
Rayn mengerang merasakan perih dipunggungnya, perlahan ia mulai membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat setelah membuka mata adalah pepohonan yang begitu lebat di sekelilingnya.
Rayn mengerenyit, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang sudah bersinar terang.
"I ... ini dimana?" tanya Rayn pada dirinya sendiri.
Rayn kemudian berusaha bangkit dari posisi sebelumnya menjadi duduk bersandar pada salah satu pohon, Rayn berusaha menguasai diri sebisa mungkin ia berusaha untuk tetap membuka matanya walaupun kepalanya terasa sangat sakit.
"Keira?" di tengah rasa sakit samar-samar Rayn melihat sosok Keira, namun saat ia memejamkan matanya sebentar dan membukanya kembali sosok Keira yang sebelumnya ia lihat telah hilang.
"Ternyata cuma halusinasi," ujar Rayn sambil mengelengkan kepalanya berusaha mengusir bayang-bayang tentang Keira.
"Luka tembak ini sepertinya sangat dalam, gimana caranya saya bisa pulang jika kondisi saya seperti ini?" Rayn menghela nafas pasrah, ia tak tau harus bagaimana saat ini terlebih lagi luka tembak dipunggungnya yang masih terasa begitu nyeri.
"Tolong!" Teriak Rayn pada akhirnya, Rayn tidak tau apakah ada orang atau tidak di dalam hutan lebat seperti ini. Namun tidak ada salahnya kan berusaha terlebih dahulu? Maka dari itu Rayn kembali berteriak meminta pertolongan dengan harapan akan ada seseorang yang datang dan membantu dirinya.
"Bener ini teh orang bukan jurig."
Rayn yang sudah dalam kondisi setengah sadar berusaha membuka kedua matanya saat mendengar suara orang lain selain dirinya.
"Tolong ... tolong saya," ucap Rayn dengan suara yang parau.
"Ayo atuh kita tolong, kayanya emang si ujang ini lagi butuh pertolongan." Rupanya ada tiga warga desa setempat yang datang menghampiri Rayn, tanpa fikir panjang lagi mereka segera menolong Rayn dan membawa Rayn ke luar dari hutan.
"Dia luka, sepertinya harus segera dibawa ke rumah sakit," usul salah satu warga tersebut.
"Bawa saya pulang," kata Rayn yang hampir hilang kesadaran namun sebisa mungkin Rayn menguatkan diri. Ia harus tetap sadar hingga sampai ke rumah nanti.
"Pulang? Rumah kamu teh dimana? Biar kita antar nanti."
Akhirnya Rayn pun diantar pulang oleh warga desa menggunakan mobil milik Bapak kepala desa, walaupun punggungnya semakin terasa sakit namun Rayn masih bisa memberikan petunjuk arah menuju rumahnya.
[]
"Alhamdulillah akhirnya Hana tidur juga," ucap Keira yang baru saja selesai menidurkan Hana. Bayi mungil itu baru saja terlelap setelah hampir satu jam lebih menangis dan Keira tentu saja sangat kewalahan namun Keira tetap berusaha menenangkan Hana yang menangis.
__ADS_1
Ting tong ting tong
Keira pun segera bangkit dari duduknya dan berlari ke luar dari kamar saat mendengar suara bel pintu rumahnya berbunyi.
Cklek
"Rayn!" seru Keira saat pertama kali setelah membuka pintu ia melihat sosok Rayn yang sudah terkulai lemas tak berdaya.
"Ayo pak silahkan masuk," ujar Keira membukakan pintu agar Rayn dan dua orang yang bersamanya itu bisa masuk.
"Suami Ibu tadi kami temukan sudah terluka seperti ini di dalam hutan, tadinya kami mau membawa suami ibu ke rumah sakit tapi suami Ibu malah nolak dan minta di antar pulang saja," jelas Pak kepala desa yang kebetulan juga ikut mengantar Rayn ke rumah.
"Astagfiruallahaladzim, terimakasih banyak ya Pak sudah mengantarkan suami saya pulang," ujar Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Pak Kades dan satu orang warga lainnya yang juga ikut mengantar Rayn pulang, lalu setelah itu keduanya pun pamit pulang.
Keira segera menghampiri Rayn yang sudah terkulai di atas sofa dengan baju yang berlumur darah.
"Harusnya lo tadi ke rumah sakit dulu, luka lo parah banget ini."
"Saya baik-baik aja kamu tidak-" perkataan Rayn terpotong karna di sela oleh perkataan Keira.
"Apanya yang baik-baik aja?! Kamu bilang kaya gini masih bisa masuk kategori baik-baik aja?!" ujar Keira yang tiba-tiba galak membuat Rayn terdiam seketika.
"Kok malah diem? Katanya mau ngobatin saya?" tanya Rayn yang bingung melihat Keira malah diam saja sambil memegang kapas di tangannya.
"Ehem, gimana gue mau ngobatin. Bu ... buka dulu baju lo," ujar Keira sambil menundukkan kepalanya pura-pura sibuk dengan kotak obat namun Rayn masih bisa melihat wajah Keira yang memerah.
Rayn diam-diam tersenyum, lalu dengan segera ia mulai membuka bajunya agar Keira dapat mengobati luka yang ada di pungungnya.
"Hadap belakang," suruh Keira dan Rayn menurut saja.
Keira meringis melihat luka tembak yang ada di punggung Rayn, perlahan Keira mulai mengusapkan kapas yang sudah ia beri alkohol sebelumnya ke luka Rayn. Rayn meringis merasa sakit saat Keira mulai mengobati lukanya.
"Tahan sebentar ya, ini emang sakit kok gue gk mau bohongin lo kalau sakitnya cuma kaya di gigit semut," ucap Keira lalu kembali fokus mengobati luka Rayn.
"Selesai, tapi kayanya lo tetap harus di bawa ke rumah sakit deh. Luka lo parah banget soalnya," saran Keira namun Rayn hanya diam tak menjawab iya ataupun tidak.
__ADS_1
"Saya mau istirahat," kata Rayn yang sudah bangkit dari duduknya.
"Eh tunggu bentar!" Keira reflek langsung bangkit dan menarik tangan Rayn membuat Rayn kini berhadapan dengan Keira.
Keira diam menatap wajah Rayn yang juga sedang menatapnya, entah mengapa Keira merasa hawa di sekitarnya mendadak terasa panas.
"Muka kamu kenapa merah? Kamu sakit?" Tanya Rayn membuat Keira membelalakkan matanya.
"Ng ... nggak!" Bantah Keira lalu segera melepaskan tangannya yang sebelumnya tak sengaja memegang tangan Rayn.
"Gue cuma mau bilang, ba ... bajunya gk usah dipakai lagi udah bolong kaya gitu."
Rayn menatap baju yang ada di tangannya, baju yang bekas ia pakai ini memang sudah bolong di bagian belakangnya dan ada bercak darah juga.
"Oke," jawab Rayn lalu memberikan baju tersebut pada Keira.
"Sip, oh iya gue mau-"
Brukkk
Keira langsung menghentikan ucapannya, ekspresi wajahnya menampakkan raut penuh keterkejutan.
Bagaimana mungkin Keira tidak merasa kaget, tiba-tiba saja tubuh Rayn limpung dan untung saja ia sempat menangkapnya kalau tidak sudah dipastikan tubuh Rayn sudah mencium lantai saat ini.
"Rayn? Hei? Rayn bangun!" Panggil Keira panik karna Rayn tak sadarkan diri dengan raut wajah yang sudah pucat.
"Rayn! Aduh Ya Allah, kenapa pake pingsan segala sih dia," ujar Keira dan tangannya mulai menepuk-nepuk kedua pipi Rayn berharap Rayn akan kembali membuka matanya.
Keira kemudian kembali dikejutkan saat melihat darah segar kembali mengalir dari punggung Rayn.
"Ambulan! Iya gue harus telpon rumah sakit, Rayn harus di bawa ke rumah sakit. Luka Rayn bukan luka biasa."
Keira menggambil bantal yang ada di sofa untuk Rayn, setelah itu ia segera berjalan ke arah kamar untuk menggambil ponselnya.
Keira mulai menghubungi pihak rumah sakit, dan mengatakan bahwa kondisi suaminya saat ini sedang sangat membutuhkan pertolongan. Pihak rumah sakit pun meminta Keira untuk tetap tenang dan akan segera mengirimkan ambulance ke rumah Keira untuk menjemput Rayn.
__ADS_1
Setelah itu Keira kembali menghampiri Rayn, menatap wajah pria itu dan mengenggam erat tangan Rayn yang terasa dingin. Tanpa Keira sadari air mata mulai mengalir di pipinya, Keira juga tidak tahu kenapa tapi yang Keisa tahu saat ini adalah perasaan khawatirnya sekarang jauh lebih besar terhadap Rayn dibandingkan dengan rasa khawatir yang ia rasakan sebelumnya.
"Bertahan Rayn! Lo pasti kuat! Gue ada di sini, jangan takut," bisik Keira lirih di telinga Rayn dan berharap Rayn dapat mendengar ucapannya.