Without You

Without You
54. Hilang (2)


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Suasana malam ini semakin terasa begitu menegangkan bagi Vidya.


Terlebih lagi mobil yang membawanya itu sudah memasuki area hutan dan jauh dari jalan raya, membuat Vidya semakin merasa takut.


Ia sudah menangis sedaritadi namun ia berusaha untuk tetap diam, jika ia tidak diam peluru yang ada dalam pistol yang tertodong ke arahnya itu dipastikan akan melukai dirinya dan juga bayinya.


Doa senantiasa Vidya panjatkan dalam hati, memohon perlindungan Allah agar dia dan bayinya bisa selamat dan bisa kembali pulang ke rumah dengan baik-baik saja.


Ckittt


Suara decitan rem mendadak memekakkan telinga, pungung Vidya pun sampai terdorong ke depan untungnya Vidya berpegangan jadi ia tidak terebentur kursi mobil di depannya.


"Turun cepetan!"


Vidya kembali berjengit kaget, ketika pintu mobil di sampingnya terbuka menampilkan sosok penculik itu yang masih tidak bisa di lihat wajahnya.


Penculik itu menodongkan pistol ke arah Vidya, ia menyuruh Vidya untuk keluar dari mobil secara perlahan.


"Lo keluar dan pindah duduk di depan, cepet! Jangan coba-coba lari, kalau lo lari dan kabur, gue gk akan segan-segan nembak lo."


Vidya pun menganggukkan kepalanya, dengan badan bergetar ia keluar dan turun dari mobil.


Berjalan perlahan dan masuk ke kembali ke dalam mobil, namun kini ia tidak lagi duduk di bangku belakang, melainkan di bangku samping kemudi.


Setelah menutup pintu mobil, penculik itu pun masuk juga ke dalam mobil dan duduk di samping Vidya.


Ia menoleh ke belakang, terdengar suara mobil yang sedaritadi membuntuti mobil penculik itu.


Tanpa menunggu lama penculik itu langsung mengendarai mobilnya dengan kencang.


Jantung Vidya kembali berdetak dengan kencang, jalanan yang ia tempuh terasa begitu terjal terlebih lagi hujan mulai turun.


Suasana gelap, penerangan seadanya yang berasal dari lampu mobil lah yang menerangi perjalanannya.


Ketakutan kembali menghampiri Vidya, berdoa itulah yang bisa ia lakukan saat ini.


Tin tinn


Suara klakson yang berasal dari mobil yang sedaritadi membuntuti mobil yang Vidya kendarai, mengema membuat si penculik menjadi kesal mendengarnya.

__ADS_1


Penculik itu membuka sedikit kaca mobilnya, ia terlihat sedang mengisi pistor miliknya dengan peluru.


Vidya hanya bisa mengamati dalam diam, enggan berbicara apapun karna ia takut nyawanya terancam.


Dor dor dor


Suara tembakan tiga kali itu terdengar memekakan telinga dan memecah keheningan malam.


Penculik itu berusaha menembaki mobil di belakang, agar tidak lgi mengikutinya namun sepertinya mobil itu enggan untuk berhenti mengikuti.


Penculik itu geram, ia kembali mengeluarkan pistol dari kaca mobil, menembakkannya lagi ke arah mobil di belakang yang sangat menganggu dirinya.


Tembakan kali ini berhasil membuat roda depan sebelah kanan mobil di belakang tertembak, dan sempat kehilangan kendali namun tak lama karna mobil itu masih terus melaju, mengikuti.


"Mau main-main rupanya dia." Ucap penculik itu dengan suara beratnya membuat Vidya merinding.


Dor dor


Suara tembakkan kembali terdengar lagi, namun bukan berasal dari si penculik melainkan dari mobil belakang.


"Dia punya pistol juga rupanya." Ucap penculik itu, ia kembali menutup kaca mobil lalu mempercepat laju kendaraannya.


Suara tembakkan kembali terdengar, mobil yang di tumpangi Vidya pun sedikit oleng ke kanan karna ternyata tembakkan berhasil mengenai roda belakang mobil.


Penculik itu geram bukan main, ia pun membalas perlakuan yang sama pada mobil yang telah menyerangnya.


Aksi tembak-menembak pun tak lagi bisa terelakkan, suasana malam yang tadinya sepi dan mencekam.


Kini terasa riuh dengan suara tembakkan yang saling bersahutan, namun suasana mencengkam semakin terasa.


"Argggg." Si penculik itu mengerang, rupanya peluru berhasil mengenai bahunya.


Dengan kecepatan penuh si penculik kembali membawa mobil untuk melaju, namun percuma saja karna jalanan di hutan ini begitu terjal karna di timpa hujan.


Vidya melindung perutnya, ketika mobil mulai terasa berguncang akibat jalanan yang sangat terjal.


"Pelan pelan!" Teriak Vidya pada penculik itu, namun penculik itu malah membentak dan menyuruhnya untuk tetap diam.


Aksi baku tembak yang tadi sempat terhenti kini kembali berlanjut.


Vidya menutup kedua telinganya yang terasa pengang mendengar bunyi tembakkan yang saling bersahutan itu.


Vidya meringis terlebih ketika ia merasakan perutnya mulai terasa sakit.


Rupanya bayi di dalam perut Vidya sedang menendang, Vidya meringis merasakannya.


Sabar sayang, Ummah pasti akan selalu melindungi kamu.-ucap Vidya dalam hati.


Ckitttttttt


"Tidakkk! Awas! Awas!" Vidya memekik begitu kencang, saat mobil yang ia naiki ini oleng dan terhempas ke arah kanan keluar dari jalur.


Jalanan yang licin membuat mobil ini tak terkendali.

__ADS_1


Vidya sudah berteriak dan menangis histeris ia ingin keluar namun tidak bisa.


Brakkk


Vidya meringis merasakan bahunya yang sakit, karna mobil yang di kendarainya membentur pohon.


"Tidak! Jangan! Kamu mau kemana?!" Teriak Vidya saat penculik itu membuka pintu mobil sampingnya lalu menjatuhkan diri ke sisi jalan.


Belum sampai di situ saja, mobil kembali terseret dan tergelincir.


Dan yang lebih menakutkannya lagi di depan sana ada sebuah jurang yang begitu terjal.


Vidya mengelengkan kepalanya kuat, air mata sudah menetes di pipi semakin deras.


Vidya menjerit, ia sudah memeluk perutnya dengan pasrah, ia tidak tau harus berbuat apa saat ini, sedangkan di depan sana sudah ada jurang yang menanti.


"Tidak!" Vidya berteriak kencang saat ia merasakan sesuatu mendorong tubuhnya dengan begitu kencang.


Vidya merasa dirinya terjatuh, terjerembab ke tempat yang lembab.


Tubuhnya terasa sangat sakit, Vidya meringis saat kepalanya  terbentur dengan batu.


Nafas Vidya terengah-engah, di bawah derasnya air hujan Vidya merasakan seluruh badannya mati rasa.


Perlahan tangannya bergerak menyentuh permukaan perutnya.


Vidya menteskan air mata, ketakutan kembali menyelimutinya.


Sakit di tubuhnya tidak begitu ia hiraukan, yang ia khawatirkan adalah kandungannya saat ini.


Vidya mengelengkan kepalanya saat ia tidak merasakan tendangan, ataupun pergerakkan dari bayi di perutnya.


"Tidak....hiks...tidak....Tidak!" Vidya berteriak dengan histeris, ia menangis tergugu, meronta-ronta dan merasa takut.


"Sayang...hiks...sayang Ummah, kamu baik-baik aja kan nak? Hiks...sayang!" Vidya berteriak, menangis tergugu di bawah derasnya air hujan di malam yang gelap.


Ia tidak pernah membayangkan ini akan terjadi pada dirinya, semuanya terjadi dengan begitu cepat ia bahkan tak bisa mengelaknya.


Tangis Vidya semakin menderu, dan terdengar begitu memilukan tatkala ia tidak merasakan pergerakkan yang berarti dari dalam perutnya.


Rasanya menyakitkan, benar-benar sangat menyakitkan untuk di rasakan.


"Vi...Vidya!"


Vidya menolehkan kepalanya, dengan mata yang sembab ia melihat sosok seseorang yang begitu ia kenal sedang berjalan tertatih-tatih ke arahnya.


Vidya tidak menghiraukannya, yang ia fikirkan hanya anak yang ada dalam perutnya ini yang masih tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya.


"Vidya."


Vidya kembali menangis, panggilan dari orang itu tak lagi Vidya hiraukan.


Vidya merasa dirinya hancur, bahkan sebelumnya ia belum pernah merasa sangat hancur seperti saat ini.

__ADS_1


Di bawah derasnya air hujan dan gelapnya malam, tangis Vidya mengema.


Tangisan seorang Ibu yang mengkhawatirkan kondisi anak yang ada di dalam perutnya, yang saat ini masih belum ada pergerakkan sama sekali.


__ADS_2