Without You

Without You
67. Pelakor?


__ADS_3

Part ini spesial memakai sudut pandang Siren/ Siren POV.


Oke deh Happy Reading!


-


-


-


-


-


Aku sangat bingung sekali dengan Aida, temanku ini.


Kenapa juga dia membela Vidya? Padahal sudah jelas-jelas gadis itu yang salah, dia yang sudah merebut Arya dari diriku.


Aida memang aneh, dia sampai mengatai diriku adalah seorang pelakor.


Pelakor darimananya coba? Kalau pelakor tuh udah pasti merebut suami orang, tapi kan aku sama Arya sebelumnya sepasang kekasih. Tapi Vidya tiba-tiba datang dalam hubungan aku dan Arya dengan seenaknya, jadi wajarkan kalau aku merebut milikku kembali dari Vidya?


"Terserah lo mau menyangkal apa, tapi bagi gue dan mungkin orang di luar sana yang denger cerita lo. Udah pasti mereka juga sependapat sama gue kalau lo itu pelakor," ucap Aida yang kembali menyalahkan diriku.


Aku berdecak kesal, aku masih merasa kalau diriku ini tetap tidak salah. Yang salah itu adalah Vidya.


"Terus gue harus gimana?" Tanyaku yang sudah mulai frustasi menghadapi Aida.


Aida diam, keningnya berkerut dan sesekali kepalanya mengeleng, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.


"Lo lakuin apa yang emang seharusnya lo lakuin sejak awal," ucap Aida lagi.


"apa?"


Aida terlihat berdecak mendengar pertanyaanku barusan.


Memangnya apa yang salah dari pertanyaan ku barusan? Perasaan aku hanya ingin bertanya karna memang tidak tau.


"Gini deh, coba lo posisin diri lo jadi mantan istrinya Arya. Seandainya Arya direbut sama orang lain, apa yang akan lo lakukan?"


Aku terdiam dan mulai berfikir, menempatkan diriku pada posisi Vidya.


Jika aku ada di posisi Vidya, aku pasti akan sangat marah dan kecewa ketika suami ku di rebut oleh orang lain dan kemungkinan terbesarnya aku pasti akan membalas perlakuan orang yang telah merebut suamiku.


"Udah mikirnya? Coba jelasin ke gue, apa yang bakalan lo lakuin kalau seandainya lo yang ada di posisi mantan istrinya Arya itu?"


"Gue bakalan marah atau gk gue bakalan balas dendam karna gk terima kalau suami gue di rebut sama orang lain," jawabku dengan mengebu-gebu.


Membayangkannya saja membuat diriku sudah merasa sangat emosi, apalagi kalau benar-benar terjadi. Sudah pasti aku tak akan terima.


"Lo kesel kan? Makannya kalau sebelum bertindak lo tuh mikir dulu, kalau lo udah tau rasanya gimana terus kenapa lo malah ngerebut suami orang?  Gue tau sih kalau lo itu emang pacarnya Arya. Tapi kan posisinya sekarang Arya udah nikah dan apa yang lo lakuin ini jelas-jelas salah," jelas Aida panjang lebar.


Aku pun terdiam mendengar omelan Aida, aku sudah kalah telak darinya.


"Gue mau tanya nama mantan istrinya Arya siapa?" Tanya Aida.


"Vidya," Jawabku menyebutkan nama mantan istrinya Arya.


Aida terlihat mangut-mangut, lalu ia menyeruput jusnya sebentar dan kembali menatap diriku lekat.


"Apa reaksi Vidya pas tau dia di cerain sama Arya? Dia marah atau ngamuk-ngamuk gitu gk ke lo kaya yang di film-film gitu," ucap Aida terlihat sekali bahwa dia begitu penasaran.

__ADS_1


"Kebanyakan nonton film sih lo," ucapku seraya mendengus geli.


Aida ikut terkekeh, dan menikmati makanannya. Suasana terlihat sudah agak membaik, karna tatapan introgasi dari Aida sudah berkurang.


"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi."


Aduh aku kira dia lupa sama pertanyaan dia, ternyata Aida ini ingatannya memang terbukti kuat sejak SMA dulu pantas saja dia selalu menang dalam berbagai perlombaan. Sementara aku? Aku cuma bisa jadi penonton aja karna sadar otakku pas-pasan hehe.


"Vidya gk ngamuk sama sekali. dia keliatan biasa aja," jawabku sambil mengedikkan bahu.


Memang itulah yang aku amati saat bertemu Vidya, gadis itu tak pernah melabrakku ataupun memaki diriku yang notabennya sudah menjadi istri baru Arya dan menggantikan posisinya.


Entahlah aku juga bingung dengan Vidya, kenapa gadis itu tidak memaki diriku? Jangankan memaki bahkan terlihat menatap sinis padaku saja dia tidak melakukannya sama sekali.


"Lo seriusan dia biasa aja? Keren banget sih! Gue kalau jadi dia pasti lo udah gue labrak kali, tapi dia gk marah sama sekali? Wih keren banget tuh cewek," ucap Aida yang memuji-muji Vidya.


Aku mendengus kesal mendengarnya, apa hebatnya memang perempuan itu? Kenapa selalu saja aku terlihat lebih buruk darinya?


"Gue mau pulang," ucapku seraya bangkit dari tempat duduk.


Aida menatap ke arahku, dengan tatapan bingungnya.


"Loh? Kenapa? Lo kepanasan gue katain pelakor? Bagus deh biar lo sadar, supaya lo gk jadi tambah brengsek karna Siren yang gue kenal gk kaya gini."


Aku berdecak mendengar ucapan Aida, entahlah aku merasa sebagian ucapan Aida ada benarnya juga.


Tapi tetap saja aku masih menyangkal hal itu.


"Ya udah balik deh sana. Terus nanti lo fikirin tuh baik-baik ucapan gue tadi dan inget ya hubungan yang terjalin di atas penderitaan orang lain itu gk akan membahagiakan dan gk akan berkah," ucap Aida menatapku dengan tatapan yang agak melembut.


Aku terdiam, mencoba menghela nafasku. Entahlah aku tidak tau mau jawab apa, aku sudah terlanjur kebingungan.


Alhasil aku pun memilih untuk melengang keluar dari Kafe tersebut.


Tapi apa yang aku dapatkan? Aku malah di bilang pelakor sama dia, memangnya apa salahnya kalau aku merebut Arya dari Vidya? Toh aku ini pacarnya Arya, memangnya Vidya itu siapa? Dia hanya orang asing yang tiba-tiba datang dan merusak hubunganku dengan Arya.


Bukan tanpa alasan aku sangat membenci Vidya, selain sudah merebut Arya dari diriku, dia juga sudah membuat Arya berubah.


Arya tidak seperti dulu lagi, dia jadi sering melamun. Bahkan sampai sejak pertama kali kami menikah, dia tidak mau meminta hak nya sebagai seorang suami padaku.


Aku pernah bertanya padanya ada apa? Dia bilang karna aku sedang hamil jadi dia tidak mau, dan aku bisa memaklumi itu.


Tapi saat aku sudah melahirkan Aksara, aku kembali bertanya kenapa dia tidak meminta haknya sebagai seorang suami padaku. Arya malah mengalihkan topik pembicaraan.


Arya juga sangat aneh akhir-akhir ini, badannya saja terlihat sangat kurus bahkan sudah tiga hari ini dia tidak pulang ke rumah, alasannya? Arya bilang sih karna dia harus bekerja lembur di kantor.


Aku memakluminya dan aku berusaha bersabar menghadapi kelakuannya yang sangat berbeda tidak seperti saat kami dulu masih berpacaran.


Aku berada di dalam mobil dan belum menjalankan mobil ku sama sekali.


Aku menatap cincin yang melingkar di jari manis ku, cincin itu adalah cincin pernikahan aku dan Arya.


Dulu menjadi istri Arya adalah dambaanku sejak masih duduk di bangku sekolah menegah atas.


Aku kembali mengenang masa itu, saat awal SMA aku dan Arya belum begitu dekat karna saat itu aku adalah anak baru.


Aku belum mengenal siapapun saat itu, aku ingat betul kalau dulu Arya menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah.


Kalian pasti tidak percaya kan? Karna memang Arya saat masa SMA dan sekarang sangatlah berbeda.


Arya itu dulu saat masih SMA, adalah anak yang sangat cerdas dan selalu menjadi saingan berat Aida.

__ADS_1


Tidak ada sisi badboy dari Arya saat masih SMA, justru Arya adalah anak kesayangan semua guru dan bahkan banyak sekali yang mengagumi Arya termasuk diriku.


Aku yang saat upacara biasanya hanya bisa memandangi Arya dari kejauhan, seketika berubah ketika Aida memperkenalkan diriku pada Arya.


Aku juga sering di ajak Aida jika ia ingin belajar bersama Arya karna saat itu Arya dan Aida di pilih sebagai partner dalam olimpiade sains tingkat Nasional untuk mewakili sekolah.


Awalnya aku memang hanya kagum pada Arya, aku kagum karna kepintaran dan juga wajahnya yang tampan yang pantas saja banyak orang tegila-gila pada Arya saat itu.


Tapi siapa sangka jika ternyata Arya menaruh hati padaku, lalu entah bagaimana Arya menyatakan perasaannya padaku dan aku pun menerimanya, lalu kami berdua jadian dan berpacaran.


Aku dan Arya dulu di nobatkan sebagai pasangan serasi atau di zaman sekarang biasa di sebut sebagai couple goals.


Banyak yang iri pada diriku, karna aku adalah gadis yang sangat beruntung bisa menjadi pacar si genius Arya.


Lalu apa yang membuat Arya jadi berbeda? Itu semua bermula saay Arya kehilangan adik sematawayangnya.


Aku tidak tau jelas bagaimana kronologisnya karna saat itu aku sedang melanjutkan sekolahku di Inggris, dan aku juga baru tau dari kedua orangtuaku kalau Arya masuk penjara karna memperkosa seorang gadis.


Aku tidak percaya itu, aku tau jelas bagaimana sifat Arya.


Tapi orangtuaku terlanjur menaruh citra buruk pada Arya.


Lalu saat itu sifat Arya mulai berubah, tidak ada lagi sisi good boy dari dirinya dan berubah menjadi seorang bad boy.


Dia sering mabuk-mabukan, keluar masuk club malam dan aku adalah orang yang senantiasa menemaninya.


Walaupun Arya berubah menjadi seperti itu tapi dia tak pernah sedikit pun berniat merusak diriku, karna dia tidak mau melakukan hal rendahan seperti itu. Alasannya? Jelas sekali karna dia menyayangi diriku.


Lalu semuanya berubah, saat aku di jodohkan dengan seorang pria pilihan orangtuaku.


Mereka mengancam akan menghabisi Arya jika aku tidak menuruti kemauan mereka, aku sempat bilang pada Arya soal itu dan untuk pertama kalinya aku melihat tatapan kecewa dari manik mata Arya.


Aku pun kembali ke Amerika, tempat kedua orangtuaku tinggal.


Di sana aku di jodohkan dan dinikahkan dengan seorang pria bernama Rayn.


Awalnya ku fikir dia pria yang baik, dan aku setuju saja dinikahkan dengan Rayn.


Awal kami menikah, Rayn memang orang yang sangat baik.


Tapi seiring waktu berjalan, Rayn berubah dan menjadi kasar padaku.


Dia sering memukuliku dan menjadikanku pelampiasan nafsu nya saja.


Hingga akhirnya aku tau kalau aku sedang mengandung anaknya, aku memberitahu Rayn tapi dia bukannya senang dan malah menyuruhku mengugurkan kandunganku.


Aku tentu saja menolak, dengan susah payah dan hampir mati karna Rayn mau menyiksaku karna dia tau bahwa aku tidak mau mengugurkan kandunganku.


Akhirnya aku pun pergi, yanga da di fikiranku saat itu adalah kembali pada Arya.


Aku kembali ke Indonesia, dan berharap bahwa Arya belum pindah dari tempat tinggal lamanya.


Saat aku sampai aku malah di sambut oleh Vidya yang dulunya aku tau adalah adik sepupu Arya.


Saat Arya pulang, aku langsung memeluknya dan menangis. Aku kira dia akan mendorong dan mengusirku, tapi Arya malah membalas pelukkan ku dan dia mengizinkan ku tinggal.


Tapi justru keputusan ku itu adalah salah, Tiran memberitahuku bahwa Arya dan Vidya adalah sepasang suami istri dan saat itulah aku memutuskan untuk mencari cara agar Arya membenci Vidya.


Rencanaku berhasil, Vidya dan Arya berpisah, lalu aku bisa menikah dengan Arya.


Tapi lagi-lagi aku salah, ku fikir dengan menikah dengan Arya kehidupanku akan bahagia tapi ternyata tidak, saat aku tau kalau Arya sudah berubah dan terlihat seperti pria patah hati yang di tinggalkan kekasihnya pergi.

__ADS_1


Lalu sekarang aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar berada dalam kebingungan.


__ADS_2