Without You

Without You
Stuck With You (Gama Story)


__ADS_3

Keira masih terpaku ditempatnya sejak mobil yang dikendarai oleh Rayn sampai di depan sebuah bangunan minimalis bercat putih, ia berdecak kagum melihat bagunan yang akan menjadi rumahnya nanti.


"Keira?" Panggilan Rayn berhasil menyadarkan gadis itu dari keterkagumannya, Keira yang sadar jika Rayn sudah menunggunya pun berdehem singkat lalu berjalan menghampiri Rayn yang berdiri di samping mobil yang terparkir.


"Gue bantu apa nih?" tanya Keira saat Rayn mulai membuka bagasi mobil.


"Kamu bawa saja kopermu, sisanya biar saya yang bawakan," jawab Rayn yang sedang serius mengeluarkan koper dari dalam bagasi mobil.


"Ngokey bos," sahut Keira lalu mulai menggambil koper miliknya dari dalam bagasi mobil.


"Ini kunci rumahnya, kamu duluan saja yang masuk." Rayn memberikan kunci rumah baru tersebut pada Keira, dengan wajah berseri Keira tentu saja menerimanya dengan senang hati lalu berjalan ke arah pintu rumah berada.


Cklek


"Assalamualaikum rumah baru!" seru Keira dengan ceria lalu ia terkekeh sendiri entah apa yang lucu namun begitulah Keira saat sedang senang seakan lupa pada masalah-masalah yang sedang ia hadapi.


"Woahh Masyaa Allah rumah ini keren dan nyaman banget! Kayanya gua bakalan suka nih!" seru Keira yang mulai aktif melihat-lihat isi rumah baru.


"Ehem." Keira yang sedang antusias melihat-lihat rumah baru pun seketika membalikkan badan lalu menunjukkan cengirannya, ia bahkan sampai tidak sadar jika Rayn sudah berada tepat di belakangnya.


"Rayn, Rumahnya keren banget! Gue suka!" Adu Keira yang sudah berdiri di hadapan Rayn, Rayn yang melihat raut wajah Keira yang terlihat sangat senang pun ikut mengulum senyum.


Gemesnya- batin Rayn tanpa sadar.


"Btw kamar gue yang mana ya?" tanya Keira membuat Rayn kembali memasang wajah datar andalannya.


"Ayo ikut saya," ajak Rayn dan Keira menurut. Gadis itu ikut berjalan di belakang Rayn dengan patuh hingga sampailah mereka berdua di depan pintu kamar bercat putih.


"Ini kamar kamu." Keira tersenyum saat Rayn membukakan pintu kamarnya, Keira senang bukan main ternyata kamarnya terlihat sangat bagus dan nyaman sekali. Keira melihat ke sekekeling kamarnya ia sudah mulai merancang hendak dihias seperti apa kamarnya nanti.


"Suka sama kamarnya?" tanya Rayn.


"Iya, suka pake banget!" Jawab Keira dengan antusias.


Rayn tersenyum melihat reaksi Keira barusan, lalu tiba-tiba saja ponselnya Rayn berdering menampilkan sebuah notifiksi pesan masuk.


"Saya pergi dulu, ada sesuatu yang harus saya urus." Keira yang mendengar suara Rayn pun menoleh dan menganggukkan kepalanya.


"Rayn tunggu!" Panggil Keira membuat langkah kaki Rayn terhenti.

__ADS_1


"Hati-hati ya," ujar Keira sambil melambaikkan tangannya pada Rayn. Entah mengapa melihat Keira tersenyum dan melambai tangan seperti itu membuat Rayn merasa gemas pada gadis itu.


Rayn hanya mengangguk sekilas, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Keira yang masih tersenyum menatap kamar barunya yang sebentar lagi akan ia sulap menjadi kamar yang super nyaman.


[]


Rayn menghentikkan laju mobilnya, lalu turun dan menghampiri dua orang yang berpakaian serba hitam yang tadi baru saja mengiriminnya pesan.


"Bagaimana? Target sudah terlihat?" tanya Rayn memulai percakapan.


"Sudah Tuan, mereka saat ini sedang mengadakan rapat di gedung itu." Salah satu dari dua orang berpakaian hitam itu menunjuk ke arah gedung yang menjulang tinggi tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


Rayn menganggukkan kepalanya, lalu mulai mengatur siasat apa yang akan ia lakukan untuk melancarkan pekerjaannya.


"Kita pergi ke posisi masing-masing," ujar Rayn dan di balas anggukkan oleh kedua orang tersebut.


Mereka berpencar dan mulai melaksanakan misi mereka, saat target sudah terlihat Rayn dan kedua orang itu langsung melancarkan aksi mereka yaitu menebakkan peluru pada orang yang sudah menjadi targetnya itu.


Setelah tugas selesai, Rayn dan kedua orang itu mulai pergi. Hilang begitu saja bahkan tak ada yang tau jika yang baru saja melakukan pembunuhan itu adalah Rayn.


Saat sedang di perjalanan menuju ke rumah Rayn mendapatkan pesan dari Bruno yang memintanya untuk mampir.


"Rayn ayo cepat, urgent banget nih!" Rayn yang masih tak tau ada apa Bruno memintanya untuk datang pun hanya pasrah saat Bruno menarik tangannya untuk ikut dengan pria itu.


"Brana mana?" Tanya Rayn yang tak melihat kehadiran Brana.


"Ada di kamar, ayo," ajak Bruno dan Rayn pun diam saat Bruno menariknya menuju kamar.


Cklek


"Akhirnya kau datang juga," ujar Brana tatkala melihat kedatangan Rayn.


"Ada apa?" tanya Rayn pada Brana yang wajahnya tampak lesu.


"Nih bayi nangis terus daritadi, tapi untung aja udah diem tapi pasti bakalan nangis lagi," jelas Bruno yang sedang memijat pelipisnya.


Rayn berjalan menghampiri bayi tersebut yang sedang berbaring di atas tempat tidur, saat Rayn sudah duduk di pinggir tempat tidur benar kata Bruno bayi itu kembali menangis kencang.


Rayn pun langsung membawa bayi tersebut ke dalam gendongannya dengan sangat hati-hati dan berusaha menenangkannya, namun bayi tersebut masih terus menangis.

__ADS_1


"Mau apaan sih nih bayi? Ngomong atuh kalau mau sesuatu," celetuk Bruno lalu kembali mendapat jitakkan dari saudara kembarnya, Brana.


"Dia sakit," kata Brana yang angkat bicara.


"Sakit?" tanya Rayn dan di balas anggukkan kepala oleh Brana.


"Kalian sudah bawa dia ke dokter?" Brana dan Bruno mengelengkan kepalanya secara bersamaan.


"Ck, ayo kita bawa dia ke dokter. Siapkan mobil," suruh Rayn dan di balas anggukkan kepala oleh Bruno sementara Brana memilih menyiapkan perlengkapan penting untuk keperluan bayi tersebut.


Setelah semuanya siap, ketiga pria itu mulai berangkat menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit bayi mungil tersebut terus menangis dan merengek, sementara Rayn sedaritadi sudah berusaha terus untuk menenangkannya.


Sesampainya di rumah sakit, Rayn segera berlari masuk sambil mengendong bayi tersebut.


"Dokter cepat tolong periksa bayi ini!" seru Rayn pada dokter yang baru saja tiba.


Dokter tersebut mengangguk, lalu meminta Rayn untuk masuk ke ruangan membawa bayi tersebut untuk diperiksa keadaannya.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Rayn saat dokter telah selesai memeriksa bayi tersebut.


"Bagaimana bisa bayi sekecil itu keracunan susu yang sudah kadaluarsa?" Bukannya menjawab dokter tersebut malah bertanya balik pada Rayn.


Rayn diam, lalu menatap tajam ke arah Bruno dan Brana yang memang selama ini ia perintahkan untuk menjaga bayi tersebut.


"Dimana ibu bayi tersebut? Kenapa bisa seteledor ini? Untung saja keracunan susu tersebut tidak terlalu parah," jelas dokter lagi membuat Rayn sedikit dapat bernafas lega.


"Saya akan berikan obat yang akan bisa mengurangi rasa sakit dan tidak nyaman di perutnya akibat keracunan tersebut, saya harap ibunya bisa lebih teliti lagi dalam memberikan asupan untuk sang bayi," kata dokter tersebut lalu setelah itu dokter pun pergi keluar dari ruangan.


"Bagaimana bisa dia keracunan susu kadaluarsa?" tanya Rayn dingin sambil menatap tajam ke arah Bruno dan Brana.


"So ... sorry kita gk tau kalau tuh susu beracun, beneran deh kalau kita tau pasti gk akan kita kasih susu kadaluarsa ke bayi itu," jelas Bruno dan kemudian Brana juga meminta maaf pada Rayn dan mengakui kesalahan mereka yang tidak teliti dalam membeli produk susu.


Rayn memaafkan Bruno dan Brana lalu meminta mereka untuk lebih teliti lagi dalam segala hal untuk ke depannya, mereka pun mengangguk.


"Rayn, sorry bro kayanya kita gk sanggup buat rawat bayi ini lagi. Kita takut kejadian kaya gini terulang lagi, lo tau sendiri kan mana bisa dua orang cowok kaya kita rawat bayi kaya gini," kata Bruno menyampaikan kegundahan hatinya pada Rayn. Ia juga tidak tega melihat bayi tersebut kesakitan seperti tadi makannya Bruno meminta Rayn untuk tidak lagi menyerahkan tanggung jawab merawat bayi itu pada mereka.


Rayn dalam hati juga membenarkan apa yang Bruno katakan, dua orang itu tidak akan mampu merawat seorang bayi yang memang seharusnya masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Rayn menatap bayi mungil tersebut yang kini sudah dapat terlelap, jari Rayn dengan lembut mengusap sisa air mata yang masih ada di pipi mungil tersebut. Kemudian telapak tangannya dengan lembut mengusap kepala bayi mungil itu lalu tersenyum, perasaan sayang dan khawatir kembali menyentuh relung hatinya. Rayn tidak akan membuat bayi itu menderita lagi, dan ia juga akan menjaganya.

__ADS_1


__ADS_2