Without You

Without You
Satu Kesempatan lagi


__ADS_3

Malam hari pun tiba, semua orang sudah masuk ke dalam alam mimpi masing-masing namun tidak dengan Reilla.


Gadis itu tidak bisa tidur setelah mendengar nasihat dari Syabil, selama seharian ini Reilla selalu memikirkannya. Ada sesuatu di dalam hatinya, Reilla merasaka kehilangan dan hampa.


Reilla merubah posisinya, dari rebahan menjadi duduk di tepi kasurnya. Nafasnya memburu, ia benar-benar berada di dalam dilema.


Drrttt drttt drttt


Reilla tersentak dengan getaran gawainya yang ada di atas nakas, gadis itu segera menggambilnya. Ada notifikasi panggilan masuk ke dalam gawainya.


Reilla menghela nafasnya kasar, ia mengigit bibir bawahnya, raut wajahnya menyiratkan kebingungan antara ingin mengangkat panggilan tersebut atau tidak. Reilla menghela nafasnya lalu memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Assalamu'alaikum Rei."


Reilla hanya diam, sesuatu dalam hatinya terasa menghangat ketika mendengar suara dari lawan bicaranya.


"Wa ... Wa'alaikumussalam," jawab Reilla singkat.


"Gimana kabar kamu di sana? Ayah kangen sama kamu Rei."


Reilla membatu di tempat mendengar ungkapan rindu dari Ayahnya yang saat ini sedang berbicara dengannya.


"Baik," jawab Reilla dengan singkat.


Terdengar helaan nafas Ayahnya dari sebrang sana, Reilla mengigit bibir bawahnya lagi berusaha menahan isak tangisnya yang sebentar lagi akan luluh.


"Rei gk kangen sama Ayah dan Ummah kah? Kami sangat merindukan kamu Rei, cepatlah pulang nak."


Reilla akhirnya tak bisa menahan isak tangisnya, ia sudah meneteskan air matanya saat ini namun sebisa mungkin ia berusaha agar tangisannya tidak sampai terdengar oleh Ayahnya.


"Rei jangan matikan telponnya ada yang ingin bicara dengan Rei."


"Iya," jawab Reilla pelan dan singkat.


"Assalamu'alaikum Reilla."


Tubuh Reilla benar-benar bergetar sekarang, ia paham suara siapa itu. Itu adalah suara Ummahnya yang ia anggap sudah mengkhianati dirinya karna sudah memanipulasi kematiannya.

__ADS_1


"Mungkin kamu gk mau bicara sama saya, tapi tolong dengarkan ucapan saya ya. Maaf kan saya Reilla, saya gk bermaksud untuk membuat kamu terluka, saya gk punya alasan kenapa dulu saya memalsukan kematian saya karna suatu hal yang memang ingin saya jelaskan pada kamu. Saya seorang Ibu, saya gk mungkin tega membiarkan anak saya terlantar dan menderita, kamu tau Rei saya sangat menderita dan terluka. Selama lima belas tahun saya hidup jauh dari putri saya sendiri, kalau saya memang berniat membuat kamu menderita. Saya gk akan mungkin melahirkan kamu ke dunia, bisa saja saya mengugurkan kamu saat kamu masih dalam kandungan saya tapi nggak Rei, saya memilih untuk mempertahankan kamu sampai kamu bisa melihat dunia ini. Karna kamu bukan beban saya, kamu itu anugerah terindah dari Allah untuk saya."


Pecah sudah tangisan Reilla tatkala mendengar ungkapan hati Vidya, bahkan di sebrang sana pun sama kini Vidya juga sedang menangis dan berusaha Arya tenangkan.


"Maaf Rei, saya tau saya salah sama kamu. Tapi saya mohon pulang lah, kamu boleh benci saya tapi jangan membenci Ayah mu juga. Dia selama ini sudah berjuang untuk membesarkan kamu, jadi saya mohon jangan turut membencinya juga. Tolong Rei berikan saya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya."


Reilla menghela nafasnya, berusaha menetralkan rasa sesak yang mendera karna menangis.


"Rei kamu-- loh? Kok nangis sayang?" Tanya Syabil yang tiba-tiba datang ke kamar Reilla dan kaget melihat Reilla sudah menangis sesegukkan.


Syabil pun langsung menghampiri Reilla dan membawa tubuh Reilla dalam dekapannya, ia berusaha menenangkan Reilla yang tampak sangat terluka itu.


"Maaf Rei, maafkan saya. Tolong kembalilah, kami sangat merindukan kamu nak."


Syabil mengalihkan tatapannya pada gawai Reilla yang ternyata masih tersambung dalam panggilannya dengan Arya.


Tutt tutt


"Loh? Kok malah di matiin?" Tanya Syabil saat Reilla sudah mematikan panggilan dari Arya begitu saja.


Reilla tak menjawab ia malah membanting ponselnya ke kasur, lalu kembali mendekap Syabil dengan erat.


Syabil tersenyum, mengusap lembut pungung putrinya dengan sayang. Lalu memberikan kecupan di kepala Syabil.


"Ikuti kata hati kamu Rei, kalau hati kamu sudah mulai tergerak untuk memberinya kesempatan maka tidak akan ada salahnya nak."


Reilla terdiam masih dengan posisi sama yaitu dalam dekapan Syabil, gadis itu mulai memikirkan dan bertanya pada hatinya apakah ia harus memberikan Ummahnya itu satu kesempatan atau tidak.


"Rei ... hiks ... Rei belum bisa memaafkan dia tapi ... hiks ... Rei akan memberikan dia satu kesempatan lagi Mamah," ucap Reilla membuat Syabil tersenyum senang mendengarnya.


Syabil sudah tau walaupun Reilla keras kepala tapi gadis itu punya sisi lembut di dalam hatinya, bagaimana pun juga Vidya adalah Ummahnya Reilla. Sekesal apapun Reilla pada Vidya pasti suatu saat akan luluh juga.


"Syukurlah, Mamah ikut seneng dengernya sayang," ujar Syabil sambil memeluk erat Reilla.


"Sudah malam, sekarang Rei tidur ya. Udara malam di musim dingin gk baik buat kesehatan," ucap Syabil mengingatkan dan di balas anggukkan kepala oleh Reilla.


Reilla bangkit izin untuk pergi ke kamar mandi dulu, ia ingin membasuh wajahnya dengan air terlebih dahulu dan menggambil wudhu setelah nya baru lah Reilla beranjak tidur.

__ADS_1


Cup


"Jangan lupa baca doa ya Rei," ucap Syabil lagi dan di balas anggukkan kepala oleh Reilla.


Syabil pun keluar dari kamar Reilla, karna ia juga sudah merasa mengantuk dan harus segera pergi tidur juga.


[]


Pagi hari pun tiba, udara pagi ini terasa begitu sejuk. Vidya sudah bangun sedaritadi dan sedang berkutat di dapur, membuatkan sarapan untuk Arya dan dirinya pagi ini.


"Selamat pagi sayang," ucap Arya yang sudah bergelayut manja memeluk Vidya dari belakang.


"Ish! Kebiasaan bikin kaget aja," gerutu Vidya sambil mengusap dadanya, ia merasa kaget karna kedatangan Arya yang tiba-tiba.


Arya terkekeh lalu mendaratkan kecupan singkat di pipi Vidya, ia kembali mengeratkan pelukkannya pada Vidya.


"Kamu masak apa sayang?" Tanya Arya yang meletakkan dagunya di pundak Vidya.


"Kamu gk liat aku masak apa? Udah liat kan? Ngapain nanya."


Arya pun mengatupkan bibirnya, ia mengerutkan dahi bingung karna tiba-tiba Vidya malah memarahi dirinya.


"Lepasin! Gk usah peluk-peluk!" Ketus Vidya membuat Arya akhirnya melepaskan pelukkannya.


Arya memperhatikan Vidya yang ekspresi wajahnya tampak datar pagi ini.


"Kamu kenapa sih? Lagi pms? Lagi kedatangan bulan ya?"


Brakk


"Bisa diem gk sih?! Kamu gk liat aku lagi ngapain?!"


Arya mengelus dadanya, ia kaget karna tiba-tiba Vidya malah mengebrak meja. Arya kembali mengamati wajah dan tingkah Vidya yang agak aneh pagi ini, Arya pun berusaha mengingat-ingat apakah dirinya sudah berbuat suatu kesalahan hingga membuat istrinya itu terlihat marah besar padanya?


"Vidya kamu ken-"


"Ini di makan sarapannya, gk usah banyak tanya!" Ucap Vidya yang sudah meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Arya.

__ADS_1


Arya yang tadi mau bicara pun mengurungkan niatnya, ia hanya diam dan menyantap nasi goreng buatan Vidya. Tak lama Vidya kembali lagi lalu meletakkan air minum di dekat Arya, setelah itu ia pun pergi lagi.


Arya menatap punggung Vidya dengan tatapan bingung, ada apa dengan Vidya pagi ini? Kenapa dia bawannya marah-marah terus sih? Arya hanya bisa menghela nafas dan berusaha sabar menghadapi tingkah Vidya yang membuatnya bingung.


__ADS_2