
Satu bulan sudah berlalu, di lalui dengan penuh air mata dan penantian Vidya yang menunggu Arya sadar dari koma nya dan juga menanti kabar perihal keberadaan putra bungsunya yang tak kunjung ia dapatkan.
Reilla yang melihat Vidya selalu murung pun jadi ikut merasakan apa yang Ummah nya itu sedang rasakan, ini semua memang cobaan yang berat bagi ia dan juga keluarga nya. Ayah nya belum sadar dari koma, Gama juga belum di temukan hingga detik ini.
Reilla bingung sendiri, ia tidak tau harus mencari Gama ke mana. Tak ada jejak yang bisa ia dapatkan untuk mencari keberadaan adiknya itu, Gama itu masih terlalu kecil. Adiknya baru berusia 5 tahun, jadi tak heran jika semua orang dan juga Reilla begitu mengkhawatirkan keadaan dan keberadaan Gama yang masih terasa abu-abu.
Bunyi alat pendeteksi jantung Arya berbunyi nyaring, Vidya dan Reilla tertegun. Dengan sigap Reilla berlari dan segera menekan tombol darurat, tak lama dokter dan beberapa perawat mulai berdatangan. Mereka menyuruh Reilla dan Ummah nya untuk menunggu di luar.
Tentu saja Reilla dan Vidya menurut, Vidya sudah terisak dalam dekapan Reilla. Reilla mengusap punggung Ummah nya yang bergetar, Reilla tidak tau bagaimana caranya agar bisa mengembalikan senyuman Ummahnya yang sempat hilang.
Lumayan lama Reilla dan Vidya menunggu, lalu pintu pun terbuka. Dokter dan perawat tersebut keluar dari ruangan, mereka lalu segera berjalan ke arah Reilla dan Vidya.
"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Tanya Vidya yang langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
Sang dokter terlihat menghela nafasnya sebentar, lalu menatap ke arah Reilla dan Vidya secara bergantian.
"Alhamdulillah, kabar baik Pak Arya sudah berhasil melewati masa kritisnya."
Vidya dan Reilla saling mengucapkan hamdalah, dan berpelukkan dengan penuh rasa haru. Vidya bersyukur, walaupun Gama belum di temukan tapi akhirnya penantiannya menunggu Arya untuk sadar terbayarkan.
Setelah di perbolehkan untuk masuk, menjenguk Arya. Vidya dan Reilla pun saling bergantian masuk, untuk melihat keadaan Arya saat ini.
Vidya menatap lekat wajah suami nya yang masih setia memejamkan mata, Vidya tersenyum penuh haru. Tangannya bergerak mengusap lembut wajah Arya, Vidya agak menundukkan kepalanya dan mengecup kening Arya lumayan lama.
"Cepatlah sadar," bisik Vidya penuh harap tepat di telinga Arya.
Vidya agak menjauhkan tubuhnya dari Arya, ia kembali menatap Arya dan terus mengenggam erat tangan Arya seraya berdoa agar Arya bisa segera sadar.
Brakk
"Ummah!"
Vidya terlonjak kaget saat mendengar suara pintu yang terbuka lumayan kencang, bersamaan dengan munculnya sosok Reilla yang wajahnya tampak memucat dan nafasnya juga terlihat memburu.
__ADS_1
"Kamu kenapa Rei?" Tanya Vidya yang bangkit dan langsung menghampiri putrinya itu.
"U ... Ummah ... hiks Ummah!" Bukannya menjawab Reilla malah langsung berhambur memeluk Vidya erat sambil menangis.
Vidya yang masih kebingungan hanya bisa mengusap punggung Reilla yang tampak bergetar karna menangis, Vidya berusaha menenangkan Reilla terlebih dahulu dan setelah putrinya agak tenang Vidya pun kembali bertanya apa yang sedang terjadi.
Reilla berusaha mengatur nafasnya yang sesegukkan, ia menatap Vidya dengan linangan air mata.
"Katakan sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis? Hmm?" Tanya Vidya dengan lembut sambil mengusap lembut punggung Reilla lagi.
"Ummah yang sabar ya," ucap Reilla dan seketika Vidya mulai di liputi rasa takut.
"Ada apa Rei? Cepat katakan pada Ummah, ada apa?" Tanya Vidya sambil memegang kedua bahu Reilla.
Reilla menundukkan kepalanya, ia tidak tega menyampaikan kabar apa yang telah ia dapatkan. Namun ia harus menyampaikan hal ini pada Ummah nya, akhirnya perlahan Reilla mulai mengangkat kepalanya dan menatap Vidya sendu.
"Ummah ... Rei sudah dapat kabar terbaru mengenani Gama, katanya Gama sudah berhasil di temukan," ucap Reilla lagi membuat Vidya terkejut namun ia tak bisa menahan senyumannya lagi.
Vidya bersyukur dalam hati, akhirnya sudah ada kabar terbaru mengenai putranya itu. Vidya menatap Reilla dengan senyuman bahagia, yang justru membuat Reilla makin terisak.
"Ummah ... hiks ... Gama memang sudah di temukan tapi ...." Reilla mengantung ucapannya, kembali menghela nafasnya gusar lalu menatap Vidya yang sedang menunggu kelanjutan dari perkataannya.
"Tapi apa Rei?" Tanya Vidya sambil menguncangkan tubuh Reilla.
"Tapi ... hiks ... tapi Gama di temukan sudah tidak bernyawa," ujar Reilla yang setelahnya kembali menangis.
Tubuh Vidya melemas seketika, tubuhnya luruh ke atas lantai rumah sakit. Suara Reilla yang memanggil-manggil namanya tidak lagi ia dengar dengan jelas, seolah-olah semua nya terasa redup. Hati Vidya hancur sudah mendengar kabar bahwa putranya sudah di temukan namun dengan keadaan sudah tidak bernyawa.
Hati Ibu mana yang tidak menangis dan merasa hancur saat mendengar kabar bahwa anak mereka sudah tiada, hati ibu mana yang tak sedih saat anaknya, yang sudah ia kandung selama sembilan bulan dan di rawatnya dengan penuh kasih sayang, kini sudah pergi untuk selama-lamanya.
Tangis Vidya pun langsung pecah, ia memeluk kedua lututnya dan terus memanggil-manggil nama Gama. Berharap putranya itu masih hidup, namun kenyataan terkadang berbeda dengan harapan. Vidya hanya bisa menangis, berharap bahwa apa yang ia dengar hari ini tidak lah benar dan hanyalah mimpi, namun sayangnya ini semua adalah kenyataan. Putra tercintanya sudah pergi untuk selama-lamanya.
Bersamaan itu juga Arya mulai membuka kedua matanya, hal yang bertama ia tangkap adalah suara tangis memilukan yang berasal dari Vidya.
__ADS_1
"V ... Vidya," ucap Arya lirih.
Reilla pun tak sengaja menoleh ke arah brankar Arya, ia membulatkan matanya saat melihat bahwa Ayah nya sudah sadar dari koma. Lantas Reilla pun segera memberitahukan hal itu pada Vidya.
Vidya menghapus air matanya, ia segera bangkit dan berjalan menghampiri Arya.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar Mas," bisik Vidya dengan pilu.
Ada perasaan bahagia yang melingkupi hatinya namun ada juga perasaan sendu yang ia rasakan, Vidya lalu memeluk tubuh Arya. Ia menumpahkan tangisnya, dadanya begitu terasa sesak, semuanya terasa bagaikan mimpi.
Arya yang masih belum tau apa-apa hanya bisa mengusap-usap punggung Vidya, dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi bagaimana Vidya bisa merasakan baik-baik saja saat putranya sudah di temukan dan juga di kabarkan sudah meninggal, Vidya tidak bisa merasa baik-baik saja saat ini.
"Kenapa kamu menangis? Hmm? Kangen aku ya?" Goda Arya di sertai senyumannya.
Vidya yang sedang menangis pun ikut membalas senyuman suami nya itu.
"Iya, aku merindukan mu ... hiks sangat," bisik Vidya lirih.
"Di mana Gama?" Tanya Arya membuat Vidya dan Reilla tersentak.
"Gama sudah di temukan Mas," jawab Vidya sambil berusaha menyungingkan senyumannya walaupun rasanya ia tidak sanggup barang untuk tersenyum sekali pun.
"Alhamdulillah, lalu di mana Gama sekarang? Kenapa dia gk jenguk aku juga?" Tanya Arya lagi sambil mencari-cari keberadaan Gama.
"Gama ...." Vidya menjeda ucapannya, rasanya lindah nya ini terlalu kelu.
"Gama ... dia sudah di temukan dalam keadaan tidak bernyawa Yah," ucap Reilla yang melanjutkan ucapan Vidya. Karna Reilla tau Ummah nya pasti tidak kuat menanggung semua ini.
Senyuman di wajah Arya seketika memudar, apa yang sedang Vidya rasakan pun di rasakan juga oleh Arya. Kabar kepergian putra nya, telah berhasil memporak-porandakan hati Arya.
Vidya tidak sanggup lagi berkata, ia hanya bisa menangis. Mengekspresikan suasana hatinya dengan tangisan, namun tak lama Vidya mulai memasang senyuman sendu nya saat mengingat kenangan dirinya bersama dengan Gama dulu.
"Kamu yang sabar ya, kita pasti kuat menghadapi ini semua. Kita hanya bisa mendoakan Gama, agar ia bisa bahagia dan seluruh amal ibadahnya di terima oleh Allah, Aamiin."
__ADS_1
Vidya dan Reilla sama-sama mengamini ucapan Arya, mereka bertiga kemudian kembali larut dalam kesedihan dan serpihan kenangan mereka dengan Gama, yang kini sudah pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan rindu yang menyesakkan dada.