
Setelah tragedi pingsannya Rayn, pria itu segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun sudah hampir setengah jam berlalu Keira belum juga mendapatkan kabar perihal keadaan Rayn saat ini, Keira terus memunajatkan doa untuk Rayn agar pria itu bisa cepat pulih dan baik-baik saja keadaannya.
Dan tak lama keluarlah dokter yang memeriksa Rayn dari dalam ruangan, Keira segera berlari dengan cepat menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan bagaimana kabar Rayn saat ini.
Dokter menjelaskan sesuatu hal yang baru Keira ketahui dan hal itu membuat Keira sangat syok karna selama ini ia tidak pernah tau jika Rayn mengalaminya. Dokter berkata bahwa akibat luka serius di kepalanya membuat Rayn sempat menggalami hilang ingatan, dan hal yang membuat Rayn tak sadarkan diri adalah pria itu terlalu memaksakan diri berusaha mengingat hal-hal yang berkaitan dengan ingatannya yang sempat terlupakan oleh dirinya.
Dokter juga berkata bahwa kini kondisi Rayn belum begitu stabil, pria itu harus mendapatkan penanganan lebih lanjut jadi untuk sementara waktu Rayn harus di rawat terlebih dahulu di rumah sakit.
Setelahnya dokter pamit pergi, Keira mengangguk lalu ia diam terududuk agak syok juga mendengar fakta lain tentang Rayn yang tak ia ketahui.
"Dimana Rayn?!"
Keira terkejut ketika mendengar suara kencang seseorang, yang kini sudah berdiri di depannya dengan raut wajah kesalnya.
"Lo tenang dulu, Rayn masih dalam penanganan dokter," ucap Keira memberitahu orang tersebut yang raut wajahnya terlihat begitu panik dan cemas.
"Saya mau masuk!" Ucap orang tersebut lagi namun Keira berusaha menghadang langkahnya.
"Jangan dulu, dokter bilang Rayn baru bisa ditemui setelah tiga puluh menit lagi," kata Keira menjelaskan apa yang tadi dokter telah sampaikan pada dirinya.
Orang itu berdecak lalu kemudian menatap wajah Keira dengan air wajah tak suka.
__ADS_1
"Ini semua karna kamu! Karna kamu datang ke hidup Rayn, hidupnya jadi hancur! Hidup Rayn jadi berantakkan, dia jadi sering sedih, dia selalu terlibat masalah, dan sekarang? Kamu lihat dia sekarang terbaring di rumah sakit! Semuanya salah kamu!"
Keira hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Nayya, ya orang itu adalah Nayya yang datang dan langsung menuduh bahwa segala hal yang terjadi dalam kehidupan Rayn semuanya diakibatkan oleh Keira.
"Lo bisa tenang dulu gk sih? Ini rumah sakit, kecilin suara lo karna bisa ganggu pasien yang lain. Gue tau lo mungkin gk suka sama gue, tapi gue sendiri gk tau sebenarnya alasan lo sebegini gk sukanya sama gue kenapa sih?" Tanya Keira akhirnya ia menggeluarkan pertanyaan yang memang ingin ia ajukkan sebelumnya pada Nayya yang selalu terlihat tak menyukai dirinya.
"Saya bukan tidak suka, tapi justru saya benci sekali sama kamu. Kamu itu penggangu, perusak, dan juga penghambat hubunganku dengan Rayn. Semenjak ada kamu, Rayn selalu lebih mementingkan kamu dibanding aku! Semenjak ada kamu hidup Rayn yang tadinya damai mendadak keruh itu semua karna ulah kamu!" Maki Nayya yang menyalahkan semuanya pada Keira sama seperti sebelumnya.
Keira hanya bisa menghela nafas, ternyata itu alasannya. Gadis itu merasa bahwa dirinya sudah merebut Rayn dari sisinya begitu? Andai saja Nayya tau sebenarnya Keira juga tak ada niatan merebut Rayn dari Nayya, mereka menikah karna dijodohkan. Lagipula Keira tak memiliki perasaan lebih kepasa Rayn, jika dibandingkan dengan Nayya yang terlihat begitu mencintai Rayn dari matanya bahkan gadis itu sampai memarahi dirinya karna sudah menikah dengan Rayn.
"Lo salah paham kayanya," ucap Keira membuat Nayya bingung apa salah paham yang dimaksud oleh Keira barusan.
"Salah paham bagaimana maksud kamu?" Tanya Nayya meminta penjelasan Keira.
"Iya lo salah paham, gue sama Rayn menikah karna dijodohkan bukan atas dasar suka sama suka," jawab Keira membuat Nayya mengerutkan dahi kemudian berfikir setelahnya mungkin ia menangkap sesuatu lalu ekspresi wajahnya berubah tatkala menatap wajah Keira yang juga sedang menatap ke arahnya.
Keira hanya diam tak menyahuti perkataan Nayya, sebaliknya ia justru kembali berfikir dan bertanya pada dirinya sendiri, apakah benar selama hidup bersama dengan Rayn ia tak memiliki perasaan lebih untuk pria itu?
.....
Setelah tiga puluh menit berlalu, Rayn sudah boleh dijenguk, Nayya sudah masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu sedaritadi sedangkan Keira? Gadis itu masih berada di luar ruangan, masih mempertanyakan pada hatinya apakah tak memiliki perasaan khusus pada Rayn?
Keira tak tahu persis bagaimana rasanya jatuh cinta itu, kata teman-temannya dulu saat SMA jatuh cinta rasanya begitu menyenangkan seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya dan perasaan senang yang seperti mau meledak-ledak.
__ADS_1
Apakah dirinya pernah merasakan semua itu? Hal itulah yang Keira fikirkan sedaritadi, umumnya orang menikah biasanya dilandasi oleh perasaan cinta namun pernikahan Keira dan Rayn kan justru berbeda. Keira jadi bingung sendiri apakah perasaannya untuk Rayn benar-benar spesial atau tidak?
"Keira."
Perhatian Keira teralihkan tatakala Nayya ke luar dari ruangan, gadis itu tersenyum lalu melangkah menghampiri Keira.
"Kenapa lo kesambet? Tumben senyum gitu ke gue," kata Keira bingung melihat Nayya yang tiba-tiba tersenyum lebar seperti itu padanya.
"Mulai sekarang, kamu bukan rival saya lagi. Karna saya sudah mengerti ternyata saya kesal ke kamu cuma karna saya salah paham hehe, saya ngerti kok dan saya juga baru ingat Rayn pernah bilang kalau dia menikah sama kamu karna dijodohkan. Setelah itu kalian akan berpisah, dan Rayn akan menjadi milik saya sepenuhnya. Jadi gk ada alasan bagi saya buat benci sama kamu lagi."
Mendengar perkataan Nayya barusan, apalagi perihal kata pisah yang katanya diberitahukan langsung oleh Rayn pada Nayya, membuat Keira merasa sakit mendengarnya. Berasa ada yang patah tapi bukan ranting nah apa tuh? Hehe.
"Masuklah ke dalam, gantian kamu yang jaga Rayn sekarang. Saya mau pulang dulu sebentar bawa baju ganti karna nanti malam saya yang akan menginap di sini menjaga Rayn."
Setelah mengatakkan itu Nayya berlalu dari hadapan Keira, gadis itu sepertinya benar-benar akan pulang untuk menggambil baju ganti dan menginap di rumah sakit untuk menjaga Rayn yang belum sadarkan diri dan harus dirawat terlebih dahulu untuk sementara waktu.
Membayangkan bahwa Nayya yang akan merawat Rayn malam ini entah mengapa Keira agak merasa tidak suka mengetahui hal itu.
Entahlah ia merasa sebal sendiri, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Keira tak tahu harus berbuat apa selain mengiyakan saja ucapan Nayya tadi.
Keira kemudian masuk ke dalam kamar rawat, tempat dimana Rayn berada saat ini. Keira berjalan mendekat ke arah ranjang tempat Rayn di rawat.
Tangan Keira terulur mengenggam tangan Rayn yang terasa dingin, Keira menatap mata Rayn yang masih terpejam. Terlihat begitu damai sekali jika ditatap, lalu tangan sebelah Keira yang bebas bergerak mengusap lembut rahang Rayn.
__ADS_1
Tanpa Keira sadari ia ikut merasa sedih melihat keadaan Rayn yang kini terbaring sakit seperti ini, melihat Rayn mengingatkan Keira pada momen-momen selama pernikahan mereka yang sudah mereka jalani selama hampir dua tahun ini.
Lantas apakah benar jika selama ini dirinya tak pernah memiliki perasaan lebih pada Rayn? Dan apakah jika yang dibilang Nayya benar kalau Rayn akan berpisah dengannya lalu apakah nanti Keira akan kuat menjalaninya? Entahlah membayangkannya saja sudah membuat Keira ingin menangis. Rasanya ia ingin menghabiskan waktunya lebih lama, mengukir kenangan indah bersama Rayn, sampai waktu perpisahan mereka tiba nanti setidaknya ada hal indah yang akan Keira simpan dalam kenangan hidupnya bahwa pernah ada seorang pria yang hadir dihidupnya walau akhirnya kisah mereka harus berakhir.