Without You

Without You
[S3] Berlalu


__ADS_3

5 tahun kemudian ....


Pagi ini cuaca sangat cerah, mentari bersinar begitu riang. Burung-burung saling berkicau antara satu dan yang lain.


Embun pagi membasahi dedaunan dan juga pepohonan, menambah sejuk udara pagi ini.


"Ummah!"


Suara nyaring seorang anak laki-laki terdengar memenuhi isi rumah, Vidya yang tadi sedang menyiapkan sarapan pun menoleh sambil mengelengkan kepalanya.


"Gama! Jangan lari!"


Vidya menoleh ke arah tangga, di sana ada Reilla yang sedang menuruni anak tangga mengejar anak laki-laki yang kini sudah berlindung di balik tubuh Vidya.


"Gama! Sini kamu!" Ucap Reilla yang tampak kesal, entah apa yang membuat Reilla kesal. Vidya pun tidak tau penyebabnya.


"Kalian ini kenapa sih? Coba jelaskan sama Ummah, ini tuh ada apa?" Tanya Vidya yang berusaha menengahi kegaduhan di pagi hari ini.


"Itu Ummah, Gama ngerusakkin headset punya Rei terus gk mau ngaku lagi," ucap Reilla yang menyampaikan rasa kesal yang ia alami pada Vidya.


Vidya menghela nafas lalu ia membalikkan badan agar bisa  melihat ke arah putrnya yang tadi bersembunyi di balik tubuhnya.


"Jujur sama Ummah ya, emang kamu yang udah ngerusakkin headset punya Kak Rei?" Tanya Vidya dengan lembut tanpa ada nada menghakimi.


Anak laki-laki bernama Gama itu pun menundukkan kepalanya lalu mengangguk pelan.


"Tuh kan bener kamu yg rusakkin headset Kakak."


Gama semakin menundukkan kepalanya mendengar ucapan Kakaknya barusan yang terlihat kesal padanya.


Vidya yang melihat raut wajah murung putranya pun berusaha menghibur putranya itu, tangan Vidya terulur untuk mengusap lembut kepala Gama.


"Lain kali kamu harus jujur dan berani mengakui kesalahan jika memang kamu salah, ayo sekarang minta maaf sama Kak Rei dan jangan di ulangi lagi ya. Gama paham kan apa yang Ummah bilang?"


Gama mengangkat kepalanya lalu menatap manik mata Vidya yang penuh ketulusan, Gama pun menganggukkan kepalanya, menurut.


"Kak Rei, maafin Gama ya udah gk jujur dan udah ngerusakin headset Kak Rei," ucap Gama yang berusaha meminta maaf pada Reilla.


Reilla menarik nafas lalu menghembuskannya, ia berjongkok, menyetarakan tingginya dengan tinggi badan Gama. Di tatapnya adik kecilnya yang tampan itu, Reilla pun menyungingkan senyuman lalu mengusap lembut kepala Gama.


"Udah Kakak maafin, lain kali kamu harus jujur dan mau bertanggung jawab serta mengakui kesalahan yang kamu perbuat."


"Iya Kak, Gama akan lebih jujur lagi," ucap Gama lagi.


Vidya tersenyum melihat interaksi antara putri sulung dan putra bungsunya yang saat ini sudah kembali berbaikkan, Gama juga sudah tersenyum lagi.


Kadang Vidya juga heran, baik Reilla ataupun Gama. Keduanya kadang sering tidak akur namun tak lama keduanya sudah berbaikkan kembali.


"Udah yuk kita sarapan dulu aja," ucap Vidya menyuruh anak-anaknya untuk duduk.


"Assalamu'alaikum."


Gama yang mendengar suara ucapan salam itu pun segera turun dari kursi dan berlari, mengabaikan suara Vidya yang menyuruhnya untuk tidak berlari-lari.


"Ayah!" Teriak Gama yang berlari menghampiri sosok Arya yang baru saja datang.

__ADS_1


Walaupun sebelumnya Arya merasa lelah, tetapi ia masih melebarkan senyumnya. Ia rentangkan kedua tangannya, menyambut putranya ke dalam dekapan hangatnya.


"Gama kangen Ayah."


Arya tersenyum tatkala mendengar ucapan rindu yang di lontarkan oleh Gama untuk dirinya, tangan Arya terulur untuk mengelus lembut punggung Gama.


"Ayah juga kangen Gama," balas Arya sambil mengecup pipi Gama dari samping membuat Gama terkekeh karna merasa geli.


"Wa'alaikumussalam, Mas udah pulanh ternyata," ucap Vidya yang datang menghampiri Arya lalu menyalimi tangan Arya.


Arya tersenyum lalu memberikan kecupan di dahi Vidya, ia mengecup dahi Vidya dengan sayang.


"Mas pasti lelah setelah perjalanan jauh, aku udah siapin kamu air hangat untuk mandi," ujar Vidya yang menggambil alih tas kantor dan barang bawaan Arya yang baru saja tiba dari luar Negri untuk urusan pekerjaan.


"Lelahnya langsung hilang kalau liat wajah kamu," ujar Arya lembut dengan senyuman yang masih tercetak di bibir ranumnya.


Vidya bersemu, dan merasa malu mendengar perkataan Arya barusan. Hal itu tentu saja membuat Arya merasa gemas pada tingkah istirnya itu.


"Gombal terus kamu mah," tukas Vidya lagi dengan wajah yang masih memerah karna malu.


"Ayah bawain pesanan Gama kan?"


Tatapan Arya pun beralih pada putra bungsunya yang baru saja menarik lengan bajunya, Arya tersenyum lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi tubuhnya Gama.


"Tentu Ayah gk mungkin lupa sama kamu," balas Arya sambil mencolek ujung hidung mancung milik Gama.


Gama bersorak riang sambil berjingkrak-jingkrak, anak itu terlihat sangat bahagia sekali saat ini.


"Alhamdulillah Ayah sudah pulang," ucap Reilla yang baru saja hadir di tengah-tengah Arya, Vidya, dan juga Gama.


Arya melangkahkan kakinya menghampiri sosok putrinya yang sudah tumbuh semakin besar, padahal rasanya dulu Arya baru saja mengendong dan menimang Reilla. Ternyata waktu memang berjalan dengan begitu cepatnya.


"Gimana kabar kamu sayang? Hmm?" Tanya Arya setelah mencium pipi Reilla.


"Alhamdulillah baik, Ayah sendiri bagaimana perjelanannya kemarin? Seru kah?" Tanya Reilla lagi dan di balas anggukkan oleh Arya.


"Tidak seseru kalau kamu, Ummah, dan Gama ikut," jawab Arya lagi dan membuat Reilla menyungingkan senyumannya.


Reilla tau, selama ini Ayahnya adalah sosok yang lembut dan juga penyayang. Arya adalah sosok seorang kepala rumah tangga yang selalu mencintai keluarganya dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya dan Reilla bangga memiliki Arya sebagai Ayahnya.


"Sudah ya nanti lagi ngobrolnya, Ayah kalian baru pulang dari perjalanan jauh dan pasti sangat lelah. Jadi biarkan Ayah membersihkan diri dulu ya setelah itu kalian bebas mau mengobrol dengan Ayah," ucap Vidya dan di balas anggukkan oleh kedua anaknya.


Arya ikut bersama Vidya yang memintanya untuk membersihkan diri terlebih dahulu setelah pulang dari perjalanan jauh, Arya hanya menurut saja.


Namun tak lama Vidya kembali lagi menghampiri Reilla yang saat ini sedang ada di meja makan bersama dengan Gama.


"Rei, Ummah boleh minta tolong tidak?" Tanya Vidya saat sudah berdiri di samping kursi yang Reilla duduki.


"Tentu, minta tolong apa Ummah?" Tanya Reilla sambil menoleh ke arah Vidya.


"Ummah minta tolong antarkan rendang ini untuk Tante Siren ya."


Reilla hanya diam, namun tak lama akhirnya ia menganggukkan kepalanya juga.


"Makasih sayang," ucap Vidya sambil mengecup sayang pipi Reilla lalu setelah itu Vidya pamit untuk kembali ke kamarnya lagi.

__ADS_1


"Kak Rei, Gama mau main PS dulu ya," pamit Gama dan di balas anggukkan kepala saja oleh Reilla.


Reilla menghela nafasnya, ia menatap tempat makan yang telah di siapkan oleh Ummah nya itu untuk di berikan pada Tante Siren yang merupakan Ibu dari Aksara.


Jadi jika Reilla mengantarkan rendang itu ke rumah Tante Siren otomatis ia akan kembali teringat akan sosok Aksara yang selama lima tahun ini selalu ia nantikan ke pulangannya dari Jepang untuk menimba ilmu.


Meskipun rasa sesak di relung hatinya tidak bisa ia tutupi, Reilla berusaha tegar. Usahanya selama lima tahun ini untuk melupakan Aksara nyatanya belum sepenuhnya berhasil, sejak kecil hingga kini ia masih saja mengagumi Aksara yang padahal tak pernah menganggap dirinya ada, miris memang.


Reilla beranjak lalu ia segera keluar dari rumah dan berjalan menuju ke arah rumah Aksara.


"Rei!"


Reilla menghentikan langkahnya saat ada sebuah suara yang menghentikan dirinya, perlahan tubuh Reilla pun berbalik dan tersenyum saat ia melihat siapa sosok yang tadi baru saja menyapa dirinya.


"Mau kemana Rei?" Tanya orang yang tadi menyapa Reilla, yang saat ini sudah berdiri di hadapan Reilla.


"Ini Kean, aku mau anterin makanan ke rumah Tante Siren," ucap Reilla sambil menunjukkan tempat makan yang ada di tangannya.


Reilla melihat orang di hadapannya itu menganggukkan kepalanya mengerti, Reilla tentu saja mengenal orang itu. Dia adalah Keanu, tapi Reilla biasa memanggil dirinya dengan sebutan Kean.


"Mau aku temenin gk?" Tanya Keanu yang menawarkan diri untuk mengantar Reilla.


"Gk usah Kean, aku bisa sendiri kok lagian rumah Tante Siren kan deket."


Keanu menghela nafasnya lalu tersenyum berusaha menerima penolakan Reilla untuk mengantarkan gadis itu.


"Ada yang mau Kean bilang ke Rei ya?" Tanya Reilla yang bisa membaca raut wajah Keanu.


"Anu, itu loh Rei. Kamu di pinta Kae untuk datang ke rumah siang nanti, ada sesuatu yang penting katanya," ucap Keanu lagi dan di balas anggukkan kepala serta senyuman lembut oleh Reilla.


"Oke, bilang sama Kae ya Kean. Aku pasti bakalan datang ke rumah kalian siang nanti," ucap Reilla lalu gadis itu pamit untuk kembali meneruskan langkahnya ke rumah Tante Siren dan tentu saja Keanu mengizinkannya walau ada perasaan tidak rela melihat Reilla berjalan jauh darinya tapi apa boleh buat ia tidak berhak menghentikan langkah Reilla karna ia bukan siapa-siapanya Reilla saat ini.


[]


Ting ... tong ... ting ... tong


Reilla menekan bel yang ada di depan rumah Siren, tak lama pintu rumah pun terbuka menampilkan sosok Bi Iyem yang merupakan asisten rumah tangga di rumah Siren dan juga sudah lumayan akrab dengan Reilla.


"Assalamu'alaikum Bi Iyem, Tante Sirennya ada gk di rumah? Ini Rei mau nganterin rendang buatan Umi."


"Wa'alaikumussalam Non Rei,  Bunda Siren tadi lagi pergi keluar sebentar. Ada sesuatu yang mau ia beli katanya," ucap Bi Iyem pada Reilla.


"Kalau mau Non Rei tunggu saja di dalam, soalnya kata Bunda Siren tadi kalau ada Non Rei datang di suruh tunggu dulu aja di dalam," ucap Bi Iyem menyampaikan pesan Siren sebelum ia pergi ke luar rumah.


Akhirnya Reilla menganggukkan kepalanya, ia memutuskan untuk menunggu kedatangan Siren di dalam rumahnya saja lebih tepatnya di ruang tamu.


"Gk usah repot-repot Bi Iyem," ucap Reilla yang merasa tak enak hati saat Bi Iyem meletakkan camilan di meja depan Reilla.


"Gk apa-apa Non Rei, tamu itu kan Raja jadi harus di layani dengan sebaik mungkin," sahut Bi Iyem lagi dan Reilla hanya bisa mengangguk, pasrah.


Ting ... tong ... ting ... tong


Tak lama suara bel mulai terdengar berbunyi lagi, Bi Iyem pun pamit pada Reilla untuk membukakan pintu rumah. Siapa tau yang datang saat ini adalah Siren yang Reilla tunggu.


"Bunda! Aksa pulang!"

__ADS_1


Deg


Suara itu sukses membuat tubuh Reilla menegang di tempat, jantungnya kembali berdegup kencang. Usaha untuk melupakan yang Reilla lakukan buyar sudah, padahal Reilla baru saja mendengar suaranya apalagi jika dia sudah melihat sosok pria itu, ambyar sudah hati Reilla saat ini.


__ADS_2