
Sudah hampir satu jam lamanya Rayn menunggu dokter yang memeriksa Keira keluar dari ruangan UGD, saat ini yang Rayn lakukan adalah berharap agar sesuatu yang buruk tidak menimpa Keira dan semoga keadaan gadis itu baik-baik saja.
Rayn menyandarkan punggunya pada tembok rumah sakit, ia menghembuskan nafas pelan lalu perlahan menutup kedua matanya sampai akhirnya ia membuka kedua matanya kembali saat mendengar suara pintu UGD yang terbuka.
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Rayn yang sudah berada di depan dokter yang tadi menangani Keira.
"Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya hubungan pasien dengan anda apa ya?" tanya dokter tersebut.
"Saya suaminya pasien, bagaimana keadaan istri saya saat ini dokter?" tanya Rayn yang sudah tak sabar ingin mendengar kabar mengenai keadaan Keira saat ini.
"Sakit perut yang pasien alami itu karna pasien mempunyai penyakit usus buntu yang sudah lumayan parah dan harus di ambil tindakkan operasi sesegera mungkin," jawab dokter tersebut memaparkan keadaan Keira saat ini.
Mendengar hal itu Rayn semakin bertambah khawatir, bagaimanapun juga Keira saat ini sudah menjadi istrinya dan itu artinya Keira adalah tanggung jawabnya mulai saat ini.
"Tapi sebelum menggambil tindakkan operasi kami harus meminta persetujuan dari anda selaku suami dari pasien, apakah pasien di perbolehkan menggambil tindakkan operasi atau tidak nantinya."
Rayn diam, ia sedang berfikir apakah dirinya harus menyetujui operasi usus buntu Keira atau tidak.
"Apakah saya boleh bertemu istri saya terlebih dahulu dok?" tanya Rayn.
"Tentu silahkan saja," jawab dokter tersebut. Lalu setelah Rayn mengucapkan terimakasih ia segera masuk ke dalam ruangan UGD untuk menemui Keira.
"Keira," ucap Rayn pelan saat melihat Keira yang masih terbaring di brankar rumah sakit dengan raut wajah yang menyiratkan rasa sakit.
"Rayn ... sa ... sakit," ujar Keira saat dirinya sudah melihat sosok Rayn.
"Saya ada di sini Kei, kamu tenang saja ya. Semuanya pasti akan baik-baik saja," bujuk Rayn berusaha menyemangati Keira yang tengah kesakitan.
Jujur saja melihat Keira yang kesakitan seperti ini entah kenapa membuat Rayn menjadi ikut pilu juga jadinya, tangan kanan Rayn tergerak mengusap kepala Keira sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk mengenggam tangan kanan Keira.
"Do ... dokter nyuruh gue buat o ... operasi Ra ... Rayn," kata Keira dengan tersendat-sendat.
"Iya saya tau, kamu mau kan di operasi? Agar penyakit kamu bisa sembuh Kei," ujar Rayn yang mengencangkan genggaman tangannya pada tangan Keira.
"Ta ... tapi gue takut," cicit Keira dengan mata yang berkaca-kaca terlihat jelas bahwa dirinya memang benar-benar ketakutan.
"Kamu tenang saja, gk ada yang perlu kamu takutkan. Semuanya akan baik-baik saja, percaya sama saya Kei," ucap Rayn berusaha meyakinkan Keira yang ketakutan.
Keira mendengus dan kemudian menimpali ucapan Rayn.
"Pe ... percaya sama lo, mu ... musyrik," ucap Keira yang berhasil membuat Rayn menyungingkan senyuman tipis.
"Jadi kamu mau kan di operasi?" tanya Rayn memastikan keputusan final Keira.
"Umm, gue mau," jawab Keira pada akhirnya.
Rayn tersenyum, ia masih mengelus puncak kepala Keira dan kembali mengencangkan genggaman tangannya pada tangan Keira.
__ADS_1
"Semangat Keira! Saya yakin kamu pasti bisa!" ucap Rayn memberikan semangat pada Keira dengan mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya ke udara.
"Umm, makasih tapi ...." Keira menggantung ucapannya membuat Rayn penasaran jadinya.
"Tapi apa?"
"Tapi selama gue di operasi lo jangan tinggalin gue ya, awas kalau lo ninggalin gue," ujar Keira yang mendadak menjadi galak lagi namun mendapat ancaman seperti itu dari Keira tak membuat Rayn ketakutan ia malah merasa gemas dengan gadis itu, bisa-bisanya Keira mengancamnya padahal kondisi gadis itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Siap Ratu, laksanakan," sahut Rayn sambil memasang gerakkan hormat membuat Keira mendengus geli.
Lalu tak lama pintu ruang UGD pun terbuka, seorang suster masuk ke dalam, menghampiri Keira dan juga Rayn.
"Permisi, saya ingin bertanya apakah sudah ada keputusan terkait penindak lanjutan untuk proses pengobatan pasien?" tanya suster tersebut pada Rayn.
"Iya sudah, saya memberi izin operasi untuk istri saya," jawab Rayn dan tentu saja terdengar oleh Keira membuat gadis itu agak terkejut juga saat Rayn menyebut dirinya dengan sebutan istri saya.
"Baik, kalau begitu operasi akan di laksanakan dua jam lagi ya. Jadi harap menunggu terlebih dahulu, dan anda bisa ikut saya untuk mengisi prosedur yang di butuhkan untuk operasi pasien."
Rayn mengangguk, sebelum pergi ia menoleh pada Keira dan kembali mengepalkan tangannya pada Keira.
"Semangat! Kamu pasti kuat!" ujar Rayn dan di balas senyuman serta anggukkan kepala oleh Keira lalu setelahnya Rayn benar-benar pergi bersama suster itu untuk mengurus segala prosedur yang di butuhkan.
"Ternyata dia gk seburuk dugaan gue," ucap Keira seraya tersenyum tipis menatap pintu ruangan UGD yang baru saja tertutup.
...........
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, namun Rayn masih tetap terjaga. Saat ini ia sedang menunggu operasi usus buntu Keira selesai, walaupun terkadang rasa kantuk menyerang namun Rayn berusaha tetap terjaga sesuai ucapannya pada Keira bahwa ia akan menunggu operasi Keira sampai selesai.
"Alhamdulillah operasi pasien berjalan dengan lancar," ujar dokter yang menanggani operasi Keira membuat Rayn menghembuskan nafas lega mendengarnya.
.......
Keira belum juga membuka matanya, padahal Rayn selalu setia menemaninya walau rasa kantuk berkali-kali melanda pemuda berparas tampan itu.
Rayn pun akhirnya tak bisa menahan rasa kantuknya, ia kemudian tertidur di tumpuan tangannya.
Saat Rayn mulai terlelap dalam mimpi, Keira membuka kedua matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya lampu yang ada di ruangannya saat ini.
Kepala Keira menoleh ke samping kirinya, ia mendapati Rayn yang sudah tertidur lelap. Keira tersenyum melihat Rayn yang tidur di sampingnya, pria itu benar-benar menepati janjinya bahwa dia akan menunggu Keira hingga selesai operasi bahkan sampai tertidur pulas seperti sekarang ini.
"Pasti dia ngantuk nungguin gue," ucap Keira dengan suara paraunya.
Keira diam memandangi wajah Rayn yang sedang tertidur pulas, wajah itu rasanya Keira pernah melihat wajah Rayn sebelumnya namun ia lupa di mana ia pernah melihat Rayn. Bukan, bukan di sekolah namun jauh sebelum itu Keira seperti sudah pernah melihat wajah Rayn tapi ia tak ingat dengan jelas di mana dirinya pernah bertemu dengan Rayn.
"Hnn, udah bangun?"
Saat Keira sedang berusaha mengingat-ingat kapan dirinya pernah bertemu dengan Rayn sebelumnya, ia di kagetkan dengan suara seseorang yang rupanya adalah Rayn.
__ADS_1
"Udah," jawab Keira singkat sementara Rayn merubah posisinya menjadi duduk dengan tegak.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Masih ada yang sakit tidak?" tanya Rayn menatap khawatir Keira.
"Hah? Apanya?" tanya Keira yang ternyata baru tersadar sepenuhnya dari lamunan.
"Kamu lagi ngelamunin apa? Saya tadi tanya gimana keadaan kamu sekarang?" ujar Rayn mengulang pertanyaan yang ia tanyakan pada Keira sebelumnya.
"Iya, udah mendingan tapi masih agak ngilu di bagian perut," jawab Keira sambil meringis saat ia menyentuh perutnya.
"Istirahatlah lagi, semoga cepat sembuh ya," ucap Rayn tulus dan di balas anggukkan oleh Keira.
"Lo masih ngantuk ya? Kalau masih ngantuk tidur aja lagi," kata Keira saat melihat mata Rayn yang memerah.
"Tidak lagi, percuma saja saya paksa tidur tapi kalau pada akhirnya tetap tidak bisa tidur juga."
"Kenapa tidur lo gk nyeyak?" tanya Keira yang bingung dengan ucapan Rayn.
"Karna saya terus merasa khawatir pada kamu, setiap kali saya menutup mata saya selalu terbayang kamu. Saya takut jika saya tidur dan kamu kesakitan lagi, saya tidak bisa menepati janji saya," jawab Rayn membuat Keira menganggukkan kepalanya. Padahal sebelumnya Keira mengira jika Rayn benar-benar mengkhawatirkannya nyatanya hanya untuk menepati janji pria itu padanya.
"Perut gue laper, mau makan seblak," ujar Keira tiba-tiba membuat Rayn terkejut mendengarnya lalu reflek menjitak kepala Keira membuat Keira mengaduh.
"Lo kenapa mukul kepala gue sih?" tanya Keira sambil mengusap kepalanya yang tadi di jitak oleh Rayn.
"Lagian kamu nakal, sudah tau baru selesai operasi sudah minta makan seblak. Ya saya jitak lah, biar kamu kapok," jawab Rayn dengan tampang seriusnya seperti seorang Ayah yang mengomeli anaknya yang nakal.
"Pfttt ... lo ada-ada aja deh, gue kan bukan anak kecil. Di jitak doangan mah gk mempan," sahut Keira sambil memeletkan lidahnya, meledek.
"Oh, begitu ya?"
"Iya," jawab Keira dengan muka tengilnya membuat Rayn tersenyum penuh arti.
"Kenapa senyum lo kaya gitu? Mikir jorok ya lo?!" tuding Keira membuat Rayn memberikan jitakkan yang ke dua kalinya.
"Kalau kamu nakal, gk akan saya jitak lagi tapi ...." Rayn sengaja menjeda perkatannya lalu menatap Keira dengan ekspresi misterius.
"Tapi apa? Lo mau jewer gua gitu?" tanya Keira dan Rayn jawab dengan gelengan kepala.
"Lah terus apa hukumannya?"
"Kalau kamu nakal lagi, saya akan ...."
Rayn menjeda perkatannya, lalu bangkit dari duduknya dan mencondongkan badan ke depan hingga hampir mendekati wajah Keira, membuat Keira kaget dengan tingkag Rayn yang bahkan jarak Rayn dan wajahnya hanya berbeda tipis.
"Kalau kamu nakal lagi saya akan cium kamu sampai kehabisan nafas," ancam Rayn dengan suara deep nya yang membuat Keira menelan salivanya kasar.
"Mi ... minggir lo!" ujar Keira seraya mendorong dada bidang Rayn agar menjauh darinya.
__ADS_1
Keira mendengus sebal saat melihat ekspresi di wajah Rayn yang seolah-olah mengatakan bahwa Keira tak akan bisa nakal lagi padanya.
Namun yang Keira lebih perdulikan saat ini bukanlah wajah Rayn melainkan detak jantungnya yang berdetak di ambang normal, membuat Keira bertanya-tanya sebenarnya apa yang sudah terjadi pada dirinya saat ini?