
Tatapan Rayn berubah menjadi tajam saat ia sampai di rumahnya, ia baru saja mengetahui sebuah kebenaran yang membuat dirinya terkejut sekaligus marah saat mendengarnya.
Bagaimana ia tidak marah, ternyata hilangnya Nayya berhubungan dengan Mamahnya. Orang-orang yang menelponnya tadi siang adalah orang suruhan Mamahnya.
Untung saja Rayn berinisiatif untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, jika tidak mungkin ia tidak tau bahwa Mamahnya turut andil dalam kasus hilangnya Nayya.
"Bagaimana? Apa gadis ****** itu sudah kalian amankan?" tanya Mamah Rayn pada para penculik ******** yang telah menculik Nayya.
Mendengar sang Mamah memanggil Nayya dengan sebutan ****** membuat darah Rayn mendidih, ia tidak setuju jika Nayya di panggil seperti itu oleh Mamahnya sendiri.
"Sudah, apa yang harus kami lakukan pada gadis itu selanjutnya?" tanya penculik tersebut.
"Terserah, kalian ingin menidurinya juga tidak apa-apa. Saya tidak keberatan," ujar Mamah Rayn dengan entengnya.
Sudah cukup! Rayn tak tahan lagi mendengarnya, pada akhirnya Rayn memutuskan keluar dari tempatnya bersembunyi sedaritadi.
"Brengsek!" umpat Rayn membuat Mamahnya dan penculik Nayya itu menoleh ke arah Rayn.
"Kamu mendengar semuanya?" tanya Mamah Rayn dengan wajah datarnya membuat Rayn semakin merasa kesal.
"Sialan! Wanita tidak punya hati! Bagaimana mungkin anda memperlakukan wanita lain seperti itu? Apa anda tidak merasa kasihan pada Nayya?!" tanya Rayn dengan mengebu-gebu.
"Tidak punya hati? Apakah kamu juga punya hati Rayn? Bukankah kamu juga seorang pembunuh yang kejam, yang kemarin baru saja menghabisi seorang Ibu dan anaknya? Apa kamu tidak merasa kasihan juga?" tanya Mamah Rayn dengan entengnya.
"Sialan!" umpat Rayn yang tak bisa berkutik lagi melawan Mamahnya yang selalu saja punya segudang opini untuk menyerangnya balik.
"Pergilah, tidak usah ikut campur urusan ini," usir Mamah Rayn yang biasa di panggil oleh para anak buahnya dengan sebutan Madam Bloody.
"Jangan sakiti Nayya," ujar Rayn menatap Madam Bloody.
"Itu yang kau inginkan? Baiklah aku tidak akan menyakiti jalangmu itu tapi aku punya syarat untukmu," ujar Madam Bloody lagi dengan senyuman liciknya.
__ADS_1
"Apa syaratnya?" tanya Rayn dengan mimik wajah seriusnya.
Madam Bloody tak langsung menjawab, dengan wajah datar dan dingin ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Rayn lalu berbisik tepat di telinga Rayn.
"Hamili Keira," bisik Madam Bloody membuat Rayn tersentak di tempat.
"Tidak! Bagaimana bisa? Maksudku, bukannya anda menyuruh saya hanya untuk menikahinya saja tidak lebih dari itu?!" tolak Rayn yang sangat keberatan dengan usul Mamahnya sendiri.
"Terserah, keputusan ada di tanganmu. Waktu yang saya berikan untuk menjawab itu semua hanya seminggu, kamu harus memilih Nayya atau Keira. Keputusan ada padamu son," kata Madam Bloody seraya tersenyum penuh kelicikkan.
Lalu melangkah pergi bersama penculik itu, sementara Rayn masih terpaku di tempatnya berdiri. Rayn mendadak bingung, ia tidak tau mana yang harus ia pilih. Keduanya begitu beresiko, jika ia memilih syarat dari Mamahnya untuk membuat Keira hamil itu artinya ia akan selalu terikat dengan gadis itu. Lalu bagaimana dengan janjinya pada Nayya? Yang hanya akan ada untuk gadis itu selamanya? Tapi jika ia memilih Keira, itu artinya ia harus kehilangan Nayya.
Rayn tidak pernah tau apa yang akan terjadi jika ia memilih salah satu dari dua pilihan tersebut, karna yang Rayn tau Mamahnya adalah wanita licik yang bahkan rela mengorbankan apapun demi tujuannya. Entah apa sebenarnya rencana Mamahnya itu, Rayn tak pernah tau karna Mamahnya terlalu banyak rahasia.
Rayn berdecak kesal, ia mencak-acak rambutnya. Saat ini ia perlu menenangkan dirinya yang kalut, maka dari itu Rayn memutuskan untuk pergi ke rumah Bruno saja. Mungkin ia akan lebih baik di sana.
.........
"Saya bingung harus gimana lagi," ucap Rayn setelah selesai menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Lo pilih aja Keira, enak kok pilihannya gk ribet," celetuk Bruno sambil terkekeh sementara Brana merotasi bola matanya mendengar perkataan saudaranya barusan.
"Aw, lo kenapa nempeleng kepala gue?" tanya Bruno seraya mengusap usap kepalanya yang baru saja di tempeleng oleh Brana.
"Saran gk bermutu," ujar Brana dengan singkat padat dan nyelekit. Brana memang seperti itu, ia terlahir dengan sifat yang berbeda dengan Bruno. Jika Bruno terkenal tak bisa diam sementara Brana cenderung pendiam tak banyak omong tapi sekali berbicara tentu sangat tajam sekali langsung nyelekit ke hati.
"Punya kembaran gini amat," ucap Bruno seraya kembali meneguk minuman alkoholnya.
"Jadi saya harus gimana?" tanya Rayn yang masih bingung yang mana yang harus ia pilih, Keira atau Nayya.
"Ikutin kata hati lo, gue yakin lo pasti tau siapa yang bakalan lo pilih," kata Bruno seraya menepuk-nepuk bahu Rayn. Ia sudah mulai sempoyongan dan hilang kesadaran.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Rayn melihat Brana yang sudah memampah Bruno yang sudah tak sadarkan diri karna terlalu banyak minum.
"Nih, nyusahin," kata Brana seraya menunjuk malas Bruno lalu keduanya pergi ke luar dari kamar tamu, tempat Rayn tinggal malam ini.
"Oeee ... oeee."
Rayn mengalihkan tatapannya ke arah kasur, di sana ada bayi targetnya sedang menangis. Rayn bangkit lalu menghampiri bayi tersebut, ia mengusap lembut kepala bayi itu lalu mengecupnya pelan.
Lalu Rayn kembali teringat perkataan Mamahnya tadi, yang mengatakan bahwa ia harus nenghamamili Keira. Sebenarnya ia tak mengerti, tugas apa yang di berikan oleh target Mamahnya pada dirinya. Dia sudah melaksanakan tugas pertamanya yang di luar kemauan dirinya, yaitu menikahi Keira.
Lalu tugas ke duanya? Ia harus menghamili gadis itu? Dengan menghamili gadis itu Rayn rasa itu akan menjadi masalah besar untuk dirinya, Keira, dan juga Nayya.
Jika Keira hamil, gadis itu pasti akan kehilangan masa depannya begitupun dengan Rayn yang pasti akan kehilangan Nayya. Nayya akan menjauh darinya, sahabat yang sedari kecil selalu bersama dirinya akan pergi dari hidup Rayn dan Rayn tak siap jika itu terjadi.
Hidupnya terlalu pelik, rasanya Rayn sampai lupa bagaimana rasanya bahagia. Tertawa lepas tanpa beban, bersikap normal seperti remaja lainnya bukan menjadi seorang pembunuh bayaran. Ia ingin bebas dari pekerjaan haram ini, tapi sekali lagi Rayn tak bisa.
Bekerja menjadi seorang pembunuh bayaran sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil, ia selalu menjadi boneka Mamahnya yang selalu bergerak di bawah kuasa dan perintah sang Mamah.
Ingin rasanya Rayn menentang, dan ia pernah menentang Mamahnya namun yang Rayn dapatkan hanya siksaan pedih. Mamahnya adalah perempuan yang licik, yang sikapnya tak bisa ia prediksi, karna selalu berubah tiap waktu dan tak menentu.
Rayn menghela nafasnya lagi, lalu mengendong bayi mungil itu agar tak menangis lagi. Di tatapnya bayi itu, muncullah sedikit rasa simpati Rayn pada bayi mungil itu.
Ia sudah sangat berdosa, memisahkan anak dari ayah dan Ibunya. Jika tidak ia bunuh mungkin bayi mungil ini masih merasakan dekapan hangat Ibunya hingga hari ini, namun bagaimana lagi Rayn tak bisa menolak perintah.
"Maaf ...." ucap Rayn lirih seraya menatap lekat bayi tersebut.
"Pasti rasanya kesepian ya? tak punya siapapun di dunia ini," ucap Rayn pada bayi mungil itu yang mulai tenang.
Bayi itu menatap Rayn yang juga sedang menatapnya.
"Maafkan saya, saya memang kejam. Tapi apa boleh buat itu tugas saya, jika besar nanti kamu akan tau. Betapa kejamnya dunia ini, saat kita ingin melawan dan memberontak namun tak bisa rasanya begitu menyiksa," ujar Rayn tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya.
__ADS_1
Bayi itu masih menatap Rayn, lalu senyuman tersunging di wajah mungilnya membuat Rayn terkesima seperkian detik. Ada rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya saat melihat bayi itu tersenyum, ada sesuatu yang menyentuh relung hatinya namun Rayn tak tau apa namanya itu yang Rayn tau bahwa rasa itu tak pernah ia rasakan sebelumnya.