
Happy reading! Masih pake sudut pandang penulis/ Author POV.
-
-
-
-
Tak terasa hari sudah menjelang pagi.
"Pagi sayang." Ucap Siren saat Arya membuka kedua matanya.
"Pagi juga." Jawab Arya sambil membalas senyuman Siren.
"Arya, aku laper mau sarapan pizza." Rengek Siren sambil memainkan jari jemarinya di dada bidang Arya.
"Kamu mau sarapan pizza? Hmm?" Tanya Arya namun Siren mengelengkan kepalanya.
"Bukan aku yang mau, tapi dedej bayinya yang mau." Cengir Siren, membuat Arya ikut tersenyum.
"Ya udah kamu mandi dulu sana, nanti aku beliin pizza."
"Bener ya? Kamu mau beliin aku pizza?" Tanya Siren sambil menatap penuh harap pada Arya.
"Iya, udah sana kamu mandi dulu." Siren pun tersenyum senang.
Cup
"Aku sayang Arya." Setelah mengatakan itu Siren pun bangun dan langsung berjalan menuju kamar mandi.
Meninggalkan Arya yang terlihat lesu, karna ia kembali memikirkan Vidya.
Akhirnya Arya menggambil gawai, dan berniat akan memesan pizza untuk Siren.
Setelah itu Arya bangkit dari atas ranjangnya, lalu setelah itu Arya pun keluar dari kamar.
"Vidya." Panggil Arya ketika ia melihat Vidya sedang menata makanan di meja makan.
"Wih pagi-pagi udah ada makanan aja nih, kayanya enak." Arya hendak menggambil makanan tersebut namun tangannya di pukul oleh Vidya.
"Kenapa sih?" Tanya Arya sambil mengelus pungung tangannya yang terkena pukulan Vidya.
"Cuci tangan dulu sana, kebiasaan." Arya nyengir namun ia pun tetap menuruti perintah Vidya.
Hoekkk
Vidya segera berlari ke kamar mandi tidak memperdulikan Arya yang bertanya ada apa dengan dirinya.
Tok tok tok
"Vidya? Lo gk apa-apa?" Tanya Arya yang mengetuk pintu kamar mandi.
Hoekkk hoekk hoekk
Vidya tidak menjawab ia terus muntah, perutnya juga terasa sangat mual, kepalanya juga kembali terasa pusing.
"Vidya! Buka pintu nya, lo kenapa? Jangan bikin gue panik." Teriak Arya dari luar.
Cklek
Vidya pun membuka pintu kamar mandi, Arya menatap wajah Vidya yang terlihat pucat.
"Arya, Aku-" Vidya tidak lagi meneruskan kata-katanya saat Arya malah memeluk dirinya erat.
__ADS_1
"Lo gk apa-apa? Muka lo pucet banget, Lo sakit? Mau ke rumah sakit? Hmm?" Tanya Arya sambil menyeka bulir keringat yang ada di dahi Vidya.
"Aku gk apa-apa Arya, cuma kecapean doang." Ucap Vidya berusaha untuk tersenyum.
"Arya." Arya dan Vidya sama-sama menoleh ke belakang, di sana ada Siren yang berdiri menatap Vidya dan Arya secara bergantian.
"Siren? Loh pizza nya udah datang? Kapan?" Tanya Arya namun Siren hanya diam menatap lurus Vidya.
"Kamu punya hubungan apa sama Vidya?" Tanya Siren dingin.
"Vidya? Kita kan sepupuan." Ucap Arya berbohong, Siren menyungingkan senyuman sinisnya.
"Sepupuan? Aku gk percaya, kalian pasti ada hubungan spesial." Ujar Siren seraya menatap Arya dan Vidya secara bergantian.
"Oke aku bakalan jelasin, sebenernya Vidya bukan adik sepupu aku. Dia itu istri aku." Ujar Arya yang berkata jujur.
Siren terlihat kaget mendengarnya, ia menatap Arya dengan raut wajah berkaca-kaca.
"Kamu bohongin aku! Kamu udah bohongin aku!" Teriak Siren yang langsung membanting pizza yang tadi ada di genggamannya ke lantai.
"Siren tunggu!" Arya memanggil Siren yang sudah menaiki anak tangga.
"Siren, kamu mau apa?" Tanya Arya melihat Siren yang menarik kopernya.
"Aku mau pergi...hiks...aku benci kamu, kamu udah bohongin aku...hiks kamu jahat Arya." Siren berucap sambil menangis, ia merasa dirinya sudah di khianati.
Arya langsung memeluk Siren, ia membiarkan saja Siren memukuli dadanya sambil menangis.
Saat Siren sudah mulai tenang dan tak ada lagi perlawanan, Arya menciumi kepala Siren.
"Jangan pergi ya di sini aja, maafin aku udah bohongin kamu." Lirih Arya di telinga Siren, Siren hanya mengangguk lemah ia masih terisak.
Sementara itu Vidya yang sedaritadi berdiri di depan pintu kamar Arya hanya bisa diam terpaku, air mata di pipinya juga sudah menetes sedaritadi.
Entahlah Vidya juga bingung, akhir-akhir ini dia lebih emosional dari biasanya.
Vidya menghela nafasnya kasar, lalu ia berbalik pergi tidak kuat lama-lama melihat Arya yang begitu lembut menenangkan Siren yang menangis.
Hoekk
Vidya berdecak, lagi-lagi ia merasa sangat mual.
Vidya pun berjalan ke arah kamar mandi dengan mata yang sembab, ia lalu kembali memuntahkan isi perutnya namun tidak ada apa-apa hanya ada cairan bening seperti biasanya.
Namun rasa pusing dan mual ini tidak terasa seperti biasanya.
Vidya merasa sangat-sangat pusing, ia merasa pandangannya berputar.
Vidya memegangi kepalanya yang terasa sangat berat, sampai-sampai membuat Vidya terduduk lemas di lantai.
"To...tolong." Vidya mulai merintih ketika ia merasa kepalanya bertambah pusing, nafasnya juga terasa tidak beraturan.
Di dalam hati Vidya terus beristigfar meminta pertolongan Allah.
Vidya kembali merintih kesakitan saat kepalanya bertambah pusing, perutnya bergejolak dan sangat mual sekali.
Namun Vidya berusaha untuk kuat, perlahan ia mencoba bangkit ingin membuka pintu kamar mandi.
Namun sayang tubuh Vidya ambruk, tergeletak di lantai kamar mandi yang dingin, tak sadarkan diri.
Sementara itu Arya masih menenangkan Siren, bahkan Siren enggan untuk melepaskan pelukannya pada Arya.
Vidya lagi apa ya? Kok gua khawatir sama dia?- Batin Arya yang memikirkan keadaan Vidya.
"Arya!"
__ADS_1
"Eh iya? Kenapa?" Tanya Arya gelagapan ketika Siren berteriak memanggil dirinya.
"Kamu tuh yang kenapa! Udah tau aku dari tadi manggilin kamu terus tapi kamunya malah diem aja, lagi mikirin apa sih? Vidya ya? Hah?!" Arya menghela nafasnya lagi-lagi Siren merasa cemburu pada Vidya.
"Udah dong jangan ngambek lagi, maafin aku ya." Ucap Arya sambil mengusap pipi Siren lembut.
"Jangan tinggalin aku lagi, aku juga gk suka ya kamu mikirin perempuan lain pas lagi sama aku." Siren mencebikkan bibirnya dan semakin mempererat pelukkannya pada Arya.
Arya hanya diam, tangannya bergerak mengelus rambut panjang Siren.
Sementara fikiran Arya sedang tertuju pada Vidya, ia juga sedaritadi merasa resah apalagi tadi Vidya terlihat sedang tidak enak badan.
"Aku ngantuk." Ucap Siren sambil menelusupkan kepalanya di dada Arya.
"Ya udah kamu tidur ya, aku yang temenin." Ujar Arya yang mengecup kepala Siren dan mempererat pelukkannya, ia juga membiarkan dadanya menjadi bantalan untuk Siren.
Setelah Siren tertidur pulas, Arya pun dapat bernafas lega.
Perlahan ia menurunkan kepala Siren dari tubuhnya, lalu meletakkannya di atas bantal.
Cup
"Maafin aku ya." Ujar Arya lirih sambil tersenyum sendu.
Akhirnya Arya pun pergi juga dari kamar Siren.
Kini tujuannya hanya satu, yaitu memastikan bahwa Vidya baik-baik saja.
"Vidya!" Sesampainya di lantai bawah, Arya segera berteriak memanggil nama Vidya.
Ia menghampiri kamar Vidya namun Vidya tidak ada, lalu Arya beralih ke dapur, namun dapur terlihat sangat sepi.
Arya sampai mengacak rambutnya frustasi.
"Dimana lo Vidya..." lirih Arya yang menghela nafas gusar.
Lalu Arya berniat ke kamar mandi, untuk mencuci wajahnya.
Cklek
"Astaga Vidya!" Pekik Arya begitu terkejut melihat Vidya yang sudah terkapar tak sadarkan diri di lantai.
"Vidya...bangun." ucap Arya sambil menepuk-nepuk pipi Vidya.
Namun tidak ada jawaban atau pun pergerakkan dari Vidya.
Arya mengenggam tangan Vidya yang terasa begitu dingin.
Deg
Tiba-tiba perasaan takut menyelisik ke dalam dada Arya.
Dengan sigap Arya segera mengendong Vidya ala bridal style.
Ia akan membawa Vidya ke rumah sakit untuk segera di periksa.
Karna Arya rasa keadaan Vidya sekarang ini begitu memperihatinkan, dan Arya juga merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa langsung menolong Vidya, ia malah asyik bersama Siren.
"Arggg Arya, lo **** banget!" Umpat Arya yang di tujukkan untuk dirinya sendiri.
Arya berdecak kesal saat ia terjebak kemacetan.
Lalu Arya menatap ke arah Vidya yang ada di sampingnya yang masih memejamkan mata.
"Bertahan Vidya...hiks bertahanlah." Ujar Arya yang mengecup punggung tangan Vidya sambil meneskan air mata.
__ADS_1
"Vidya, gue rasa...gue mulai cinta sama lo." Ucap Arya lirih mengusap lembut wajah Vidya penuh kasih sayang.