Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

Selama perjalanan pulang tak ada obrolan yang tercipta antara Rayn dan Keira, keduanya sama-sama diam dan sibuk dengan fikiran masing-masing.


Rayn berulang kali menarik dan menghela nafasnya dengan gusar, ia berdecak pelan saat ia tidak menemukan cara untuk bisa memulai percakapan antara dirinya dan juga Keira.


"Keira, bisa antar ke warung seblak dulu gk?"


"Iya," jawab Keira singkat dan Rayn pun segera mengarahkan motornya ke arah warung seblak yang letaknya tidak terlalu jauh dari jalan raya.


"Temenin saya makan ya," kata Rayn lebih ke permintaannya pada Keira.


Keira, gadis itu terlihat menimbang-nimbang sejenak. Setelahnya ia menganggukkan kepala membuat Rayn tersenyum tipis.


Rayn mengajak Keira duduk di salah satu bangku yang telah di sediakan oleh pihak warung seblak tersebut, Rayn memperhatikan wajah Keira yang sedaritadi terus melihat ke arah abang tukang seblak yang sedang membuatkan pesanan seblak untuk dua orang pelanggan yang datang lebih dulu dari mereka berdua.


"Bang, seblaknya dua ya. Yang pedes satu, kalau kamu Kei? Pedes gk?"


Jika Rayn biasanya irit bicara, kali ini ia berusaha untuk membuka obrolan atau berbicara lebih banyak dari biasanya agar bisa semakin dekat dengan Keira.


"Sedeng aja," jawab Keira.


"Oke bang, satu pedes dan satu lagi sedeng ya," kata Rayn pada abang tukang seblak.


Setelahnya Rayn kembali menatap wajah Keira, wajah gadis itu terlihat cantik namun sayang Rayn tidak tertarik.


"Makasih ya Kei," kata Rayn membuat perhatian Keira tertuju padanya.


"Makasih buat apa ya?"


"Makasih karna sudah mau nemenin saya makan seblak dulu."


Keira menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Santuy aja, btw lo kalau ngomong emang harus seformal itu ya?" tanya Keira membuat Rayn mengerenyitkan dahinya bingung.


"Maksud kamu gaya bicara saya terkesan formal banget begitu?" tanya Rayn lagi dan di balas anggukkan kepala dua kali oleh Keira.


"Iya, gaya bicara lo tuh kaya formal banget gitu. Lo emang gk bisa ya ngomong biasa gitu? Gk usah pake kamu-saya, kaya apa ya kesannya kaku gitu kalau menurut gue," kata Keira membuat Rayn merenung seketika.


"Kaku ya?" Keira mengangguk membenarkan pertanyaan yang Rayn ajukan.


"Saya gk tau cara bicara non formal seperti kamu," kata Rayn sambil mengaruk tenguknya.


Keira tersenyum lebar, ia mengelengkan kepala menatap geli pada wajah Rayn.


"Ya udah nanti gue ajarin," kata Keira dan di balas anggukkan kepala oleh Gama.


Lalu tak lama seblak yang mereka berdua pesan pun datang, Keira dan Gama segera menyantapnya dengan lahap. Keira terlihat sangat menikmati seblak tersebut.


"Gimana? Enak gk?" tanya Rayn sambil menatap Keira yang ada di hadapannya.


"Enak banget!" seru Keira lalu kembali menikmati seblak pesanannya.


Tak ada lagi suara dan obrolan di antara keduanya, sampai akhirnya keduanya selesai menyantap seblak dan memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang.

__ADS_1


.......


Rayn baru saja menginjakkan kakinya di rumah, rumahnya sore ini terasa begitu sepi. Rayn menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Mamahnya yang belum ia lihat sejak ia datang tadi.


"Mamah ke mana Pak?" tanya Rayn pada seorang pria berbadan kekar yang merupakan orang bawahan Mamahnya.


"Di ruang kerjanya," jawab pria berbadan kekar tersebut. Rayn mengangguk, ia segera berjalan ke arah ruang kerja Mamahnya yang letaknya ada di dekat tangga.


Tok tok tok


"Masuk." setelah mendengar seruan untuk masuk dari dalam, Rayn pun segera melangkah masuk.


"Ada apa Mah? Kenapa Rayn di minta menemui Mamah?" tanya Rayn saat sudah masuk dan berhadapan dengan Sang Mamah.


"Mamah mau bicara serius sama kamu, silahkan duduk." Rayn menurut, ia duduk berhadapan dengan Mamahnya saat ini.


"Hal yang akan Mamah bahas kali ini adalah terkait dengan perkembangan tugas kamu." Rayn terlihat menghela nafasnya saat mendengar ucapan Mamahnya barusan.


"Maaf Mah, tapi Rayn belum bisa mendekati target," kata Rayn sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, tapi kamu harus menjalankan misi baru yang di berikan oleh klien kita," kata sang Mamah membuat Rayn mengerenyitkan dahinya bingung.


"Misi baru? Apa Mah?"


"Iya misi baru, Mamah sudah urus ini semua. Kamu hanya perlu bersiap-siap saja malam ini, jangan lupa pakai pakaian baru yang sudah Mamah belikan untukmu nanti," perintah sang Mamah yang tentu saja Rayn turuti.


Setelahnya Rayn pun di minta segera bersiap-siap, Rayn menurut. Ia berjalan kembali ke kamarnya, membasahi tubuhnya dan memakai pakaian yang telah di siapkan oleh sang Mamah.


......


Sepanjang perjalanan, Rayn hanya diam. Ia memilih menikmati suasana Malam, ia menoleh ke arah luar kaca mobil. Menatap kerumunan kendaraan yang masih lumayan ramai berlalulalang.


Entahlah, Rayn tidak tau saat ini Mamahnya sedang membawa ia pergi ke mana. Rayn hanya pasrah saja, ia adalah tipikal anak yang memang penurut pada Mamahnya.


Sampai pada akhirnya mobil yang ia kendarai memasuki kawasan perumahan elit, rumah-rumah di dalamnya juga terlihat sekali mewahnya. Rayn hanya diam tak bersuara, walaupun di dalam benaknya banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ajukan namun Rayn memilih tuk membungkam.


"Sudah sampai, ayo turun."


Rayn pun mengangguk, ia turun dari mobil setelah mobilnya berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah nan besar. Rayn mengikuti langkah kaki Ibunya yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu, namun langkah Rayn terhenti saat ia ingat bahwa ponselnya tertinggal di dalam mobil.


"Mamah duluan ya, ponsel Rayn tertinggal di mobil," kata Rayn yang menghentikan langkah Mamahnya.


"Ya sudah, cepat ambil lalu kembali lagi."


Rayn mengangguk, ia berjalan ke mobil untuk menggambil ponsel miliknya. Namun saat ia berbalik ia justru tertabrak dengan seseorang yang membuat ponsel Rayn terbanting ke lantai.


"Maaf, saya gk sengaja."


Rayn membungkuk menggambil ponselnya yang sudah hancur berantakkan karna baru saja terjatuh.


"Ponsel nya rusak ya?" Rayn menolehkan kepalanya saat mendengar pertanyaan bernada khawatir yang di lontarkan oleh seorang perempuan di hadapannya yang wajahnya tak asing bagi Rayn namun ia tidak ingat pernah melihatnya di mana.


"Iya sepertinya begitu," balas Rayn sambil menatap ponsel miliknya yang sudah tidak bisa menyala lagi.

__ADS_1


"Aduh maaf ya, saya bakalan ganti kok," kata perempuan itu yang sudah meringis kecil tak enak hati pada Rayn.


"Reilla, di cariin di mana-mana ternyata kamu ada di sini," sebuah suara berat itu membuat perhatian Rayn dan perempuan di sampingnya teralihkan.


"Katanya mau pulang Rei? Gk jadi?" tanya seorang pria yang sudah berdiri di hadapan Rayn dan juga perempuan yang baru Rayn ketahui bernama Reilla itu.


"Iya tadinya begitu, tapi ini loh Kak Aksa aku gk sengaja nabrak adek ini terus ponselnya jatuh. Kayanya gk bisa nyalah deh," kata Reilla menatap nanar ponsel yang ada di genggaman Rayn.


"Gue ganti ya ponselnya," kata pria itu yang mulai angkat suara.


"Gk apa-apa kok, nanti saya bisa beli yang baru lagi," jawab Rayn.


"Seriusan gk apa-apa?" tanya Reilla lagi berusaha memastikan, Rayn menganggukkan kepalanya.


"Saya permisi dulu, masih ada urusan," kata Rayn yang sudah berjalan menjauh meninggalkan Reilla dan pria di sampingnya yang tak lain adalah Aksara.


Reilla menatap punggung Rayn yang mulai menjauh, ia menatapnya dengan lekat membuat Aksara menatap Reilla dengan bingung.


"Kenapa?" tanya Aksara pada Reilla yang masih memandangi Rayn.


"Gk tau, tapi wajahnya tadi kaya gk asing. Kaya pernah liat," kata Reilla menyampaikan apa yang ia rasakan saat pertama kali berhadapan dengan sosok Rayn tadi, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia seperti mengenali Rayn, namun ia tidak ingat kapan dan di mana ia pernah bertemu dan berkenalan dengan Rayn.


.......


Rayn melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah megah tersebut menyusul Mamahnya yang sudah lebih dulu masuk.


"Nah ini dia putra saya."


Rayn berjalan menghampiri Mamahnya yang menyuruh dirinya untuk duduk di dekatnya.


"Perkenalkan ini putra saya, Rayn." Rayn mengangguk seraya tersenyum tipis, ia berusaha sopan pada sepasang suami istri yang sedang tersenyum lebar menatap ke arahnya.


Rayn tidak tau siapa pasangan suami istri itu, namun Rayn menebak mereka adalah pemilik dari rumah megah yang ia datangi ini.


Lalu percakapan pun berlanjut, percakapan yang lebih di dominasi oleh Mamahnya dan sepasang tuan rumah itu, sedangkan Rayn hanya diam saja sedaritadi.


Sampai pada akhirnya, mata Rayn menangkap sosok yang tak asing baginya. Ia menatap sosok yang saat ini sedang menuruni anak tangga dengan begitu anggunnya bersama dengan seorang wanita paruh baya yang tadi Rayn ketahui sebagai tuan rumah dari rumah yang ia datangi sekarang ini.


"Nah, nak Rayn perkenalkan ini putri kami, Keira."


Deg


Jantung Rayn terasa berdegup dengan kencang, ia tau sedaritadi bahwa sosok anggun yang menuruni anak tangga tadi tak lain adalah Keira, perempuan yang selama seminggu lebih ia berusaha dekati namun selalu tak bisa dan kini gadis itu malah berada di hadapannya dengan penampilan berbeda yang membuat dirinya terlihat begitu cantik di mata Rayn.


Keira terlihat menundukkan kepalanya, lalu tanpa sengaja Keira menatap manik mata Rayn yang juga sedang menatapnya. Namun hanya sebentar karna Keira memilih untuk memutuskan kontak mata di antara mereka lebih dulu.


"Nah setelah semuanya kumpul seperti ini, kami berdua memang sudah memutuskan bahwa kami berniat untuk menjodohkan kalian berdua."


Rayn membulatkan matanya, ia terkejut bukan main saat mendengar kata perjodohan dalam topik kali ini. Rayn menolehkan kepalanya pada Keira yang hanya diam sambil menunduk, Rayn menduga sepertinya Keira sudah tau apa yang akan terjadi malam ini.


Rayn lalu menoleh ke arah Mamahnya yang hanya tersenyum padanya, Rayn menghela nafasnya kasar. Ia mencengkram lengannya kuat, semua orang di ruangan ini tau perihal perjodohan yang akan di langsungkan dan hanya dirinya saja yang tidak tau. Rayn mendengus kesal, ia tidak pernah merasa sekecewa ini pada Mamahnya.


Perjodohan ini bukanlah perkara yang mudah, ini menyangkut kehidupan Rayn. Ia juga tidak menyangka jika Mamahnya begitu nekad dalam misi ini, Mamahnya sampai rela melakukan apapun demi misi kali ini bahkan mengorbankan masa depan Rayn, yang notabennya adalah putranya sendiri, sungguh menyedihkan.

__ADS_1


__ADS_2