Without You

Without You
40. Kejutan


__ADS_3

Happy reading! Masih pake sudut pandang penulis/ Author POV.


-


-


-


-


-


Badan Vidya menegang di tempatnya ketika ia melihat sosok seseorang yang berdiri di depan pintu rumah nya.


"Arya...hiks...dimana Arya?" Orang tersebut menangis sambil bertanya-tanya dimana Arya.


Vidya yang tadi menginginkan sate seketika tidak ingin makan sate lagi, entahlah ia sudah tidak nafsu makan sate.


Justru kini hati Vidya terasa ngilu.


"Dia belum pulang." Ucap Vidya pada orang tersebut, orang itu yang masih menangis kemudian langsung masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Vidya yang masih berdiri di depan pintu.


Dan di sini lah Vidya yang duduk diam memperhatikan orang itu yang masih saja menangis.


Ting tong


Vidya pun bangkit dari duduknya tanpa bicara sepatah kata pun.


Ia berjalan ke arah pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Arya sambil tersenyum lebar ketika melihat sosok Vidya.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Vidya sambil membalas senyum Arya namun tidak selebar biasanya.


"Lo kenapa? Sakit?" Tanya Arya yang tangannya sudah terulur meraba dahi Vidya.


Vidya melepaskan tangan Arya dari dahinya.


"Aku gk apa-apa kok." Ucap Vidya dengan senyuman yang sangat Arya tau bahwa senyuman itu sangat di paksakan.


"Terus lo kena-"


"Arya!" Belum sempat melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Arya terdorong kebelakang karna mendapatkan pelukkan secara mendadak, membuat tubuh Arya menegang di tempat saat ia tau siapa orang yang sedang memeluknya.


"Si...Siren?" Arya mendadak jadi gagap ketika orang tersebut yang ternyata adalah Siren, yang kini sedang memeluknya.


Arya menatap ke arah Vidya yang kini sedang mengalihkan tatapannya.


"Arya...hiks...Arya." Arya kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Siren yang masih memeluknya, Arya pun membalas pelukkan Siren.


"Sttt udah jangan nangis lagi ya." Bisik Arya lembut di telinga Siren, tangannya bergerak mengelus rambut Siren.


"Tenangin diri kamu dulu, abis itu kamu bisa cerita apa yang terjadi." Ujar Arya, dan Siren pun mengangguk dalam pelukkan Arya.


Arya membawa Siren yang sudah agak tenang ke ruang tengah.


Vidya menghela nafasnya melihat Siren yang tangisnya berhenti namun masih saja memeluk Arya.


"Kamu kenapa? Hmm?" Tanya Arya sambil mengelus kepala Siren.

__ADS_1


"Arya hiks...suami aku jahat Arya...hiks dia cuma mau tubuh aku doang. Dia udah kasar sama aku, dia bahkan mau jual aku...hiks...aku takut Arya."


Vidya dan Arya sama-sama terkejut mendengar ucapan Siren barusan.


Vidya menatap prihatin pada Siren yang ternyata menggalami hal yang sangat menyakitkan.


"Pria brengsek." Ucap Arya yang tiba-tiba ikut emosi.


"Udah kamu gk usah takut kan ada aku, kamu aman di sini." Bisik Arya di telinga Siren dan membuat Siren sedikit lebih tenang.


"Arya." Siren mendongakkan kepalanya menatap wajah Arya.


"Kenapa? Hmm?" Tanya Arya lembut, rasa kesal dirinya pada Siren sudah lenyap entah kemana.


"A...Aku hamil." Ucap Siren sambil menyentuh perutnya yang masih terlihat rata itu.


"Kamu hamil? Terus suami kamu tau kalau kamu hamil?" Tanya Arya, dan di balas gelengan oleh Siren.


Vidya sudah menutup mulutnya ia juga sudah meneteskan air mata mendengar cerita memilukan Siren.


"Astaga Siren, kenapa kamu harus nikah sama pria brengsek kaya gitu sih? Udah sekarang kamu gk usah takut, ada aku di sini."


Siren menganggukkan kepalanya kembali memeluk Arya erat, seolah-olah ia tidak mau lagi pergi meninggalkan Arya, pria tulus yang masih sangat ia cintai.


[]


Arya menatap Siren yang sudah terlelap.


Arya tersenyum, jari-jemarinya mengelus lembut rambut hitam Siren.


Sesekali Arya mendaratkan kecupan di kening dan di pipi Siren, dan ia juga sudah membawa Siren dalam dekapannya.


Namun di sisi lain entah mengapa Arya juga kini memikirkan perasaan Vidya.


Sejak kedatangan Siren ke rumah ini, Vidya tidak berbicara apapun pada dirinya karna memang Arya sibuk menenangkan Siren yang menangis.


Arya pun menghela nafasnya, mendadak ia jadi merindukan Vidya.


Arya pun perlahan bangkit dari tidurnya, ia turun dari ranjangnya pergi meninggalkan Siren sendirian di kamar.


Kini langkah kaki Arya menuruni anak tanga satu persatu menuju lantai bawah.


"Vidya." Panggil Arya saat melihat sosok Vidya yang sedang berada di dapur.


"Ngapain lo tengah malam begini ada di dapur?" Tanya Arya yang heran dengan keberadaan Vidya di dapur.


"Lagi makan sate." Jawab Vidya singkat yang masih serius menyantap sate nya.


"Makan sate? Kapan lo beli sate nya?" Tanya Arya yang bingung.


"Jaman sekarang udah cangih, aku pesen sate ini pake aplikasi pesan makanan online." Jawab Vidya yang masih tidak menoleh ke arah Arya sedikit pun.


"Kok gk biasanya ya lo tengah malem makan."


"Arya berisik deh ganggu aku lagi makan aja, lagian kenapa sih emangnya kalau aku makan sate?" Tanya Vidya yang kesal karna Arya terus mengomentari dirinya yang sedang makan sate.


"Ya gk apa-apa sih, ya udah di lanjut makannya." Vidya pun tak menjawab ucapan Arya lagi, ia kembali menyantap satenya.


Arya masih diam, ia bahkan kini sudah duduk di hadapan Vidya.

__ADS_1


Memperhatikan gadis itu makan dengan lahap, membuat Arya tersenyum melihatnya.


"Laper sih laper, tapi lo makan jangan blepotan gini dong, kaya anak kecil aja." Vidya terdiam tatkala Arya mengarahkan tangnnya ke sudut bibir Vidya untuk menghapus bumbu sate yang melekat di sudut bibirnya.


Deg


Arya merasa jantungnya berdegup kencang saat matanya bersitatap dengan manik mata Vidya.


"Makasih." Ujar Vidya yang sedikit menjauhkan wajahnya.


Arya hanya diam, mendadak suasananya jadi akward.


"Arya boleh minta tolong gk?" Tanya Vidya memecah keheningan.


"Eh? minta tolong apa?"


"Tolong ambilin air minum dingin di kulkas ya, aku haus hehe." Arya mengulas senyumannya saat mendengar suara tawa Vidya.


"Oke, tunggu bentar." Arya pun bangkit dan berjalan ke arah kulkas untuk menggambil minuman dingin permintaan Vidya.


"Nih minumannya." ujar Arya yang meletakkan segelas minuman dingin di atas meja dan langsung di sambar oleh Vidya.


"Alhamdulillah kenyangnya." Ujar Vidya yang mengelus elus perutnya sambil tersenyum, sedangkan Arya? Ia mendengus geli melihat tingkah Vidya.


"Arya." Panggil Vidya pada Arya.


"Kenapa?" Tanya Arya yang menaikkan sebelah alisnya.


"Temenin aku tidur ya malam ini."  Arya mengerutkan dahinya bingung, karna tumben-tumbennya Vidya mau tidur saja minta di temani.


"Iya gue temenin." Jawab Arya membuat senyuman Vidya mengembang, membuat wajahnya semakin terlihat cantik dan Arya menyukai itu.


[]


"Arya, udah tidur?" Tanya Vidya yang iseng memanggil Arya, yang kini sedang tidur membelakangi dirinya.


"Belum, kenapa?" Tanya Arya yang kini merubah posisi tidurnya jadi menghadap Vidya.


"Arya, bisa minta tolong gk?"


"Minta tolong apa?" Tanya Arya lagi dengan senyuman di bibirnya.


"Tolong elusin perut aku dong."


Mata Arya membulat tak percaya mendengar ucapan Vidya barusan yang makin terdengar aneh.


"Arya ih buruan." Karna Arya diam saja, Vidya pun mengarahkan tangan Arya ke arah perutnya.


Akhirnya Arya pun menuruti permintaan Vidya, ia mengelus perut Vidya dengan lembut hingga membuat Vidya tertidur pulas.


"Jangan berhenti."


Eh? Arya mengira Vidya sudah tertidur namun saat ia menghentikan usapannya Vidya kembali berbicara namun matanya terpejam.


Cup


"Dasar gemesin." Ucap Arya yang mengulum senyum setelah ia berhasil mencium bibir Vidya.


"Ihh Arya mesumm."

__ADS_1


Astaga! Vidya belum tidur ternyata, alhasil membuat Arya malu sendiri.


__ADS_2