
Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.
Okee deh Happy reading!
-
-
-
-
-
Vidya terbelalak ketika ia mendengar nama yang baru saja di sebutkan sebagai dalang di balik penculikannya.
Tubuh Vidya terasa lemas seketika, ia sangat tidak menyangka jika orang itu kembali berusaha menyakitinya.
Padahal Vidya sudah berusaha memaafkan dan melupakan kejadian di masalalu itu, tapi orang itu malah kembali menyakiti Vidya.
"Siapa dalang di balik penculikkan ini?" Tanya Arya yang baru beberapa saat yang lalu datang ke kantor polisi bersama dengan istri nya.
"Siapa dalangnya?!" Tanya Arya lagi begitu mengebu-gebu penasaran, ia menatap petugas kepolisian meminta jawaban dari pertanyaannya.
"Siren." Jawab Vidya yang menatap lurus ke depan, air mata sudah meluruh di pipinya.
Arya yang mendengar ucapan Vidya pun, seketika langsung menoleh pada Vidya begitupun dengan Siren yang namanya baru saja di sebut oleh Vidya.
"Dalang dari penculikan ini adalah Siren." Ucap Vidya lagi, Arya terdiam ia mengelengkan kepalanya.
Sementara Siren? Gadis itu sudah menutup mulutnya ia membulatkan matanya mendengar ucapan Vidya.
"Nggak! Gk mungkin!" Ucap Siren menyangkal.
__ADS_1
"Arya...hiks...aku gk mungkin ngelakuin ini, dia pasti ngarang Arya...hiks...aku gk mungkin mau nyakitin Vidya apalagi sampai menculik nya dan mau membunuhnya...hiks...aku gk ngelakuin itu Arya, percaya sama aku." Ucap Siren panjang lebar, ia juga sudah menangis sambil mengenggam tangan Arya erat.
Arya masih diam mencoba mencerna, ia menatap wajah Vidya lekat dan Vidya juga sama sedang menatap wajah Arya.
"Siren gk mungkin ngelakuin itu." Ujar Arya membuat Vidya terbelalak kaget mendengarnya, pria itu baru saja membela Siren lagi, untuk kesekian kalinya.
"Gk mungkin kamu bilang? Itu mungkin! Karna sebelumnya Siren juga hampir mau membunuh aku dan anakku, gk ada yang gk mungkin Arya!" Ucap Vidya yang meninggikan nada suaranya, ia terpancing emosi mendengar pembelaan Arya terhadap Siren.
"Gk mungkin Siren ngelakuin hal itu! Dia gk mungkin nyuruh orang buat nyulik lo apalagi ngebunuh lo Vidya, itu gk mungkin terjadi dan gue gk percaya kalau Siren bersalah." Ucap Arya yang masih bersikeras menentang kalau Siren tidak bersalah.
Vidya menghela nafasnya kasar, ia menyungingkan senyuman miring nya, senyuman yang belum pernah Arya lihat sebelumnya dari sosok Vidya yang terkenal dengan senyuman nan lembutnya.
"Kamu lebih percaya Siren daripada bukti-bukti yang udah jelas ini? Hah? Kamu masih mau membela dia? Iya?" Tanya Vidya ia tertawa lalu mengelengkan kepala, dan menatap tajam Arya
"Dia hampir saja membunuhku, dia juga hampir saja membunuh anakku! Kamu bilang dia tidak bersalah? Lalu nyawa anakku yang hampir dia bunuh dan bukti-bukti yang mengarah padanya? Apa itu tidak cukup bagi kamu Arya, untuk bisa percaya kalau istri kamu itu lah dalang dari penculikan ini." Ucap Vidya sambil menunjuk Siren dengan tatapan tajam.
"Sayang, tenang nak istighfar." Ucap Astrid yang langsung merangkul Vidya yang sudah menangis tergugu.
"Bunda...hiks...anakku hampir saja mati dan dia bilang? Perempuan itu tidak bersalah Bunda?...hiks...padahal bukti dari kepolisian menyatakan bahwa perempuan itu memang bersalah, dia dalang dari penculikan ini." Adu Vidya pada Astrid, Astrid menganggukkan kepalanya dan membawa Vidya ke dalam pelukannya berusaha menenangkan gadis itu.
"Saya tetap gk akan percaya itu, saya percaya pada Siren dan saya juga akan membuktikan kalau Siren itu tidak bersalah, dia juga menjadi korban tuduhan di sini." Ujar Arya yang masih saja membela Siren walau sudah ada bukti yang menyatakan bahwa Siren dalang dari penculikkan.
"Pak, saya ingin mengumpulkan bukti-bukti untuk membuktikan kalau istri saya tidak bersalah."
"Baik terserah anda, namun sesuai prosedur yang ada, kami harus menahan saudari Siren terlebih dahulu sebagai tahanan sementara sampai kasus ini benar-benar terusut dengan tuntas." Ucap petugas kepolisian.
"Arya...hiks...aku gk mau di penjara...hiks...aku gk salah Arya, lagi pula aku lagi hamil." Siren memohon pada Arya agar ia tidak masuk ke dalam sel tahanan.
Arya mengusap kepala Siren, dan menatap gadis itu dengan tatapan lembutnya.
Cup
Lalu Arya mengecup dahi Siren seraya tersenyum pada gadis itu.
__ADS_1
"Aku janji akan bebasin kamu secepatnya, aku akan cari bukti yang membuktikan kalau kamu tidak bersalah dalam kasus ini, dan kamu hanya di jebak oleh seseorang." Arya berucap untuk menenangkan Siren, Siren menganggukkan kepalanya namun sebelum ia benar-benar masuk ke dalam sel tahanan ia memeluk Arya dengan erat dan di balas juga oleh Arya dengan pelukkan tak kalah erat.
Vidya yang melihat itu sedartadi hanya bisa diam, namun jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa terluka dan sakit hati ketika lagi dan lagi Arya lebih mempercayai Siren ketimbang dirinya.
Bahkan dengan bukti yang sudah ada pun dia masih percaya pada Siren.
"Saya akan buktikan kalau bukan istri sayalah pelakunya, dan dugaan putri anda ini terhadap istri saya itu adalah salah, saya akan pastikan itu." Ucap Arya seraya menatap Astrid, Adnan, lalu terakhir menatap Vidya dengan tatapan tajamnya dan penuh tekad.
Lalu setelah itu ia melangkah kan kaki nya keluar dari kantor polisi tersebut.
"Kamu baik-baik aja nak?" Tanya Adnan yang menatap Vidya dengan tatapan khawatir.
Vidya menganggukkan kepalanya dan mengatakan kalau ia baik-baik saja dan ingin segera kembali ke rumah.
Dokter Adnan dan Astrid pun menuruti keinginan putrinya yang nampaknya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Terbukti di sepanjang perjalanan gadis itu terus diam, dan menatap ke arah luar dengan tatapan sendunya.
Membuat Astrid ikut sedih melihat keadaan Vidya yang seperti itu.
[]
Sejak sampai di rumah hingga saat ini, Vidya terus mengurung dirinya di kamar dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Gadis itu terus berdiam diri dan menangis, ia juga masih enggan untuk berbicara.
Astrid yang sangat khawatir pun hanya bisa mondar mandir di depan pintu kamar Vidya, ia bingung cara apa lagi yang harus ia lakukan untuk membujuk Vidya agar tidak terus bersedih seperti itu.
"Bagimana ini mas? Vidya gk mau keluar juga dari kamarnya daritadi, padahal Bunda udah coba ngebujuk dia." Adu Astrid pada Dokter Adnan, suaminya.
Dokter Anam pun menyuruh Astrid untuk duduk dulu di sampingnya.
"Bunda tenang aja ya, saya punya cara supaya Vidya mau keluar dari kamar dan gk sedih lagi." Ucap dokter Adnan, Astrid pun menatap dokter Adnan dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
"Gimana caranya mas?" Tanya Astrid.
"Udah kamu tenang aja, saya yakin cara ini pasti berhasil membuat Vidya tidak sedih lagi." Ujar dokter Adnan sambil tersenyum misterius membuat Astrid semakin penasaran, kira-kira apa yang ingin suaminya itu lakukan untuk membujuk Vidya supaya keluar dari kamar nya? Begitulah yang ada di benak Astri saat ini.