
Part ini spesial memakai sudut pandang Siren/ Siren POV.
Oke deh Happy Reading!
-
-
-
-
-
Selama seminggu ini aku terus berfikir, dan mencoba mencari tau apa yang harus aku lakukan saat ini.
Aku tidak mau terus menerus melihat Arya yang selalu saja melamun, entah apa yang pria itu lamunkan.
Saat ini aku sedang merenung di kamar Aksara, sambil menimang Aksara yang sebentar lagi terlelap.
Aku menatap wajah putra kecil ku ini, wajahnya terlihat mengemaskan dan untung saja mirip denganku jadi aku tidak harus teringat kejadian menyeramkan akibat perbuataan Rayn dulu padaku.
Aku baru tau jika kakak ku Tiran adalah dalang dari penculikan Vidya dan bahkan wanita itu hampir saja melenyapkan Vidya.
Aku juga tidak pernah menyangka ataupun menduga kalau ternyata Kakak ku itu sangat membenci diriku.
Dia ternyata menyukai Rayn, tapi justru malah aku yang dijodohkan dengan Rayn.
Mengingat hal itu membuat ku selalu merasa ingin menangis, aku tidak menyangka Kakak yang begitu aku sayangi berbuat begitu tega padaku.
Kak Tiran malah menuduh diriku sebagai dalang dari penculikan Vidya dan membuat diriku harus merasakan mendekap di penjara selama hampir satu minggu.
Aku juga tidak percaya kalau dialah orang yang selama ini membuat Rayn berubah, entah apa yang Kak Tiran katakan pada Rayn sehingga membuat pria itu menjadi terlihat sangat menyeramkan.
Aku mengelengkan kepalaku, tidak mau memikirkan kejadian itu lagi.
Aku mengecup pipi Aksara dan mengusapnya pelan dengan jari jemariku.
Jikalau saat itu aku tidak pergi, apakah mungkin Aksara bisa berada di dekat ku seperti ini? Tentu pasti jawabannya adalah tidak.
Aku merasa sedih melihat Aksara, anakku ini tidak pernah diinginkan kehadirannya bahkan oleh Ayah nya sendiri.
Sunggu miris sekali nasib anakku ini, tapi aku merasa beruntung memiliki Arya.
Arya begitu menyayangi Aksara, dan aku rasa pilihanku untuk menikah dengan Arya adalah keputusan yang sangat tepat.
__ADS_1
Dengan adanya Arya di hidupku, Arya tidak akan mungkin kehilangan sosok Ayah di dalam hidupnya nanti dan impianku untuk tetap bisa melihat anakku tumbuh dengan kedua orangtua yang lengkap bisa terwujud.
Tapi ucapan Aida belum sepenuh nya hilang dari fikiranku, aku terus memikirkan ucapan Aida.
Aku juga merasa bahwa apa yang aku lakukan tidak benar tapi apa boleh buat? Aku tidak mau melepaskan Arya, aku tidak mau anakku tumbuh tanpa seorang Ayah nantinya.
Walau harus mengorbankan Vidya sekalipun, aku rasa itu tidak apa-apa lagi pula saat ini Vidya baik-baik saja kan? Dia bahkan kini menjadi anak angkat dari pemilik patma group, perusahaan yang tak kalah terkenal dengan perusahaan milik Arya.
Aku yakin Vidya pasti baik-baik saja, anaknya juga nanti tidak akan kekurangan apapun.
Sedangkan aku? Jika aku pergi atau Arya pergi meninggalkanku, aku tidak tau harus kemana karna memang tak ada lagi yang mau menerima diriku.
Orangtua ku? Mereka sudah sangat membenci diriku dan menganggap diriku ini anak tidak berguna.
Sedangkan Kakak yang selalu menyayangi diriku, kini dia tidak lagi menyayangiku justru dia sangat membenciku.
Lalu katakan padaku harus kemana aku pergi? Egosi kah diriku jika aku tidak mau Arya pergi meninggalkan ku?
Tanpa sadar aku meneteskan air mataku, kehidupanku memang begitu pelik sekali dan aku bersyukur Arya mau menerima diriku yang malang ini.
Aku tidak perduli jika perilaku ku ini bisa menyakiti hati Vidya sekalipun, aku tidak perduli. Yang aku perdulikan adalah Aksara, putraku ini.
Aku menatap jam dinding yang menggantung di kamar Aksara.
Sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari, tapi Arya belum juga pulang ke rumah.
Aksara sudah tertidur lelap, aku kembali menciumi wajahnya. Aksara selalu sukses membuat diriku merasa gemas padanya.
Tok tok tok
Aku yang baru saja menaruh Aksara di dalam box bayi miliknya, tiba-tiba saja mendengar suara pintu depan di ketuk dengan sangat kencang.
Siapa yang datang malam-malam begini? Apakah Arya? Tapi biasanya kalau Arya pulang, pria itu selalu menekan bel bukannya memukul pintu dengan kencang seperti itu.
Aku pun keluar dari kamar Aksara, dan aku melihat Bi Asri yang baru keluar dari kamarnya yang memang sengaja berada di dekat kamar Aksara agar bisa leluasa mengawasi putraku itu.
"Bibi temenin Aksara aja ya. Biar saya aja yang buka pintunya," ucapku dan di balas anggukkan kepala oleh Bi Asri.
Aku pun berjalan menuruni anak tangga satu-persatu, lalu berjalan ke arah pintu depan yang ketukkannya semakin kencang.
"Loh Arya?"
Aku sangat terkejut ternyata yang sedaritadi mengetuk-ngetuk pintu adalah Arya, tapi kenapa dengan Arya? Pakaian dan rambutnya terlihat sangat berantakan.
"Minggir," ucap Arya yang tiba-tiba saja mendorongku yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Aku pun memutuskan untuk mengejar Arya yang sudah lebih dulu naik ke lantai atas menuju kamar.
Sesampainya aku di kamar, aku langsung menutup pintu kamar dan menatap Arya yang kini sedang duduk di pinggir ranjang.
"Kamu kenapa?"
Aku bertanya sambil menghampiri Arya dan duduk di sampingnya.
"Gk usah sok perduli," ucap Arya dengan ketus.
Aku mengerenyitkan dahi dan menutup hidungku ketika aroma alkohol begitu menyeruak dari dalam mulut Arya.
"Kamu mabuk?" Tanyaku tidak percaya kalau Arya mabuk.
Padahal aku sudah pernah bilang padanya untuk berhenti mabuk-mabukkan dan dia juga berjanji padaku, tapi sekarang? Dia tidak menepati janjinya itu.
"Arya," panggilku namun pria itu masih saja acuh.
Bahkan saat aku memanggilnya berulang kali dia tetap tidak menolehkan kepalanya.
"Arya!" Panggilku seraya menarik tangannya agar mau menoleh padaku.
"Apaan sih?!"
Aku tersentak kaget saat Arya membentak diriku dan menatapku tajam.
"Kamu kenapa?" Tanyaku dengan hati-hati.
Namun Arya tidak menjawab, aku melihat pungung Arya bergetar dan terdengar isak tangis dari nya.
"Arya, kamu nangis?"
Aku lalu mendekat ke arahnya, untuk melihat wajahnya lebih jelas.
Dan ternyata benar Arya menangis, pungungnya semakin bergetar dan di tangannya ada sebuah kertas.
Aku mencoba melihatnya ternyata itu bukan kertas melainkan foto, dan yang lebih menyakitkan foto itu adalah foto Vidya.
"Vidya ... hiks ... kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo malah menjauh? Kenapa Vidya? Gue emang brengsek! Bahkan gue gk tau kalau sekarang gue udah jadi seorang Ayah," ucap Arya yang masih menangis.
Aku hanya bisa diam, menatap nanar Arya yang terlihat sangat menyedihkan.
Aku belum pernah melihat Arya begitu kecewa seperti sekarang ini, pria itu terlihat seperti kehilangan separuh hidupnya.
Bahkan saat dulu aku pergi meninggalkannya, dia tidak kecewa seperti saat ini.
__ADS_1
Apakah kehilangan Vidya begitu menyakitkan bagi Arya? Apakah kehilangan Vidya bagi Arya seperti kehilangan separuh hidupnya? Aku tidak tau tapi satu hal yang aku ketahui malam ini.
Bahwa apa yang dikatakan oleh Aida ada benarnya, membangun hubungan di atas penderitaan orang lain tidak akan membuat kita merasa bahagia.