi.


Padahal selama ini Vidya selalu berusaha untuk tetap tegar, selalu berusaha untuk tetap kuat dan tidak terlihat lemah, tapi ia juga manusia bukan? Ia juga punya titik lelahnya juga, dan saat ini Vidya tidak bisa lagi berpura-pura untuk tetap kuat.


"Vidya jangan nangis," ucap Arya yang mengulurkan sapu tangan berwarna biru pada Vidya, Vidya menatap sapu tangan tersebut lalu menggambilnya untuk menghapus air mata yang mentes dari matanya.


"Maaf gue selalu buat lo nangis kaya gini, maaf juga semenjak lo menikah dengan gue, lo gk pernah bahagia."


Plakk


"Gue bodoh!"


Plak


"Gue emang cowok brengsek!"


Vidya mengelengkan kepalanya, tangannya mengenggam tangan Arya yang sedaritadi memukul wajahnya sendiri.


"Kamu gk salah, jangan hukum diri kamu kaya gini ... aku gk mau ngeliat kamu terluka," ucap Vidya yang masih mengenggam tangan Arya.


Arya menangis lalu ia pun segera membawa Vidya ke dalam dekapannya.


Keduanya tidak berkata apapun, namun tangisan keduanya menyiratkan sebuah arti yang selama ini keduanya sulit untuk sadari.


Baik Vidya maupun Arya, keduanya tidak pernah menyadari bahwa mereka berdua memang saling mencintai dan saling melengkapi.


Namun lagi-lagi Tuhan memiliki rencana lain, untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai namun tak pernah bisa menyadari, yang akhirnya hanya bisa saling menyakiti.

__ADS_1


__ADS_2