
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Tak terasa seminggu sudah berlalu begitu cepat, dan kini titik terang dari kasus penculikan Vidya perlahan mulai terungkap.
Polisi sudah berhasil menemukan penculik tersebut, dan kini sedang dalam pengusutan apakah ada dalang di balik kasus penculikan Vidya ini atau murni kasus penculikan tunggal.
Saat ini Vidya sudah kembali ke rumah, sebenarnya ia masih harus di rawat di rumah sakit tapi Vidya merasa tidak nyaman dan memilih untuk di rawat di rumah saja.
Selama Vidya terbaring sakit, Astrid lah yang senantiasa mengurus Vidya.
Ketika Astrid tau Vidya menjadi korban penculikan, dan ketika ia tau Vidya tertembak, seketika itu lah rasanya Astrid merasa sangat cemas dan takut terjadi sesuatu dengan Vidya dan bayi di kandungannya.
Namun syukurlah ternyata Vidya dan kandungannya baik-baik saja, tapi ia tetap saja cemas mendengar kabar kalau Vidya terkena luka tembak dan harus di operasi.
Namun kini Vidya sudah berada di dekatnya, rasa khawatirnya sudah mulai sedikit berkurang.
"Bunda, udah ya makannya. Perut Vidya mual." Ucap Vidya yang enggan untuk meneruskan makannya.
"Ya sudah, tapi susunya jangan lupa di minum loh ya." Ucap Astrid lagi dan di balas anggukkan oleh Vidya.
"Bunda bukannya tadi ada pekerjaan yang mau bunda urus?" Tanya Vidya mengingatkan.
"Iya sih, tapi Bunda gk mau ninggalin kamu sendirian lagi." Ucap Astrid yang trauma dengan hilangnya Vidya beberapa hari lalu.
"Nggak apa-apa Bunda, kan sekarang Bunda udah nyewa pengawal buat ngawal aku." Ucap Vidya, Astrid melihat ke arah luar, di depan pintu kamar Vidya sudah berdiri dua orang dengan badan yang tegap yang memang ia sewa untuk mengawal dan menjaga Vidya.
"Bunda gk usah khawatir, lagi pula ada Allah yang selalu melindungi Vidya." Ucap Vidya meyakinkan Astrid bahwa ia akan baik-baik saja.
"Beneran kamu gk apa-apa?" Tanya Astrid cemas, Vidya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau butuh apa-apa minta tolong sama pengawal mu atau gk langsung panggil Bunda." Ucap Astrid dan di balas anggukkan oleh Vidya.
__ADS_1
Lalu setelah itu Astrid pun beranjak keluar dari kamar Vidya, tak lupa ia menutup pintu kamar Vidya.
Vidya menghela nafasnya, ingatannya kembali pada kejadian menegangkan malam itu yang ia alami.
Kejadian yang membuat dirinya harus kembali dekat dengan Arya.
Arya, mengingat dirinya membuat Vidya ingat jika pria itu lah yang menunggu dan menjaganya di rumah sakit hingga ia siuman.
Lalu setelah Vidya sadar, Arya hendak pergi namun sebelum itu ia sempat bertanya pada Vidya, dan pertanyaan itu lah yang kini mengusik Vidya hingga saat ini.
"Bayi dalam kandungan lo, itu anak siapa?"
Begitulah yang Arya tanyakan pada Vidya tempo hari, rasanya lidah Vidya begitu kelu hanya untuk sekedar mengatakan bahwa anak yang ia kandung adalah anaknya Arya.
Namun Vidya saat itu hanya diam saja tidak mengeluarkan suara apapun, hingga akhirnya Arya pergi meninggalkannya.
Mengingat kejadian itu membuat Vidya kembali dilema, ia sangat bingung, apakah ia harus mengatakan pada Arya kalau anak yang ada di kandungannya ini adalah anaknya atau ia harus merahasiakannya lagi.
Tapi sampai kapan? Sampai kapan ia harus merahasiakan kebenarannya? Harus sampai kapan lagi, Vidya menyembunyikan fakta bahwa anak yang ia kandung adalah darah daging Arya.
Vidya sangat bingung saat ini, di satu sisi ia ingin memberitahu Arya tentang kebenaran ini tapi di sisi lain ia takut, ia takut jika kebenaran ini bisa menghancurkan hubungan Arya dengan Siren.
Atau kemungkinan yang paling buruk adalah, Vidya takut jika ia memberitahu Arya tentang anaknya, Siren akan kembali mencoba menyakiti dirinya dan bayi dalam kandungannya.
Dan Vidya tidak mau itu terjadi, ia tidak mau melakukan hal-hal yang dapat mengancam nyawa bayi di dalam kandungannya ini.
Mungkin seiring berjalannya waktu, Arya juga akan tau jika anak dalam kandungannya ini adalah anaknya Arya.
Vidya mengelus perutnya yang sudah semakin membesar, minggu depan sudah memasuki bulan baru, itu berarti usia kandungannya akan bertambah menjadi enam bulan.
Itu artinya tinggal tiga bulan lagi untuk Vidya bisa bertemu dengan anaknya, dan Vidya sangat tidak sabar menunggu waktu itu tiba.
Vidya juga tak henti-hentinya berdoa agar ia di permudah dalam melahirkan kelak, semoga dirinya dan anaknya akan baik-baik saja dan sehat selalu.
Memikirkan kasus penculikan itu, Vidya sudah tau jika penculik nya sudah di tangkap dan kasus ini juga sedang dalam proses penyelidikan.
Vidya berharap jika kasus itu bisa segera terungkap, karna ia begitu penasaran apa motif penculik itu yang sangat ingin menghabisi nyawa dirinya dan anaknya.
Drrtttt drrtt
Vidya tersentak saat gawai nya berdering, Vidya pun segera menyambar gawainya dan mengangkat panggilan masuk tersebut.
Raut wajah Vidya berubah seketika, lalu tak lama panggilan itu pun berakhir.
__ADS_1
Vidya menghela nafasnya ia segera bangkit dari duduknya, perlahan ia berjalan menuju ke arah pintu kamarnya.
"Nona mau kemana?" Tanya salah satu pengawal di depan pintu kamar Vidya, saat mereka melihat Vidya keluar dari kamar.
"Saya ingin ke kamar Bunda saya." Jawab Vidya, para pengawal itu pun mengangguk mereka lalu mengikuti langkah Vidya.
Vidya pun menghentikan langkahnya, dan berbalik.
"Kalian gk perlu ngikutin saya terus, saya baik-baik aja." Ucap Vidya yang sejujurnya merasa risih di ikuti seperti itu.
"Tapi nona-"
"Sudah tidak apa-apa, kalian jaga aja di depan kamar saya. Insyaallah saya akan baik-baik saja." Ucap Vidya dan di balas anggukkan oleh dua pengawal itu.
Setelah dua pengawal itu tidak lagi mengikuti langkah Vidya, Vidya pun kembali melanjutkan langkahnya.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum Bunda." Panggil Vidya dari luar.
Lalu tak lama pintu kamar Astrid pun terbuka, menampilkan sosok yang Vidya sedang cari.
"Bunda, kita harus segera ke kantor polisi sekarang juga." Ucap Vidya membuat Astrid dan Adnan yang juga kebetulan sedang ada di rumah, mengerutkan dahi mereka bingung.
"Ada apa memang nya nak?" Tanya Adnan.
"Polisi sudah tau siapa dalang di balik penculikan Vidya, Yah." Jawab Vidya membuat Adnan dan Astrid terbelalak.
Lalu setelah mengatakan itu tanpa di komando, Adnan segera menyetujui ajakkan Vidya untuk mendatangi kantor polisi.
Mereka pun berangkat menuju ke kantor polisi.
[]
Sesampainya di kantor polisi, Adnan, Astrid, dan Vidya segera masuk ke dalam nya.
"Bagaimana perkembangan kasus penculikan anak saya pak? Siapa dalang dari penculikkan ini?" Tanya Astrid yang mengebu-gebuĀ karna begitu penasaran.
"Tenang dulu ya Bu, silahkan duduk dulu." Ucap salah satu petugas kepolisian yang memang menagani kasus penculikan Vidya.
Petugas kepolisian pun menjelaskan kronologis nya, hingga akhirnya mereka berhasil menemukan siapa dalang di balik penculikan ini.
"Siapa dalangnya pak?" Tanya Vidya begitu penasaran, ingin tahu.
__ADS_1
"Dalangnya adalah orang yang anda kenal dan dia juga mengenal anda."
"Siapa?"