Without You

Without You
64. Pelik


__ADS_3

Part ini memakai sudut pandang penulis/ Author POV.


Okee deh Happy reading!


-


-


-


-


-


Saat ini Vidya dan Arya hanya saling diam, belum ada yang memulai pembicaraan di antara keduanya.


Arya menghela nafasnya, tangannya bergerak mengusap tenguknya sendiri, mendadak Arya jadi merasa gugup seperti ini, tidak seperti biasanya.


"Gini gue mau nanya sesuatu sama lo, lo harus jawab dengan jujur dan gk ada lagi yang lo tutupin dari gue." Ucap Arya memperingati, Vidya menatap Arya yang terlihat sedang menghela nafasnya, terlihat jelas bahwa pria itu ingin menyampaikan sesuatu yang serius padanya.


"Nanya apa?" Tanya Vidya yang jadi penasaran dengan apa yang akan Arya katakan.


"Jawab dengan jujur, gue gk suka di bohongin. Sebenarnya anak yang lo kandung itu anak siapa?" Tanya Arya langsung ke intinya.


Vidya tertegun mendengar pertanyaan Arya, lagi-lagi pria itu kembali menanyakan hal yang sama seperti sebelumnya.


Vidya menatap ke arah lain, mencoba menghindari tatapan Arya yang mengintimidasi.


"Kenapa kamu mau tau?" Tanya Vidya yang memalingkan tatapannya ke arah lain, supaya bisa terhindar dari tatapan Arya.


"Vidya, gue di sini. Tatap mata gue dan jawab dengan jujur." Arya tanpa sadar sudah meletakkan tangannya di kedua sisi bahu Vidya.


Vidya memundurkan langkahnya, tangan Arya yang sebelumnya bertenger di bahu Vidya pun otomatis terlepas.


"Kamu gk perlu tau, apa perduli kamu sama anak ini? Gk ada kan? Jadi mulai sekarang jangan pernah ganggu kehidupan saya lagi, urus saja istri dan anakmu itu." Jawab Vidya panjang lebar, lalu ia pun hendak memilih berlalu dari hadapan Arya.


Tapi tangan Vidya malah di genggam oleh Arya, Vidya menolehkan kepalanya sekilas lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Arya.


Namun Arya malah menarik Vidya ke arahnya, membuat Vidya menubruk dada bidang Arya.


Jarak mereka sangat dekat saat ini, hanya terhalang oleh perut Vidya yang semakin membesar.


Vidya menelan salivanya, berada pada jarak sedekat ini dengan Arya membuat fikiran Vidya kembali menjelajah ke masalalu, masa dimana Arya sering menyiksanya dan juga segala kenangan manis yang pria itu telah torehkan dalam hidup Vidya.


"Jawab jujur Vidya, gue gk akan lepasin kalau lo gk mau jujur." Bisik Arya dengan suara berat khasnya.


Mata Vidya terasa memanas, ia tidak bisa menampik kalau dirinya begitu merindukan pria yang kini berdiri di depannya.


Vidya begitu merindukan Arya, dan Vidya sadar itu. Namun Vidya juga tau mau sekeras apapun ia berusaha merubah apa yang telah terjadi, tapi tetap saja ia tidak bisa merubah takdir yang sudah di gariskan oleh kehidupan.


"Kenapa nangis?" Tanya Arya bingung ketika Vidya malah meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Pergi!" Vidya mendorong Arya, hingga akhirnya Vidya bisa terlepas dari dekapan Arya.


"Pergi! Saya gk mau liat kamu lagi, jangan pernah ganggu kehidupan saya lagi." Ujar Vidya yang begitu emosional.


Vidya pun membalikkan badan, mulai melangkah menjauhi Arya.


"Gue udah tau, anak yang ada di dalam kandung lo itu anak gue!"


Vidya menghentikan langkahnya mendengar teriakan Arya, ia memejamkan matanya tidak menyangka ternyata Arya sudah tau kalau anak yang ia kandung adalah anaknya.


"Vidya." Panggil Arya yang menarik tangan Vidya dengan lembut, agar gadis itu mau menatap dirinya.


"Lo kenapa gk bilang sama gue, kalau anak yang lo kandung itu anak gue. Sejak kapan?" Tanya Arya yang sedang memandangi ciptaan Allah yang begitu mengemaskan ini.


"Apanya?" Tanya Vidya, Arya tersenyum melihat wajah Vidya.


Dari dulu ia selalu merasa gemas melihat Vidya yang habis menangis, karna pasti hidung gadis itu akan memerah dan membuatnya terlihat semakin mengemaskan.


"Sejak kapan anak gue ada di dalam perut lo?" Arya kembali mengulangi pertanyaannya.


Vidya diam, bahunya masih naik turun karna masih terisak. Vidya pun menundukkan kepalanya.


"Yang gue tau sekarang usia kandungan lo udah masuk usia 6 bulan? Itu berarti dia udah ada sejak sebelum kita cerai, iya kan?"


Vidya menganggukkan kepalanya pelan, tapi masih dengan posisi menundukkan kepala tak berani menatap Arya.


"Kenapa lo gk bilang sama gue sebelumnya?"


"Kalau aku bilang, apa semuanya akan berubah? Nggak kan? Lagi pula sekarang kamu sudah punya Siren, sebentar lagi dia akan melahirkan. Dia dan anaknya membutuhkan kamu."


"Jadi lo sama anak yang di dalam kandungan lo itu, gk pernah butuh gue?"


Vidya menyungingkan senyuman sendunya, ia menarik nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Ada atau gk ada nya kamu, hidupku tetap sama kan? Kamu akan selalu kembali pada Siren, kamu gk pernah menganggap aku ada."


"Tapi saat ini lo lagi hamil anak gue, dia juga anak gue Vidya! Gue juga berhak atas anak itu." Ucap Arya sambil menatap ke arah perut besar Vidya.


"Terus kamu sekarang maunya apa?" Tanya Vidya menatap Arya, ia sudah lelah menghadapi ini semua.


Ia lelah terus menerus menghidari kenyataan bahwa memang anak yang ia kandung juga adalah anak Arya.


"Gue mau kita kaya dulu lagi, gue mau kita rujuk dan perbaikin hubungan ini." Ucap Arya to the point, Vidya mengelengkan kepala mendengar ucapan Arya barusan.


"Rujuk? Perbaikin hubungan ini? Hah, kamu tuh lucu ya. Hubungan kita sudah berakhir, sejak kita memutuskan untuk menandatangani surat perceraian itu. Kamu gk tau kan gimana rasanya berjuang mempertahankan sebuah hubungan? Dengan susah payah aku mempertahankan pernikahan kita, tapi kamu? Kamu dengan mudahnya mengakhiri ini semua."


Air mata Vidya kembali menetes, saat ini Arya sedang mempermainkan hatinya.


Dia tidak pernah berfikir untuk kembali memulai hubungan lagi dengan Arya, Vidya tau karna memang sebelumnya hanya dirinya lah yang tidak pernah menginginkan hubungan ini berakhir.


Arya bahkan tak pernah perduli pada perasaan Vidya, pria itu terlalu egois, bahkan dia seringkali membuat keputusan secara sepihak.

__ADS_1


Tapi Arya? Dia malah meminta Vidya untuk kembali ke dalam hidupnya.


Memperbaiki hubungan yang telah putus, begitu katanya.


Vidya memejamkan matanya, ia mengelengkan kepala dan menepiskan tangan Arya yang sedang berusaha mengenggam tangannya lagi.


"Hubungan yang sudah hancur, memang bisa di perbaiki dengan mudah tapi apakah akan sama seperti dulu lagi? Nggak akan Arya, hubungan itu gk akan sama lagi. Ini adalah keputusan kamu, yang memang ingin mengakhiri hubungan pernikahan kita sejak dulu."


Arya merasa dadanya terasa sesak mendengar ucapan Vidya, ia juga merasa sedih dan menyesal dengan keputusannya dulu yang memilih untuk menceraikan Vidya.


"Sekarang kamu sudah mendapatkan kehidupan yang kamu inginkan, menikah dengan orang yang kamu cintai bukan dengan orang yang tidak kamu cintai, melainkan orang yang kamu benci seperti diriku ini."


Vidya memaksakan untuk tersenyum, dan menghapus air matanya. Karna Vidya tau ia harus berusaha belajar untuk tetap tegar menghadapi semua ini.


"Kamu sebaiknya pulang, kasian Siren. Dia lagi hamil harus butuh banyak istirahat." Ucap Vidya yang masih memasang senyumannya.


"Jangan senyum kaya gitu, itu justru membuat gue ngerasa semakin jadi pria yang brengsek." Ucap Arya yang matanya sudah berkaca-kaca namun ia berusaha tuk tetap tegar.


"Vidya!"


Vidya dan Arya mengalihkan tatapan mereka ke arah Astrid yang baru saja memanggil nama Vidya sambil melambaikan tangannya pada Vidya.


Vidya menghapus air matanya, lalu kembali tersenyum.


"Sebentar Bunda,Vidya akan segera ke sana!" Teriak Vidya dari tempatnya berdiri saat ini.


Vidya lalu kembali menatap Arya yang juga menatap dirinya.


"Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum." Ucap Vidya yang kini benar-benar pergi dari hadapan Arya dan kali ini Arya tidak menghalangi Vidya untuk pergi.


Setelah kepergian Vidya, Arya mengacak rambutnya dengan kasar.


Ia kesal pada dirinya sendiri yang dulu menggambil keputusan dengan sepihak, ia telah salah karna dulu lebih mempercayai ucapan Siren daripada Vidya.


Bahkan Arya juga baru tau dari tetangga nya bahwa Vidya pernah hampir keguguran jika saat itu tetangga Arya itu tidak datang sudah di pastikan Vidya akan kehilangan anaknya.


Arya merasa dirinya begitu brengsek, ia sudah menjadi seorang suami yang tidak berguna dan sekarang apa iya dia harus menjadi seorang Ayah yang tidak bertanggung jawab pada anaknya?


Arya tidak mau itu, jujur saja pertama kali mendengar kabar bahwa Vidya sedang mengandung anaknya.


Arya jauh dua kali lipat bahagia mendengar kabar bahwa Vidya hamil dari pada saat ia ingin menikahi Siren yang notabennya adalah orang yang ia cintai yang kini menjadi istri sahnya.


Arya begitu bahagia, bahkan ia memberanikan diri mengajak Vidya kembali memulai hubungan lagi dengannya.


Ia kira mengajak Vidya kembali ke dalam hidupnya akan terasa mudah, tapi sepertinya gadis itu sudah terlalu banyak merasakan luka.


Arya sangat bingung, andai ia tau apa yang harus ia lakukan agar bisa memperbaiki semua ini.


Arya pasti akan melakukannya, Arya juga sepertinya terlambat menyadari kalau sebenarnya ia memang mencintai Vidya dengan amat dan ia merasa begitu hampa jika gadis itu tak ada di dalam hidupnya.


Hal itu lah yang Arya rasakan semenjak ia berpisah dengan Vidya, karna nyatanya Siren sekalipun tidak bisa melengkapi perasaan kehilangan di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2