
Part ini menggunakan Vidya POV/ sudut pandang Vidya, Happy reading yo!
-
-
-
-
Aku menatap nanar kepergian Arya, aku kembali terisak, rasanya sungguh sesak bahkan sangat menyesakkan dada.
Ternyata apa yang Arya katakan padanya itu sebuah kebenaran, aku memanglah korban pemerkosaan.
Aku tersenyum sendu, air mata kembali menetes di pipiku. Aku ternyata sudah hancur sejak dulu.
Aku menatap kosong dinding di hadapanku, aku hanya diam saat Umi memintaku untuk mengatakan sesuatu.
Jiwa ku terpukul, karna kenyataan yang memilukan dan sangat menyakitkan. Aku memang pantas di benci oleh Arya, karna aku memang tak pernah bisa mengelak bahwa aku sudah hancur berkeping keping.
Luka itu seperti kembali di tabur garam, rasanya menyakitkan. Trauma itu masih ada, ketakutan itu masih bisa aku rasakan.
Tatapan kelima pria itu, seringaian mereka yang tak perduli padaku yang terluka.
Aku membenci diriku lagi, semuanya telah kembali lagi sekarang, sesuatu yang sempat aku lupakan sekarang aku berhasil mengingat semuanya.
"Vidya sayang...maafkan Umi nak, bicaralah sayang...hiks...katakan sesuatu."
Umi kembali berbicara padaku, ia juga menguncang-guncang badanku dan meminta aku untuk menatap wajahnya.
Aku tidak bisa menatap wajahnya, ketika aku menatap wajah Umi aku merasa bahwa diriku tidak berguna.
Aku telah menghancurkan hati Umi dan Abi, bahkan aku juga menghancurkan hati suamiku.
Suami...hah rasa-rasanya aku sangat malu memanggil Arya dengan sebutan sebagai suamiku.
Arya benar aku memang wanita munafik, aku memang bukan gadis suci ah bahkan aku sudah tidak suci lagi, aku sudah ternodai.
Aku kembali meneteskan air mataku, semua rasa sakit ini biarlah ku tanggung sendiri.
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Apakah aku akan tinggal dengan Umi dan Abi, atau aku akan kembali pada Arya, aku tidak tau.
Tapi rasanya aku tidak akan kembali pada keduanya, entah itu Arya atau pun Umi dan Abi, aku tidak ingin menyakiti mereka lagi untuk yang ke dua kalinya.
"Umi! Umi!"
Aku menolehkan kepalaku saat mendengar suara teriakan Abi.
Aku begitu kaget melihat Umi yang sudah terkapar di lantai sambil memegangi dadanya, penyakit jantung Umi sepertinya sedang kambuh saat ini.
"Umi..." aku menggelengkan kepalaku, aku terus terisak melihat Umi yang tergeletak di lantai, sementara Abi sedang keluar memanggil dokter.
Tak lama dokter pun datang, lalu Abi dan dokter membawa Umi keluar dari ruangan ku.
Lihat bukan apa yang telah aku lakukan? Penyakit jantung Umi sampai kambuh karna diriku.
Karna anak tak berguna sepertiku, yang sepertinya hanya akan menjadi beban untuk kedua orang tua ku.
Semoga Umi baik-baik saja, Umi dan Abi sudah terlalu banyak menderita karna memiliki putri seperti diriku.
__ADS_1
Aku tersenyum miris, perlahan aku lepas selang infusan yang merekat di punggung tanganku.
Rasanya sangat sakit tapi tak sebanding dengan rasa sakit di hatiku.
Aku tidak menghiraukan punggung tangan ku yang berdarah karna aku mencabut selang infusan itu dengan kencang dan sekali hentakan.
Setelah itu aku pun turun dari brankar rumah sakit ini.
Aku melangkahkan kakiku keluar dari ruangan ini, aku kembali mentesekan air mataku.
Entahlah aku akan pergi kemana, aku juga tidak tau. Yang pasti aku hanya ingin pergi jauh.
Pergi jauh dari Abi, Umi, dan juga Arya. Aku tidak ingin kehidupan mereka semakin menderita karna kehadiranku yang selalu membuat mereka menderita.
Sudah cukup aku membuat Umi sampai jantungan seperti tadi, aku tidak mau membuat jantung Umi semakin bermasalah karna diriku.
Aku sudah berhasil keluar dari rumah sakit, aku bahkan masih memakai pakaian rumah sakit dan juga aku tidak memakai cadarku.
Entahlah aku sudah merasa terlalu tidak pantas memakai cadar lagi, aku ini pendosa, aku ini kotor, aku sudah hancur.
Mengingat aku sudah hancur membuat air mataku mentes lagi.
Aku melangkahkan kakiku tak tentu arah, lalu langkah kakiku berhenti di sebuah jembatan.
Aku menatap air sungai yang mengalir begitu deras di bawah jembatan ini.
Selamat tinggal Abi, selamat tinggal Umi. Terimakasih kalian sudah menjadi orang tua yang terbaik untukku, selamat tinggal juga untuk kak Amar yang selalu ada untukku, yang selalu menjagaku sejak kecil.
Dan untuk Arya...terimakasih juga sudah mau menerimaku menjadi istrimu, meskipun aku tau berat rasanya menerima diriku yang buruk dan kotor ini bahkan kau sampai tak mau menggangap diriku sebagai istrimu.
Selamat tinggal untuk semuanya, terimakasih untuk setiap kasih sayang yang selalu di curahkan padaku sejak kecil.
Aku menatap ke bawah lagi, melihat sungai itu lagi.
aku menggumpulkan keberanianku, entahlah mungkin ini semua akan berakhir tapi aku tak tau sampai kapan.
Grepp
Aku tersentak saat ada seseorang yang menarik lenganku, terlalu tiba-tiba dan membuatku kaget.
Bahkan orang itu membawaku ke dalam pelukannya, ia mendekapku erat membuatku kembali menangis.
"Jangan gila, lo mau bunuh diri? Lo fikir dengan lo loncat dari atas sini lo bisa langsung mati? Sinting dasar."
Aku tidak mengubris ucapannya, ia telah melepaskan pelukannya padaku, aku tersenyum sendu mendengar ucapannya barusan.
"Kalaupun aku mati, apa perdulimu? Bukannya kamu memang menginginkan itu? Bukannya kamu memang membenciku?!" Aku berteriak padanya, aku tidak perduli pada tatapan orang-orang yang berlalu lalang yang memperhatikan kami.
"Gue emang benci banget sama lo, tapi gue gk akan biarin lo mati gitu aja." Aku menautkan alisku mendengar ucapannya.
"Kenapa?" Tanyaku lirih sambil menatap wajahnya.
"Karna lo belum benar-benar menderita, gue harus nyiksa diri lo dulu supaya dendam gue terbalaskan. Kalau lo langsung mati, itu gk adil buat gue bahkan buat adik gue yang selamanya gk akan pernah kembali lagi."
Aku meringis, ternyata dugaanku salah. Aku fikir dia mencemaskan ku sebagai istrinya, tapi nyatanya dia hanya ingin semakin menyiksa diriku.
Aku kembali menundukkan kepalaku, malas menatap wajah Arya yang menyebalkan.
"Lepasin! Kamu mau bawa aku kemana?" Tanyaku saat tanganku di tarik begitu saja oleh Arya.
Dia masih tidak menjawab pertanyaanku, namun dia malah mengajakku masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Kamu mau bawa aku kemana?" Aku kembali bertanya pada Arya yang sedang mengendarai mobilnya.
"Ke rumah."
"Rumah?" Tanyaku padanya lagi, dia melirikku sekilas namun kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
"Rumah kita." Jawabnya dengan singkat, aku tertegun saat ia mengucapkan 'rumah kita', ada gejolak aneh di dada yang aku rasakan saat ia menyebut kata itu.
Hening, tak ada lagi yang berbicara di antara kami berdua. Arya masih fokus mengendarai mobil, sementara Aku fokus menatap jalanan yang di lewati.
"Kenapa kamu ngira tadi saya mau bunuh diri?" Tanyaku, Arya menyungingkan senyum menyebalkannya.
"Bukannya emang begitu? Semua orang yang liat lo kaya tadi juga pasti mikirnya lo mau bunuh diri, terus kalau lo gk mau bunuh diri lo ngapain di pinggir jembatan itu? Main congklak? Nggak kan?"
Aku hanya diam, tumben Arya berbicara sangat panjang padaku seperti itu. Biasanya pria itu hanya berbicara seperlunya saja padaku, lain halnya jika dia bersama dengan Siren.
"Saya gk mau bunuh diri, dosa."
"Dosa? Cewek munafik kaya lo masih mikirin dosa? Cih."
Aku tersenyum sendu, benar apa yang di katakan Arya. Harusnya tadi aku lompat dan mati saja, tapi logikaku masih berfungsi dan aku juga masih membedakan mana yang benar dan yang salah.
Aku tidak mau bunuh diri, aku tidak mau mati secara sia-sia. Aku juga tidak mau bunuh diri karna Allah melarang perbuatan itu, mendului takdir yang sudah Allah tentukan itu sangatlah salah.
Aku memilih untuk memejamkan mataku saja, tidak mau bertanya apapun lagi pada Arya, karna dia selalu saja memberikan jawaban yang menyakitkan.
Saat aku memejamkan mataku, yang aku lihat hanya bayangan masalalu itu.
Bayangan ketika kelima orang itu memperkosaku dengan keji, bayangan ketika aku meraung meminta tolong dan memohon untuk di lepaskan.
Dan bayangan ketika Arya memelukku dengan erat malam itu, saat ia berhasil menyelamatkan ku dari kelima orang yang melecehkan ku kala itu.
Pelukannya saat itu sangat erat, aku bahkan mengucapkan syukur pada Allah sudah mendatangkan Arya untuk membantuku.
Meskipun para penjahat itu sudah menyentuhku tapi mereka tidak sampai menggambil mahkota yang sudah aku rawat sejak dulu.
Mereka hanya mencengkram lenganku, menciumiku, tapi tetap saja aku merasa jijik padaku.
Untung saja Allah mendatangkan Arya padaku malam itu, jadi mereka tak bertindak lebih jauh padaku. Mereka pergi ketika Arya berhasil mengusir mereka.
Pelukan Arya menghangatkanku yang kedinginan di tengah derasnya rinai hujan, pelukan Arya membuatku tenang, pelukan pertama yang ia berikan padaku sebelum ada benci di hatinya untukku.
Aku kira aku tidak akan pernah lagi bertemu dengannya setelah malam itu, tapi nyatanya aku bertemu lagi dengan dirinya di kantor polisi.
Saat itu ia bertanya sesuatu padaku, tapi aku tidak ingat ia bertanya apa karna saat itu setengah jiwa ku seperti pergi. Membuat diriku tak berdaya bahkan aku tidak perduli dengan apapun di sekitarku, itu adalah efek traumaku sejak kejadian malam itu.
Aku tidak tau jika dia harus mendekap di penjara karnaku, aku benar-benar tidak tau. Aku pun akhirnya bilang pada polisi kalau Arya tidak bersalah, dan saat itu trauma ku sudah mulai membaik jadi aku bisa membedakan mana yang benar dan salah.
Arya di bebaskan dan aku tidak pernah lagi bertemu dengan penyelamatku itu.
Lalu sebuah kecelakaan terjadi, yang membuatku hampir kehilangan nyawaku karna aku menolong seorang nenek yang hampir tertabrak mobil truk, tapi justru malah aku yang tertabrak mobil truk tersebut.
Saat aku sadar aku sudah berada di rumah sakit, dan aku tidak ingat apapun yang terjadi padaku saat itu.
Sebagian ingatan masalalu ku hilang, bahkan Arya sang penyelamatku juga hilang dari ingatanku.
Lalu aku justru kembali di pertemukannya dalam situasi yang berbeda, dan aku baru sadar kalau penyelamatku itu menjadi sangat menyebalkan.
Semesta memang begitu, banyak hal yang tak terduga dalam kehidupan ini, bahkan aku juga tidak tau akan bisa bertemu lagi dengannya dan bahkan dia sekarang sangat dekat denganku, dia sekarang menjadi suamiku, suami yang justru tak pernah mau menggangap ku sebagai istrinya, miris memang tapi mungkin itulah takdir cintaku yang membawa diriku kepadamu.
~THE END~
__ADS_1
Bercanda gaiss hehe, jangan lupa vote sama komennya gais😊 see you next part:)