Without You

Without You
7. Kebimbangan


__ADS_3

Aku menatap ke arah Alleta dan Siren yang terlihat sangat dekat,kedua nya sedaritadi saling bercengkrama tak seperti saat dengan ku,saat bersama Siren,Alleta begitu bahagia dan ramah.


Sementara Arya? Pria itu sedaritadi hanya diam,namun Siren terus membujuk nya seperti saat ini,Siren sedang menyandarkan kepala nya di pundak Arya.


"Maaf kan aku." Ujar Siren,Arya pun terlihat menghela nafas nya ia menghentikan laju mobil hanya untuk menatap wajah Siren,Arya tersenyum menatap Siren ia mengulurkan tangannya menangkup pipi Siren.


"Aku tak bisa marah lama dengan mu." Ujar Arya yang nampak sangat hangat pada Siren dan berbanding terbalik jika sedang bersama ku.


"Aku tau,karna kau begitu mencintai ku kan?" Tanya Siren dan Arya pun mengangukkan kepala nya ia mencium dahi Siren,tepat di hadapan ku.


Astagfiruallahaladzim,rasa nya jika aku punya jurus menghilang aku ingin segera hilang saja saat ini. Meskipun aku selalu di buat kesal oleh Arya,tapi entah kenapa melihat dia tersenyum dan bercengkrama bersama Siren di hadapan ku membuat sudut lain di hati ku terasa sakit.


"Ini ambil." Aku menatap Arya yang menyerahkan sejumlah uang ke arah ku.


"Untuk apa?" Tanya ku menatap Arya dan uang itu bergantian.


"Ongkos buat lo,lo pulang naik taksi aja,gue ada perlu sama Siren."


"Apa? Naik taksi?" Tanya ku hanya untuk memastikan bahwa aku tak salah dengar.


"Ck,lo budek ya? Gue bilang lo pulang naik taksi sana,gk usah manja!" Ujar nya dengan nada sinis,aku menghela nafas ku mencoba untuk tetap bersabar.


"Baik,tapi maaf saya masih punya uang untuk membiayai ongkos taksi,ini uang anda saya kembalikan." Ujar ku menyerahkan uang tersebut pada Arya lalu setelah itu aku segera keluar dari mobil.


Tega sekali dia menunrunkan ku di jalanan,padahal tadi dia yang mengajak ku untuk pergi,aku menatap mobil Arya yang sudah pergi menjauh.


Kemudian aku mulai melihat sekitar ku,tak ada tanda-tanda keberadaan taksi di sini,jalanan ini terkesan sangat sepi namun tak lama ada sebuah mobil berhenti di hadapan ku membuat ku bertanya-tanya,apakah itu mobil penculik? Atau apa? Ya Allah lindungi hamba mu ini.


"Loh? Vidya?" Aku terkejut ketika kaca mobil tersebut terbuka dan menampilkan wajah seorang pria,ya pria itu adalah Barga.


"Assalamu'alaikum Barga."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam,kamu sedang apa di pinggir jalan begini?" Tanya Barga pada ku,tau tidak bagaimana perasaan ku saat ini? Aku merasa tak enak bertemu dengan Barga lagi setelah aku menolak perjodohan dengan nya.


"Itu saya...saya lagi nunggu taksi untuk pulang hehe." Aku tertawa cangung,Barga menganggukkan kepala nya.


"Kalau begitu ikut dengan ku saja,aku anter kamu ke rumah."


"Eh? Gk usah Barga,saya nunggu taksi aja."  Aku menolak ajakkan Barga,namun seperti nya dia nampak gigih ingin mengantar ku pulang,akhir nya aku pun mau tidak mau menurut saja dari pada harus terdampar di pinggir jalan menunggu taksi yang entah sampai kapan akan lewat.


"Aku dengar kamu akan menikah ya?" Tanya Barga yang memecah keheningan,aku hanya menganggukkan kepala ku saja karna merasa tak enak lagi pada Barga.


"Selamat ya,aku yakin siapapun dia yang mendapatkan mu dia orang yang beruntung,karna akan memiliki istri sebaik diri mu." Ujar nya,aku mengangkat kepala ku menatap Barga dari kaca dashboard mobil,aku melihat Barga tersenyum getir.


"Maaf..." lirih ku akhirnya hanya kata itu yang bisa aku ucapkan pada Barga.


"Maaf untuk apa? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun."


"Maaf karna sudah menolak perjodohan itu,maaf sudah membuat mu kecewa." Mengatakan itu pada Barga membuat ku ingin menangis saja rasa nya.


"Kamu tidak salah kok,mungkin kita memang belum di takdirkan untuk berjodoh,saat ini aku juga sedang belajar untuk mengikhlaskan mu." Perkataan Barga barusan membuat air mata ku menetes juga.


"Sudah sampai nona." Ujar Barga yang mencoba untuk menghibur ku,aku tersenyum di balik cadar ku.


"Terimakasih banyak atas tumpangannya." Barga menganggukkan kepala nya,aku menawari nya untuk mampir namun ia bilang lain kali saja karna ia sedang banyak pekerjaan di kantor,aku mengangguk maklum,mobil Barga sudah pergi dan aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalan Vidya,loh sudah pulang? Gimana semua nya sudah beres? Di mana calon suami mu? Gk mampir dulu?" Umi langsung memberondongi ku dengan berbagai pertanyaan.


"Alhamdulillah semuanya sudah beres,tadi dia bilang ada urusan penting jadi gk bisa mampir mi."


"Dia? Sayang kalau manggil calon suami tuh yang sopan,dia kan punya nama sayang,nama nya kan Arya." Aku membulatkan mata ku,jadi umi sudah tau nama nya? Apa memang hanya aku yang tak tau nama nya? Ya ampun calon istri macam apa aku ini nama calon suami sendiri tidak tau,Astagfiruallah.

__ADS_1


"Maaf mi,umi Vidya mau istirahat ke kamar dulu ya mi." Ujar ku pamit pada umi,dan umi pun mengizinkannya.


Aku melepas cadar ku,lalu memilih untuk merebahkan diri  di atas kasur. Fikiran ku melayang pada Arya,pria aneh itu yang nanti akan menjadi suami ku,yang bahkan sampai saat ini masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang nya. Tentang dia yang kenapa begitu bersikeras ingin menjadikan ku istri nya,tentang hubungannya dengan perempuan bernama Siren itu yang terlihat begitu mesra,dan segala hal yang berkaitan dengan nya yang belum aku ketahui.


Aku berfikir mungkin seiring berjalannya waktu nanti aku akan tau semua tentang nya,namun yang sampai saat ini menganggu fikiran ku adalah kenapa dia begitu bersikeras menginginkan ku menjadi istri nya padahal di awal pertemuan aku dengannya, yang aku tau dia terlihat tak begitu menyukai ku bahkan sampai saat ini. Apakah aku harus bertanya langsung pada nya? Tapi apakah boleh?.


Drttt


Di saat aku sedang bimbang sebuah telpon masuk ke gawai ku,telpon itu dari seseorang yang sedaritadi menjadi sumber kebimbangan ku,ya siapa lagi kalau bukan Arya.


"Assalamu'alaikum." Ujar ku mengawali pembicaraan.


"Ya,Gue mau bilang kalau semua persiapan pernikahan sudah hampir rampung,dan desain undangannya juga sudah jadi,nanti lo tinggal kirim nama-nama orang yang mau lo undang."


"Oke baiklah,nanti saya akan kirim nama-nama orang yang akan saya undang."


"Ya udah,gue cuma mau nyampein itu."


"Eh tunggu! Jangan di tutup dulu telponnya." Ujar ku yang panik ketika Arya ingin mengakhiri panggilannya.


"Kenapa?" Aku menghembuskan nafas ku mencoba menenangkan diri ku terlebih dahulu.


"Ada yang ingin saya tanya kan."


"Tentang?"


"Perihal kenapa anda hmm... maksud nya kamu begitu bersikeras mau menjadikan saya istri kamu?" Aku tak mendengar suara Arya dari sebrang sana namun aku tau dia  mendengarkan ucapan ku barusan.


"Karna oma gue tertarik sama lo." Aku mengerenyitkan dahi ku bingung,oma nya tertarik padaku? Maksudnya Arya apa?


"Maksud kamu?"

__ADS_1


"Ck,kalau lo mau tau lebih jelas nya temuin gue nanti malam di Kafe tempat lo kerja,gue bakalan jelasin semua nya."


"Oke,nanti malam saya akan datang,terimakasih dan Assalamu'alaikum" ujar ku namun tak ada balasan karna Arya segera mematikan panggilannya,akhirnya nanti malam aku akan mendapatkan jawaban dari beberapa pertanyaan, aku harap Allah selalu memudahkan setiap langkah ku.


__ADS_2