Without You

Without You
70. Kedatangan Siren


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang Vidya/ Vidya POV.


Happy reading!


-


-


-


-


-


Lima hari kemudian....


Saat ini aku sedang berjalan-jalan di sekitar halaman rumah untuk menghirup udara pagi yang begitu segar.


Aku tersenyum melihat dedaunan yang berguguran yang jarang sekali aku lihat di Indonesia.


Musim gugur ternyata sangat indah, aku sangat menyukainya.


Di dekat rumah yang aku tempati di Turki ini dekat dengan taman.


Jadi saat ini aku memilih untuk berjalan ke arah taman yang spertinya lumayan ramai.


Aku melihat anak-anak sedang bermain di taman, mereka saling tertawa dan berbicara menggunakan bahasa Turki yang sangat fasih.


Aku terseyum menatap mereka, membayangkan jika nanti anakku sudah lahir dan tumbuh besar, pasti dia akan senang berlarian kesana kemari seperti itu.


Aku mengelus perutku sambil terus menghitung hari, dan menghitung waktu kami yang semakin dekat dan akan segera bertemu.


Karna merasa pegal karna terus berdiri, aku pun memilih duduk di salah satu bangku taman.


Menghirup udara di taman ini sangatlah menyenangkan, udaranya begitu asri dan menenangkan hati.


Pandanganku kemudian beralih pada seorang anak yang sedang bajar berjalan.


Terlihat Ayah dan Ibu anak itu sedang membantu mengajari anak mereka tuk belajar berjalan.


Di lain sisi ada juga seorang anak yang sedang bermain bersama Ayahnya sementara Ibunya sedang tertawa melihat tingkah anak dan suaminya tersebut.


Aku menundukkan kepalaku, senyuman sendu pun aku tampilkan.


Melihat keluarga kecil yang lengkap dan terasa hangat itu sungguh mengusik relung hatiku, aku memikirkan bagaimana nasib anakku kelak? Apakah dia juga akan bisa mempunyai keluarga yang lengkap seperti itu?


Apa yang akan ku jawab nanti, ketika anakku bertanya kemana Ayahnya? Atau dimana Ayahnya berada? Aku harus jawab apa? Aku tidak mungkin mengatakan padanya kalau diriku dan Arya sudah bercerai.


Aku menghela nafasku, rasanya begitu menyedihkan jika aku tau anakku akan terlahir tanpa sosok Ayah seperti anak-anak yang lainnya.


Aku mengelus perutku, namun yang aku dapatkan adalah pergerakkan di dalamnya.


Aku tersenyum merasakan tendangan anakku ini, yang sepertinya tidak mau melihat Ummah nya menangis.


Karna aku sudah puas berjemur dan menghirup udara segar di taman, aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah.


[]


"Loh kamu udah pulang? Gimana jalan-jalan di tamannya tadi?" Tanya Bunda yang saat ini sedang berkutat dengan laptonya.


Aku tau walaupun saat ini Bunda sedang sibuk-sibuknya tapi beliau masih menyempatkan diri untuk menemaniku ke Turki.


Aku berjalan dan duduk di samping Bunda yang sedang fokus mengetik di laptopnya.


Aku mendadak merasa mengantuk, namun mataku enggan terpejam.


"Kalau ngantuk tidurnya di kamar sana. Jangan tidur di sini nanti punggung kamu sakit," ucap Bunda memperingati diriku.

__ADS_1


Aku pun mengelengkan kepalaku, lagipula nanti kalau aku ke kamar dan memutuskan untuk tidur di kamar. Yang ada bukannya malah tidur tapi semakin tidak bisa tidur, aku juga tidak tau kenapa bisa begitu.


Ting tong


Aku dan Bunda saling berpandangan ketika mendengar suara bel rumah berbunyi.


"Siapa ya Bun?" Tanyaku pada Bunda dan di balas gelengan kepala oleh beliau.


"Aku lihat dulu deh siapa," ucapku dan di balas anggukkan oleh Bunda.


"Vidya."


Baru saja aku mau berjalan tapi suara Bunda sudah menghentikan pergerakkanku.


"Ada apa Bun?" Tanyaku.


"Hati-hati," ucap Bunda dan di balas acungan jempol oleh diriku.


Aku pun berjalan menuju pintu masuk, untuk melihat siapa yang datang ke rumah ini.


Cklek


"Iya ada ap--"


Suraku terhenti ketika melihat seseorang di hadapanku, belum sempat aku mengatakan apapun tapi orang itu malah memeluk diriku dan menangis.


Aku semakin kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia sampai menangis seperti ini?


"Masuk aja ke dalam ya. Jelasinnya di dalam aja," ucapku yang merangkul orang tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Lah kok?"


Umi terlihat bingung dan menatapku dengan tatapan bertanya dan di balas gelengan kepala olehku karna aku juga tidak tahu.


"Bunda buatin minuman dulu," ucap Bunda yang sudah melengang pergi ke dapur.


Aku mengusap punggung orang tersebut, berusaha menenangkan dirinya yang masih menangis terisak.


Dia masih menangis, dia kini sedang berlutut di kakiku, padahal aku meminta dirinya untuk tidak berlutut seperti itu tapi dia tetap saja berlutut padaku.


"Maafin aku ... aku menyesal ... sangat-sangat menyesal," ucapnya masih sambil menangis.


Aku mengelengkan kepalaku, dan aku membantu dirinya untuk kembali duduk di sampingku dan kali ini ia tidak melawan hanya menurut saja.


Ku tatap wajah dan penampilannya yang terlihat sangat berantakan.


"Kamu ada apa Siren? Kenapa kamu bisa sampai ke Turki dan bahkan sampai tau alamatku di sini? Apa semuanya disana baik-baik aja?" Tanyaku pada orang tersebut yang tak lain adalah Siren, istri dari Arya.


Siren diam namun tangisannya semakin mengema dan terasa pilu.


"Di sana semuanya sedang tidak baik-baik saja, Vidya di sana semua orang sedang bersedih."


Aku mengerenyitkan dahiku bingung apa maksud dari perkataan Siren barusan.


"Kenapa Vidya? Kenapa lo begini? Walaupun gue udah jahatin lo, tapi kenapa lo gk benci sama gue? Kenapa Vidya? Kenapa?" Tanya Siren mengarah pada topik lain.


Aku menghela nafasku pelan lalu tersenyum menatap Siren.


"Untuk apa aku membenci kamu? Jujur sebenarnya jika di tanya apakah hatiku terasa sakit atau tidak jelas hatiku terasa sangat sakit saat aku harus berpisah dengan Arya, tapi yang lebih menyakitkan lagi adalah terus menerus mengekang Arya yang memang tak mencintai diriku tapi dia mencintai kamu," jawabku dengan panjang lebar.


Siren terisak lalu ia kembali memeluk diriku.


"Kenapa lo baik banget? Lo salah Vidya, Arya gk pernah cinta sama gue. Arya cintanya cuma sama lo," ucap Siren.


Aku mengelengkan kepalaku sambil terkekeh mendengar ucapan Siren barusan, apa dia bilang? Arya mencintaiku? Siren pasti salah besar, Arya tak mungkin mencintai diriku.


Jika pria itu mencintaiku lalu kenapa dia menceraikanku? Kenapa dia tidak berusaha juga seperti aku untuk mempertahankan rumah tangga kami dulu? Kalau memang dia mencintai ku seharusnya dia percaya pada ucapanku dan tidak mungkin membiarkan aku yang nyaris mati saat itu.

__ADS_1


Aku mengusap air mataku yang menetes, mengingat semua luka itu membuatku kembali teringat masalalu.


"Ada apa kamu ke sini?" Tanyaku langsung pada intinya.


Siren terdiam, tatapannya berubah menjadi sendu.


"Arya kecelakaan, dan sekarang dia berada di rumah sakit," ucap Siren dengan suara bergetar.


Aku pun tidak bisa berkata apapun lagi, kabar bahwa Arya kecelakaan sukses membuatku sangat terkejut.


"Vidya."


Aku tersentak dan kembali menoleh pada Siren yang menatap diriku dengan begitu sendu.


"Lo mau kan kembali lagi ke Indonesia? Demi Arya, Dia sangat rindu sama lo Vidya. Sejak dua hari kemarin dia terus memanggil nama lo," ucap Siren seraya menatap diriku lekat.


Aku menghembuskan nafasku, berat rasanya harus kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Arya lagi.


Tapi aku juga tidak bisa mengelak jika di tanya apakah aku khawatir pada Arya? Tentu saja jawabannya adalah iya.


Aku begitu mengkhawatirkan dia, walaupu bagaimanapun Arya adalah sosok Ayah dari anak yang aku kandung ini.


Aku pun menimang-nimang ajakkan Siren, sementara Siren? Dia sedang menatapku dengan penuh harap.


"Vidya gk akan kembali ke Indonesia."


Baik aku mapun Siren, kami berdua langsung mengalihkan tatapan ke arah Bunda yang sudah berdiri dan meletakkan dua cangkir yang berisikan coklat hangat.


"Tapi Bunda. Arya sedang--"


"Tetap tidak boleh," ucap Bunda sekaan tak terbantahkan.


Bahkan Bunda juga langsung memotong perkataanku yang belum terselesaikan.


"Saya gk mau anak saya sakit hati lagi. Mau apa lagi si Arya itu? Dia mau ketemu Vidya supaya bisa nyakitin hati Vidya lagi? Iya? Pokoknya saya gk izinin Vidya kembali ke Indonesia kalau tujuannya untuk bertemu dengan Arya," ucap Bunda yang seakan-akan tak terbantahkan.


"Nggak tante, tolong mengertilah tan. Saat ini Arya sedang sakit karna habis kecelakaan dan saya ke sini mau mengajak Vidya untuk bertemu dengan Arya karna Arya begitu merindukan Vidya," jelas Siren mencoba meyakinkan Bunda.


"Merindukan Vidya? Cih! Dasar plin plan. Sepertinya keputusan saya memang sudah benar dengan tidak bekerja sama dengan perusahaannya, hampir saja saya bergabung dengan perusahaan pria tidak tau diri itu," ucap Bunda dengan menatap sinis Siren.


"Kamu istrinya Arya kan? Kamu pelakor yang udah ngerusak rumah tangga anak saya kan? Berani-beraninya ya kamu datang ke sini," ucap Bunda yang semakin terlihat begitu emosi.


"Bunda udah istighfar Bun," ucapku mengingatkan Bunda agar tidak terbawa emosi.


Bunda menghela nafasnya lalu mulutnya mulai merapalkan istighfar.


"Vidya gk keberatan kok Bun kalau memang Arya mau bertemu Vidya. Karna Vidya rasa sudah cukup jauh Vidya lari dari masalah ini, padahal harusnya Vidya gk lari dari masalah. Masalah ada untuk di hadapi bukan untuk di takuti jadi Vidya memutuskan buat menghadapi masalah ini dan menyelesaikan semuanya," ucapku sambil tersenyum pada Bunda.


Bunda menghela nafasnya, ia berjalan ke arahku dan memeluk diriku.


"Bunda gk tau lagi nak hati kamu terbuat dari apa, yang Bunda tau kamu itu selalu sabar dalam menghadapi semua ini. Kamu juga gk pernah ada niatan sedikitpun membalas dendam pada orang-orang yang bahkan sudah menyakiti hatimu dan Bunda bangga punya putri seperti kamu."


Aku terenyuh mendengar kata-kata Bunda yang terdengar begitu tulus.


"Jadi Vidya bolehkan kembali ke Indonesia?" Tanyaku pada Bunda.


Bunda terdiam ia terlihat sedang berfikir.


"Gk boleh," jawab Bunda.


Aku menghela nafas ku begitu juga dengan Siren yang raut wajahnya tampak kecewa.


"Gk boleh kalau kamu gk ngajak Bunda juga hehe," ucap Bunda lagi di sertai tawanya.


Aku tersenyum begitupun dengan Siren yang juga ikut senang.


"Terimakasih Bunda," ujarku seraya memeluk Bunda.

__ADS_1


Aku tidak tau apa yang akan terjadi nantinya, tapi yang aku tau adalah aku tidak boleh lagi lari dari masalah ini dan aku harus menghadapi masalah ini bukannya malah lari dari masalah.


Aku juga harus mempersiapkan mentalku untuk bertemu dengan Arya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja.


__ADS_2