
Reilla dan Arya sudah tiba di rumah Aksara untuk menghadiri pesta ulangtahunnya, Reilla yang kini terlihat sangat cantik dengan gaunnya membuat dia terlihat bak seorang princess.
Arya mengandeng tangan putri kecilnya itu masuk ke dalam rumah Siren yang megah, di dalam rupanya sudah ramai tamu undangan yang berdatangan.
"Haii akhirnya Rei datang juga," seru Siren yang menyadari kedatangan Reilla dan Arya.
"Iya Tante, oh iya Tante ini Rei punya kue ulang tahun untuk Kak Aksa. Ini Rei sendiri loh yang buat di bantuin sama Kakak cantik hehe," ujar Reilla yang menyerahkan kue buatannya yang berada di dalam kotak pada Siren.
"Kamu langsung kasih ke Aksanya aja ya? Sebentar, Aksa sini nak!" Panggil Siren pada Aksara yang terlihat sedang mengobrol dengan teman sebayanya.
Aksara yang mendengar panggilan Siren pun langsung datang menghampiri Siren.
"Ada apa Bunda?" Tanya Aksara ketika sudah sampai di hadapan Bundanya.
"Ini kue ulang tahun dari Rei, ini buatan Rei sendiri loh."
Aksara memperhatikan kotak yang saat ini ada di tangan Reilla dengan ekspresi datarnya.
"Ini kue ulang tahun buat Kak Aksa dari Rei, Rei buat sendiri loh."
Lagi-lagi Aksara masih diam menatap datar Reilla tanpa senyuman di wajahnya.
"Gk Aksa gk suka kue manis," ucap Aksara lalu setelah mengatakan itu ia pergi begitu saja kembali menghampiri teman-temannya tanpa memperdulikan Siren yang tampak marah dengan sikap anaknya itu.
"Duh maafin Aksa ya Rei, nanti Tante marahin deh Aksanya," ujar Siren yang tidak tega melihat raut wajah Reilla yang tampak sedih.
"Rei gk apa-apa kan?" Tanya Arya yang juga merasa kasihan melihat wajah putrinya yang tampak murung.
Reilla mengelengkan kepalanya bahkan gadis kecil itu juga memaksakan diri untuk tersenyum, bersikap seolah-olah dia baik-baik saja padahal Reilla sangat sedih karna Aksara tidak mau menerima kue ulang tahun yang sudah susah payah ia buat.
"Reilla!"
Suara nyaring khas anak kecil terdengar memanggil nama Reilla, lalu Reilla yang merasa namanya di panggil pun segera menolehkan kepalanya kebelakang.
"Aisye!" Seru Reilla saat melihat sosok seorang gadis kecil yang seumuran dengannya sedang tersenyum pada Reilla.
Gadis kecil bernama Aisye itu pun langsung melangkah menghampiri Reilla, ia menyungingkan senyumannya untuk Reilla.
"Kok kamu bisa datang juga ke pestanya Kak Aksa?" Tanya Reilla heran kenapa teman TK nya itu bisa hadir ke pesta Aksara.
"Aku ikut sama Om aku, kebetulan Om aku di undang ke pesta ini."
Reilla menganggukkan kepalanya mengerti, lalu tak lama dari arah pintu terlihat seorang pria muda tampan yang masuk ke dalam rumah lalu datang menghampiri Aisye.
"Selamat ulang tahun untuk Aksa," ujar pemuda tersebut pada Siren dan di balas anggukkan oleh Siren.
Pemuda itu lalu menoleh pada Arya lalu memberikan senyumannya dan juga menyalami tangan Arya, ternyata pemuda itu adalah rekan bisnisnya Siren yang memang sengaja ia undang untuk hadir di pesta ulang tahunnya Aksara.
"Ayah, Rei mau main sama Aisye boleh gk?" Tanya Reilla meminta izin terlebih dahulu pada Arya.
Arya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya mengizinkan Reilla untuk bermain bersama Aisye.
"Silahkan di nikmati pestanya," ujar Siren dan di balas anggukkan oleh pemuda itu, lalu pemuda yang merupakan Om nya Aisye pun pamit untuk menghampiri temannya yang juga kebetulan di undang di pesta itu.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Arya dan Siren yang saling diam, Siren menatap wajah Arya yang masih saja sama seperti dulu. Pria itu masih terlihat tampan walaupun saat ini umurnya sudah 30 tahun.
"Mau cerita apa?" Tanya Siren, sebelum datang ke pesta Aksara, Arya memang sempat menghubungi Siren. Arya bilang dia ingin bercerita sesuatu pada Siren dan saat ini Siren menagih ucapan Arya yang katanya kau bercerita sesuatu padanya.
"Jangan di sini terlalu ramai," ujar Arya yang melirik ke arah sekitar.
Siren yang mengerti bahwa yang akan Arya bicarakan ini merupakan urusan yang penting, jadi Siren pun mengajak Arya ke ruangan kerjanya.
"Silahkan duduk dulu," ujar Siren yang mempersilahkan Arya duduk di kursi yang berhadapan dengannya, hanya meja saja yang menjadi pemisah di antara mereka.
Arya menghela nafasnya, ia sudah memutuskan akan menceritakan hal ini pada Siren karna Arya benar-benar sudah kebingungan saat ini.
"Mamah nyuruh gue buat nikah lagi," ujar Arya yang mulai mengawali cerita.
Siren tidak banyak omong ia memberikan Arya untuk menceritakan permasalahannya secara keseluruhan terlebih dahulu, Arya bercerita tentang Mamahnya yang berniat menjodohkan Arya dengan perempuan dengan alasan merasa kasihan padanya dan juga kasihan pada Reilla.
"Lo juga pasti tau kan, kalau gue tuh cintanya cuma sama Vidya? Kenapa coba Mamah gua pake acara jodoh-jodohin segala."
Siren menghela nafasnya, lumayan berat juga ternyata masalah yang di hadapi oleh mantan suaminya itu.
"Gimana ya, kalau menurut gue Mamah lo juga gk salah sih. Beliau niatnya sebenarnya baik, dia cuma mau Rei punya sosok Ibu kaya anak-anak yang lain. Mamah lo juga gk tega dan ngebayangin gimana nanti lo di masa tua kalau dia udah gk ada, apa nanti akan ada orang yang bakalan ngurusin lo? Karna Reilla juga pasti bakalan tumbuh besar, dia juga pasti nanti bakalan berkeluarga dan otomatis dia pasti kelak akan ikut suaminya. Mamah lo tuh cuma khawatir sama lo, niat dia sebenarnya baik kok," ujar Siren panjang lebar menjelaskan pendapatnya tentang cerita Arya.
Arya menghela nafasnya, ia mencoba meresapi kata-kata Siren dengan baik-baik.
"Iya sih lo ada benarnya, tapi lo tau kan kalau gue cintanya cuma sama Vidya."
"Iya gue tau," jawab Siren singkat membuat Arya berdecak sebal.
"Takut kenapa?" Tanya Siren yang bingung dengan perkataan Arya.
"Gue takut kalau nanti gue nikah lagi, gue gk bisa mencintai istri gue itu dengan tulus karna gue cinta gua masih selalu buat Vidya," ujar Arya sambil tersenyum sendu membayangkan betapa besar cintanya pada Vidya.
"Kalau Reilla? Apa lo juga udah mikirin tentang dia?" Tanya Siren membuat Arya bingung dengan ucapan Siren.
"Maksud lo apaan?" Tanya Arya yang tidak mengerti maksud perkataan Siren.
"Apa lo yakin Rei gk butuh sosok seorang Ibu? Apa lo yakin dia baik-baik aja tanpa sosok Ibu?" Tanya Siren membuat Arya seketika terdiam.
"Rei baik-baik aja kok, kaena gue yakin soalnya dia punya gue yang bisa berperan jadi Ayah sekaligus sosok Ibu buat dia," ujar Arya.
Siren tersenyum tipis entah mengapa dia mulai mengkhawatirkan Reilla, gadis kecil itu memang tampak baik-baik saja dari luar tapi kita tidak bisa menebak apa yang ada di hati gadis kecil itu.
"Kalau gitu itu terserah lo mau gimana, cuma tolong pastiin semoga Rei baik-baik aja."
Arya menganggukkan kepalanya, lalu keduanya pun terdiam.
"Kita keluar aja yuk, gk enak sama tamu lainnya."
Arya pun bangkit, dan berjalan keluar dari ruangan kerja Siren. Di luar sudah banyak tamu yang berdatangan, bahkan banyak anak-anak yang berlari kesana kemari.
"Gue ke temen gue dulu ya," pamit Siren, dan di balas senyuman oleh Arya.
Setelah Siren pergi, kini tinggal Arya sendirian yang sedang mengamati suasana pesta yang ramai dengan alunan musik, Arya mengedarkan pandangannya untuk mencari dimana putri kecilnya itu berada.
__ADS_1
Lalu manik mata Arya melihat di sudut ruangan ada putrinya dan juga Aksara, tapi ia melihat ada yang tidak beres di sana. Akhirnya Arya pun melangkahkan kakinya menghampiri Reilla dan Aksara.
"Huaaa ...."
Arya yang baru saja tiba sudah di sambut dengan isak tangis dari putrinya yang Arya sendiri tak tau apa yang membuat putrinya itu sampai menangis seperti ini.
"Rei kenapa sayang?" Tanya Arya yang langsung berjongkong menyamakan tingginya dengan Reilla, Rei yang masih terisak menatap wajah Ayahnya itu.
"Hiks Ayah, Kak Aksa nakal. Dia bilang dia gk suka sama Rei," ucap Reilla yang mengadukan penyebab kenapa ia bisa sampai menangis.
Arya yang tidak paham maksud dari putrinya itu pun hanya bisa menenangkan putrinya itu.
"Kak Aksa nakal! Rei gk mau main sama Kak Aksa lagi! Ayo Ayah kita pulang," ucap Reilla di sela tangisnya.
Sementara itu Aksara hanya diam ketika Reilla berteriak padanya, Arya yang menoleh pada Aksara pun hanya di balas tatapan datar oleh bocah itu.
Akhirnya Arya dan Reilla pun pamit terlebih dahulu pada Siren untuk segera pulang, karna sepertinya mood putri kecilnya sudah rusak karna bertengkar dengan Aksara dan Arya juga tidak tau apa penyebab mereka bertengkar.
Di sepanjang perjalanan Reilla hanya diam sambil sesekali masih terisak tapi tangisnya tidak terlalu kencang seperti sebelumnya.
Reilla duduk di samping Arya yang sedang fokus menyetir mobilnya.
"Ayah Rei mau punya Ibu."
Ckitttt
Arya yang mendengar ucapan putrinya itu pun langsung mengerem mendadak, untung saja saat ini jalanan agak lengang dan Arya pun langsung menepikan mobilnya terlebih dahulu.
Arya menoleh pada putrinya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
"Kenapa Rei tiba-tiba ngomong gitu?"
"Rei mau punya Ibu juga kaya anak-anak yang lain, tadi semua anak di pestanya Kak Aksa pada cerita tentanf Ibu mereka tapi Rei bingung mau cerita apa karna Rei kan gk pernah ketemu Ummah."
Mendengar penuturan Reilla, Arya menjadi ikut sedih. Dia juga merasa kasihan pada putrinya itu, selama ini ia kira Reilla baik-baik saja tanpa adanya sosok seorang Ibu tapi nyatanya Reilla terlihat begitu sedih saat ini.
"Ayah gk bisa ngabulin permintaan Rei ya?" Tanya Reilla lagi yang semakin menundukkan kepalanya.
"Maafin Ayah Rei, tapi Ayah belum bisa ngelupain Ummah kamu."
Reilla yang mendengar itu hanya menghela nafasnya, kemudian gadis kecil itu menoleh pada Arya sambil tersenyum.
"Lupain aja ya Yah apa yang tadi Rei bilang, Ayah jangan sedih nanti Rei juga ikut sedih."
Arya yang melihat putrinya itu mendekat padanya dengan mata berkaca-kaca membuat Arya mengelus kepala Reilla lembut.
"Ayah gk sedih ko, sekarang kita pulang ya?"
"Iya," jawab Reilla yang sudah tersenyum kembali.
Arya pun melanjutkan kembali perjalanannya, namun perkataan Reilla terus menganggu fikirannya. Ternyata selama ini Arya sudah terlalu egois sehingga tidak bisa mengerti perasaan putri kecilnya sendiri.
Tapi Arya juga bingung, haruskah ia mencari sosok Ibu untuk Reilla walaupun dia takut jika tidak bisa memberikan cintanya pada perempuan itu kelak, karna cinta Arya tetap untuk Vidya.
__ADS_1