
Suara petir mulai terdengar nyaring, awan pun sudah mengelap dan tak lama hujan pun turun dengan deras membahasi bumi dan isinya.
Saat ini Vidya sedang memeluk lutunya sendiri sambil terisak, gadis itu sudah berususah payah menahan tangisnya di hadapan Arya namun sekarang di kamarnya ini, ia tak bisa lagi menahan tangisnya yang sedaritadi sudah tak bisa ia bendung.
Suara petir mengelegagar, hujan kali ini sepertinya sangat lebat. Vidya pun bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arah jendela kamarnya. Perlahan tangannya terulur untuk menyingkap tirai kamarnya itu.
Mata Vidya menatap tetesan air hujan di luar, namun saat ia ingin menutup kembali tirai kamarnya, ia melihat sosok seseorang yang berdiri di depan gerbang rumahnya.
Vidya memicingkan matanya supaya bisa melihat jelas orang itu dari balik derasnya rinai hujan, mata Vidya membulat saat ia tau siapa orang yang berdiri di depan gerbang rumahnya itu.
Itu adalah Arya, pria itu sedang berdiri di luar tanpa memperdulikan tubuhnya basah di guyur oleh air hujan yang makin beringas berjatuhan.
"Ngapain dia di sana?" Tanya Vidya pada dirinya sendiri.
Tak mau memikirkan hal lain lagi, Vidya segera keluar dari kamar tak lupa juga ia membawa payung untuk ikut serta bersamanya keluar rumah.
Cklek
Vidya keluar dari rumah dan di sambut gemericik suara air hujan yang berjatuhan, Vidya segera mengembangkan payungnya lalu berlari menghampiri Arya yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Kamu ngapain masih di sini?" Tanya Vidya mengencangkan suaranya agar bisa terdengar oleh Arya.
Saat ini Vidya sudah tiba di depan Arya, ia juga memayungi pria itu dengan payung yang sama yang ia pakai saat ini. Untung saja payung itu cukup besar untuk menampung dua orang sekaligus.
Arya tidak menjawab malah memperhatikan wajah Vidya dengan begitu lekat.
__ADS_1
"Arya?" Panggil Vidya lagi saat menyadari bahwa pria itu tidak merespon ucapan Vidya sebelumnya.
Arya masih diam, ia memandangi Vidya dengan lekat.
"Apa gk ada lagi kesempatan untuk kita bisa bersama kembali Vidya?" Tanya Arya lirih membuat Vidya ikut berkaca-kaca.
"Ini mungkin sudah takdir dari cinta kita Arya, kita di pertemukan bukan untuk saling melengkapi namun hanya untuk menjadi persinggahan sementara saja."
Arya menghela nafasnya, menundukkan kepalanya dan tak lagi menatap mata Vidya.
"Semoga kamu bisa bahagia dengan Syabil, jangan sakiti dia seperti kamu menyakiti aku dan Siren dulu. Jangan lakukan kesalahan untuk yang ketiga kalinya Arya," ucap Vidya lagi menatap Arya dengan sorot mata lembutnya.
"Pulanglah, aku yakin orang di rumah mu pasti mencemaskan dirimu."
"Pergilah Arya, kisah kita sudah berakhir," ujar Vidya lirih dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata.
"Jangan menangis Vidya, kamu tau kan? Aku paling lemah melihat kamu menangis," ucap Arya seraya menghapus air mata Vidya dengan jari-jemarinya.
Vidya agak tersentak mendapatkan perhatian lembut dan penuh perhatian dari Arya, pria itu masih perhatian pada dirinya. Andai Arya seperti ini sebelum masalah rumit ini terjadi, Vidya pasti akan menerima lamarannya tadi namun apa daya Vidya hanya manusia biasa. Ia tidak biss mengubah takdir yang sudah di gariskan oleh Allah untuk dirinya sendiri dan juga untuk Arya.
"Aku pulang, aku akan turuti semua kemauan kamu. Aku akan menikahi Syabil minggu depan, tapi izinkan aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya Vidya," ucap Arya lirih dengan nada penuh permohonan.
Vidya menganggukkan kepalanya pelan, Arya tersenyum ia lalu membawa Vidya ke dalam dekapannya.
Ia memeluk Vidya dengan erat, tanpa sengaja payung yang Vidya pegang terlepas dan alhasi keduanya kini berada di bawah rinai hujan yang deras. Walaupun badan keduanya basah karna terkena air hujan, namun keduanya masih saling mendekap. Menyalurkan rasa rindu, luka, dan kesedihan yang mereka alami selama ini.
__ADS_1
Cinta kadang sulit tuk di tebak, ia mempertemukan dua insan lalu menyatukannya namun terakhir Cinta juga yang memisahkan dan meninggalkan luka di hati yang entah sampai kapan luka itu akan sembuh dengan sendirinya.
Kisah cinta Vidya dan Arya mungkin terlalu pedih untuk di kenang, terlalu banyak air mata di dalamnya namun cinta keduanya tulus hanya saja semesta tak mendukung mereka untuk bisa kembali bersama lagi seperti dahulu kala.
"Terimakasih sudah mengajarkan aku banyak hal Vidya, selamanya kamu akan selalu terparti di dalam ingatan hatiku. Aku merasa bahagia karna pernah memiliki dirimu walau akhirnya seperti inilah yang terjadi pada kita," ucap Arya dengan sorot mata penuh kepedihan.
Arya masih menatap Vidya lekat, begitupun juga Vidya. Keduanya saling bertatapan menyampaikan perasaan mereka yang selama ini tak bisa mereka ucapkan dan memilih tuk di pendam.
"Aku pulang, jaga diri kamu baik-baik ya," ujar Arya sambil menyungingkan senyuman lembut. Tangannya terulur untuk mengusap lembut kepala Vidya untuk yang pertama setelah pertemuan mereka selama lima belas tahun dan juga untuk yang terakhir kalinya sebelum Arya menikahi perempuan lain minggu depan.
"Kamu juga, jaga kesehatan kamu ya. Jangan buat Syabil terluka dan sedih," ujar Vidya sambil membalas senyuman Arya.
Keduanya lalu kembali berpelukkan lagi untuk yang terakhir kalinya, keduanya juga sama-sama menangis. Rasa sesak di dada keduanya semakin bertambah namun apa daya, mereka berdua tak bisa melakukan apapun. Arya juga sudah terikat dengan janji pada Mamahnya, dan Vidya? Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, ia hanya bisa berpasrah dan yakin mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk dirinya dan juga Arya.
"Aku pamit pergi," ujar Arya sambil mengusap lembut kepala Vidya yang di tutupi kerudung.
Vidya mengangguk pelan, ia mendungak untuk bisa menatap wajah Arya yang saat ini sudah basah dengan air hujan.
Pria itu memberikan senyumannya lagi pada Vidya untuk yang terakhir kalinya, setelah itu Arya benar-benar pergi. Meninggalkan Vidya yang hanya bisa meratapi kepergian Arya dengan tatapan nanar, dalam hati Vidya berdoa agar Arya selalu di berikan kesehatan, walaupun Vidya tidak bisa bersama dengannya tapi setidaknya Vidya sudah merasa bersyukur masih di berikan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Arya untuk yang terakhir kalinya.
Vidya mendongakkan kepalanya membiarkan air hujan sore ini membasahi wajahnya, Vidya kembali menangis di bawah rinai hujan di kala senja tiba. Vidya memang menyukai senja namun senja kali ini terasa begitu menyakitkan bagi dirinya.
Senja hari ini sudah menjadi saksi bisu, bahwa kisah cintanya dengan Arya tak bisa lagi ia pertahankan. Mungkin Allah memang mempunyai takdir lain untuk dirinya, maka dari itu Vidya berusaha menerima semua yang terjadi padanya dengan lapang dada. Ia berusaha mengikhlaskan Arya yang mungkin bukan menjadi takdir cintanya, biarlah sekarang yang Vidya fikirkan adalah bagaimana pun caranya Vidya harus tetap bersabar, hidupnya juga harus terus berlanjut walaupun rasanya berat karna tak ada lagi Arya di sisinya. Bayangan wajah Reilla memenuhi isi kepala Vidya, Vidya tersenyum nanar.
Perpisahannya dengan Arya tadi juga adalah perpisahan Vidya dengan putrinya, setelah ini Vidya tidak yakin ia akan bisa bertemu lagi dengan Reilla atau tidak. Walaupun rasa rindu yanga ada di hatinya sudah membara namun Vidya berusaha ikhlas, mungkin Allah memiliki rencana yang lebih indah untuk dirinya dan juga kehidupannya.
__ADS_1