
Part ini memakai sudut pandang Vidya/ Vidya POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
AkuĀ sedang beristirahat di ruangan tempatku di rawat.
Dalam hati aku begitu bersyukur karna dokter Anam sudah begitu baik dan telaten merawat diriku sejak dua hari kemarin dengan begitu baik.
Dokter Anam memang persis seperti Abi, dia begitu baik dan juga lembut padaku.
Aku begitu berterimakasih pada dokter Anam, yang bahkan mengizinkan ku tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.
"Vidya." Aku tersentak saat dokter Anam ternyata sudah berada di dalam ruangan ini.
"Ada apa dokter?" Tanyaku pada dokter Anam.
"Ini, ada yang memberikan ini untuk kamu." Ucap dokter Anam seraya menyerahkan amplop besar berwarna coklat padaku.
Aku pun menerimanya, di depannya tertulis namaku lalu aku memutuskan untuk membukanya secara perlahan.
Mataku membulat, terasa pedih ketika aku tau apa isi dari amplop besar ini.
Isinya adalah surat gugatan cerai dari pengadilan Agama yang di tujukkan untuk diriku.
Aku merasa jari-jariku melemas, air mataku juga sudah menetes saat tau mimpi burukku benar-benar akan menjadi nyata.
"Vidya ada apa? Kenapa menangis nak?" Tanya dokter Anam yang sangat khawatir melihatku menangis.
"Ini." Ucapku sambil menyodorkan amplop berisi surat itu pada dokter Anam dengan tangan bergetar.
__ADS_1
Dokter Anam pun menerimanya lalu ia membaca isi surat tersebut, dia juga terlihat begitu terkejut sama seperti diriku.
"Nak yang sabar ya, kamu harus yakin bahwa Allah pasti menyiapkan rencana yang lebih indah di balik setiap ujian yang kamu lewati. Percaya sama Allah ya, kamu harus kuat dan harus sabar dalam menghadapi ini semua." Ucap dokter Anam, sementara aku hanya menganggukkan kepalaku dengan pelan.
Aku kembali menangis, aku belum mau menandatangani surat tersebut rasanya begitu menyakitkan, ketika namaku dan nama Arya tertulis di dalam kertas itu dalam status mengakhiri pernikahan kami.
Padahal baru dua hari yang lalu aku bertemu dengan pria yang namanya juga tertera di kertas yang aku pegang ini.
Ternyata Arya tidak main-main dengan ucapannya yang ingin mengakhiri pernikahannya denganku, bahkan secepat ini.
Aku kembali menangis, dokter Anam terlihat ingin mengatakan sesuatu namun ia urungkan dan ia memilih untuk pergi dari dalam ruangan, memberikan aku ruang untuk menangis dan menyendiri.
Aku masih sangat tidak menyangka, bahwa pernikahan kami sudah berakhir, bahkan berakhir dalam kondisi seperti ini.
Aku meraba perut rataku, aku mencoba menguatkan diri.
Setidaknya aku masih punya anak ini, aku tidak benar-benar kehilangan Arya karna darah Arya juga mengalir dalam tubuh anak ku.
Setidaknya itulah yang coba aku fikirkan, menguatkan diri dan berkata pada diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Mungkin perpisahan ini adalah jalan yang terbaik, untukku dan untuk Arya.
Seperti dia yang sudah melepaskanku dengan menandatangani kertas tersebut, yang menjadi saksi bahwa keputusannya sudah final.
Aku menggambil bolpoin yang tergeletak di atas nakas, aku ambil juga surat keputusan perceraian dari pengadilan itu dengan tangan bergetar.
Aku menarik nafasku sebelum menandatanganinya namun entah kenapa aku masih merasa tidak sanggup.
Namun aku kembali meyakinkan diriku bahwa memang semuanya sudah berakhir tak ada lagi harapan untukku di dalam pernikahan ini.
Akhirnya setelah mencoba menenangkan diri, aku pun mulai mengerakkan tanganku, menandatangi kertas tersebut di samping tanda tangan Arya.
Aku menghela nafasku setelah selesai menandatangani nya, lalu setelah itu aku kembali memasukkan kertas tersebut ke dalam amplop coklat itu, merapihkannya seperti semula.
Aku menghela nafasku, kini aku dan Arya benar-benar sudah resmi bercerai, hubungan kami sudah benar-benar berakhir.
Aku kembali merebahkan diriku, ketika aku merasa kepalaku begitu pusing karna memikirkan Arya dan surat gugatan cerai itu.
__ADS_1
"Maafkan Ummah sayang, maaf nak. Ummah gk bisa mempertahankan hubungan ini, ummah minta maaf sayang. Maaf." Aku terus meminta maaf pada bayiku ini, seraya mengusap lembut perutku dan juga berharap agar aku bisa melalui semua ini.
Aku berdoa pada Allah dan memohon ampunan, aku memohon maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk Arya.
Aku tidak tau lagi, harapanku sudah musnah, impianku ingin memiliki pernikahan yang langgeng hingga maut memisahkan kini sirnah sudah.
Aku hanya bisa tersenyum sendu, tatkala mengingat kepingan-kepingan kenangan bersama Arya yang akan selalu aku kenang dan memiliki tempat tersendiri di dalam relung hatiku.
Pernikahan aku dan Arya memang tak selalu berjalan manis, seperti tingkah Arya padaku yang tak pernah manis.
Namun aku tak tau kenapa cinta itu bisa hadir dan berlabuh pada tempat yang tidak seharusnya, yang hanya membekas dan meninggalkan luka.
Aku juga sangat sedih ketika Arya tak mempercayai diriku, ia lebih percaya pada Siren ketimbang diriku yang notabennya adalah istri sah nya namun sekarang tidak lagi.
Aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan Arya, aku berharap ia selalu merasa bahagia ada atau tanpa adanya diriku di sisinya.
Aku di sini juga akan berusaha untuk bahagia, untuk mencoba memulai lembaran hidup yang baru.
Aku akan bertahan bersama dengan anak yang ada di dalam kandungan ku, hanya anak ini lah yang kelak akan selalu mengingatkanku bahwa aku pernah memiliki hubungan dengan seseorang yang begitu ku cintai dan tak pernah menyesal ku cintai, dan orang itu jugalah yang telah menorehkan luka di hatiku dengan sangat.
Aku memejamkan mataku, meraba bagian dadaku yang terasa sakit dan sesak secara bersamaan.
"Temani Ummah ya sayang, sekarang Ummah hanya punya Allah dan kamu yang menjadi sumber kekuatan Ummah untuk tetap melangkah, Ummah sangat menyayangi kamu nak."
Aku mencoba mengatur nafasku yang terasa agak sesak ini, ternyata begini rasanya putus cinta begitu dasyatnya, rasanya sangatlah sakit.
Namun aku tau semua ini pasti akan berlalu, ini adalah cobaan dari Allah, untuk menguji akankah aku mampu dalam menghadapi cobaan ini atau aku malah menyerah dan pasrah.
Aku tidak boleh menyerah, aku punya Allah yang akan senantiasa membantuku untuk bangkit dari rasa sakit ini.
Mungkin Arya kini tak akan lagi bersama diriku, mungkin setelah ini semuanya pasti akan berubah tapi satu hal yang tidak akan berubah kenangan dan perasaan ku pada Arya yang tak akan pernah berubah.
Aku juga tidak akan pernah membenci Arya, karna dia adalah Ayah dari anak yang aku kandung, lalu bagaimana bisa aku membenci nya?
Aku menghela nafasku, beristigfar dalam hati dan mencoba menenangkan diri.
Setelah agak tenang aku coba menyungingkan senyuman, dan berkata pada diriku bahwa aku sanggup, aku mampu melewati ini semua.
__ADS_1
Badai pasti berlalu, di balik awan mendung akan ada cahaya matahari yang bersinar dengan terik, begitupun dengan kehidupan di balik setiap kesulitan akan ada kemudahan, di balik setiap cobaan ada hikmah yang bisa di petik di dalamnya.